
Suara-suara berderap dari ratusan sepatu armor para pengawal yang beradu dengan lantai menggema ke seluruh tempat.
Sejumlah pengawal berhamburan dari berbagai sudut dan berkerumun di pekarangan samping estat Xi Xia.
"Sebelah sana!" teriak salah satu pengawal sambil menunjuk atap ketika sebuah bayangan berkelebat secepat kilat menuju hutan di belakang benteng istana.
Detik berikutnya, para pengawal itu kembali berpencaran ke segala arah untuk mengejar buruan mereka. Sebagian naik ke atap, sebagian menghambur ke pekarangan belakang.
Sejumlah pengawal bayangan menyelinap keluar dari persembunyiannya dan mengejar buruan mereka dengan cara yang berbeda dari pengawal biasa berkat kemampuan ilmu meringankan tubuh.
Bersamaan dengan itu Jenderal Tio Jun dan putra hakim Tian melejit serentak ke atap tanpa aba-aba, dan seketika bayangan gelap itu berhenti bergerak di tengah-tengah kepungan kedua pemuda itu. Mata pedang keduanya terhunus di kiri-kanannya.
Seringai tipis mengembang di sudut bibir si penyusup di bawah tudung jubahnya.
Pedang kedua pemuda itu sama persis. Entah mereka menyadarinya atau tidak.
Ketika kedua pemuda itu mulai melompat dan mengayunkan pedang mereka, si penyusup berjubah gelap itu melejit dalam gerakan memutar di udara dalam kecepatan luar biasa.
SLASH!
SLASH!
Dua belati melesat ke arah kedua pemuda itu dari sela-sela jemari tangan si penyusup.
Pengawal Hua Zu spontan melambung dari pekarangan seraya mengayunkan pedangnya dan menangkis kedua belati itu, sementara Tio Jun dan Tian Xu sudah menghindar dengan gerakan tak kalah cepat.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan antara si penyusup misterius melawan sedikitnya dua mutan dan satu tentara langit.
Sejumlah pengawal di sekeliling tempat mendadak beku di tempatnya masing-masing, terkesima menatap pertempuran sengit di luar nalar mereka.
Para pengawal bayangan mundur teratur dan menyelinap ke sudut-sudut gelap, untuk menghindari perhatian semua orang. Mengawasi pertarungan dari tempat paling tersembunyi di dahan-dahan pohon sambil tetap berjaga-jaga.
Melihat kecepatan si penyusup mereka mendadak ragu bisa mengatasinya.
Lin Yao bertukar pandang dengan saudaranya dengan ekspresi cemas dari sudut berseberangan di halaman belakang, merasa tak asing dengan teknik gerakan si penyusup.
Pria berjubah gelap itu lebih banyak melakukan gerakan memutar di udara untuk menyerang, atau mengibaskan tepi jubahnya untuk menangkis serangan.
__ADS_1
Hua Zu mengawasi pertarungan itu dari selasar dengan ekspresi datar, sementara Shin Wu sampai ternganga di sampingnya.
Para petarung di kiri-kanannya menyerampang dalam tarian tanpa irama. Jika yang satu melambung, yang lainnya merangsek. Jika yang lain memutar, yang lainnya melesat lurus dengan pedang terjuju ke dada si penyusup.
Kibasan pedang pengawal Hua Zu, Tio Jun dan Tian Xu berpendar-pendar di bawah cahaya bulan yang keperakan seperti hanya berupa kilatan cahaya pudar, sementara sosok penyusup itu seakan hanya berupa badai kabut yang tak tertangkap oleh penglihatan normal.
Tidak terdengar suara berdebuk, atau berderak seperti benturan logam. Bahkan suara tumit sepatu keempatnya tidak terdengar seolah mereka tak pernah mendarat untuk sekadar menjejakkan kaki sebentar untuk kemudian melejit lagi. Hanya suara berdesir dan melecut-lecut di antara keredap gerakan ringan ketika empat sosok di atap itu melesat-lesat dalam bentuk abstrak pudar.
Sekonyong-konyong sosok gelap di tengah-tengah kepungan memutar cepat membentuk pusaran tornado, dan tiga sosok di sekelilingnya terpelanting bersamaan.
BRUAK!
Barulah terdengar suara.
Dan sebelum para pengawal bayangan bereaksi, sebelum semua orang mampu berkedip, bayangan gelap itu sudah menghilang entah ke mana.
Sesingkat itu pertarungan sengit mahadahsyat itu berakhir dan melebur dalam keremangan malam.
Dan semua orang masih membeku menahan napas.
Hua Zu mendesah pendek dan menggeleng tanpa minat. Dia bisa saja mengejar dan menangkap penyusup itu dalam satu kedipan mata. Tapi ia memilih untuk membebaskannya.
Pada saat itulah semua orang mulai bergerak dengan sentakan singkat, lalu kembali membeku menatap mereka.
Tio Jun dan Tian Xu bertukar pandang dengan alis bertautan, lalu tercekat menyadari pedang mereka sejenis dengan milik pengawal Hua Zu.
"Apa yang terjadi?" bisik para pengawal di sekeliling mereka. "Kenapa pedang mereka terlihat sama?"
"Apakah mereka berasal dari satu perguruan?"
Shin Wu mengerutkan keningnya, lalu melirik pada Hua Zu.
Pria itu tersenyum samar. Mereka bahkan diperlengkapi dengan pedang langit, pikirnya masam.
Sepertiga bintang terseret ke bumi, dan itu artinya berlaksa-laksa pedang langit tersebar di bumi.
Tio Jun dan Tian Xu hanyalah sebagian kecil dari ancaman di muka bumi. Sisanya hanya sang Dewa Agung yang tahu. Berapa banyak ras dewa yang telah diremukkan, berapa banyak ras manusia yang telah diubah, semuanya hanya Hua Zu yang tahu.
__ADS_1
Tapi bukan itu tujuannya turun ke bumi.
Mudah baginya untuk memilah, mengumpulkan, dan membawa mereka kembali ke tempatnya masing-masing.
Tapi bukan begitu rencana Hua Zu.
Xi Xia menghambur ke arah kerumunan di pekarangan samping estatnya, menghampiri Shin Wu dan Hua Zu dengan tergopoh-gopoh sambil memeluk kucing pemberian Hua Zu.
Gubernur Pao-Lu dan Selir Yuwen mengikuti di belakangnya, disusul sejumlah bangsawan yang penasaran.
Para pengawal serentak membungkuk ke arah gubernur.
"Tidak tertangkap?" Pao-Lu bertanya sambil mengedar pandang dengan mata terpicing.
"Si penyusup menguasai ilmu kecepatan super," Shin Wu berkilah membela para pengawal.
Pao-Lu berpaling pada Shin Wu dengan tatapan mencela, "Aku melihat sedikitnya empat orang memiliki kekuatan seperti itu beberapa saat lalu," tukasnya tak sabar. "Apa tidak satu pun sebanding dengannya?"
Shin Wu hanya mengangkat bahu.
Hua Zu tersenyum simpul, sementara Tio Jun dan Tian Xu bertukar pandang dengan raut wajah tersinggung.
"Periksa kamarmu, dan pastikan apakah ada barang berharga yang hilang," bisik Hua Zu di dekat telinga Xi Xia. "Jika ada yang hilang, aku berjanji akan mengejar penyusup itu dan mengembalikan barang-barangmu. Tapi jika tidak, lupakan masalah ini dan perbaiki saja sistem keamanannya."
Xi Xia tersenyum dan mengangguk dengan antusias, lalu berbalik dan bergegas menuju kamarnya diikuti Shin Wu di belakangnya.
Ayah mereka mengawasi keduanya dengan tatapan masam, lalu menoleh pada Hua Zu dan berdeham, mencoba memperbaiki mimik mukanya. "Apa yang membawamu kemari, Yang Mulia Zhu?" tanyanya berbasa-basi, masih tak yakin apakah tamu misteriusnya perlu diwaspadai.
"Sedikit kesepakatan dengan putramu," jawab Hua Zu tanpa mengalihkan perhatiannya dari Shin Wu dan Xi Xia.
Selir Yuwen belum berkedip menatap Hua Zu sejak tiba di pekarangan.
"Beri aku kehormatan untuk menjamumu di mejaku," pinta Pao-Lu seraya membungkuk sedikit dan melayangkan sebelah tangannya ke arah koridor yang menuju aula perjamuan.
"Tentu, Gubernur," jawab Hua Zu setenang batu karang.
Tio Jun mengamati punggung Hua Zu dengan intensitas tatapan yang dapat membakar, sementara Tian Xu tampak berpikir keras.
__ADS_1
Tentara langit yang mengawal Hua Zu melirik mereka seraya tersenyum tipis. Mutan! pikirnya sinis. Lalu bergegas mengikuti iring-iringan para bangsawan kembali aula.