
Dalam kekalutan dan ketidakberdayaan, Hua Zu mencoba menggerakkan jemari tangannya, menyalurkan energi spiritual yang dipadu dengan sedikit telekinesis untuk menarik pedangnya yang tergeletak jauh dari tempatnya terpuruk.
Mereka juga Shashou tapi tidak berasal dari Kaida maupun Kuangre, kata Hua Zu dalam hatinya. Jadi selama ini ada Shashou lain?
Dan aku tak pernah tahu!
Aku sungguh tidak berpengalaman! Hua Zu menyadari.
Setelah mengerahkan seluruh sisa tenaganya, ia akhirnya berhasil menarik pedangnya, menghela bangkit tubuhnya dan melompat ke tengah pertempuran di mana ayahnya telah dikepung.
Dan dalam sekejap sengatan rasa dingin di gagang pedangnya menjalar ke seluruh tubuhnya melalui telapak tangan dan memulihkan energinya secara ajaib.
Pedang ini sungguh luar biasa! pujinya dalam hati.
DUAAAAARRRR!
Hua Zu melayangkan pedangnya dalam gerakan memutar di udara dan setengah dari para penyerangnya terpelanting.
Ninja Shashou lainnya spontan merangsek bersamaan dalam jumlah lebih banyak dengan ritme serangan meningkat.
GLAAAAARRRR!!
Ledakan besar terjadi ketika Hua Zu dan Jieru melontarkan senjata mereka masing-masing secara bersamaan.
Hua Zu dan Jieru mendarat bersamaan dengan posisi saling membelakangi, saling membentengi satu sama lain tanpa harus repot-repot berkomunikasi. Ini pernah terjadi di masa lalu ketika kelompok yang sama menyerang rumah mereka.
Jumlah Shashou bertambah banyak setiap kali ditumbangkan. Jika lima orang ditumbangkan sepuluh lainnya datang dalam sekejap, jika sepuluh ditumbangkan, dua puluh lainnya muncul entah dari mana, seolah mereka menggandakan diri setelah dibantai.
Atau begitukah kenyataannya?
Apakah mereka menggandakan diri? Hua Zu bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mereka tak bisa mati!"
Hua Zu mendengar ayahnya memperingatkan.
Tidak bisa mati?
"Mereka bukan manusia!" kata ayahnya lagi sambil melambungkan tubuhnya dan memutar kembali di udara sambil melontarkan belati bumerangnya ke arah barisan ninja yang berderet di balkon-balkon.
Hua Zu menjatuhkan dirinya ke bawah dalam gerakan spit sempurna, kemudian menyapukan pedangnya di sisi tubuhnya ke arah belakang.
DUAAAAARRRR!
Halilintar di ujung pedangnya menyambar para penyerang dan melontarkan mereka ke dinding-dinding.
Pada saat itulah Hua Zu melihat mereka bangkit kembali dan membelah diri.
Jadi benar mereka menggandakan diri? pikir Hua Zu terkejut.
__ADS_1
Makhluk apa mereka sebenarnya?
Tiga murid senior Jieru melompat ke tengah-tengah kepungan membantu mereka.
"Temukan dalangnya!" Jieru menginstruksikan.
Dalang? pikir Hua Zu tak mengerti. Apa maksudnya dalang? Ia mengedar pandang sementara tubuhnya bergerak lincah ke sana ke mari, melambung, menukik dan memantul-mantul ke sana ke mari seperti seekor gagak yang tengah mengamuk di tengah lingkaran cahaya yang tercipta dari setiap lecutan pedangnya.
Murid-murid Jieru berhimpun saling membelakangi ketika sejumlah besar pasukan ninja mengepung mereka.
Hua Zu melompat ke dinding dan menjejakkan kakinya untuk melambungkan tubuhnya ke tengah kepungan, tapi sesuatu menarik perhatiannya di luar kepungan.
Seorang pria berambut cokelat tembaga, hanya berdiam diri dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya, tertunduk mengawasi pertempuran dari atas tembok benteng.
Hua Zu memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatannya, sambil memutar arah gerakannya. Ia kembali melompat ke belakang, menjejakkan kakinya lagi ke dinding dan melompat ke arah pria itu dengan gerakan salto di udara, kemudian menukik ke arah pria berambut cokelat tembaga itu bertengger.
GRAAAAKKK!
Seuntai rantai besi tiba-tiba melecut di awang-awang dan menjerat pergelangan kaki Hua Zu, kemudian melemparkannya ke arah yang berlawanan dengan tempat pria berambut cokelat tembaga itu berada.
BRUAK!
Hua Zu terjerembab di sudut taman menimpa sebuah pot bunga hingga remuk.
Kurasa dialah dalang yang dimaksud Ayah! pikir Hua Zu. Ia melompat berdiri dan pada waktu bersamaan dua Shashou menerjang ke arahnya dari atas balkon.
Kedua Shashou itu berhasil menghindar dengan gesit.
Sementara itu, Jieru menyerampang di sepanjang tepian balkon, mendorong deretan ninja dengan energi spiritual dari telapak tangannya sambil berlari cepat setengah terbang, seperti sedang menyapu debu di sudut dinding.
SREEEET!
Barisan Shashou itu terseret dan berjatuhan dalam sekejap.
GRAAAAAK!
Untaian rantai besi melecut di udara dan berhasil menjerat pergelangan kaki Jieru. Dan sebelum Jieru dapat bereaksi, rantai itu melemparkannya ke udara dan di ketinggian itu, rantai lainnya melecut dari arah berlawanan dan melilit tubuh Jieru.
"AYAAAAAAAAAH…!!!" teriakan nyalang melengking dari mulut Hua Zu.
Ketiga murid Jieru tersentak dan mendongak.
"GURUUUUU…!"
Lalu dalam sekejap, tubuh Jieru terseret entah ke mana dan secara serentak seluruh pasukan menghilang dengan tiba-tiba.
Hua Zu membeku dengan mata terpicing, seperti terlepas dari ilusi yang membingungkan.
Ketiga murid Jieru terperangah. Tatapan mereka yang panik menyapu sekeliling.
__ADS_1
Semuanya hilang!
Bahkan tubuh teman-teman seperguruan mereka.
"Apa yang terjadi?" pekik mereka. "Kenapa semuanya menghilang?"
Hua Zu mendekat ke arah mereka dengan langkah tertatih-tatih. Tiba kehilangan kekuatannya.
Ketiga murid Jieru memelototinya. Lalu salah satu dari mereka menerjang ke arah Hua Zu dan mendesaknya ke dinding, menguncinya sambil menodongkan belati di lehernya. "Kau mengacau dan menghabisi saudara-saudara kami, tapi lalu tiba-tiba membantu guru dan memanggilnya Ayah. Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan? Apa kau iblis?"
Hua Zu tidak menjawab, hanya tercengang dengan tatapan kosong.
"Kakak!" salah satu temannya melompat ke arah mereka dan menahan bahu saudara seperguruannya. "Kukira aku tahu apa yang terjadi. Aku melihat dia tiba-tiba melemparkan pedangnya sesaat sebelum menghujam Guru dan berteriak 'Ayah' dengan sangat menyesal. Kurasa sebelumnya dia tak tahu perguruan ini milik ayahnya."
Hua Zu menatap anak itu dengan mata terbelalak, tapi tak mengatakan apa-apa. Hanya tertegun. Masih terlihat kebingungan. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu mendadak, begitu membingungkan, hingga ia tak siap menghadapinya.
Murid Jieru yang menodongkan belati di leher Hua Zu akhirnya mundur dan melepaskannya.
Hua Zu terpuruk dengan wajah terguncang.
Apa yang terjadi? pikirnya.
Siapa mereka sebenarnya?
Ke mana mereka membawa Ayah?
Ketiga murid Jieru juga menjatuhkan dirinya di sisi Hua Zu, melemaskan tubuhnya dan bersandar ke dinding benteng.
Salah satu dari mereka mendesah dan menurunkan penutup wajahnya. Lalu menoleh pada Hua Zu.
Hua Zu masih tampak terpukul. Tidak sadarkan diri meski matanya terbuka.
Dua murid lainnya bertukar pandang. Wajah mereka tak kalah bingung.
"Kurasa dia benar-benar Hua Zu!" kata murid Jieru yang memandangi Hua Zu.
Dua lainnya serentak menoleh.
"Guru pernah bercerita padaku tentang putra semata wayangnya yang melarikan diri saat Nyonya Zhou diremukkan para Legion."
"Legion?" tiba-tiba Hua Zu bereaksi.
"Tentara langit yang berkhianat," jelas murid Jieru.
Hua Zu kembali terdiam. Dahinya kembali berkerut-kerut, berpikir keras, menandakan kesadarannya telah pulih sepenuhnya. "Apa maksudnya ibuku diremukkan?" tanyanya kemudian.
"Nyonya Zhou seorang Fallen," jawab murid Jieru.
Hua Zu mengetatkan rahangnya. Fallen? pikirnya getir.
__ADS_1