
Matahari yang pucat menembus awan berwarna jingga-kelabu menyinari bercak-bercak warna yang lebih cerah pada kedai-kedai jalanan. Tumpukan jian bing, buah pomelo, kumquats, loquats, wampee, kabosu dan aneka manisan.
Pemuda misterius berambut emas itu terus tertunduk sepanjang ia berjalan. Wajahnya tersembunyi di bawah tudung jubahnya, terutama rambutnya yang bisa menarik perhatian.
Sesekali seorang wanita melintas di depannya menyeberang jalan, satu sosok kabur berwarna biru langit, terlihat seperti hantu. Kelebat bayangannya menyatu dengan udara kemudian lenyap di belakang kereta kuda.
Barisan pria berjalan berduyun-duyun membentuk jalur sendiri, atau mendorong gerobak di sisi jalan.
Dua orang pemuda berjalan mengendap-endap di belakang pemuda misterius itu. Tak jauh di belakang mereka, seorang pria paruh baya mengawasi kedua pemuda itu dari depan meja bundar di bawah pohon persik di depan kedai teh. Kedua pemuda itu menoleh padanya dan hanya ditanggapi anggukan tipis.
Pemuda misterius itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka dengan kepala tetap tertunduk.
Kedua pemuda tadi spontan mengerjap dan bertukar pandang satu sama lain, lalu tersenyum kikuk ke arah pemuda misterius tadi.
"Apa yang kalian cari?" pemuda misterius itu bertanya pada mereka.
Kedua pemuda itu serentak tergagap-gagap, "Ah—di mana kau tinggal…" mereka bicara bersamaan dan berhenti bersamaan, lalu terkekeh gelisah juga bersamaan. "Guru!" mereka menambahkan—lagi-lagi secara bersamaan.
Pemuda misterius itu hanya tersenyum samar, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan, "Mari lihat sendiri!" ajaknya sambil berjalan mendahului.
Kedua pemuda tadi serentak mengikutinya dengan bersemangat.
Pria paruh baya di kedai teh yang tak lain adalah Jieru tersenyum dan beranjak. Kemudian berlalu dari kedai teh itu.
Ia dan kedua muridnya sedang minum teh ketika pemuda misterius berambut emas tadi melintas. Salah satunya adalah Ang Dunrui. Jieru mengetahui jati diri pemuda itu dan mengatakan pada kedua muridnya untuk mengikuti dia---dalam arti berguru.
Mula-mula mereka ragu. Pemuda itu bahkan tak lebih tua dari mereka. Tapi Jieru mengatakan kepada mereka bahwa, "Dialah yang seharusnya menjadi semakin penting dan aku menjadi tak penting. Karena dia sudah di sini!" Lalu mereka mengikutinya.
Sebagai seorang ahli spiritual, Jieru yang telah mempelajari kitab dewa cahaya hingga tingkat tertentu bisa merasakan aura Jiyou hanya dengan mendengar langkah kakinya yang seringan angin tanpa harus repot-repot menoleh dan memperhatikannya dengan seksama, semburat cahaya berwarna emas yang hanya dapat ditangkap oleh mata Jieru, berkeredap samar dari setiap derap langkahnya yang tidak bersuara.
Dunia di sekelilingnya seketika mendadak hening seakan tenggelam dalam kedamaian yang gaib. Orang-orang di sekitarnya terlihat seperti baru menghirup aroma terapi.
Burung-burung kecil dan kupu-kupu beterbangan dengan ringan mengikuti arahnya.
__ADS_1
Dan sebagai reinkarnasi dari Jiyou, pemuda misterius berambut emas itu mengetahui isi hati setiap orang. Itu sebabnya ia tak ragu menyambut mereka tanpa bertanya lagi.
Dan…
Ya, kalian tak salah tebak!
Pemuda misterius berambut emas itu adalah Zhu Hua Zu.
Pemuda itu sekarang memimpin jalan keluar kota dan berjalan dengan gerakan statis dan tetap tertunduk.
Di belakangnya, kedua murid Jieru terus-terusan bertukar pandang dengan gelisah. Tidak satu pun dari mereka tahu apa yang harus dikatakan. Tapi mereka tetap mengikutinya hingga perbatasan sebuah desa mati yang sudah tak berpenghuni. Desa Naseli di pulau terpencil Liuwang. Desa kelahiran Hua Zu berambut emas.
Jalan raya kota berakhir beberapa kilometer di luar Zhujia. Mereka menempuh perjalanan selama satu jam di jalan berkerikil yang sempit, yang kemudian berubah menjadi jalan tanah dan akhirnya berganti menjadi jalur yang samar-samar terbentuk di dataran luas.
Ketika cahaya fajar nyaris tenggelam di kaki langit, Desa mati itu tiba-tiba terbentang di bawah mereka. Berkilau dalam balutan cahaya jingga yang tersaput warna kelabu hingga nyaris kecoklatan, jajaran pegunungan raksasa di sekelilingnya tampak seperti hantu maha besar yang memicu kepak sayap burung gagak yang terbang dan berkaok-kaok di atas kepala mereka.
Kedua murid Jieru terkesiap dalam kekaguman yang membingungkan, tercekam oleh euforia gila yang tak terduga.
Di balik puncak-puncak gunung, mereka melihat lembah berbatu-batu terhampar dari kaki pegunungan yang menunjukkan wilayah hutan terlarang di lembah Jinzhi.
Ketika langkah mereka mulai menurun, mereka akhirnya tahu keluasan lembah itu, kekasaran wilayahnya, bukan lagi abstraksi atau warna-warna gelap yang diselimuti kabut seperti cangkir teh yang mengepul jika dilihat dari puncak gunung di kejauhan.
Beberapa menit lagi, begitu langkah mereka mencapai dasar tebing, mereka akan jatuh persis ke tempat bernama hutan keramat.
Hanya melihatnya dari atas saja, wilayah yang luas dan berlekuk-lekuk itu, yang dikelilingi oleh pegunungan, sudah cukup mengingatkan mereka bahwa di sini segala hal datang dalam ukuran besar.
Tiba-tiba sepanjang minggu yang dihabiskan bersama Jieru, semua latihan, ujian dan disiplin kebiasaan, terlihat seperti usaha sia-sia untuk menertibkan suatu hal yang sangat besar yang dikendalikan oleh kekuatan raksasa.
Begitu tiba di tanah tak bertuan itu, mereka merasa harus memulai kembali semuanya dari awal.
Tak cukup sampai di situ, ketika langkah mereka sudah melewati perbatasan hutan terdengar suara gemeresik keras. Mereka mengedar pandang, mendengarkan dengan waspada.
Hutan di sekeliling mereka terlihat gelap terbalut kabut tipis yang misterius.
__ADS_1
Krsk. Krsk. Krrrsk.
Gemerisik. Suara gemeresak kering entah dari mana.
Kedua murid Jieru itu bertukar pandang.
Hua Zu menghentikan langkah di depan mereka, kemudian menoleh sekilas ke belakang dan tersenyum samar. Lalu kembali melanjutkan langkah.
Pepohonan hanya berupa bayang-bayang tinggi dan hitam, berlatar belakang langit redup berawan. Tak ada yang bergerak. Daun-daun pun tidak.
Ada sesuatu yang menimbulkan bunyi itu.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Sekarang mereka benar-benar tersentak. Mereka melayangkan pandang ke bukit. Nyaris gelap total. Tidak ada secercah cahaya pun dari puncak bukit.
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam.
Tak ada cahaya. Tak ada angin.
Lalu mereka berbalik dan mengikuti suara itu ke bawah bukit. Suara itu makin keras ketika langkah mereka mendekati tepian sebuah danau.
Hua Zu sudah berada cukup jauh di depan mereka. Sosok tingginya hanya berupa siluet di antara kabut tipis yang melayang setinggi pinggangnya.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Dunrui membayangkan ular-ular raksasa sepanjang kereta api melata di rumput, dan seketika bulu kuduknya meremang.
"Dari mana asal suara aneh itu?" bisiknya pada saudara seperguruannya.
Mereka melangkah ke dekat danau sambil berpegangan tangan. Rumputnya basah oleh embun yang misterius. Sepatu mereka tergelincir dan terpeleset-peleset.
Lalu perlahan-lahan awan menyingkir dari kaki langit. Ketika sisa cahaya matahari yang pucat memancar, mereka akhirnya melihat makhluk itu.
__ADS_1
Kepalanya mengangguk-angguk di bahunya yang ramping. Tangan-tangannya bergetar di kedua sisi tubuhnya yang kurus.
la bangkit. Terus.