Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-15


__ADS_3

Benteng Kaida…


"Sial!" gerutu Dai Xiao Yu mulai gusar. "Kenapa mereka belum kembali?"


"Mungkin sebaiknya aku ikut dengan mereka tadi," komentar Hua Zu dari seberang meja.


"Mungkin sebaiknya kau menyusul mereka sekarang!" tukas Xiao Yu.


"Baiklah!" Hua Zu menarik tubuhnya berdiri, mendorong kursi di belakangnya, lalu merenggut jubah gelapnya yang tersampir di sandaran kursi dan bergegas meninggalkan ruang baca.


Jarak dari Benteng Kaida ke Gunung Jingling terpaut sekitar tiga puluh lima kilometer, namun berkat kemampuan aerokinesis dan sedikit kecepatan super, tak sampai satu jam Hua Zu sudah mencapai perbatasan antara hutan terlarang dan desa di kaki gunung Jingling.


Di situlah seharusnya rekan-rekannya berada!


Memang benar, rekan-rekannya berada di situ. Hua Zu melihat mereka di kejauhan dan menuju ke sana. Ketika ia sampai di hamparan tanah yang terbuka di dekat sungai, ia dihadapkan pada pembunuhan massal.


Sebuah lengan mencuat keluar dari reruntuhan—mungkin puing-puing sebuah kereta. Tubuh-tubuh pengawal bangsa Luoji tersapu ke pesisir sungai seperti bangkai ikan, sebagian mengambang di air dengan wajah terbenam seperti boneka.


Tidak jelas apa persisnya yang terjadi, tapi mungkin bukan itu yang paling penting. Apa yang ditemukannya adalah gambar bisu kematian seluruh anggota.


Mereka semua terbaring, bergelimpangan dalam kubangan darah, jubah kusut, pakaian basah terkena darah. Mereka terkena sayatan sicae yang menancap pada daging, tangan terpotong, perut terkoyak.


Hua Zu merenggut satu tubuh pada bahunya, tubuh pertama yang terpegang.


"Kak Hong!" pekik Hua Zu sambil berusaha membalikkannya. Dia bisa mendengar pria itu mendesah.


Pria itu menarik tangan Hua Zu dengan gemetar, terasa lengket dan basah dan sebenarnya sudah berlumuran darah. Di balik jubah pria itu, yang segera dibuka Hua Zu dengan cara merobeknya, Hua Zu merasakan sesuatu yang lembut dan hangat. Ususnya terburai keluar dari luka di perutnya.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Hua Zu dengan suara bergetar karena marah.


Ada darah di mana-mana. Pria itu juga kehilangan tangannya. "Kuangre," bisiknya pelan dan lemah.


Tiba-tiba sesuatu terlepas dari dalam diri Hua Zu. Rasa tegang, kegelisahan dan kemarahan yang biasa memacunya selama ini, merespons dan bertindak dengan tepat, menjadi terkulai seperti parasut yang menyentuh tanah.

__ADS_1


Sekarang rekannya hampir tak bernapas. Napasnya yang tersengal dan bekas lumuran darah yang dengan cepat tersebar di sekitar paru-parunya memberitahu Hua Zu untuk bertindak cepat. Memperingatkan bahwa ia hanya punya beberapa menit saja sebelum paru-paru rekannya berhenti bekerja dan pria itu akan mati kehabisan darah karena lukanya.


Tapi Hua Zu bahkan tak berusaha untuk mencabut sicae yang menancap di bahu pria itu.


Ia hanya berlutut di dekat rekannya dan memegang tangan pria itu. Dan pria itu membiarkan Hua Zu memegangnya tanpa menolak. Hua Zu mengusapnya. Hanya duduk di sana, diam, memperhatikan pria itu ketika hujan menerpa wajahnya, dan sepatu bot armornya perlahan tenggelam ke dalam lumpur.


Ia menunggu helaan napas rekannya berubah menjadi gemeretak kosong. Pria itu tidak bergerak sampai ia berhenti bernapas sama sekali. Lalu Hua Zu melepaskan genggamannya dan menutup kelopak mata pria itu dengan ibu jarinya, menutup wajahnya dengan kain selubung yang meliliti leher, wajah dan kepala pria itu.


Ia meninggalkan pria itu di sana dan perlahan-lahan mulai berjalan menyusuri jalan kecil.


Karena ia tahu tak ada lagi yang bisa dilakukan. Setidaknya tak ada yang bisa ia lakukan.


Karena ia tahu persis ia tak akan pernah bisa mengobati keadaan tubuh terkoyak yang sudah sekarat.


Tak ada yang bisa dilakukan siapa pun untuk mencegah pria itu mati.


Karena melihat rekannya mati adalah pemandangan yang tidak tertahankan seperti apa pun keadaannya, lebih daripada yang bisa ia tahan.


Dan karena gerakan itu, berjalan menjauh dari rekan-rekannya dan meninggalkannya di lumpur, telah memicu sesuatu yang lebih daripada sekadar rasa menyesal.


Ia melihatnya sekarang. Kematian rekan-rekan seperjuangannya tertelungkup di sisi jalan, kematian dalam perang adalah kematian yang berbeda dari yang mati di tangan bangsa sendiri.


Ya, ia melihatnya sekarang.


Kita sebenarnya bisa pergi meninggalkan sesosok tubuh, meninggalkan orang itu di lumpur, seperti hewan yang membusuk kehujanan.


Bangkai berdarah, setengah telanjang karena pakaiannya telah robek-robek.


Kita dapat pergi, atau harus pergi meninggalkannya supaya kita bisa melanjutkan hidup, karena ada terlalu banyak mayat atau karena tidak ada yang bisa dilakukan.


Kematian di tengah debu, di atas tanah, selalu berkaitan dengan mayat-mayat itu, meminta kita untuk menutup matanya, membersihkan tanah yang mengotorinya, mengusap darahnya, menggunakan tangan kita, mengangkatnya pada bahu kita.


Inilah rupa dunia kematian setiap hari di banyak bagian dunia.

__ADS_1


Dan itu adalah puncak segala musibah bagi sekte mereka.


Rekan-rekannya tewas di tangan bangsa sendiri!


"KUANGRE…!!!" geramnya murka. Ia mendongakkan wajahnya ke puncak gunung Jingling seraya berteriak nyalang yang lebih tepat disebut lolongan binatang hingga menyebabkan ranting-ranting pohon bergetar ketika burung-burung malam tersentak dan berhamburan.


Di seberang sana sungai, sesosok bayangan seseorang tenggelam ke dalam kegelapan hutan dengan terseok-seok.


Langkahnya tersaruk-saruk di antara timbunan dedaunan dan ranting-ranting kering, menyibak semak-semak rendah menuju lembah yang gelap dan dingin.


Suara napasnya yang tersengal menjadi instrumen tunggal dalam kesunyian gaib yang menghisap kesadarannya sedikit demi sedikit.


Tubuhnya terbungkuk dan terhuyung-huyung di atas kedua kakinya yang limbung dan gemetaran.


Darah merembes dari sela-sela jarinya yang menekan perutnya yang terkoyak. Ia bisa merasakan darah itu terus menetes di sepanjang lantai hutan yang dilewatinya, tapi ia bahkan tak tahu ke mana langkah kakinya akan membawanya.


Kesadarannya timbul-tenggelam di antara sisa tekadnya yang terus bergerak mengikuti nalurinya untuk bertahan hidup.


Ia adalah Xi Mo, rekan solid Hua Zu yang pantang menyerah. Ia selamat dari maut setelah terlempar ke seberang sungai ketika seorang pria misterius tiba-tiba muncul entah dari mana dan mengacaukan operasi mereka.


Lemparan belati kecilnya mampu melontarkan tubuh seseorang hingga puluhan meter.


Delapan orang terjengkang dalam sekali hentak sementara si pendatang baru itu hanya sendiri.


Pria itu jelas tak sederhana, pikir Xi Mo. Dan ia tahu persis pria itu berasal dari bangsanya sendiri.


"Kuangre!" pekiknya di antara kernyitan akibat menahan sakit bercampur kemarahan. Sedetik kemudian, Xi Mo tersungkur dan jatuh tertelungkup tak ingat apa-apa lagi.


Bersamaan dengan itu, ranting pohon di atas kepalanya bergetar.


Seekor kelelawar besar tersentak dan melesat ke langit malam.


Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh tinggi berjubah lebih gelap daripada malam meluncur turun dalam gerakan seringan angin, kemudian mendarat di sisi tubuh Xi Mo tanpa suara.

__ADS_1


Lalu dalam sekejap, sosok itu sudah melesat pergi dengan membopong tubuh Xi Mo.


__ADS_2