Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-7


__ADS_3

"Lari, Hua Zu!" teriak Jia Lin di antara sergapan dua pria berseragam ninja.


Dengan gesit Jieru menerjang ke arah mereka, melompati meja makan sambil menarik kedua belati bumerangnya dari balik punggungnya, lalu mendarat dengan ringan tanpa meninggalkan suara.


Detik berikutnya, ia melontarkan kedua belati itu ke seberang ruangan dan dua orang pria berseragam ninja terpental membentur dinding di belakang Kakek Ghou.


Belati itu kembali pada Jieru dan dengan tangkas, ia melambungkan tubuhnya lagi setinggi lima kaki dari permukaan lantai dan melontarkan kembali kedua belatinya dengan tendangan memutar di udara.


SLASH!


SLASH!


Dua belati itu kembali menyerampang ke arah dua pria lainnya.


JLEB!


JLEB!


Dua belati itu sukses melemparkan dua orang lagi.


Entah karena belatinya yang istimewa, atau kemampuannya yang luar biasa.


Belati kecil itu benar-benar mampu melontarkan bobot seribu kali lipat daripada ukurannya.


Hua Zu membeku di tempatnya tanpa berkedip.


Semuanya seakan terjadi dalam gerak lambat. Hua Zu dapat melihat apa yang sedang terjadi, namun tak ada yang dapat ia perbuat untuk menghentikannya.


"LARIIII!" Kakek Ghou menyeruak ke arah Hua Zu dan mendorongnya ke arah pintu.


Beberapa orang pria akhirnya menyadari kepergian Hua Zu dan serta-merta mereka melesat ke arah pintu melewati Kakek Ghou dengan kemampuan aerokinesis---ilmu meringankan tubuh.


Mereka jelas tidak sederhana, pikir Jieru.


Kemampuan seperti itu tak banyak dimiliki para petarung biasa kecuali penyihir dan ahli spiritual.


Jieru tidak termasuk jenis keduanya namun menguasai aerokinesis berkat kegeniusannya dalam mendidis kitab suci dewa cahaya dan menguak rahasia tersembunyi di balik ayat perumpamaan.


Jieru melesat ke arah pintu sambil melontarkan lima sicae lainnya ke arah mereka secara serentak dalam kecepatan yang sulit dideteksi.


Tiga orang terpuruk dan terjerembab sementara dua lainnya terpental seperti terkena hempasan badai.


Hua Zu berhasil lolos dan menghambur melintasi pekarangan belakang menuju ladang.


Tujuh orang lainnya merangsek ke arah Jieru dan menerkamnya dengan hujaman katana.


Jieru spontan melentingkan tubuhnya dalam posisi kayang untuk menghindari tebasan pedang, kemudian menyapukan tendangan memutar di permukaan tanah.

__ADS_1


Dua orang terjengkang sementara sejumlah lainnya menerjang dari berbagai arah.


"Mereka bukan manusia!" teriakan Kakek Ghou menggelegar dari sudut ruangan sambil menggeliat-geliut menangkis serangan hanya dengan mengandalkan kecepatan kakinya.


Jieru mendengar teriakan itu namun tak ada yang dapat dilakukannya kecuali terus bergerak untuk tetap bertahan hidup.


"MEREKA TAK BISA MATI!" Kakek Ghou berteriak lagi, lebih lantang dari sebelumnya.


"Kalau begitu kita juga tak boleh mati!" sahut Jieru tanpa berpikir. Ia memantulkan tubuhnya, mencoba melambungkan dirinya lebih tinggi lagi dan bersalto di udara untuk keluar dari kepungan.


Serta-merta para penyerang itu berpencar dan dalam sekejap sudah mengepungnya lagi.


"Nongmin!" Kakek Ghou meneriakinya lagi.


"Bisakah mengobrolnya nanti saja?" teriak Jieru sambil menggeliat-geliut di antara kepungan sejumlah mata pedang. "Apa kau tak lihat aku sedang sedikit sibuk?"


"Ada yang bisa membantuku?" teriakan Jia Lin menyela mereka. Perempuan itu sudah terdesak di sudut lain ruangan, berseberangan dengan Kakek Ghou, mencoba menahan serangan hanya dengan menggunakan palang pintu yang didapatkannya secara sembarang.


Kakek Ghou menoleh pada Jia Lin sambil melambungkan sebelah kakinya ke atas melewati kepalanya untuk menangkis serangan lawan. "Kau tak lihat aku sedang sedikit sibuk?" rutuknya pada Jia Lin.


Hua Zu tidak menunggu untuk melihat apa yang terjadi kemudian. Ia terus berlari melintasi rerumputan tinggi, kedua lututnya yang gemetaran terasa membebani langkahnya.


Sepatu kanvasnya tergelincir di rumput. Lalu ia tersandung, tapi cepat-cepat bangkit lagi dan berlari sekencang-kencangnya.


Suara-suara berdebuk ribut dari rumahnya masih terdengar ketika ia sampai di ladang. Tapi ia tidak berhenti atau sekadar menoleh untuk memastikan bahwa tak ada yang mengejarnya.


Memasuki hutan terlarang… kemudian menghilang.


.


.


.


Waktu berlalu…


Zhu Hua Zu…


Dan Zhou Hua Zu…


Tidak pernah kembali lagi.


Semua orang sudah melupakan mereka!


Lima belas tahun kemudian…


Tiga puluh tahun sudah, Kaisar Tio Bing memimpin orang-orang Luojii di padang gurun Zhujia.

__ADS_1


Tanah Zhujia semakin sekarat.


Kekeringan di mana-mana. Kelaparan merajalela.


Pemungutan upeti meningkat drastis.


Pekik jerit rakyat Yuoji di antara suara-suara berdebuk dan berderak ribut membahana dari waktu ke waktu setiap kali utusan kaisar datang mendobrak rumah warga dan menggasak harta benda mereka.


Para wanita menangis…


Anak-anak bersembunyi dengan gemetar…


Para pria menanggung pukulan demi pukulan tanpa daya…


Jalan-jalan di pinggiran kota selalu tampak kusam tertutup debu.


Desa-desa tenggelam dalam ketenangan yang gaib—lebih menyerupai ketegangan daripada ketenangan.


Memasuki pusat kota setiap orang akan disuguhi pemandangan memprihatinkan dari tembok-tembok yang sudah ambruk dan berlubang-lubang, melalui celah-celah yang menganga, membentuk semacam latar belakang dari kerangka-kerangka bangunan dan ruang-ruang kosong.


Hati siapa pun akan mencelus melihat betapa parahnya kehancuran Zhujia yang sesungguhnya.


Namun, meskipun kerusakan terlihat di mana-mana, di setiap tempat, orang-orang tetap bergerak cepat dan sibuk, menghindari tumpukan reruntuhan dan bangunan-bangunan yang roboh, seperti kawanan semut yang mematuhi perintah dan mengikuti aliran yang sudah ditetapkan, tanpa peduli dengan rintangan.


Berkali-kali tampak kerlipan sinar di sisi jalan---rasanya seperti sayap-sayap yang mengepak dengan cepat---tetapi kelihatannya itu berasal dari orang-orang yang sama setiap harinya, siluet gelap yang sama, mantel yang sama yang tersampir di bahu mereka, caping yang sama di kepala mereka.


Di mana-mana terdapat kedai jalanan, kios-kios yang menjual obat, kosmetik, kain, gundukan-gundukan jian bing dan aneka manisan, gerobak-gerobak keledai yang sarat dengan berbagai barang.


Orang-orang yang melayani penukaran batu spiritual mengambil kantong uang dari balik jubah mereka, menghitung bertael-tael perak kusam yang sudah menghitam.


Dan sekarang, dengan acuh tak acuh, para wanita dengan samfoo lusuh sedang sibuk berbelanja, menghitung tael-tael perak dalam kantong uang mereka yang tak kalah lusuh, atau menunggu kereta di tepi jalan, seakan tenggelam dalam tugas-tugas harian mereka, seakan normal-normal saja orang tinggal di pinggiran kota di bawah perbudakan bangsa lain.


Menjadi anjing di negeri sendiri!


Sementara para tetua di Balai Roh Pelindung mencoba mempertahankan perdamaian yang sudah mulai rapuh, para tetua bangsa pribumi kembali berdoa pada dewa nenek moyang mereka untuk membebaskan tanah Zhujia dari Luoji.


Namun sebaliknya, Luoji justru mendatangkan kematian bagi mereka.


Hingga…


Muncullah sang Mi Sai Ya, sang penyembuh yang disebut Nefilim. Ketua sekte cahaya yang misterius. Sebagian orang menyebutnya tabib dewa. Sebagian lagi menyebutnya… Hua Zu.


Bersamaan dengan itu…


Setiap harinya, ada saja aksi pemberontakan yang dilakukan sekelompok pemuda pribumi untuk menentang pemerintahan Luoji demi mendatangkan kebebasan tanah Zhujia. Tidak hanya membunuh… mereka juga merampok. Dan salah satunya yang paling terkenal adalah…


Hua Zu!

__ADS_1


__ADS_2