
Empat pengawal menyisir setiap sudut di seluruh kamar Xi Xia hingga ke tempat pemandian, sementara Xi Xia berjongkok di lantai memunguti perhiasannya dan mengembalikan semuanya ke dalam kotak sambil memastikan apa saja yang hilang.
Tapi lagi-lagi Xi Xia tidak menemukan ada yang hilang!
Apa sebenarnya yang terjadi? pikirnya heran.
Pertama-tama seorang penyusup masuk ke dalam kamarnya tanpa menyentuh laci maupun tempat-tempat yang memungkinkan menyimpan barang-barang berharga, lalu penyusup memasuki kamarnya lagi dan berhasil membongkar kotak perhiasannya tanpa mengambil satu pun dari perhiasan itu.
Apa sebenarnya yang dia cari?
Dan bagaimana bisa penyusup datang dan pergi tanpa satu pun penjaga menyadarinya. Bahkan pengawal bayangannya yang seharusnya selalu waspada di balkon kamarnya.
Apa kerja mereka selama ini? Xi Xia membatin kesal.
Di atap estatnya para pengawal bayangan itu masih berjibaku melawan pengawal Shin Wu dalam kebisuan yang tidak bisa didengar oleh siapa pun yang tidak memiliki kemampuan spiritual.
SAAAAAAT!
Yuze melayangkan tendangan lurus yang membuat tubuhnya terlihat seperti pedang yang sedang melesat.
SLASH!
Salah satu pengawal bayangan Xi Xia menghalau tendangan Yuze dengan dengan tendangan memutar, sementara pengawal bayangan lainnya melesat dari arah lain dengan melayangkan siku tangannya ke tengkuk Yuze.
Yuze mengelak dengan membungkuk sambil menyapukan tendangan memutar di bawah yang mengincar mata kaki kedua pengawal Xi Xia.
Kedua pengawal itu melejit menghindari sapuan tendangan itu, kemudian merentangkan kedua kaki mereka dan mencoba mendaratkannya di ceruk bahu Yuze di kiri-kanannya.
Yuze spontan merentangkan kedua tangan di sisi tubuhnya, menghalau kaki mereka dengan telapak tangannya.
SLASH!
Kedua pengawal itu terhempas ke dua arah yang berlawanan, tapi tidak sampai jatuh.
Sedetik kemudian, keduanya sudah melesat kembali untuk menyerang Yuze. Ritme serangan mulai meningkat.
Yuze hanya melompat ke sana kemari memantul-mantulkan tubuhnya untuk menghindari setiap serangan sambil mencoba mengirimkan isyarat kepada kedua pengawal itu bahwa ia tidak bermaksud menyerang mereka maupun Xi Xia.
Tapi serangan demi serangan membuat Yuze tak punya pilihan selain menyerang balik sementara terjangan demi terjangan dari mereka semakin sengit.
Yuze tidak berniat melukai satu pun dari mereka, jadi ketika salah satu dari mereka bersiap menarik senjata, Yuze segera menyambar pengawal itu dan mencekik lehernya sambil berbisik, "Aku pengawal Tuan Panglima!" ia memberitahu.
__ADS_1
Lalu pengawal itu mengangkat tangannya mengisyaratkan rekannya untuk berhenti.
Rekannya berhenti tapi tetap menghunus pedangnya dan menodongkannya di leher Yuze.
Yuze mengeluarkan plakat khusus agen rahasia yang terselip di ikat pinggangnya, dan memperlihatkannya pada mereka.
"Apa yang kau lakukan di kamar Nona?" desis pengawal bayangan wanita yang menodongkan pedang. Matanya terpicing dengan raut wajah curiga. Masih tak mau menurunkan pedangnya.
Yuze mendesah pendek dan melepaskan cengkeramannya, lalu berbisik pada mereka memberitahu apa yang tadi dilihatnya di kamar Xi Xia dari seberang pekarangan. "Aku tidak datang untuk menyerang Nona, hanya mengecek situasi kamarnya. Ada yang salah dengan kamar Nona. Kenapa kalian tidak coba memeriksanya dan malah menyerangku?"
Kedua pengawal itu bertukar pandang.
Lalu pengawal wanita itu menyarungkan kembali pedangnya dan segera melompat turun dari atap, kemudian mendarat di balkon jendela kamar Xi Xia.
Dan seketika seorang pengawal patroli menyambut pengawal bayangan itu dengan mata pedangnya.
Pengawal bayangan itu mencoba mengelak dengan melentikkan tubuhnya ke belakang.
Tapi pengawal patroli itu melompat ke balkon jendela dan mengayunkan pedangnya lagi.
Pengawal bayangan itu memutar tubuhnya dengan posisi miring di tepi balkon. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, dia akan meluncur jatuh.
Xi Xia terperangah dan melompat dari lantai.
Suara-suara berderak dan berdebuk ribut mau tak mau akhirnya menarik perhatian para pengawal lain yang sedang berpatroli di pekarangan samping.
Celaka! pikir pengawal bayangan Xi Xia.
Tiga pengawal sudah mendarat di balkon jendela dan menyerangnya di sana-sini.
Pengawal bayangan itu memekik sambil mengangkat kedua tangannya di sisi kepalanya, memperlihatkan plakat khusus agen rahasia pada para pengawal patroli. Posisi tubuhnya masih melentik ke belakang, nyaris terjengkang, sementara telapak kakinya hanya sedikit mendapat pijakan.
Pengawal patroli itu mengerang dan menurunkan pedangnya.
"Apa yang terjadi?" Xi Xia mendesis pada mereka sambil berjalan melintasi ruangan dan melongok ke arah jendela melewati bahu seorang pengawal.
"Hanya pengawal bayangan," jawab pengawal patroli balas berbisik.
Pengawal bayangan itu melompat ke dalam kamar dan mendarat di lantai tanpa suara, kemudian berjongkok di depan Xi Xia dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya. "Mohon ampuni kekurangan hamba, Nona!" bisiknya.
"Ah—sudah, sudah!" Xi Xia mengibas-ibaskan tangannya, menghalau semua pengawal dari kamarnya. "Semuanya baik-baik saja. Tidak ada barang berharga yang hilang. Aku mau kembali tidur sekarang."
__ADS_1
Para pengawal itu membungkuk serentak dan bergegas meninggalkan kamar Xi Xia.
"Perketat saja penjagaan mulai sekarang dan jangan katakan pada siapa pun kalau ada penyusup lagi masuk kamarku!" Xi Xia berpesan pada mereka yang secara otomatis ditanggapi dengan membungkuk.
Bersamaan dengan itu para pengawal dari pekarangan menghambur ke dalam kamar.
Xi Xia mengangkat tangannya mengisyaratkan para pengawal itu untuk berhenti. Lalu menempelkan ujung telunjuk di bibirnya mengisyaratkan mereka untuk tenang.
Para pengawal itu berhenti serempak dan membungkuk. Lalu berbalik dan bergegas keluar bersama para pengawal lain yang sudah lebih dulu berada dalam kamar Xi Xia. Berusaha setenang mungkin supaya tidak berisik.
Pengawal bayangan Xi Xia menyelinap keluar melalui jendela dan kembali ke atap, bergabung dengan rekannya dan juga Yuze.
"Ada penyusup lagi," pengawal itu memberitahu rekannya dengan berbisik. "Tapi Nona bilang tidak ada barang berharga yang hilang!"
"Aneh sekali!" gumam rekannya dan juga Yuze secara bersamaan.
"Kami berjaga di balkon sepanjang waktu," desis rekannya. "Tapi kami tidak melihat ada penyusup."
"Mungkin sebaiknya aku berjaga di dalam kamar," usul pengawal wanita yang tadi mengecek kamar Xi Xia. "Aku curiga si penyusup masih bersembunyi di suatu sudut di kamar Nona."
"Aku harus kembali," kata Yuze menyela mereka sambil membungkuk sedikit dengan hormat tentara.
"Terima kasih," kata kedua pengawal Xi Xia sambil membungkuk dengan hormat tentara yang sama.
Xi Xia mengedar pandang sekali lagi melalui ekor matanya dengan tatapan cemas, lalu kembali ke tempat tidurnya dan meletakkan kucing kecil di sisi bantalnya. "Jangan ke mana-mana," katanya pada kucing itu sambil menepuk-nepuk lembut tengkuknya. Lalu menyusun bantalnya untuk membuat kucing itu merasa nyaman.
Pada saat itulah Xi Xia menemukan sesuatu di bawah bantalnya. Sebuah kantong kain berwarna hitam diikat tali berwarna emas dengan plakat kayu mengkilat bertulisan: Panjang umur!
Apa ini? pikir Xi Xia terkejut. Lalu mengambil kantong itu dan membukanya. Matanya spontan melebar.
Kantong itu ternyata berisi kalung warisan ibu kandungnya.
Siapa yang menaruhnya di bawah bantalku?
Kak Shin Wu?
Segulung kecil kertas rami terselip dalam kantong itu berisi sebuah pesan: Terima kasih atas kemurahan Nona. Sejujurnya tua renta ini tak layak menerimanya. Saya yakin kalung ini sangat berharga. Selamat ulang tahun, Nona Lim.
"Hah?" Xi Xia memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
Penyusup itu… Xi Xia menyadari. Bukan pencuri!
__ADS_1