
Dia mengejarku?
Apa tepatnya yang ingin dia lakukan?
Apakah dia akan menangkapku hanya karena aku menatapnya?
Gadis itu bertanya-tanya dalam hatinya.
Hua Zu masih menatapnya dengan raut wajah datar.
Dan gadis itu balas menatapnya dengan kedua mata terbelalak.
"Apa kau sedang memata-mataiku?" Hua Zu bertanya seraya memicingkan matanya.
Apa katanya, memanta-matai?
Gadis itu melangkah mundur menjauhi Hua Zu dengan kaki gemetar.
Tidak, batinnya. Dia sudah salah paham!
Setiap orang sekarang sudah tahu siapa Hua Zu berambut hitam.
Shashou!
Seorang perampok dan juga pembunuh.
Gadis mana yang takkan gemetar saat berhadapan dengan Hua Zu berambut hitam?
Tapi Hua Zu memandang kegelisahan itu sebagai pertanda seseorang sedang berbohong.
"Ya!" Hua Zu menyimpulkan. "Kau memata-mataiku," tandasnya seraya menyergap pergelangan tangan gadis itu.
"Tidak, lepaskan aku!" gadis itu memekik ketakutan ketika Hua Zu menyeretnya menjauh dari kerumunan. "Kumohon!"
Hua Zu tidak menggubrisnya.
"Seseorang---siapa saja, tolong!" jerit gadis itu ke arah kerumunan orang banyak yang baru keluar dari pekarangan balai pengadilan. Tapi karena orang banyak itu takut pada Hua Zu dan para Shashou, mereka hanya meliriknya sepintas dan berlalu menjauh dengan buru-buru. Tidak seorang pun berani berurusan dengan orang-orang sekte belati, terutama Hua Zu.
Gadis itu menyentakkan tangannya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Hua Zu. Tapi cengkeraman pemuda itu sekeras baja---tak sedikitpun melonggar. Tindakan itu hanya membuat pergelangan tangannya semakin sakit. Gadis itu meringis dan hampir menangis.
Hua Zu hanya meliriknya sekilas dengan tampang datar. Sementara langkah mereka telah sampai di sebuah gang sempit di antara puing-puing bangunan yang jauh dari keramaian.
Di ujung gang itu, terdapat sebuah bangunan kumuh berukuran besar seperti rumah ibadah yang lama terbengkalai, yang di dalamnya digunakan sebagai tempat tinggal para pengemis, pemulung dan fakir miskin lainnya---berdampingan dengan para penyamun.
Gadis itu menelan ludah mengetahui kenyataan itu. Tempat ini lebih mirip tempat pengungsian, pikirnya getir. Ia mengedar pandang, memperhatikan wajah orang-orang yang menatapnya dari lapak masing-masing.
__ADS_1
Seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun menyentuh tangan gadis itu seraya tersenyum.
Gadis itu menautkan alisnya seraya balas tersenyum dan mengulurkan tangannya, membiarkan anak itu menggapainya.
Hua Zu menyadari hal itu, kemudian menyentakkan cengkeramannya, menjauhkan gadis itu dari anak kecil tadi.
Gadis itu memekik terkejut dan menatap Hua Zu dengan mata terbelalak tak mengerti.
Anak kecil tadi tersentak dan menghambur menjauhi mereka. Tapi Hua Zu berhasil menyergapnya.
Gadis itu mengerutkan dahinya.
Hua Zu merenggut tangan anak itu dan merampas sesuatu dari genggamannya.
Gelangku, si gadis menyadari.
Anak kecil itu baru saja mencuri gelangnya dan ia tidak menyadarinya.
Hua Zu mengembalikan gelang itu padanya sementara si anak kecil tadi berhasil kabur---lebih tepatnya dibiarkan kabur.
Gadis itu mengerjap seraya menjilat bibir bawahnya, menatap wajah Hua Zu sesaat dan tertunduk.
Hua Zu kembali menghela tangannya dan berjalan cepat melewati lapak demi lapak tanpa bicara.
Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja besar di tengah ruangan---kelihatan seperti meja rapat, yang di sekelilingnya tengah duduk lima orang pria bertampang sangar.
Kelima pria itu adalah rekan-rekan Hua Zu yang lain dari aliansi pemuda pribumi.
Kelima pria itu menoleh ke arah pintu dan terkesiap melihat kedatangan Hua Zu.
"Whoa---sejak kapan kau menjadi keparat?" salah satu dari mereka bertanya terkejut.
"Aku Shashou---si penyamun, apa kau lupa?" sahut Hua Zu datar.
"Ah, yah---perampok keji, pembunuh berdarah dingin," temannya menimpali. "Apa sekarang kau juga c a b u l?"
Hua Zu tidak menjawab. Ia melemparkan gadis itu ke tengah ruangan dan mencampakkannya ke lantai.
Gadis itu tersungkur dan terhenyak. Dadanya serasa meledak.
"Omong-omong---selamat datang kembali, Hua Zu!" salah satu pria lainnya berkata. "Entah bagaimana caranya, tapi aku tahu Bajingan Kaida selalu kembali."
Kelima pria itu beranjak dari tempatnya masing-masing dan bergabung di dekat Hua Zu.
"Aku bukan mata-mata," jerit gadis itu parau, kemudian melotot ke arah Hua Zu. Ketakutannya telah berubah menjadi kemarahan akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Hei, kucing kecil punya cakar," salah satu teman Hua Zu tertawa menggodanya.
Hua Zu mendengus dan menyeringai, tapi tak mengatakan apa-apa.
"Kukira kau lolos karena menjadikannya sebagai sandera," salah satu pria di sampingnya berkata seraya memicingkan mata, menatap Hua Zu dan gadis itu secara bergantian dengan raut wajah penuh tanya.
Dua di antaranya mendekat dan salah satu dari mereka berjongkok di depan gadis itu.
Gadis itu beringsut menjauh seraya menghardiknya juga, "Jangan sentuh aku!"
"Whoa—tenang!" pria itu mengangkat kedua tangannya di sisi kepalanya. "Aku bersumpah tidak akan menyakitimu," katanya cepat-cepat. Lalu mengulurkan sebelah tangannya dengan sikap dramatis seorang bangsawan. "Apa kau terluka?" ia bertanya lembut membujuk—tak kalah dramatis.
"Tidak," sahut gadis itu sedikit melunak seraya menatap ragu ke arah pria di depannya, kemudian menerima uluran tangannya sedikit takut-takut.
Pria dramatis itu tersenyum dramatis, kemudian menariknya berdiri. "Namaku Aiguo," katanya.
Hua Zu membeliak sebal menanggapi tingkah rekannya.
"Siapa namamu?" Aiguo melanjutkan seraya menarik tangan gadis itu ke dekat wajahnya.
"Xi Xia," jawab gadis itu seraya menarik tangannya dari genggaman Aiguo, kemudian mengedar pandang, mengawasi wajah-wajah pria di depannya dengan sikap gelisah.
"Apa kau orang Luoji?" pria lainnya menimpali seraya mengamati gelang dan batu giok di ikat pinggang Xi Xia.
Perhiasan semacam itu sangat jarang dikenakan perempuan Yuoji. Lagi pula gadis itu memakai hanfu dari sutra di balik jubah bertudungnya.
"Tidak," jawab Xi Xia cepat-cepat. "Aku dari Naseli," katanya seraya menatap pria di samping Hua Zu dengan raut wajah gugup.
Hua Zu masih terdiam. Naseli adalah desa mati, batinnya sinis.
"Kumohon lepaskan aku, Tuan!" gadis itu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah. "Setidaknya ijinkan aku melihat dia untuk terakhir kali," pintanya pada Aiguo.
Hua Zu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah bosan. Alasan klasik perempuan, pikirnya sebal.
"Besok tuanku dieksekusi mati," isak Xi Xia dengan kesedihan yang tidak dibuat-buat.
Hua Zu menautkan alisnya, kemudian bertukar pandang dengan rekan-rekannya.
"Apa kau salah satu pengikut Hua Zu orang Naseli?" teman Hua Zu bertanya.
"Benar, Tuan!" jawab Xi Xia sedikit terlalu antusias.
Seisi ruangan kembali bertukar pandang.
"Dan berhentilah memanggilku tuan," kata pria di samping Hua Zu. "Jika kau orang Yuoji, seharusnya kau tahu tidak ada tuan selain Dewa Agung."
__ADS_1