Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-30


__ADS_3

Keesokan harinya, Shin Wu mangkir dari tugasnya dan berganti pakaian sipil.


Ia mengenakan jubah labuh putih bertepian hitam bercorak emas yang dipadu dengan ikat pinggang sewarna dan sepatu bot selutut warna hitam yang juga bercorak emas.


Dengan alasan ingin pergi berburu, ia melesat ke dalam hutan memacu kudanya tanpa pengawalan, menyusuri lapangan rumput yang landai dan terpesona oleh pemandangan hijau yang menghampar luas di sekelilingnya.


Udara yang berbuih, begitu ringan bagaikan gumpalan awan, membelai lehernya. Rambut panjangnya yang diikat kencang ke belakang, melecut-lecut menyerupai ekor kuda.


Ia memandang sekeliling.


Di ujung sana lapangan, permukaan tanah kembali melandai dan terus menurun. Pohon-pohon kurus berderet di antara semak-semak ilalang setinggi pinggang orang dewasa.


Ia tak dapat memperkirakan seberapa luas lapangan rumput itu.


Tiga ratus enam puluh derajat hamparan warna biru dan tanah, pegunungan dan lembah, di mana biru berubah menjadi ungu kemudian hijau, kuning, dan cokelat pucat.


Itu hanya sejenak, satu embusan napas. Satu saat ketika segala sesuatunya naik satu oktaf dan ia merasakan getaran di tulang punggung.


Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya sampai di desa Naseli, tempat di mana ia bermain semasa kecilnya dan menemukan hutan belantara yang lebih gelap dari yang diingatnya.


Ia menghentikan kudanya di bawah sebatang pohon.


Naseli benar-benar sudah jadi desa mati!


Dari bukit landai ia melihat danau di lembah di dekat sebatang pohon yang hanya terlihat seperti siluet.


Kabut yang mengambang di permukaan air terlihat seperti uap air panas di dalam cangkir.


Ia memutuskan untuk turun ke lembah dan mencari tahu apakah tempat itu lembah Jinzhi.


Ia melompat turun dari kudanya dan menambatkan kuda itu di sana.


Bunyi gemeretak di belakang membuatnya berbalik badan, dan tepat pada saat itu ia melihat seekor tupai tanah berbulu cokelat-putih menyelusup masuk ke balik tumpukan daun kering.


Shin Wu memutar tubuhnya lagi, dan melangkah masuk ke dalam hutan, ranting-ranting kering berkeretak terinjak sepatu armornya yang berat.


"Apa yang kau lakukan? Jangan dekati hutan terlarang!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang memarahinya.


Shin Wu tersentak dan mengedar pandang, lalu tertunduk menatap tajam ke arah tupai tadi. "Kau bicara padaku?" ia membelalakkan matanya tak percaya.


Jangan konyol, Shin Wu! Ia memarahi dirinya sendiri. Mana mungkin seeokor tupai bisa bicara. Ia menyentakkan kepalanya ke belakang, mengira akan melihat Hua Zu mentertawakannya. Tapi ia mendapati dirinya hanya sendirian.


Dengan mata terpicing, pria itu kembali mengawasi tupai kecil berbulu cokelat-putih tadi dan mendekatinya.

__ADS_1


"Haha..." tupai kecil itu mendongak dan kepalanya bergoyang-goyang. Seperti sedang tertawa.


Tertawa? Shin Wu terkesiap. Tupai itu tertawa? Aku pasti sudah gila!


Tupai itu sekarang menggoyang-goyangkan ekornya, kemudian menelengkan kepalanya, menatap Shin Wu dengan tampang mencemooh.


Shin Wu menelan ludah, kemudian memutar-mutar bola matanya dan menghembuskan napasnya keras-keras. Otakku betul-betul tak beres, batinnya, lalu sekali lagi ia menatap tupai tadi dan menggeleng.


Dia hanya seekor tupai, katanya dalam hati. Ia mengurut pelipisnya kemudian berkacak pinggang dan menendang tupai itu dengan ujung sepatunya.


"Hey! Jaga sikapmu! Kau betul-betul tak sopan." Tupai itu memelototinya.


"Aku hanya ingin memastikan aku tak sedang berhalusinasi," Shin Wu berkilah.


"Tentu saja kau tidak sedang berhalusinasi. Hanya saja…" tupai itu menggantung kalimatnya sambil menggoyang-goyangkan ekornya lagi.


"Hanya saja apa?" Shin Wu menyela cepat-cepat.


"Aku tak mengira kau begitu tolol!"


"Apa kau bilang?" Shin Wu melotot tak sabar. "Kau yang tolol!" hardiknya sambil menunjuk tupai itu. Bagus sekali! rutuknya dalam hati. Jadi sekarang aku mulai punya hobby baru--bertengkar dengan tupai?


"Kau mudah sekali dibodohi!"


Shin Wu menyentakkan kepalanya ke samping dan berhadapan dengan seorang pria paling bersinar di muka bumi. "Hua Zu! Kau—" ia tergagap-gagap sambil menunjuk Hua Zu dan tupai tadi secara bergantian. Lalu meledak murka, "SIALAAAAAN!!!"


"Harusnya kau lihat tampangmu tadi," ejek Hua Zu sambil tersenyum miring.


"Tutup mulutmu!" Shin Wu menghunus pedang dari pinggangnya dan mengayunkannya di depan wajah Hua Zu mengisyaratkan tantangan.


Hua Zu tersenyum lagi, kemudian mulai mengedikkan bahunya ke kiri dan ke kanan sementara Shin Wu sudah mengayun-ayunkan pedangnya ke arah Hua Zu.


Demikian pada akhirnya mereka mengulang permainan masa kecil mereka di tepi lereng yang sama di perbatasan hutan Jinzhi.


"Begini saja," kata Hua Zu ketika mereka masih kecil. "Kalau kau bisa menyentuhku dengan pedangmu, artinya ilmu pedangmu tak terkalahkan!"


Hal itu juga pernah dikatakannya pada Zhou Hua Zu ketika mereka masih menjadi Jian dan Jiyou.


Tapi bahkan pedang Jian tak bisa menyentuhnya.


Sekarang, Shin Wu dengan gigih mencoba menguji kemampuannya dengan berbagai teknik dan gerakan, sementara Hua Zu hanya berkelit sedikit, atau bergeser selangkah ke samping dan ke belakang dengan kedua tangannya tetap terlipat di belakang tubuhnya.


"Aku tak ingin melukaimu," protes Shin Wu sewaktu kecil.

__ADS_1


"Coba saja," tantang Hua Zu. "Memangnya kau bisa melukaiku?"


"Kau meremehkanku!" Shin Wu terprovokasi, lalu mulai menyerang Hua Zu.


"HIAAAAAAAT!" Shin Wu melambungkan tubuhnya dan memutar di udara, lalu menukik menghujamkan ujung pedangnya ke dada Hua Zu.


Tapi lagi-lagi Hua Zu hanya bergeser selangkah dan memutar tubuhnya sedikit.


Dan pedang Shin Wu terlempar dari tangannya ketika tangan itu membentur bahu Hua Zu.


Sama persis seperti waktu kecil.


"Tidak ada yang berubah," komentar Hua Zu di antara senyum tipisnya.


Shin Wu terengah-engah sambil membungkuk menekuk perutnya.


"Kau tak pernah belajar dengan sungguh-sungguh, ya kan, Shin Wu?" tanya Hua Zu serius. Kedua tangannya masih terlipat di belakang tubuhnya.


Shin Wu tidak menjawab. Ia membungkuk untuk memungut pedangnya dan menyarungkannya kembali di pinggangnya.


Hua Zu menaikkan sebelah alisnya, menuntut jawaban.


Shin Wu tertunduk dengan raut wajah muram, "Aku dihukum empat puluh cambukan dan dikurung selama empat puluh hari," cerita Shin Wu.


"Dan kau membutuhkan waktu empat bulan untuk memulihkan diri dan empat tahun mengalami trauma?" terka Hua Zu. "Itukah sebabnya kau lupa cara menggunakan pedang?"


"Benar," jawab Shin Wu sambil tersenyum masam. Lalu mengangkat wajahnya dan menatap Hua Zu. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Bagaimana kau bisa tahu?"


"Aku dewa Yuoji," sahut Hua Zu tanpa beban sedikit pun. "Aku mengetahui segala sesuatu di negeri ini."


"Lalu kenapa kau masih bertanya?" sembur Shin Wu tak sabar.


Hua Zu tersenyum tipis. "Itu karena kau manusia," tukasnya. "Manusia selalu butuh bicara dari waktu ke waktu."


Shin Wu langsung terdiam.


"Akan ada saat di mana kau bicara lebih banyak dari menggunakan pedang," kata Hua Zu.


Shin Wu mengerjap dan menelan ludah. Matanya terpicing menatap Hua Zu.


Tapi lagi-lagi Hua Zu hanya tersenyum tipis, lalu tiba-tiba ia merenggut plakat undangan yang terselip di ikat pinggang Shin Wu dan melambaikannya sekilas, "Aku akan datang!" katanya sambil berbalik memunggungi Shin Wu dan berlalu meninggalkannya, melejit dan menghilang di ketinggian.


Shin Wu hanya membeku menatap udara kosong.

__ADS_1


__ADS_2