
"Guru memang pernah mengatakan bahwa tak tahu apakah Hua Zu masih hidup," cerita murid Jieru yang tampaknya paling dekat dengan Jieru. "Katanya kau pergi ke hutan terlarang, dan kemungkinan kau masih hidup itu sangat kecil."
Hua Zu tertunduk. Tak yakin apakah ia perlu mengatakannya.
Angin malam berembus di luar jendela bundar di sisi ruang kamar ketua di dalam benteng Kuangre.
Setelah sesaat mereka hanya tertunduk di tepi pekarangan, bersandar di dinding benteng dengan putus asa, murid senior Jieru akhirnya memutuskan untuk mengundang Hua Zu ke dalam markas mereka dan mengajaknya berbincang-bincang di ruang ketua.
Tak ada lagi yang dapat dilakukan ketika akhir dari sebuah pertempuran adalah hilangnya semua orang dengan cara yang tidak masuk akal.
Beruntung beberapa anggota dibuat tuli selama pertempuran berlangsung begitu sengit hingga mereka tidak terbangun dari tidurnya dan terhindar dari malapetaka. Ini juga tentunya bukan suatu kebetulan.
Ada campur tangan penguasa alam semesta dalam setiap perkara dan rentetan peristiwa.
Mereka hanya belum mengerti rancangan sang dewa agung yang sedang berlangsung.
Para anggota yang kebingungan itu sekarang bergabung dengan mereka. Sebagian melayani mereka, sebagian lagi hanya menyimak dalam kebisuan yang membingungkan.
Segala sesuatu yang terjadi malam itu terlalu janggal hingga tak tertanggung oleh semua orang. Bahkan Hua Zu.
"Aku tak yakin apakah kalian percaya," kata Hua Zu dengan raut wajah muram. "Tapi hutan terlarang itu sesungguhnya adalah surga yang hilang."
Murid-murid Jieru serentak terperangah. Menatap Hua Zu dengan mata dan mulut membulat. Beberapa tak sadar mereka menahan napas.
"Kami percaya," mereka bergumam tanpa mengalihkan tatapan dari Hua Zu.
Hua Zu mengerutkan keningnya dan mengedar pandang. Meneliti setiap wajah satu per satu dengan kebingungan. "Kenapa kalian mudah sekali mempercayai ceritaku?"
"Kenapa kau tidak bertanya kenapa kami mudah sekali percaya bahwa kau adalah putra Guru Zhou?" murid senior yang membawa Hua Zu masuk ke markas mereka balas bertanya.
"Aku tidak tahu," Hua Zu mengaku. "Kukira kalian sedang mengujiku sekarang."
"Meski samar, warna cahaya di dahimu adalah bukti yang takkan tertukar," kata murid senior pertama tadi. Namanya Zhang Jiangwu.
__ADS_1
Hua Zu mengerutkan keningnya lagi. "Kau bisa melihat warna cahaya?"
"Kami bertiga, murid senior utama bisa melihat warna cahaya," murid senior kedua menimpali.
Hua Zu berpaling pada murid senior kedua tadi, namanya Zhang Bingje. Dan murid senior ketiga bernama Zhaoyang Hong. Mereka bertiga adalah murid utama Jieru. Ketiganya sudah mewarisi sebagian kekuatan Jieru.
Warna cahaya adalah gambar simbol di dahi setiap orang yang hanya dapat dilihat oleh para ahli spiritual yang sudah mencapai tingkat leluhur. Dan masing-masing gambar berbeda antara yang satu dengan yang lain. Seperti huruf misterius yang menjadi identitas spiritual setiap orang, semacam nama surgawi yang hanya bisa ditafsirkan oleh ras dewa.
"Guru menggambar tanda di dahimu dalam setiap buku yang ditulisnya," cerita Zhong Jiangwu. "Bisa dikatakan, sudah menjadi semacam tanda tangannya. Dan kami sudah sangat familier dengan polanya."
"Lalu, apa saja yang kalian tahu tentang surga yang hilang?" tanya Hua Zu.
"Tidak satu pun manusia dibiarkan masuk atau keluar hidup-hidup," jawab Jiangwu.
Hua Zu mendesah pendek dan tersenyum masam. Jadi aku ras dewa seutuhnya? batinnya getir. Dan itu artinya ayahku juga ras dewa!
Kebisuan menyergap mereka dalam waktu yang lama. Semua orang tertunduk. Semua orang tercenung. Semua orang khawatir tapi tak ada yang bisa dilakukan.
Kami harus bagaimana? pikir mereka.
"Apa yang kalian tahu tentang Legion?" tanya Hua Zu memecah keheningan.
Jiangwu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke meja Jieru dan mengeluarkan setumpuk dokumen berlogo Balai Roh Pelindung, lalu menyerahkannya pada Hua Zu.
Hua Zu mempelajarinya satu per satu dengan dahi berkerut-kerut.
Bayang-bayang peristiwa di masa lalu berkelebat dalam benaknya.
"Kenapa semua orang memanggil Ayah petani?" Hua Zu bertanya pada ayahnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya. "Apakah Ayah tidak punya nama?"
"Ayah percaya bahwa setiap orang dikenal karena pekerjaannya," jawab ayahnya sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menepiskan kotoran. "Kakek Ghou membawaku ke desa ini ketika aku masih kecil," lanjutnya sambil berkacak pinggang.
Hua Zu akhirnya mengangkat wajah.
__ADS_1
"Seluruh desa mengadopsiku," lanjut ayahnya sambil tersenyum miring. "Setiap keluarga bergantian memeliharaku dari waktu ke waktu. Tapi Kakek Ghou… dia selalu punya perhatian khusus padaku."
Hua Zu memijat-mijat pelipisnya sambil membekap kedua matanya dengan telapak tangan. Ia mendesah lagi dengan raut wajah frustrasi.
Siapa pun yang mendengar cerita ayahnya tentu akan menyimpulkan hal yang sama bahwa Jieru adalah anak yatim-piatu.
Tapi kenyataannya tidak demikian.
Ghou Jingmi adalah seorang abdi kerajaan yang lebih dikenal dalam istilah royal guard---pasukan abadi kerajaan yang bermarkas di Balai Roh Pelindung.
Pada hari Kakek Ghou membawa Jieru ke desa terpencil, sesungguhnya Jieru sedang menjalani pelatihan khusus sebagai calon pasukan abadi.
Misi Balai Roh Pelindung adalah menjadi pelindung rakyat kecil. Setiap calon tentara abadi akan dikirim ke desa-desa terpencil untuk menjalin hubungan spiritual dengan semua orang.
Bersamaan dengan itu, Ma Tuoli juga dikirim ke desa terpencil lain sebagai teman satu angkatan.
Jieru lulus dengan cemerlang dan mendapatkan hak sebagai ketua Balai Roh Pelindung pada usianya yang kedua puluh.
Sementara Tuoli menduduki posisi wakil ketua.
Tapi ambisi Tuoli yang tiada batas mengambil alih kendali hukum dan entah bagaimana latar belakang ras bisa menjadi syarat untuk menentukan apakah seseorang layak menjadi tentara abadi.
Sejak saat itulah perburuan Fallen dan Nefilim menjadi tugas utama tentara abadi.
Bersamaan dengan itu, bangsa Luoji datang menjajah dan menguasai seluruh benua kecuali pulau Liuwang, dengan syarat; pulau Liuwang menjadi pusat pelatihan khusus para tentara abadi sekaligus tempat pembuangan keturunan campuran.
Pulau Liuwang adalah wilayah kekuasaan Balai Roh Pelindung namun tetap diakui sebagai bagian dari negara Luoji, di mana Balai Pangeran dan Balai Sosial didirikan sebagai kerja sama antara kekaisaran Luoji dan Balai Roh Pelindung, termasuk juga di dalamnya kota tua Zhujia dan desa Naseli. Itulah sebabnya kenapa pulau Liuwang disebut juga sebagai tempat pengasingan.
Segala sesuatu di pulau Liuwang adalah segala sesuatu yang paling dibenci oleh bangsa Luoji.
Di pulau ini pulalah mereka mendirikan institut tentara bayaran untuk menyokong kekuatan militer bangsa asing.
Lebih dari itu, Tuoli juga melakukan perjanjian gaib dengan ras iblis yang disebut-sebut sebagai Dewa Roh Agung.
__ADS_1
Dewa tak jelas yang selalu meminta tumbal sepanjang waktu sebagai syarat untuk mempertahankan pulau Liuwang tetap menjadi milik Tuoli.