Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-55


__ADS_3

Di kaki gunung Kaida…


Gadis misterius itu membawa Hua Zu ke dalam gua di kaki gunung, di mana Hua Zu pernah berlatih pedang hingga hampir sesat.


Ia meletakkan tubuh Hua Zu di lantai gua dan menutup lubang gua dengan energi gelap pekat sehingga siapa pun yang melongok ke dalam gua tak dapat melihat apa pun kecuali kegelapan total.


Kelopak mata Hua Zu bergetar lemah ketika ia mencoba memfokuskan pandangannya pada seraut wajah yang membungkuk di atas tubuhnya.


Gadis misterius itu menggenggam gagang belati yang menancap di leher Hua Zu, namun alih-alih mencabut belati itu, gadis itu justru menekanya semakin dalam hingga Hua Zu terhenyak dan tubuhnya menggelepar, lalu terkulai tanpa tanda kehidupan.


Beberapa saat kemudian, gua itu mendadak terang benderang.


Hua Zu tersentak dan terduduk seraya mengedar pandang. Matanya yang panik menyapu sekeliling dan menemukan seekor kucing kecil berbulu hitam di lantai gua di sisi tubuhnya.


.


.


.


Di alun-alun Balai Tahanan, kota tua Zhujia…


Kerumunan massa mulai berpencar sebagian, tapi para pendukung Hua Zu dan murid-muridnya masih bertahan meski para serdadu mendorong mereka dengan paksa.


"Bubar! Keluar sekarang!" Teriakan-teriakan nyaring para serdadu menggema di alun-alun.


Orang banyak bergerak keluar berdesak-desakan.


"Jenderal!" Seorang pria menyeruak melawan arus kerumunan seraya mengangkat tinggi sebelah tangannya. Terombang-ambing di antara semua orang yang berdesak-desakan. Pada tangannya yang terangkat tinggi, ada selembar dokumen yang coba ia tunjukkan kepada Tio Jun. "Aku datang atas nama Pao Lu!" teriaknya.


Beberapa serdadu setentak menghambur ke arah pria itu dan menguak kerumunan untuk memberinya jalan.


"Kumohon bacalah ini!" Pria itu menghampiri Tio Jun dengan tergopoh-gopoh.


Komandan pasukan itu mengambil dokumen itu dari tangan pria tadi kemudian menyodorkannya pada Tio Jun yang sudah bertengger di atas kudanya.


Tio Jun merenggut dokumen itu dan membacanya.


Xi Xia dan Selir Yuwen mengawasi mereka seraya menenggelamkan diri ke dalam kerumunan.


Pria itu adalah ahli spiritual di istana gubernur, salah satu pendukung Hua Zu berambut emas tetapi sembunyi-sembunyi karena takut pada para tetua bangsa Yuoji.


"Kau merelakan kuburmu sendiri untuk orang Naseli itu?" Tio Jun bertanya tak lama kemudian.


Tak jauh dari tempat itu, ada taman pemakaman milik keluarga ahli spiritual itu. Salah satu makamnya yang masih kosong adalah miliknya---makam baru yang disediakan khusus untuk menguburkannya kelak. Lalu pria itu meminta kepada Pao Lu, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Hua Zu untuk menguburkannya di sana.


Pao Lu meluluskan permintaannya.


Maka pria itu pun datang ke tempat itu.

__ADS_1


"Apa pentingnya dia bagimu?" Tio Jun bertanya lagi.


Kai Fang juga datang bersama ahli spiritual itu.


Kai Fang adalah salah satu biksu tetua yang lebih dikenal sebagai Biksu Fang. Oknum Balai Roh Pelindung yang terhormat. Pria itu membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.


Tio Jun memandangnya dengan heran. "Tetua Ma memutuskan untuk menghabisinya! Kau juga bagian dari dewan, kan?" Tio Jun bertanya pada Biksu Fang.


"Ya," jawab Biksu Fang.


"Saudara-saudaramu menghina orang ini," lanjut Tio Jun sedikit sinis. "Dan kau berkabung?"


"Dia sangat istimewa," jelas Biksu Fang seraya mengangkat sebelah tangannya di depan dada sementara tangan lainnya menggenggam tongkat kebesarannya, lalu membungkuk pada Tio Jun sambil menggunakan kata-kata khas para buddhaisme.


"Maksudmu… dia benar-benar Mi Sai Ya?" Tio Jun mengerutkan dahinya.


"Anda menguji saya, Pangeran?" Kai Fang balas bertanya.


Dan seketika pemuda itu mengatupkan mulutnya.


Komandan di sampingnya mendesah pendek seraya mengalihkan perhatiannya dari arus kerumunan yang mengalir keluar. Isi kepalanya dipenuhi kebimbangan dan pertimbangan. Akal sehatnya mengembara jauh mencari jawaban, sementara hati nuraninya terus berbicara memberikan penjelasan.


Dia?


Istimewa?


Apa maksudnya?


Balai Roh Pelindung memutuskan untuk menghabisinya karena dia mengklaim dirinya Mi Sai Ya.


Tapi salah satu dari mereka muncul di sini secara diam-diam dan mengatakan bahwa dia istimewa.


Dewa-kah dia?


Kenapa hanya begini saja?


Komandan itu memandangi tiang Hua Zu. "Hari ini sangat aneh," gumamnya. "Kurasa ada sesuatu yang salah!"


Tio Jun buru-buru meluruskan tubuhnya ke posisi semula. "Maksudmu gempa tadi?" Ia bertanya seraya menoleh pada komandan yang berdiri di sisi kudanya.


"Bukan hanya itu," komandan itu berkilah. "Ini juga terlalu gelap," katanya seraya mendongak ke arah langit, kemudian menoleh pada Tio Jun.


Tio Jun mendengus tipis seraya mengawasi kerumunan orang banyak yang sedang keluar.


"Gempa besar terjadi ketika Orang Naseli itu mengembuskan napas terakhirnya," gumam komandan itu.


"Itu hanya kebetulan!" sergah Tio Jun.


"Dia bicara pada dewa orang Yuoji," tukas komandan itu. "Orang ini sungguh tidak bersalah!"

__ADS_1


Tio Jun menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit jengkel.


Komandan itu langsung terdiam.


Kegelapan yang meliputi seluruh tempat mulai menipis, namun langit masih tetap mendung.


Angin berembus tipis ketika Tio Jun berteriak ke bukit pembantaian. "Kembalilah ke perwira kalian!" perintah Tio Jun kepada serdadu yang mengurus mayat Hua Zu. "Dia sudah ada yang mengurusnya."


Para serdadu itu segera beranjak. Biksu Fang dan ahli spiritual gubernur kemudian menggantikan mereka.


Para pendukung Hua Zu---terutama murid-muridnya serentak berhimpun di sekitar mereka bersama para wanita yang dibangkitkan.


Xi Xia tidak bergabung bersama mereka. Bersama dengan ibu tirinya, gadis itu mengendap-endap meninggalkan kelompoknya, kemudian berbaur di antara kerumunan orang banyak yang bergerak keluar.


Tio Jun mengawasi mereka dengan mata terpicing.


Setelah semua orang meninggalkan alun-alun, para serdadu juga berangsur-angsur pergi.


Tio Jun juga mulai bergerak keluar.


.


.


.


Istana Gubernur, Yeliushen…


"Ayah telah melakukan kesalahan besar," Xi Xia menumpahkan amarah dan kekecewaannya pada ayahnya. "Ayah telah membebaskan orang yang keliru dan menghukum seseorang yang tidak bersalah," ratapnya dengan napas terengah-engah.


Pao Lu berusaha menenangkan putrinya. "Bukan aku yang menentukannya, Xi Xia!" katanya membela diri.


"Lalu siapa?" tuntut Xi Xia dengan suara meninggi dan tersengak-sengak.


"Hukum mereka yang menentukan!" sergah Pao Lu.


Xi Xia mendengus seraya merenggut tudung jubahnya dari kepalanya kemudian mencampakkan jubahnya dengan sikap ketus. Lalu kembali menangis.


Pao Lu mengamati jubah bertudung itu dengan alis bertautan, kemudian menatap putrinya. "Kau... pergi ke Bukit Pembantaian?"


"Ya," Xi Xia menjawab cepat. "Aku adalah putri gubernur, ingat?"


Pao Lu terdiam.


Xi Xia benar, pikirnya. Dia adalah putri seorang gubernur—putrinya. Sebagai anggota keluarga dari seorang wali negeri, ia memang harus memiliki minat terhadap apa pun. Lagi pula Pao Lu tidak membenci Hua Zu, bangsa Yuoji sendiri yang membencinya.


Xi Xia tak pernah tahu bahwa Pao Lu mengalami pergumulan batin sebelum putusan hukum atas Hua Zu diambil---bahkan setelahnya.


Ia sendiri telah memeriksanya, dan dari kesalahan-kesalahan yang dituduhkan para tetua bangsa Yuoji kepadanya, tidak satu pun ia dapati pada dirinya. Dan Kaisar juga tidak, itu sebabnya ia mengirimkannya kembali kepada Pao Lu. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukannya yang setimpal dengan hukuman mati.

__ADS_1


__ADS_2