Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-13


__ADS_3

Ibukota Yeliushen…


"Gudang setengah penuh setelah pengumpulan upeti hari ini," Lim Shin Wu melapor pada ayahnya.


Pada saat itu, ayah Lim Shin Wu, Lim Pao-Lu menjabat sebagai Gubernur Bangsa Luoji—Prefek kelima dari Provinsi Zhujia pada masa kekaisaran Tio Bing. Dialah yang mewakili pemerintah Luoji di Yeliushen---ibukota Zhujia.


"Besok, kita penuhi dari sisa upeti di Kaida!" Shin Wu menambahkan.


"Itu saja?" Ayahnya hanya melirik sekilas dengan raut wajah angkuh, lalu memutar tubuhnya memunggungi Shin Wu dan melangkah perlahan menuju jendela.


Shin Wu mengekorinya dengan langkah-langkah lebar. "Beredar kabar seorang Mi Sai Ya muncul di kota tua," katanya sambil mendekat pada ayahnya.


Pria tua itu tetap memunggunginya. Ia berhenti di depan jendela dan memandang ke bawah, mengawasi hiruk-pikuk kesibukan di pekarangan istananya.


"Bangsa Yuoji meyakininya sebagai penyelamat dunia," Shin Wu melanjutkan penjelasannya. "Beberapa biksu di Kuil Dewa Roh Agung mengatakan pria itu memiliki tanda Ilojim."


"Dan apa itu Ilojim?" sela ayahnya sambil melirik sekilas melalui sudut matanya.


"Dewa-dewa lama Yuoji," jawab Shi Wu. "Para tetua dari Balai Roh Pelindung menentang keras kepercayaan ini sejak dua puluh tahun terakhir dan menggantikan dewa-dewa mereka dengan satu dewa tunggal yang mereka sebut Dewa Roh Agung."


"Lalu apa hebatnya tanda Ilojim ini?" Lim Pao-Lu bertanya lagi sambil memalingkan kembali wajahnya keluar jendela.


"Kelahirannya sudah diramalkan. Para tetua Bangsa Yuoji menanti-nantikan kedatangannya selama ratusan tahun," tutur Shin Wu.


"Dan apa isi ramalannya?" Ayah Shin Wu menoleh lagi.


"Sang Penyembuh, Raja Damai…"


"Raja?" ayah Shin Wu akhirnya berbalik.


Shin Wu mengerjap gelisah dan tertunduk. "Itu hanya dongeng isapan jempol para budak, sebuah legenda, tidak lebih!" ia berkilah.


"Legenda," ulang ayahnya setengah mendengus. "Legenda artinya sebuah kemungkinan," katanya sinis. Dan sebuah kemungkinan artinya sebuah pengharapan. Dan kau tahu apa arti sebuah pengharapan?" Pao-Lu menghujamkan tatapan tajam pada putranya---anak haramnya dengan seorang selir. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Lim Shin Wu hanya menelan ludah, lalu tergagap.


"Pengharapan artinya potensi pemberontakan!" imbuh Pao-Lu dalam nada tajam.


Lim Shin Wu mengerjap gelisah.


"Aku ingin kau menyelidikinya," perintah ayahnya kemudian.


"Tapi…" Lim Shin Wu mendadak ragu. "Bukankah aku harus melakukan hal lain selain mengawasi para budak?" protesnya.

__ADS_1


"Kau pikir tugas itu tak penting?" ayahnya balas bertanya dengan tatapan mencela.


"Tapi, Ayah! Bukankah hari ini aku harus menjemput Ibu dan Adik Xia?"


"Di dalam istana ini jangan pernah memanggilku ayah!" sergah Pao-Lu. "Aku rajamu," tandasnya dingin.


Shin Wu langsung terdiam.


"Laksanakan titahku!" hardik Pao-Lu. "Sekarang!"


Shin Wu membungkuk dengan hormat tentara.


Ayahnya sudah membuang muka dan kembali memunggunginya sebagai isyarat pembicaraan sudah selesai.


.


.


.


Waktu menjelang malam ketika iring-iringan kereta kuda para bangsawan Luoji melintas di kaki gunung Jingling memasuki jurang sempit di antara tembok-tembok tinggi, seakan-akan gunung itu terbelah oleh sebilah pisau, memberi jalan untuk mereka lewat.


Tempatnya tampak menyeramkan.


Hujan gerimis turun dan udara dingin menusuk tulang. Bukan waktu yang tepat untuk aktivitas di luar ruangan, pikir Lim Xi Xia. Kalau boleh memilih, gadis itu lebih baik membaca buku di dekat perapian.


Sementara para putri selir yang lain tertawa-tawa merayakan kebebasan mereka, Xi Xia hanya membisu sambil terus tertunduk di sisi ibu tirinya—yang juga seorang selir—yang berwajah kencang. Selir Yuwen, ibu Lim Shin Wu.


Selir Yuwen terkenal sebagai penggila ketenangan. Dan itu artinya dia tidak menyukai orang berisik. Itu sebabnya ia memilih Xi Xia ketika terpaksa harus berbagi tempat di dalam kereta karena sang gubernur mengirim jumlah kereta yang sangat terbatas.


Tidak ada perlakuan istimewa setelah para wanita kembali dari Balai Sosial, tempat di mana para istri dan putri gubernur ditatar setelah melanggar tata krama istana.


Ke sanalah mereka dikirim enam bulan lalu!


Dan itu sama artinya dengan pulang dari penjara.


Dan terjebak dalam satu ruangan bersama Selir Yuwen tidak ada bedanya dengan penjara itu sendiri.


Xi Xia mendesah diam-diam untuk mengenyahkan perasaan tertekan.


Sekonyong-konyong kereta mereka tersentak.


Pada saat itulah ia mendengar suara berderak nyaring yang membahana.

__ADS_1


Kereta berhenti mendadak, dan para wanita bangsawan itu tersapu dalam teriakan, berondong tembakan anak panah, ledakan logam yang berbenturan di sisi kereta.


Seseorang menyentakkan tirai kereta Xi Xia hingga terbuka.


Xi Xia melihat sekilas pakaian serba hitam lengkap dengan tudung dan selubung wajah.


Semua orang berteriak seperti orang gila, membuat dunia seakan kiamat.


"Cepat keluar!" Hardikan-hardikan kasar itu terdengar di sana-sini.


Tangan-tangan yang tak kalah kasar merenggut Xi Xia dan mengempaskan gadis itu keluar bersama yang lain. Sebelum gadis itu mengetahui apa yang terjadi, seseorang mendorong kepalanya ke depan dan memasukkannya ke dalam karung hitam yang tebal dan kasar.


Terdengar teriakan dan benturan logam di mana-mana. Xi Xia tak bisa berpikir jernih.


"Berlutut!" hardik mereka lagi, lalu terdengar suara-suara berdebuk ribut di sekelilingnya. "Kubilang berlutut!"


Xi Xia merasakan pukulan di bagian belakang lututnya ketika dua tangan yang berat menekan bahunya. Kemudian ia sadar dirinya tertelungkup di lumpur yang dingin dan basah akibat gerimis.


Jantung Xi Xia berdebar kencang. Kain karung melekat di hidungnya seperti cangkir pengisap dan gadis itu megap-megap mencoba bernapas.


Lalu suara-suara itu mendadak lenyap. Timbul keheningan yang tak wajar.


Yang bisa didengar sekarang hanyalah langkah kaki laki-laki di rumput basah.


Ada berapa banyak?


Dan siapa mereka?


Mereka bergerak perlahan-lahan, dengan penuh perhitungan.


Yang bisa ditangkap hanya suara-suara gemerisik yang teredam, seperti beberapa buntalan berat sedang dipindahkan ke sana-kemari.


Xi Xia mendengar langkah-langkah kaki itu mendekat. Seseorang menendang pergelangan kakinya, memaksanya membuka kakinya. Tangan itu menangkap lengannya dan memutarnya ke belakang.


Di sanalah Xi Xia, disalib, tengkurap di atas bongkahan tanah beku dengan karung menutupi kepalanya.


Diam-diam Xi Xia mendengarkan langkah kaki yang diseret-seret di sekelilingnya. Ia tahu para penculik sedang sibuk melakukan sesuatu tetapi ia tak tahu apa tepatnya.


Gadis itu mencoba menghirup sedikit udara yang menembus kain karung. Aku benar-benar harus bernapas, pikirnya. Tapi karung itu justru menempel semakin rapat di hidung mancungnya. Dan gadis itu mulai kekurangan udara.


Bagus, pikirnya putus asa. Aku akan mati karena kekurangan oksigen.


Dengan sembunyi-sembunyi Xi Xia menggerakkan tangannya ke wajahnya, untuk setidaknya menyingkirkan kain dari lubang hidungnya supaya ada cukup ruang untuk udara yang masuk.

__ADS_1


Tapi sesuatu yang keras mengenai kepala gadis itu. Entah apakah itu sepatu bot, gagang pedang, Xi Xia tak tahu. Sebuah pukulan yang cukup keras.


Xi Xia merasakan tangan merenggut pergelangan tangannya dan menarik lengannya, melemparkannya dengan kasar ke tanah.


__ADS_2