
Dia pikir dia siapa? pikir Xi Xia sinis. Seenaknya saja tersenyum padaku. Tidak pantas!
Dan pria itu semakin menambahkan perilaku tidak pantasnya dengan membungkuk secara diam-diam padanya dari seberang ruangan.
Xi Xia mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Aku tidak membutuhkan ini! Ia memperingatkan dirinya.
Jangan tersenyum padaku! Ia memperingatkan Jendral Tio Jun dalam diam, mengumpulkan semua nilai moral yang dimilikinya. Kau tidak akan mematahkan tempat tidurku, aku jamin itu. Tidak dalam seribu tahun pun.
Senyuman penuh pemahaman Jendral Tio Jun melebar, tatapannya tidak beralih dari Xi Xia bahkan ketika seorang wanita mengalungkan lengannya di leher pria itu, berbisik di telinganya.
Tangan berotot sang Jendral balas merangkul pinggang ramping wanita itu, tapi sepasang matanya yang berwarna cokelat keemasan tetap memperhatikan Xi Xia dengan tatapan penuh kesabaran dan terang-terangan. Seolah pria itu bisa melihat menembus ke dalam diri Xi Xia dan mendisiplinkan isi pikirannya supaya menjadi pantas. Seolah pria itu memiliki seluruh waktu di dunia untuk mendapatkannya.
Pria ini berbahaya. Berbahaya, tak bermoral, dan jahat. Tapi juga menggiurkan.
Xi Xia tak bisa memungkiri daya tarik sang Jenderal. Tapi segala sesuatu tentang pria itu membuatnya merasa tak nyaman. Dan ia tak tahu apa sebabnya.
Merasa tak nyaman dengan situasi itu, Xi Xia berusaha mengalihkan pandangannya dari sorot mata pria itu dan berlindung di antara kerumunan para tamu untuk kemudian mengendap-endap menuju pintu ganda dan menyelinap ke teras.
Tidak seorang pun di aula perjamuan itu menyadari si tuan rumah pesta menyelinap keluar, melarikan diri dari sorotan tajam "si buruan season."
Dalam beberapa detik, Xi Xia bergegas melintasi teras dan masuk ke dalam taman, bersembunyi dalam kegelapan, kesunyian, dan keheningan malam.
Bergegas melewati bak-bak bunga, pepohonan, dan rumpun-rumpun bunga, Xi Xia menuju taman untuk mencari Shin Wu, sementara awan di atasnya menghalangi sinar bulan.
Bunga guang yao teng---si janda merana merambati dinding hijau labirin taman dan mengeluarkan suara berdesir ketika Xi Xia berlari melewatinya, langkahnya ringan dan gesit di atas rumput yang dingin dan lembut bagaikan sutra.
Sayup-sayup suara denting musik dan tawa dari aula perjamuan mengambang melewati taman, tapi Xi Xia tidak menoleh. Ia menyelinap melewati bayang-bayang, lalu berlari dan terengah-engah oleh perasaan bebas.
Langit berwarna hitam beludru dipenuhi oleh bintang-bintang, dan suara dari air mancur di tengah kolam di malam hari makin terdengar seiring ia mendekat.
Di pinggir kolam yang ditumbuhi alang-alang, tampak sebuah gondola yang kecil dan anggun.
Di sana.
Di sebelah kanannya, ia menangkap bayangan pondok taman dalam siluet di bawah langit malam. Senyumnya mengembang seiring ia berlari menuju pondok taman itu, menarik lengan gaunnya untuk melewati rerumputan.
__ADS_1
Ketika mencapai bangunan, ia berhenti tiba-tiba, jantungnya berdebar, kemudian ia berdiri di hadapan bangunan tersebut, secara perlahan terperangah menampakkan sebuah ekspresi senang seorang anak kecil.
Xi Xia lalu tersenyum muram dan terus berjalan.
Pondok taman ini adalah tempat bermainnya waktu ia kecil dulu. Dunia kecil rahasianya.
Saat di mana ia masih memiliki impian dan…
Xi Xia meletakkan tangannya di susuran tangga dan menaiki tiga anak tangga yang rendah, penuh luapan kesenangan. Di dalam, ia mengitari lantai kayu, rok merah jambunya yang gemerlapan berayun di sekitarnya.
Secara tiba-tiba gadis itu mendongakkan kepala dan tertawa kencang. Suaranya terdengar ringan. Ia berputar di tangga dan menatap pemandangan sebuah danau buatan.
Ia membayangkan ibunya memanggilnya "Putri Xi Xia" dan untuk sekali ini, kenangan akan ibunya tidak terasa menyakitkan.
Bersandar dengan muram di salah satu tiang yang menyokong atap yang menyerupai tanduk qilin, Xi Xia membiarkan dirinya menikmati momen ini sebentar, sekadar menikmati taman yang mewah, manisnya malam musim panas, dan kesendirian yang menenangkan.
Tidak lama lagi ia harus kembali ke aula perjamuan---bagaimanapun ini adalah perjamuannya, tapi tidak sekarang.
Tersenyum, Xi Xia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menaruh sikunya di pagar susuran tangga, pikirannya melayang ke masa lalu, hilang dalam lamunan kerinduan.
Betapa konyolnya ia dulu, renungnya, seorang pemimpi—sama seperti ibunya.
Dulu, ia masih percaya pada dewa-dewa, para pahlawan dan malaikat, dan mengetahui sedikitnya tiga cara ajaib untuk membuat keinginannya terwujud.
Tapi semua itu ternyata salah, dan memang begitulah kenyataan pahitnya, ketika cara-cara tersebut gagal mengembalikan ibunya. Patah hati, ia membuang semua impian dan kekuatannya itu. Sekarang, ia telah melupakan mantra-mantra buatannya itu, dan mengenai para pahlawan, ia telah belajar bahwa mereka bahkan lebih langka dibandingkan dewa-dewa dan malaikat sungguhan.
Tidak, pikirnya mendesah seiring ia melepaskan pandangannya dari pemandangan yang gelap, pasukan tentara langit tidak akan datang. Tidak ada pahlawan. Tidak ada seorang pun yang akan datang untuk menyelamatkannya. Hanya dirinyalah yang bisa menyelamatkan diri sendiri.
Lalu tiba-tiba sosok pria paruh baya yang menyelamatkannya di gunung Jingling muncul di pikirannya diiringi gelombang rasa kesedihan.
Tentu saja, pikirnya getir. Kecuali pria tua, tak ada yang bisa mengerti kebutuhannya. Bahkan Shin Wu.
Oh, andai saja salah satu mantra konyol itu masih berfungsi…
Namun meskipun ia menyadari kalau itu benar-benar konyol, Xi Xia tetap saja menutup matanya dan selama sesaat—hanya untuk mengenang masa lalu—Xi Xia membuat permohonan dengan seluruh kemampuannya.
__ADS_1
Mungkin saja keinginannya membumbung naik menuju bintang-bintang, menembus keluar dari danau buatan itu, walau hanya sekecil bulu dandelion, tapi siapa yang tahu.
Kita tak pernah tahu…
Xi Xia mendengarkan.
Menunggu.
Menahan napas.
Tidak ada yang terjadi.
Yah, tentu saja.
Tapi kemudian dengan mata masih tertutup—Xi Xia terkejut dan membeku, tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang.
Telinganya yang menegang menangkap sebuah suara yang hampir tidak terdengar dari lantai yang berderit di belakangnya. Matanya tersentak membuka dan terperangah.
Xi Xia menoleh sedikit dan melirik ke belakang melalui sudut matanya, untuk memastikan.
Oh tidak, benar-benar ada seseorang di belakangku!
Udara di paru-parunya hampir menguap karena terkejut. la membalikkan tubuhnya dengan campuran rasa antara takut dan penasaran.
Ketika ia sudah menghadap orang tersebut, ia mendongak dan menegang, lidahnya terkunci dan sungguh kebingungan. Jantungnya berdetak keras, dan sekawanan kupu-kupu terasa menari-nari di perutnya.
Seorang pria tinggi berwajah paling bersinar yang pernah dilihat Xi Xia, wajah lancip mempesona dengan struktur tulang yang kuat dan mengagumkan. Wajahnya laksana hasil pahatan seorang maestro. Alisnya hitam dan tebal dengan bentuk yang elegan, pahatan bibirnya dibentuk dengan menggoda. Rambutnya berwarna emas dengan ikat kepala dari emas seperti mahkota peri dalam dongeng yang pernah didengar Xi Xia,
Sangat sempurna, seperti muncul dari mimpi, sebagai perwujudan sosok khayalan setiap wanita.
Dan yang paling luar biasa dari semuanya itu adalah sepasang matanya yang bagaikan magnet dengan tatapan yang menusuk, berwarna biru terang dan penuh misteri.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Permohonannya tidak mungkin benar-benar menjadi kenyataan. Ia bahkan tak yakin dengan apa tepatnya yang ia minta!
__ADS_1
Apakah ini nyata?
Apakah ini benar-benar bisa terjadi?