
"Tidak kena!" cemooh Hua Zu.
Ayahnya hanya terkekeh tipis sembari menyelipkan kembali kedua belatinya ke tempat semula. "Aku tak ingin membunuh mereka," katanya tanpa beban sedikit pun. "Selama mereka tidak makan ginseng," kelakarnya kemudian.
Hua Zu mendesah pendek dan mengangkat bahu. Lalu membungkuk untuk mengumpulkan ginseng yang berceceran di tanah.
"Kenapa semua orang memanggil Ayah petani?" Hua Zu bertanya pada ayahnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya. "Apakah Ayah tidak punya nama?"
"Ayah percaya bahwa setiap orang dikenal karena pekerjaannya," jawab ayahnya sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menepiskan kotoran. "Kakek Ghou membawaku ke desa ini ketika aku masih kecil," lanjutnya sambil berkacak pinggang.
Hua Zu akhirnya mengangkat wajah.
"Seluruh desa mengadopsiku," lanjut ayahnya sambil tersenyum miring. "Setiap keluarga bergantian memeliharaku dari waktu ke waktu. Tapi Kakek Ghou… dia selalu punya perhatian khusus padaku."
"Aku senang sekarang Ayah punya keluarga," kata Hua Zu polos. "Dan aku senang itu adalah kami!" Ia menambahkan sambil tersenyum pada ayahnya.
Ayahnya tersenyum samar, "Aku juga," katanya sambil melayangkan pandang ke seberang ladang.
Seorang pria tua, mengenakan changsan berwarna putih di atas celana hitam berlapis rok panjang semata kaki, menghampiri mereka sambil menuntun seekor babi gendut namun bergerak lincah. "Mau babiku?" ia menawarkan.
Hua Zu menoleh dan tersenyum pada pria itu. Pria tua itu membalasnya dengan kedipan sebelah mata. Pria tua itu adalah kakeknya. Ghou Jingmi---ayah angkat Zhou Jieru.
Kakek Ghou!
"Kesepakatan sama," seloroh Kakek Ghou. "Seperti biasa!"
Jieru mengangkat wajahnya dan menatap pria tua itu sembari berkacak pinggang. "Jagung musim dingin ditukar babi?" dengusnya.
"Kesepakatan tidak pernah berubah," sanggah Kakek Ghou dipenuhi makna terselubung.
"Sekarang sedang masa sulit," keluh Jieru. "Kemarau panjang ini seperti tidak akan berakhir."
"Aku pernah melihat yang lebih buruk," tukas Kakek Ghou. "Daripada itu, kudengar ada perekrutan yang dilakukan oleh kaisar. Menurutku menjadi prajurit akan mendapat perlakuan baik," ia menasihati.
"Aku sudah memiliki tanah ini," tanggap Jieru. "Bukankah itu cukup?"
"Kau sudah berkeluarga," gumam Kakek Ghou. "Tidak bisa lagi hidup pas-pasan. Bukankah kau ingin menguji keberanianmu?"
__ADS_1
Jieru tidak menanggapinya. Ia membungkuk untuk mengeruk tanah yang berhamburan keluar pematang dengan kakinya dan mengumpulkannya kembali ke pematang.
"Maksudku, apakah pantas keberanian hanya digunakan untuk bertahan hidup?" Kakek Ghou menambahkan.
Jieru tidak bereaksi.
"Ampun, Nongnim!" Kakek Ghou mengerang. "Apakah aku harus membunuhmu hanya untuk bicara sebentar?" gerutunya tak sabar. "Maksudku, kita bukan binatang. Manusia sepantasnya saling bicara satu sama lain untuk berkomunikasi!"
Jieru akhirnya mengangkat wajah dan menoleh pada Kakek Ghou. "Papa Ghou, jika dengan bicara saja lobak ini tercabut, aku akan lakukan yang kau katakan," ia berkilah. "Ketika hujan datang, tanah ini berubah jadi tanah liat. Bahkan tanpa kau bicara, itu tercabut dari tanah dengan sendirinya," katanya sambil menunjuk keranjang yang dipenuhi ginseng dengan dagunya.
Kakek Ghou menghela napas kasar, lalu melirik pada Hua Zu, "Itulah yang aku sukai dari ayahmu, Hua Zu!" ia memberitahu. "Dia selalu tahu cara mengolah suasana hati," katanya sinis.
Hua Zu hanya tersenyum miring menanggapi kakeknya.
Jieru sebetulnya tidak keberatan diajak berdiskusi, dia hanya tidak tertarik dengan topik pembicaraan yang dipilih ayah angkatnya.
Kakek Ghou tidak mengerti, betapa bencinya Jieru pada kaisar. Sudah cukup buruk dia menjajah negeri ini, pikirnya. Kenapa aku harus menyerahkan diri untuk dijajah secara personal dan merelakan diri untuk menjadi budaknya?
Meski Kakek Ghou merawat Jieru sejak ia masih seusia Hua Zu, rahasia kepemimpinan Jieru di Sekte Belati Kuangre tidak pernah diketahuinya.
Sekte Belati Kuangre sangat menjunjung tinggi kerahasiaan.
Bahkan jika kau anggota keluarganya!
"Beritahu Kakek Ghou di mana kita menyimpan persediaan jagungnya!" perintah Jieru pada Hua Zu.
Kakek Ghou menyeringai lebar, lalu menghampiri Hua Zu dan mengulurkan tali kekang babinya, "Ini dia, Hua Zu! Ambil babimu," katanya.
"Kukira kau mau menunggu untuk makan malam?" seru Jieru ketika orang tua itu sudah berbalik dan berjalan mengikuti Hua Zu.
Kakek Ghou langsung berhenti, lalu menoleh dengan seringai yang menjengkelkan. "Boleh saja kalau kau memaksa," katanya berbasa-basi.
Jieru terkekeh dan menggeleng-geleng, sementara Kakek Ghou melanjutkan langkahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah bergabung dengan Jia Lin di meja makan.
Wanita cantik itu mengenakan qipao selutut berwarna lembut, selembut kepribadiannya yang sabar.
__ADS_1
Itu adalah ibu Hua Zu!
Bergerak ringan dan gesit ketika bolak-balik antara sudut dapur dan meja makan untuk menyiapkan hidangan, Jia Lin terus tersenyum pada Kakek Ghou. "Senang rasanya ada kau, Papa Ghou!" ungkapnya gembira. "Harusnya kau sering-sering datang ke sini, pasti akan lebih menyenangkan!" Ia menambahkan sambil menyiapkan perangkat makan untuk pria tua itu.
"Dia sudah bertani sejak dia mulai dewasa," kata Kakek Ghou. "Ditambah sekarang dia sudah punya keluarga sendiri… kupikir dia mungkin butuh sedikit istirahat!" ia berkilah.
Jia Lin menarik salah satu bangku dan duduk di dekat Kakek Ghou.
"Maksud Kakek Ghou, Ayah harusnya berhenti saja bertani dan bergabung dengan tentara raja?" Hua Zu bertanya pada Kakek Ghou, yang secara otomatis ditanggapi tatapan kaget dari ibunya.
"Tunggu dulu!" sergah Kakek Ghou sambil melotot pada Hua Zu. "Aku kan tidak bilang begitu!"
Jia Lin mengerutkan dahi, menatap Hua Zu dan Kakek Ghou secara bergantian.
Jieru terkekeh sambil mencomot makanan dari pinggan ke mangkuknya dengan sumpit, "Ya, Kakek Ghou tidak bilang begitu, Hua Zu!" selorohnya. "Dia bilang menjadi tentara raja bisa menghasilkan banyak uang!"
"Nongnim, kau tidak menanggapi serius perkataannya, kan?" Jia Lin menatap suaminya dengan ekspresi cemas.
Jieru mengerang sembari memutar-mutar bola matanya, "Kalian adalah keluargaku," katanya berkilah. "Aku tak akan pergi ke mana-mana!" Lalu menoleh pada Kakek Ghou. "Itu menjawab pertanyaanmu, kan?" tanyanya.
"Aku kan hanya bicara!" tukas Kakek Ghou membela diri.
"Ya, ya, ya!" Jieru terkekeh. "Hanya bicara. Tapi kan setiap orang punya bakat berbeda," katanya tak mau kalah. "Ah—kalau Papa Ghou sepertinya hanya bisa bicara?" ejeknya berpura-pura kaget.
"Dan menghakimi orang lain sepertinya adalah bakatmu!" balas Kakek Ghou.
Jia Lin meledak tertawa. Lalu membungkuk ke arah suaminya di seberang meja, "Bisa aku minta ayamnya?" selanya meminta tolong.
Jieru mengangkat pinggan berisi ayam pada Jia Lin, "Jangan berikan pada Papa Ghou!" kelakarnya tanpa tertawa.
Kakek Ghou menggeram ke arah Jieru sambil cekikikan, menirukan vampir yang sedang marah, kedua tangannya berpura-pura ingin meraih leher Jieru, membuat Hua Zu tertawa terbahak-bahak.
Suasana ceria itu membuat hati Jieru menghangat sekaligus perih. Akan ada saat di mana aku merindukan suasana seperti ini, katanya dalam hati. Entah kenapa ia selalu merasa bahwa ia akan kehilangan semua yang dimilikinya sekarang suatu saat.
Tak lama kemudian, kekhawatirannya menjadi kenyataan.
Sejumlah pria berseragam misterius tahu-tahu sudah mengepung rumah mereka, mendobrak pintu dan semua jendela secara serentak hingga menimbulkan bunyi berderak dan berdebum yang membahana.
__ADS_1
Mereka melompat dari tempat duduknya masing-masing dan seketika suasana berubah gaduh.