
"Apa kau malaikat yang dikirim dari surga?" tanya Xi Xia dalam kekaguman yang terlihat jelas. Benar-benar terpesona.
"Aku yang mengirim diriku sendiri," jawab pria itu di antara senyuman samar yang sangat memukau.
Xi Xia tersipu, "Jadi kau dewa atau malaikat?"
"Bukankah itu artinya sama saja?" pria itu berkilah.
"Dalam keyakinanku, malaikat dan dewa itu berbeda!" sergah Xi Xia sambil mengangkat dagunya.
"Di dalam dunia dewa, keyakinan tidak berlaku!" pria itu memberitahu.
Xi Xia mengerutkan alisnya, bergerak mundur sedikit, kemudian satu alisnya terangkat saat memandangi pria itu dengan takjub. "Jadi kau benar-benar dewa?"
"Aku bisa menjadi apa saja," pria itu tersenyum lagi.
Jantung Xi Xia berdetak kencang tak keruan seolah sampai membentur-bentur tulang rusuknya, tapi ia sama sekali tak tahu harus melakukan apa.
Xi Xia menyadari pria itu terus menatapnya sementara mereka bicara. Apakah dia tidak pernah berkedip? tanyanya dalam hati. Lalu pikirnya, matanya tampak sangat… dalam. Seperti terowongan. Seperti terowongan yang menarikmu semakin dalam, semakin dalam.
Pria itu menatap ke dalam matanya.
Tatapan itu membingungkan Xi Xia, namun anehnya ia merasa senang diperhatikan seperti itu. Rasanya seperti belum pernah ada orang yang memperhatikannya seperti cara pria itu menatapnya.
Sungguh-sungguh menatapnya.
Entah sudah berapa lama ia membuat peraturan untuk dirinya sendiri agar tetap berusaha tak terlihat, bersembunyi dalam estatnya di sudut paling terpencil dalam Istana Gubernur, mengkerut di balik tameng ayahnya yang memiliki hati bagaikan besi?
Kenapa?
Semua itu hanya karena malu?
Rasanya tatapan yang mengandung magnet itu mampu menembus sudut terdalam dirinya, dan menemukan bagian dirinya yang tidak perlu ia anggap memalukan—ah, tapi reaksinya yang berlebihan benar-benar aneh!
Pria itu bahkan tidak mengenalnya, begitu pun sebaliknya.
Xi Xia mengangkat bahunya yang rapuh dan kembali bersandar sedikit pada susuran tangga di belakangnya, mengayunkan kipas yang menjuntai terikat dari pergelangan tangannya. "Kau punya nama?"
"Aku punya banyak nama," jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Xi Xia.
Xi Xia menggigit bibirnya menahan senyum. "Bagaimana aku memanggilmu?"
"Bagaimana kau memanggilku tadi?" pria itu balas bertanya.
Xi Xia langsung terdiam. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi.
Memanggilnya? pikir Xi Xia terkejut. Tiba-tiba teringat permohonannya.
__ADS_1
Mi Sai Ya!
"Kau Mi Sai Ya?" pekik Xi Xia terkesiap. Seketika bulu kuduknya meremang.
Angin mendadak berembus kencang ketika ia menyebutkan namanya, seolah merespon keraguan Xi Xia.
Ini tak mungkin terjadi! pikir Xi Xia tak yakin.
"Xi Xia!" Suara seseorang menyela mereka dari suatu tempat di taman.
Kesadaran berdengung di kepala Xi Xia. Tersentak pada kesadaran, gadis itu menoleh ke arah sumber suara.
"Di situ kau rupanya!" Dan muncullah Shin Wu. "Kalian sudah bertemu?"
Xi Xia menatap pria di depannya. Pria itu balas menatapnya.
"Kau merusak kejutannya," gerutu Shin Wu sambil berkacak pinggang.
Bertepatan dengan itu, seorang juru minuman tiba-tiba berteriak gusar sambil berlari tergopoh-gopoh menghampirinya, diikuti dua pelayan wanita.
"Tuan! Ada yang gawat!" Juru minuman itu membungkuk ke arah Shin Wu.
Shin Wu menoleh pada juru minuman itu dengan mata terpicing. "Katakan!"
Juru minuman itu mendekat ke arah Shin Wu dan berbisik di balik bahunya.
Shin Wu mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak, "Sejak kapan masalah seperti ini menjadi urusanku?" gerutunya tak sabar.
Shin Wu mendesah kasar, kemudian melirik ke arah Xi Xia dengan raut wajah prihatin.
"Apa yang terjadi?" tanya Xi Xia cemas. "Kenapa wajahnya begitu?"
Mendengar suara Xi Xia, juru minuman itu terkejut dan membungkuk ke arah gadis itu. "Anda juga di sini," katanya. "Kebetulan sekali—"
Shin Wu tiba-tiba merenggut bahu juru minuman itu dan mendesis di dekat telinga pria itu. "Jangan bebani dia dengan masalah apa pun. Baiklah, aku yang akan mengurusnya."
Juru minuman itu langsung terdiam, tidak melanjutkan perkataannya. Lalu membungkuk sekali lagi.
"Apa yang terjadi?" Xi Xia mendekat, menatap juru minuman itu dengan tatapan menuntut.
"Tidak ada!" Shin Wu mengambil alih jawaban, "Hanya saja, kau tidak seharusnya meninggalkan perjamuan," katanya beralasan.
"Aku mencarimu ke mana-mana," Xi Xia berdalih dengan wajah cemberut.
"Baiklah, kau sudah menemukanku sekarang. Kembalilah ke perjamuan!" kata Shin Wu.
"Aku tidak mau!" bantah Xi Xia setengah merajuk.
__ADS_1
Shin Wu mengirimkan isyarat memohon pada Hua Zu.
Hua Zu menghampirinya perlahan, lalu membungkuk, mendengarkan panglima itu berbisik di telinganya.
"Mereka kehabisan arak," Shin Wu memberitahu.
Hua Zu mendesah pendek. "Kau tahu kan aku tidak datang untuk hal ini?"
Shin Wu langsung terdiam. Raut wajahnya berubah muram, lalu melirik Xi Xia sekali lagi dengan tatapan sedih. Tak tega melihat adik tiri perempuannya mendapat masalah, Shin Wu tak mau menyerah. Ia menggeleng sekilas kemudian mendekat ke arah juru minuman tadi, "Ikuti apa yang dia katakan," bisiknya sambil mengerling ke arah Hua Zu melewati bahunya.
"Baik, Tuan!" kata juru minuman itu pada Shin Wu, lalu menoleh pada Hua Zu sambil melayangkan sebelah tangannya, "Mari, Tuan! Sebelah sini," katanya mengisyaratkan ajakan mendesak.
Hua Zu menggeleng tipis dan mendelik ke arah Shin Wu. Lalu dengan terpaksa mengikuti juru minuman itu.
Shin Wu menahan senyumnya.
Xi Xia mengamati keduanya dengan dahi berkerut-kerut.
Shin Wu menoleh padanya sambil tersenyum, lalu menelengkan kepalanya sedikit, menawarkan lengannya untuk menggandeng Xi Xia ke aula perjamuan.
Xi Xia menggamit lengan kakaknya dan berjalan menuju aula, tapi tatapannya tak bisa berpaling dari Hua Zu.
Untuk menghindari perhatian para tamu, Shin Wu menuntun Xi Xia ke pintu masuk lain yang tidak langsung menuju aula, mereka menyelinap melalui pintu dapur, tak jauh dari gudang arak sambil sesekali melirik pada Hua Zu.
Pria itu sudah sampai di depan pintu gudang arak dan berhenti dengan kedua tangan tertaut di belakang tubuhnya.
Xi Xia menghentikan langkahnya, melepaskan genggamannya dari lengan Shin Wu dan mendekat ke arah Hua Zu. Penasaran.
"Isi semua guci arak itu dengan air!" perintah Hua Zu pada para pelayan pria yang ada di gudang arak.
Untuk sesaat, para pelayan itu terlihat ragu dan saling bertukar pandang dengan alis bertautan.
"Lakukan apa yang dia katakan!" perintah juru minuman dengan isyarat gerakan tangan hingga mereka terpaksa mematuhinya.
Xi Xia dan Shin Wu bertukar pandang. Lalu menunggu. Tak sabar untuk melihat apa yang akan dilakukan sang Mi Sai Ya.
"Sudah, Tuan!" para pelayan memberitahu Hua Zu beberapa saat kemudian.
Tapi Hua Zu hanya berbalik dan berlalu menjauh.
Para pelayan itu kembali bertukar pandang dengan ekspresi bingung, lalu melirik juru minuman dengan isyarat bertanya.
Begitu saja? pikir mereka terkejut.
Juru minuman itu serentak menghambur menyusul Hua Zu, "Tuan!"
Hua Zu berhenti dan menoleh sedikit.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus kami lakukan?" tanya juru minuman itu ragu-ragu.
"Apa yang selayaknya dilakukan seorang juru minuman?" Hua Zu balas bertanya. "Gudang arak kalian sudah penuh, kan?"