
"Namaku Xionglue!" Pria itu memperkenalkan dirinya. "Aku juga seorang hamba," katanya. "Dan tuanku adalah Dewa Agung!"
Bagi bangsa Yuoji, terutama para Shashou, gelar 'Tuan' tak bisa sembarangan disematkan kepada manusia.
Ada tuan sudah pasti ada budak. Itulah sebabnya kenapa para Shashou tidak sembarangan menautkan gelar 'Tuan' kepada siapa pun kecuali dewa mereka.
Mayoritas anggota aliansi merupakan kaum fanatik bangsa Yuoji, penganut---garis keras ajaran kitab dewa cahaya yang menjunjung tinggi kepercayaan pada Ilojim, dan berpegang teguh pada keyakinan dan prinsip radikal: Dewa Agung menjanjikan tanah Zhujia untuk bangsa Yuoji.
Prinsip radikal inilah yang mendasari pemberontakan Shashou terhadap kedudukan Luoji di tanah Zhujia.
Mereka menolak kekuasaan bangsa asing di tanah mereka---tanah yang dijanjikan Dewa Agung untuk bangsa Yuoji.
"Baiklah, Xionglue," Xi Xia berkata parau seraya memaksakan senyum, "Sekarang kau sudah tahu, aku hanya pengikut Hua Zu dari Naseli. Aku juga seorang hamba. Dan tuanku tervonis mati. Apa bagusnya menangkap orang sepertiku? Tidak ada yang akan menebusku. Lagi pula aku bukan mata-mata, sama sekali bukanlah ancaman. Apakah kau bersedia melepaskanku sekarang?" kedua matanya mengerjap lemah seperti anak-anak sedang merajuk.
Xionglue tertawa menanggapinya. "Sayangnya tidak semudah itu, Xi Xia," katanya acuh tak acuh. "Apa kau tak pernah dengar kalau markas kami merupakan tempat keramat?"
Xi Xia tergagap tak mengerti. Lalu menatap Hua Zu, menuntut penjelasan.
Pria itu tetap membisu.
"Aku tak mengerti," Xi Xia mengaku.
"Tidak seorang pun dibiarkan masuk atau keluar hidup-hidup," timpal Aiguo seraya bersedekap dan menatap Xi Xia dengan wajah serius. Wajah dramatisnya seketika lenyap, berganti wajah aslinya.
Xi Xia memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan.
Aiguo menoleh pada Hua Zu dan menatapnya, "Kau yang membawanya," katanya.
Hua Zu menghela napas pendek, menatap Xi Xia seraya berpikir keras dan menimang-nimang.
"Dia milikmu, Hua Zu!" pria lainnya menimpali.
Uh-oh, pikir Xi Xia ketakutan. Apa maksudnya "milikmu"?
__ADS_1
Hua Zu menurunkan kedua tangan dari dadanya, kemudian berjalan pelan mendekati gadis itu.
Xi Xia menatapnya dengan mulut dan mata membulat. Lalu memekik ketika sekali lagi pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya. "Tidak---lepaskan aku! Aku bukan mata-mata!" jeritnya seraya meronta-ronta, lebih keras dibanding sebelumnya.
Hua Zu mulai kehilangan kesabarannya, ia menaikkan gadis itu ke bahunya, kemudian membopongnya ke arah pintu.
Teman-temannya tergelak dan terbahak-bahak.
"Lepaskan aku!" Xi Xia meronta-ronta sambil memukuli punggung Hua Zu ketika mereka melewati kembali lorong panjang di antara lapak-lapak yang tadi mereka lewati.
Orang-orang yang sama kembali menatap mereka dengan wajah tercengang.
Anak kecil yang tadi merampas gelangnya menyeringai sambil menyelipkan sebilah belati ke tangan Xi Xia.
Xi Xia menelan ludah, tapi lalu menggenggam belati itu dan ketika langkah Hua Zu mencapai tempat sepi, gadis itu menikam leher Hua Zu.
JLEB!
Hua Zu memekik dan terhuyung, lalu jatuh berlutut.
Sebuah bayangan berkelebat di belakang Xi Xia.
Seorang gadis berpakaian ketat serba hitam tanpa hanfu dengan sepatu armor sewarna yang sama ketat. Begitu ketat pakaian yang dikenakannya sehingga tidak terlihat seperti pakaian, tapi seperti bagian dari kulitnya. Rambutnya disanggul kencang di kedua sisi kepalanya membentuk kuping seekor kucing, menyelinap dari balik punggung Xi Xia.
Dan ketika Xi Xia berbalik, gadis itu memutar mempertahankan posisinya tetap berada di belakang Xi Xia.
Xi Xia tidak menyadarinya. Gadis itu terlalu panik karena telah menikam seseorang dan membunuhnya. Membunuh? Matikah dia? Ia tak yakin. Tidak! Kuharap pria itu hanya pingsan. Dia tak mungkin mati semudah itu, kan? pikirnya sambil melarikan diri.
Bersamaan dengan itu, gadis berpakaian gelap serba ketat yang keluar dari punggung Xi Xia membungkuk di atas tubuh Hua Zu, mengangkat pemuda itu dan menaikkannya ke bahunya. Lalu melesat membawa tubuh Hua Zu ke atap bangunan bobrok itu dan menghilang ke dalam hutan.
Ketika Xi Xia baru saja sampai di depan gedung pengadilan, ia melihat orang banyak sudah berbondong-bondong meninggalkan gedung.
Bercak darah yang berceceran di sepanjang pelataran gedung pengadilan itu membuatnya tak ingat memperhatikan yang lain. Ia memekik seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.
__ADS_1
Gadis itu berlari kecil mengikuti jejak darah tadi dengan tergopoh-gopoh, lalu menghilang dalam kerumunan orang banyak.
"Xi Xia, dari mana saja kau?" Selir Yuwen menghampiri gadis itu dan merangkulnya seraya menangis. "Ini terlalu mengerikan, Xi Xia!"
"Aku melihat banyak darah," gadis itu menimpalinya juga dengan menangis sambil mengintip melalui pagar betis orang banyak, menatap sesosok tubuh berlumuran darah yang terjerembab di tanah, di tengah kerumunan massa---Hua Zu berambut emas---terhimpit di bawah palang kayu yang dipikulnya sendiri seraya meringis kesakitan ditindas cambukan yang bertubi-tubi.
Xi Xia terperanjat ketika sebuah cambukan mendarat meledakkan bunyi melecut yang membahana. Sebuah pukulan telak juga mengenai ulu hatinya. Tak terlihat, tapi terasa nyata menyesakkannya.
Sepintas tatapan Hua Zu menyapu ke arah Xi Xia.
"Hua Zu!" Xi Xia menjerit dari tengah himpitan massa. Sebelah tangannya terulur ke arah Hua Zu sambil menangis. Tapi kerumunan orang banyak itu menghalangi jalannya.
"Xi Xia," pekik Selir Yuwen menegurnya, kemudian menarik gadis itu menyisi dari kerumunan.
Teriakan wanita itu menarik perhatian salah satu dari murid Hua Zu yang sedang berkutat dalam kerumunan, pria itu juga sedang berusaha mendekati Hua Zu. Dia adalah Xi Mo. Pria itu menoleh ke arah Xi Xia, tapi kemudian perhatiannya teralihkan ketika seorang serdadu berteriak ke arah kerumunan.
"Seseorang! Bantu dia!" hardik serdadu itu pada salah satu pria yang tengah memandangi Hua Zu dengan raut wajah iba.
Selir Yuwen melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Xi Xia dan menariknya bergerak mengikuti arus kerumunan yang menggiring perjalanan Hua Zu ke alun-alun.
Menjelang siang, mereka semua akhirnya tiba di tempat hukuman.
Di situ juga sudah ada banyak perempuan yang melihat Hua Zu dari jauh. Mereka adalah perempuan-perempuan yang dibangkitkan dari kematiannya.
Mulai dari jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh tempat di daerah itu.
Xi Xia mendongak mengamati langit yang telah berubah gelap. Lalu mengedar pandang ke seluruh tempat.
Suasana perkabungan berubah hening. Isak-tangis para wanita seperti tenggelam. Sebuah kuasa mahadahsyat meliputi langit di atas kepala mereka dan membekukan semuanya.
"Ada apa dengan langit ini?" Beberapa orang serdadu Luoji menggumam seraya mendongak mengamati langit. "Ini sudah tengah hari, tapi kenapa rasanya begitu gelap?"
Semua orang tercengang.
__ADS_1
Kuasa kegelapan---kuasa segala kutuk, sakit penyakit dan kutukan dosa, segala energi negatif dari seluruh penjuru bumi berkumpul di satu titik, terhisap seluruhnya ke tempat itu kemudian meresap ke dalam tubuh Hua Zu melalui setiap lukanya. Tubuhnya menggelepar menelan pesakitan itu.