
"Xi Xia, kau tidak seharusnya berada di sini!" Shin Wu memperingatkan dengan bisikan tajam. "Dan jangan pernah memanggilku Kakak di tempat umum!"
"Pria itu tidak bersalah!" Xi Xia bersikeras. "Tuan Panglima!" ia menambahkan sambil mencebik.
"Apa kau sedang mencoba membela orang Yuoji?" Shin Wu menggeram di telinga Xi Xia.
"Mereka juga orang Yuoji," Xi Xia balas berbisik sambil mendelik ke arah para kusir, lalu melotot pada kakaknya.
"Ah—" Shin Wu menarik wajahnya menjauh dan mengusap rambutnya yang diikat sebagian di puncak kepala. "Banyak orang melihat seseorang telah menyerang mereka," ia berkilah.
"Aku juga melihatnya!" sergah Xi Xia. "Dan aku berani menjamin, mereka memang pantas menerimanya... terutama dia!" Xi Xia menunjuk kepada si kusir.
Kerumunan orang-orang mendukung kata-kata Xi Xia dengan banyak gumaman "ya" dan "benar, benar."
Shin Wu mengedar pandang dengan gelisah.
"Laki-laki yang mereka tuduh itu pernah menyelamatkan kami dari perampokan. Dia tidak mencoba mencuri kuda si bodoh ini... itu tindakan yang konyol dan dia mengerti itu! Bagaimana mungkin seseorang mau mencuri binatang yang malang dan menyedihkan seperti itu? Dia melakukannya hanya untuk menyelamatkan kuda itu dari kekejaman orang ini."
"Kekejamanku?" bentak kusir tersebut. "Dialah yang ingin membunuh kami! Tua bangka itu berbahaya! Dia harus dipenjara!"
"Dasar bodoh," tiba-tiba Selir Yuwen muncul menyela mereka. Wanita itu tahu-tahu sudah berdiri di tengah-tengah kerumunan, mendongakkan hidungnya sembari bersedekap. "Jika lelaki itu menginginkan kalian mati, maka kalian sudah mati. Seharusnya kau berterima kasih dia membiarkanmu hidup."
"Ibu?" Shin Wu langsung memucat, menjadi semakin salah tingkah. "Apa sebenarnya yang sedang kalian lakukan di sini?" geramnya dalam bisikan tertahan.
"Pria itu sudah menawarkan untuk membeli kuda itu darinya," kata Selir Yuwen sambil mengerling sekilas ke arah kusir itu. "Tapi dengan keras kepala dia menolak tawarannya."
"Ha!" Kusir itu berseru dengan penuh kemenangan. "Jadi kau mengakui bajingan itu mengambil kudaku?"
Shin Wu akhirnya menoleh ke arah si kusir, menghujamkan tatapan tajam.
"Yang namanya pencuri tetap saja pencuri!" Kusir itu menambahkan.
Shin Wu menatap ibunya lagi.
Selir Yuwen tergagap, takut ia baru saja mengatakan hal yang salah.
Kusir itu mengerling licik dari Selir Yuwen ke arah Shin Wu. "Jadi, Anda menerima tuntutan ini kan, Tuan Panglima?"
"Tentu," jawab Shin Wu datar.
__ADS_1
Xi Xia menoleh padanya dengan marah, namun melihat kedua pria itu berjalan menjauh untuk mengejar tahanan mereka, ia mencoba tetap berpikir secara hukum. "Tunggu!"
Kedua pria itu menoleh padanya dengan tatapan bertanya.
Xi Xia tidak akan membiarkan mereka melakukan hal itu terhadap penyelamatnya, memenjarakannya---menggantungnya? Itu benar-benar gila! Ini sama sekali tidak adil. Pria itu bukan pencuri kuda, namun meskipun hakim membebaskannya dari tuduhan palsu ini, tetap saja, penangkapan tersebut akan menjadi noda di mata masyarakat dan bisa menghancurkan nama baik pria itu untuk selama-lamanya.
Xi Xia tidak akan membiarkan raksasa picik ini merusak nama baik penyelamatnya.
"Apa lagi yang kau inginkan?" gerutu si kusir, menunggu Xi Xia untuk bicara.
"Sebelum kalian membawa masalah ini lebih jauh," jawabnya, "Bisakah aku berbicara secara pribadi dengan… Anda, Tuan?"
Kusir itu mengangguk dan mereka berdua menyingkir untuk berunding.
Shin Wu dan Selir Yuwen mengawasi mereka dalam jarak yang aman.
Si kusir kuda itu merupakan pria yang luar biasa tinggi besar dan sebagai tambahan, ia juga bau, namun Xi Xia tetap menatap lurus ke dalam matanya, "Apa yang bisa kuberikan untuk membuatmu menghentikan semua kekonyolan ini?"
"Kekonyolan?" kusir itu mengerang tak sabar. "Aku berhak melakukan ini!" katanya bersikeras. "Mencuri tetaplah mencuri, seperti yang sudah kubilang!"
"Bersikaplah yang masuk akal!" sergah Xi Xia. "Kau tahu perlakuanmu terhadap kuda itu tidak benar. Kau melakukan ini hanya karena dendam, karena dia menghajarmu di depan orang banyak."
Kusir itu sangat memuakkan, namun harapan Xi Xia akhirnya muncul mendengar perkataannya. "Bagus," katanya sambil tersenyum puas. "Kalau begitu, kau akan mendapat ganti rugi! Aku akan membayarmu saat ini juga dan kita bisa melupakan segala kejadian yang tidak menyenangkan ini. Berapa harga untuk kudamu?" kata Xi Xia gigih. "Dan jangan terlalu mahal karena kuda itu sudah sekarat. Ini!" Xi Xia merogoh ke dalam lengan bajunya dan mengeluarkan sisa uang dari kantong uangnya yang tinggal sedikit.
Kusir itu menatap beberapa keping perak yang berada di telapak tangan Xi Xia yang terbuka dan mulai tertawa perlahan. "Apa hanya sebanyak itu harga untuk kebebasan penyelamatmu yang baik hati, Nona?"
Xi Xia menatap kusir itu dengan terkejut saat melihat dia melipat kedua tangannya di dada.
Bajingan Yuoji ini benar-benar sombong, pikirnya jengkel.
Xi Xia menatap kembali uang yang dimilikinya. "Hanya ini yang aku punya."
Kusir itu menyipitkan matanya, "Bagaimana dengan kalung yang kau pakai?"
Xi Xia mengerjap dan menelan ludah. Lalu mendongakkan hidungnya, "Baiklah," katanya. Lalu melepaskan kalung wasiat itu dari lehernya.
Shin Wu dan Selir Yuwen menegang bersamaan. Mereka semua tahu, kalung itu adalah kalung kesayangan Xi Xia, satu-satunya warisan dari mendiang ibu kandungnya.
Dan di antara semuanya itu, seseorang---seorang pemuda misterius berjubah gelap dengan tudung kepala, tersenyum tipis menyaksikan seluruh progres dari tempat tersembunyi di tengah-tengah kerumunan tanpa ada yang menyadari.
__ADS_1
Yah! Tentu saja!
Siapa lagi?
Zhu Hua Zu.
Si Rambut Emas…
Sang Mi Sai Ya…
Pemilik hukum mutlak yang tak terelakkan!
Tuntutan itu akhirnya dicabut.
Bukan kebetulan Dewa Agung berada di situ.
Lagi pula, itu adalah hari Xianqiwu!
Xi Xia masih mati rasa ketika kereta kuda mereka berbelok ke tikungan Kuil Dewa Roh Agung tak lama kemudian.
Xi Xia tidak percaya ia telah memberikan kalung warisan mendiang ibu kandungnya untuk menyelamatkan seseorang yang tidak dikenal yang bahkan tidak berasal dari bangsanya.
Tapi setidaknya cara itu berhasil.
Kusir itu telah pergi dengan puas dan penyelamatnya telah dibebaskan, tanpa mengetahui apa yang telah ia lakukan.
Xi Xia tidak keberatan jika pria asing itu tak pernah mengetahuinya.
Dengan melihat penyelamatnya pergi dari kejauhan ketika ia menuntun kuda yang terluka itu, Xi Xia bisa merasakan kepuasan yang lebih dalam dari yang pernah ia rasakan sebelumnya, bahwa ia telah menolong seseorang yang telah menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga yang dimilikinya—lebih dari kalung warisan itu sendiri.
Nyawanya!
Pria asing itu pernah menyelamatkan nyawanya. Ia layak diselamatkan.
Sementara itu…
Sesaat setelah Xi Xia dan Selir Yuwen berlalu, Lim Shin Wu secara diam-diam mengirim isyarat—perintah kode kepada para pengawal bayangannya untuk membereskan si kusir kuda, yang dalam sekejap sudah bisa dipahami oleh para pengawal bayangan yang setia mengawasinya dari tempat tersembunyi.
Di depan publik---terutama wilayah Kaisar, Shin Wu bisa saja bersikap bijaksana. Namun jauh di dalam dirinya, seekor binatang buas taklukkan Gubernur Luoji tetap meminta tumbal darah Yuoji.
__ADS_1