
Ibukota, Yeliushen...
"Shashou?" Suara gubernur Pao-Lu menggelegar dari aula singgasananya. "Lagi-lagi Shashou! Aku ingin para Shashou itu dihabisi tanpa sisa!" titahnya dalam geraman murka.
Sepuluh perwakilan dari pasukan abadi berbaris di tengah ruangan, tepat di bawah tangga singgasananya. Mereka semua membungkuk sebelum akhirnya bergegas untuk menjalankan titahnya.
Sejurus kemudian, sejumlah penunggang kuda menyeruak keluar melewati patung singa menakutkan yang meringkuk di pintu gerbang istana gubernur.
Seluruh istana berubah gaduh.
Para wanita menghambur ke sisi ruangan dan berjejal di dekat jendela, berebut untuk melongok keluar ketika barisan penunggang kuda itu melintas di pekarangan, tepat di bawah jendela aula singgasana Selir Yuwen.
Sementara itu, Selir Yuwen sudah melongok ke arah jendela.
"Apa yang terjadi?" Xi Xia memekik terkejut sambil menghampiri saudara-saudara tirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Cari tahu apa yang terjadi!" perintah Selir Yuwen pada dua pelayannya.
"Baik, Selir Yuwen!" para pelayan itu serempak membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya. Lalu berbalik dan bergegas keluar estat Selir Yuwen.
"Ya, Tuhan!" seru beberapa gadis sambil cekikikan. "Mereka tampan sekali!"
Xi Xia mengerang dan membeliak sebal.
"Seandainya aku lebih tua lima tahun!" gumam gadis yang baru berusia tujuh belas tahun.
"Omong kosong!" sergah gadis yang baru berusia enam belas tahun. "Beberapa tentara abadi masih berusia tujuh belas tahun!"
"Benarkah?" seru beberapa gadis lainnya yang berusia enam belas tahun.
Kembalinya para pelayan Selir Yuwen menyela mereka, langkah kaki para pelayan itu menggema di bawah atap kubah aula yang besar itu.
Para pelayan itu berhenti di depan singgasana Selir Yuwen dan kembali membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah mereka. "Tuan Panglima sudah kembali, tapi hanya seorang diri," pelayan itu melaporkan.
"Dan apa artinya itu?" Selir Yuwen tidak mengerti.
"Pasukannya tidak tersisa," jawab pelayannya. "Para Shashou telah menyerang rombongan serdadu pemungut pajak dan merampas semua upeti."
"Shashou?" Selir Yuwen melengkungkan alisnya ke arah para pelayan itu, melontarkan tatapan bertanya.
"Itu aliansi pemuda pribumi, kelompok pemberontak yang menentang pemerintahan Luoji dengan mengangkat senjata demi mendatangkan kebebasan tanah Zhujia," salah satu pelayan menjelaskan. "Setiap anggotanya membawa sicae yang diselipkan di dalam jubah mereka. Pada pertemuan publik, mereka mengeluarkan belati ini untuk menyerang orang Luoji dan para simpatisannya, kemudian berbaur dengan kerumunan setelah aksinya untuk menghindari deteksi. Kabarnya, tidak hanya membunuh, mereka juga merampok."
"Rampok?" Selir Yuwen melirik penuh arti ke arah Xi Xia. "Apakah itu rampok yang sama yang menyerang kami semalam?"
__ADS_1
"Benar, Selir Yuwen!"
Seisi ruangan memekik seraya membekap mulutnya.
"Bagaimana dengan Kak Shin Wu? Apa dia baik-baik saja?" Xi Xia menghambur ke arah para pelayan itu.
"Tuan Panglima sedang dalam perawatan, Nona!" jawab salah satu pelayan.
"Apa maksudnya dalam perawatan?" Selir Yuwen menyela tak sabar. "Apa putraku terluka?"
"Benar, Selir Yuwen!" jawab kedua pelayan itu nyaris bersamaan.
Selir Yuwen dan Xi Xia memekik bersamaan, lalu keduanya menghambur keluar aula dan berlari menuju estat Shin Wu.
Para gadis lainnya mengikuti mereka di belakangnya sementara para selir lainnya terpaksa menunggu karena para pengawal Shin Wu takkan membiarkan mereka---para ibu tiri memasuki estatnya.
Di pusat kota…
Dalam sekejap situasi berubah mencekam. Para tentara Luoji berkeliaran di mana-mana.
Jalan-jalan ditutup untuk lalu lintas selama berjam-jam jika kereta-kereta kuda militer akan lewat dan lalu lintas akan menggila.
Serdadu-serdadu penjaga berbadan besar yang mengenakan helm baja menghentikan kereta-kereta kuda di gerbang kota, melambaikan tombak dan berteriak kepada para sais untuk memberi jalan pada barisan kereta kuda militer.
Pasar-pasar ditelisik, kedai-kedai arak digeledah, gang-gang kecil disisir, sepanjang pinggiran kota juga tak dilewatkan.
.
.
.
Benteng Kaida…
Kastil tua tinggi menjulang tersaput kabut itu menampilkan celah-celah tak terduga dengan warna-warna gelap, yang semakin menekankan konteks antara peninggalan kuno dan nuansa klenik.
Di sisi seberang lembah, tepat di bawah kastil itu adalah desa Kaida, bertengger di punggung gunung.
Di sekelilingnya terbentang hutan hijau yang indah. Pohon-pohon persik yang langsing dan pohon-pohon birkin tumbuh melengkung ke arah desa. Di baliknya, hutan tampak gelap karena ditumbuhi pohon-pohon bambu.
Cahaya matahari sore tersaring celah-celah dedaunan, menebarkan titik-titik terang di permukaan lantai hitam kastil. Kupu-kupu monarch hitam dan keemasan terbang ke sana kemari, keluar-masuk berkas cahaya kelabu pucat yang menyorot dari atas.
SRAK!
__ADS_1
Pucuk pohon tersentak ketika sebuah bayangan melesat dari kaki tebing dan melompatinya. Lalu sepasang kaki bersepatu armor mendarat ringan di lantai batu kuno kastil yang dipenuhi ceceran darah.
Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, terbaring dalam kubangan darah, beberapa lainnya masih bernapas terengah-engah, yang lainnya lagi tidak sadarkan diri.
Namun pada saat yang sama, secara keseluruhan terlihat sama—gambar bisu yang sama, rupa dunia kematian yang sama, sebuah pembunuhan massal yang sama.
Luka yang sama…
Senjata lawan yang sama…
Dan…
Para korban…
Mereka semua memandang nanar.
Mereka semua berwajah pucat.
Seolah-olah kepucatan mereka, berkas rambut kotor yang menempel di dahi mereka, tatapan kosong mereka, sekarang tampak seperti membayangkan kematian mereka yang sudah pasti. Seolah takdir mereka tersembunyi di dalam detail itu, dan pada setiap pasang mata yang terbelalak tanpa cahaya kehidupan takdir itu tampak muncul ke permukaan seperti sebuah tayangan reka ulang---kematian seluruh anggota sekte.
Dan Hua Zu dengan ketidakberdayaan yang sama merespons dan bertindak dengan cara yang sama, hanya berlutut di dekat rekannya yang hampir tak bernapas, terkulai seperti parasut yang menyentuh tanah. Bertanya dengan suara bergetar yang sama, "Siapa yang melakukannya?" Lalu mendengar jawaban yang sama dari suara lemah gemetar yang sama.
Selebihnya… masih sama, hanya berjongkok di sana, diam, menunggu helaan napas rekannya berubah menjadi gemeretak kosong, menutup kelopak matanya dengan ibu jari, menutup wajahnya dengan kain selubung yang sama.
Lalu meledak dengan angkara murka yang lebih besar.
"KUANGREEEEEEEEE…!!!"
Raungan itu menggaung seperti terompet penanda perang, disusul gelegar halilintar.
.
.
.
Di Lembah Jinzhi…
Kedua murid Jieru sedang berlatih di jalan masuk di perbatasan hutan, masih mencoba berdamai dengan hutan keramat. Sekarang mereka bergelantungan di ranting pohon dililit sulur tanaman rambat dengan posisi kepala berada di bawah—masih belum berdamai dengan tanaman itu!
Mendengar halilintar yang tiba-tiba menggelegar itu, mereka berteriak dicekam rasa panik, "GURUUUU…!!!"
Dan dalam sekejap sulur tanaman itu merambat keseluruh tubuh mereka dan membungkusnya seperti kepompong.
__ADS_1
Zhu Hua Zu yang semula tengah terpekur di pelataran kastilnya dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya mengawasi mereka, tiba-tiba mendongak menatap langit yang berkeredap. Terlihat sedikit gusar, tidak setenang biasanya.