
Istana Gubernur, Yeliushen…
Aula perjamuan dipadati oleh hilir mudik para aristokrat muda berpakaian glamor seperti para dewa dan dewi yang tidak terhitung jumlahnya, sebagian berpasang-pasangan, sebagian berkelompok-kelompok.
Bahkan para pelayan berkostum layaknya para bangsawan dengan setelan gemerlap berwarna keemasan dan kain satin ungu berikut hiasan kepala dengan aksesoris yang sangat mencolok. Salah satu dari mereka bergerak ke arah para tamu dengan nampan perak, menawarkan kue-kue berbentuk menarik dengan gula berwarna-warni.
Xi Xia, si tuan rumah pesta, tak bisa menahan dirinya dari godaan manisan berbentuk miniatur buah ying tao.
Di sampingnya, kakak perempuannya dari selir lain memilih miniatur manisan berbentuk buah persik dan tidak berterima kasih.
Beberapa gadis bangsawan berpakaian seperti peri melewati mereka, tidak diragukan lagi mereka terinspirasi film-film anime kesukaan Penulis Keparat.
Seorang pemuda berwajah arogan sudah mabuk saat orkestra mulai dimainkan.
Xi Xia memperhatikan salah satu pemuda berpakaian perwira yang sedang berkerumun dengan pemuda lainnya. Ia mengira itu adalah Shin Wu. Tapi ternyata bukan.
Xi Xia berpaling ke arah tangga besar yang melingkar dan menyapukan pandang ke seluruh ruangan.
Shin Wu tidak terlihat di mana-mana.
"Di mana Kak Shin Wu?" gumam Xi Xia kebingungan, mencari kakak tirinya yang tinggi menjulang di antara kerumunan.
"Aku juga belum melihatnya," sahut kakak tiri perempuannya.
"Hmm…" mata Xi Xia kembali menyisir ruang perjamuan, bertekad untuk menjaga agar penampilannya tetap ceria, tetapi sesungguhnya, suasana hatinya agak suram malam ini.
Apa yang salah dengan malam ini?
Semua sorot penasaran, suara, dan sentuhan apik untuk pesta ulang tahunnya yang mewah seharusnya dapat ia nikmati, namun ia tak bisa menghilangkan perasaan aneh di mana ia merasa terasing.
Jawaban yang bisa ia simpulkan, mungkin karena ia belum melihat Shin Wu. Dibanding kakak-kakak tirinya yang lain, Shin Wu adalah yang paling ia sayangi.
"Kau sudah bertemu Ayah?" tanya kakak tiri perempuannya.
"Belum," jawab Xi Xia, mengabaikan nada ironis dari suara kakak tirinya. Ia tak akan memperlihatkannya pada dunia bahwa ia tidaklah begitu ingin terburu-buru bertemu dengan ayahnya.
Ia melirik sekilas pada saudari tirinya dan berpamitan dengan gumaman tak jelas dan anggukan singkat, lalu buru-buru memutar tubuhnya memunggungi gadis itu, dan bergegas ke arah tangga.
Di lantai atas, Xi Xia bergegas memasuki ruang rias untuk para wanita. Ia mengecek penampilannya, memeriksa gaun ratu perinya yang berwarna merah muda transparan berkelap-kelip berlapis sutera putih di bagian dalam---sebenarnya tidak ada pernak-pernik khusus yang menjelaskan apakah itu gaun peri atau gaun ratu, tapi menurutnya, gaun itu terlihat cantik dan bercahaya, itu sedikit membantu memperbaiki suasana hatinya yang sedikit suram.
Setelah keluar dari ruang rias beberapa saat kemudian, ia berjalan ke galeri yang berada di balkon.
__ADS_1
Shin Wu juga tidak berada di sana.
Ia menatap ke tengah kerumunan warna-warni yang berkeriap di bawahnya.
Beberapa pemuda berkerumun di seputar meja, berkelompok-kelompok menikmati arak.
Pandangan Xi Xia mengembara ke arah pintu ganda di ujung aula perjamuan yang mengarah ke teras. Mungkin dia sedang berada di taman sekarang, pikirnya. Lalu memutuskan untuk mengeceknya ke sana.
Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya dan bergegas menuruni tangga, mengerahkan seluruh kemampuannya supaya bisa bergerak dengan mulus, hingga tidak seorang pun bisa menghentikannya sekarang.
Tapi ketika ia melewati sekelompok wanita yang berkumpul di pagar tangga, ia tak bisa mencegah dirinya untuk tidak mendengarkan pembicaraan para wanita itu.
"Tidak, itu tidak mungkin! Pria itu membuatnya menangis karena kenikmatan?"
"Katanya pria itu mematahkan tempat tidurnya."
"Oh… benar-benar energik sekali."
Para wanita itu tertawa.
Xi Xia berjinjit melewati mereka dengan syok, berusaha supaya para wanita itu tidak menyadari kalau ia mendengar obrolan mereka.
"Aku tidak keberatan kalau dia mematahkan tempat tidurku," terdengar gumaman lain, sambil menatap ke lantai aula.
"Semoga saja suamimu tidak mendengar ucapanmu tadi."
"Dia takkan peduli. Dia mengira aku tidak tahu apa-apa tentang wanita simpanannya yang baru, dasar bodoh."
Para wanita itu sekarang menatap ke lantai aula.
"Oh, tidak! Apa dia Nefilim?" pekik wanita yang lainnya lagi.
"Shh! Apa kau ingin seluruh dunia mendengar apa yang kau katakan?"
Terkejut oleh percakapan para wanita itu, Xi Xia mengikuti arah pandang mereka ke tengah lantai aula, dan ketika ia melihat siapa sumber gosip mereka, gadis itu spontan menghentikan langkahnya.
Tak heran semua wanita jadi gila, pikir Xi Xia.
Pria itu… begitu indah!
Tapi benar apa yang mereka katakan tadi, pria itu memiliki ciri Nefilim.
__ADS_1
Wajah lancip putih porselen, rambut cokelat tembaga, dengan tinggi badan sekitar seratus delapan puluh, kekar dan tegap. Pria itu mengenakan jubah labuh berlapis mantel armor berkilau dengan penuh kebanggaan, memperlihatkan dengan jelas bahwa yang dipakainya bukan kostum untuk pesta. Pria itu bahkan membawakan diri sebagai seorang militer---tubuh tegak, dada membusung, bahu lurus, dan dagu terangkat. Kepercayaan diri yang dimilikinya saat ia berjalan dengan gerakan berwibawa dan penuh kewaspadaan, seolah menegaskan bahwa ia telah memenangkan peperangan lebih dari satu kali.
"Siapa dia?" Seorang wanita bertanya pada temannya.
Setelah tanpa sadar menuruni beberapa anak tangga lagi, Xi Xia sekarang mendengar percakapan dari kumpulan wanita lainnya.
"Ya, ampun. Kau tidak tahu? Hanya dia satu-satunya tangkapan bagus untuk musim perjodohan kali ini."
"Dia putra kedua kaisar Tio Bing," kata wanita yang satunya. "Jenderal Tio Jun. Baru tiba dari perang mahal."
"Tampan sekali," gumam wanita yang lainnya lagi.
Putra mahkota? Perhatian Xi Xia kembali tersita.
Apa kaisar memiliki selir dari ras dewa?
Ketika pria itu bergerak di lantai aula, semua orang di tempat itu seolah ingin mengenalnya. Para pria membungkuk hormat, menautkan kedua tangan mereka di depan dada dan menyapanya dengan penuh antusias, sementara para wanita, di sana-sini menempel dan menggelisir untuk memberi salam di dekat pipinya yang dicukur dengan licin.
Jika dia orang Yuoji, bisa dipastikan pria setampan itu sudah tak ada di muka bumi.
Para tetua bangsa Yuoji dari Balai Roh Pelindung menghukum mati semua orang dengan ciri-ciri ras dewa.
Di sini malah dipuja.
Terutama karena dia juga putra kaisar!
Pria itu tampak tidak keberatan dengan puji-pujian yang dilayangkan banyak orang padanya, tapi sepertinya ada sesuatu yang menggangu perhatiannya.
Pria itu tidak henti-hentinya menyisir kerumunan dengan tatapan mencari-cari yang tajam, seperti seseorang yang sedang memburu, tapi buruan apa yang sedang dicarinya? Xi Xia penasaran.
Lalu tiba-tiba, secara diam-diam dan tanpa peringatan, pria itu menatapnya, dan Xi Xia mendapati dirinya hanya membeku di bawah tatapan mata cokelatnya yang keemasan.
Begitu tatapan pria itu terhenti pada dirinya, Xi Xia langsung terdiam. Tidak bergerak, tidak berkedip, bahkan tidak bisa bernapas.
Berada di bawah pengamatan tajam pria itu, Xi Xia merasa tak nyaman oleh sorot pandang sensualnya.
Kemudian sebuah senyuman nakal seolah tersungging di sudut bibir pria itu.
Xi Xia menelan ludah. Kejadian seperti ini benar-benar mengejutkan baginya dan terasa lebih tidak menyenangkan baginya.
Xi Xia memutuskan untuk menganggap dirinya membenci pria itu.
__ADS_1