
Seusai berendam, kedua rekan Hua Zu sudah menunggu di meja teh di dekat jendela di sisi kamar.
Hua Zu meraih pakaian yang telah disiapkan kedua rekannya di atas tempat tidur dan mengerutkan keningnya.
Pakaian itu juga serba putih dan dilengkapi mantel armor bercorak batik warna perak yang sama seperti yang dikenakan kedua rekannya. Bahkan hiasan kepala.
Apa-apaan ini? pikirnya jengkel. Ia mengetatkan rahangnya dan menoleh pada kedua rekannya.
Salah satu dari mereka hanya mengangkat setumpuk dokumen dan menggoyangkannya di sisi wajahnya.
Hua Zu ingin membantah tapi nama ketua mereka tertera pada salah satu amplop yang diacungkan rekannya tadi.
Dengan terpaksa Hua Zu mengenakan pakaian barunya karena tak ada lagi yang bisa dipakai kecuali jubah mandi yang dikenakannya sekarang.
Selesai berpakaian, Hua Zu bergabung di meja dan menyantap bubur yang disodorkan padanya sementara salah satu dari mereka membantu menata rambutnya, mengikatnya sebagian dan memasangkan hiasan rambut dari perak itu di puncak kepalanya.
Rekan lainnya yang lebih tua, yang duduk di seberang meja menatap sekilas dengan tergagap, tak bisa menutupi kekagumannya.
Dia sudah terlihat seperti Jian, pikir pria di seberang meja, yang tak lain adalah salah satu dari tentara langit yang dibangkitkan Hua Zu berambut emas.
Mereka memang benar sudah mati. Tapi tentu saja Hua Zu berambut hitam itu takkan menerima apa pun penjelasan mereka mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kerajaan langit. Hua Zu berambut emas sudah memperingatkannya sebelum pergi. Jadi, mereka akan tetap menyamar sebagai saudara seperguruan dan mengarang cerita mengenai perubahan peraturan sekte.
"Selain kita, sebenarnya Senior Yun juga selamat dari pembantaian," rekan Hua Zu di seberang meja mulai bercerita.
Senior Yun adalah salah satu dari tentara langit yang disebutkan Hua Zu berambut emas sebagai laskar Xiao Yu. Di dalam sekte mereka, Yun Kiew adalah tangan kanan ketua.
"Dialah yang mengumpulkan kita dan merawat kita, tapi… kondisinya juga cidera parah, ditambah dia kehabisan manna setelah mengobati kita semua. Kami sempat merawatnya beberapa waktu. Tapi dia tak bisa bertahan, dan..."
Hua Zu meletakkan mangkuk buburnya dan mendesah. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menyimak cerita rekannya dengan raut wajah muram.
"Senior Yun yang memberitahu kami mengenai wasiat ketua dan peraturan baru. Semuanya tertulis dalam wasiat," kata rekannya sambil menyodorkan dokumen tadi ke arah Hua Zu.
__ADS_1
Hua Zu mempelajarinya satu per satu dan kembali mendesah. Lalu meletakkan dokumen itu ke tempatnya semula.
Kedua rekannya saling melirik secara diam-diam dari seberang meja.
Hua Zu masih tercenung. Berpikir keras. Aneh sekali! pikirnya sangsi.
Dalam wasiat itu tertulis; "Jika Dai Xiao Yu tiada, peraturan sekte akan dikembalikan seperti sedia kala, kecuali Dai Xiao Yu wafat setelah pensiun."
Bahwa pada awalnya Sekte Belati Kaida adalah Sekte Pedang Kaida di mana penerus selain Dai Xiao Yu diwajibkan untuk melanjutkannya sebagai Sekte Pedang Kaida kecuali jika penerus melewati serah-terima jabatan secara langsung dari Dai Xiao Yu.
Lalu di situ juga tertulis bahwa jika sekte terancam punah karena suatu bencana, wabah atau pembantaian yang mengharuskan mereka kehilangan ketua dan para tetua, maka anggota yang tersisa berhak menerima hak waris sebagai penerus sekte di mana anggota tertua akan menerima jabatan sebagai tetua dan ketua, begitu pun kedudukan lainnya juga ditentukan berdasarkan usia.
Peraturan macam apa ini? pikir Hua Zu tak yakin.
"Kami berdua sudah dilantik oleh Senior Yun sebagai wakil ketua dan tetua sekte," cerita rekannya lagi yang duduk di seberang meja. "Dan kau sudah diurapi sebagai ketua."
Hua Zu mendesah lagi. Wasiat ini pasti lelucon!
Kedua rekannya bertukar pandang lagi.
"Kami sudah memulai latihan sejak kami mulai pulih," rekannya memberitahu. Lalu mengulurkan sebuah kitab tua bertuliskan: Kitab Pedang Kaida.
Hua Zu menerimanya dengan raut wajah masam. Lalu membukanya dan mempelajarinya beberapa halaman. Masih terlihat tak yakin.
"Sekarang sudah saatnya pelantikanmu, Adik Zhou!" rekannya memberitahu.
Hua Zu masih cemberut. Masih tak yakin. Tapi tetap memaksa dirinya beranjak dan mengikuti instruksi kedua rekannya.
Kedua pria itu mengarahkan Hua Zu ke pelataran kastil dan begitu ia muncul di pintu, para anggota sekte yang masih mengenakan seragam ninja yang lama serentak berlutut menyambut Hua Zu.
"Ketua Zhou!"
__ADS_1
Hua Zu mengerang dalam hatinya dan membeliak sebal, memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan seluruh anggota supaya mereka kembali berdiri.
Seorang murid senior wanita melangkah ke depan. "Berdasarkan peraturan sekte," ia mengumumkan. "Juga berdasarkan wasiat dari ketua Yu, serta arahan dari Tetua Yun, Senior Zhou berhak mewarisi tahta ketua dengan pertimbangan ini: Senior Zhou telah berhasil membangkitkan anugerah cahaya pusaka leluhur!"
Baiklah, pikir Hua Zu. Sekarang penobatan ini mulai terasa sedikit masuk akal.
Seorang murid senior wanita lainnya muncul membawa nampan perak berisi sebilah pedang dan membungkuk menyodorkan nampan itu ke arah Hua Zu.
Hua Zu melirik rekannya yang lebih tua yang berdiri di sebelah kanannya yang sekarang telah menjabat sebagai tetua dengan mata terpicing, melontarkan isyarat bertanya.
Pria itu mengangguk singkat ke arah pedang di atas nampan perak itu.
Hua Zu mengambil pedang itu dan mencabutnya dari sarungnya yang entah mereka dapatkan dari mana—seingatnya pedang itu tidak ada sarungnya ketika ditemukan, lalu ia mengacungkan pedang itu ke langit dan seketika ledakan halilintar menggelegar di ujung pedangnya.
Para anggota kembali berlutut secara serentak dengan kedua tangan tertaut di depan wajah mereka.
Bola-bola cahaya berwarna-warni meluncur turun secara perlahan dan melayang-layang di udara di sekeliling kastil, barikade tentara langit yang terlihat seperti rasi bintang di kejauhan. Seperti taburan bunga-bunga poplar dan dandelion yang bercahaya.
Zhu Hua Zu bertukar pandang dengan Dai Xiao Yu, mengawasi penobatan itu dari cakrawala sementara Zhou Hua Zu tidak menyadarinya.
Jauh di seberang desa di padang rumput, sejumlah gembala tercengang menatap fenomena itu.
"Lihat itu!" seru seorang gembala yang telah lanjut usia sambil menunjuk rasi bintang di puncak Gunung Kaida.
Lalu secara serentak para gembala lainnya beranjak dari tempatnya masing-masing dan mendongak dengan terkejut.
Di seberang ngarai di puncak Gunung Jingling, murid-murid Jieru juga memekik sambil menunjuk ke titik yang sama. "Guru! Lihat itu!"
Jieru mendongak mengikuti arah telunjuk mereka dan terkesiap. Apa yang terjadi? pikirnya terkejut. Pertanda apa ini? ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Di balkon jendela kamar Lim Shin Wu, Lin Yao dan Yuze juga terperangah melihat ke tempat yang sama. Dari tempat mereka, rasi bintang itu hanya terlihat berupa titik, tapi tetap terlalu besar untuk ukuran rasi bintang biasa di langit malam.
__ADS_1
Di atap estat Xi Xia, kedua pengawal bayangannya juga melihat fenomena itu.
Di setiap sudut, di semua tempat, di seluruh pelosok negeri, semua orang melihat fenomena itu sebagai keajaiban, sementara Zhou Hua Zu tidak mengetahui apa-apa.