
Ibukota Yeliushen…
"Anda betul-betul rusak parah, Panglima," tabib istana gubernur berdecak mendapati luka Shin Wu di sana-sini. Lalu membersihkannya satu per satu, menjahitnya dan membalutnya.
Shin Wu duduk terpuruk bersandar di kepala tempat tidur dengan mulut terkatup.
Butuh waktu lebih dari satu jam untuk tabib itu menyelesaikan pekerjaannya. "Saya terkejut Anda masih hidup," katanya sambil membungkuk di atas meja di sudut ruangan, mencuci tangan dan semua peralatan medisnya dalam wadah perak yang dibawa para pelayan.
Tak lama kemudian, gubernur Pao-Lu memasuki kamar pemuda itu dan seisi ruangan langsung membungkuk.
Shin Wu masih membeku dalam kebisuannya.
Ayahnya berhenti di tengah ruangan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Shin Wu dengan dahi berkerut-kerut. "Kau baik-baik saja?" ia bertanya setelah sejenak terdiam.
"Ya," Shin Wu menjawab tanpa mengangkat wajah.
Gubernur itu melengkungkan alisnya ke arah Shin Wu seakan mencoba memastikan apakah benar pemuda itu baik-baik saja.
"Sebenarnya aku sudah sekarat," gumam Shin Wu, masih dengan ekspresi datar dan tidak mengangkat wajah. "Mi Sai Ya memulihkanku dalam sekejap!"
Seketika seisi ruangan mendadak beku.
Gubernur Pao-Lu memicingkan matanya, melontarkan tatapan tajam pada putranya. Lalu berdeham dan mengedar pandang. "Bisa memberi kami privasi?" katanya pada semua orang.
Bersamaan dengan itu, Selir Yuwen dan para gadis menyeruak ke dalam kamar dengan tergopoh-gopoh.
Seisi ruangan berubah gaduh, lalu kembali beku.
Para wanita itu tergagap menyadari gubernur ada di sana. Lalu secara serentak mereka semua langsung membungkuk.
Pao-Lu menoleh ke arah pintu dan melontarkan tatapan tajam pada mereka yang secara otomatis membuat para wanita itu beringsut mundur dan menyisi dari ambang pintu, tabib istana membungkuk pada gubernur kemudian berjalan ke arah pintu disusul para pelayan Shin Wu.
Selir Yuwen langsung menarik salah satu pelayan Shin Wu untuk menyisi, kemudian memberondongnya dengan serentet pertanyaan. "Apa yang terjadi? Kenapa Yang Mulia Gubernur terlihat marah? Apakah putraku baik-baik saja?"
Xi Xia dan saudara-saudara perempuannya sesama anak selir serentak merubung di sekeliling mereka.
Tak siap dengan serangan mendadak itu, pelayan Shin Wu hanya tergagap-gagap kebingungan harus menjawab yang mana dulu.
"Jawab!" desak Selir Yuwen sambil mengguncang bahu pelayan itu.
"Kami tak yakin," kata pelayan itu akhirnya. "Kami hanya mendengar sedikit, Yang Mulia Gubernur langsung menghalau kami keluar."
"Apa yang kalian dengar?" Selir Yuwen memotong tak sabar.
__ADS_1
"Kami hanya mendengar Tuan Panglima mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah sekarat—"
"Apa kau bilang? Sekarat? Putraku sekarat?" Selir Yuwen meninggikan suaranya dengan terkejut, hampir terdengar seperti orang kalap.
"Tenanglah! Dia sudah tidak apa-apa sekarang. Katanya seseorang memulihkannya dalam sekejap. Dia baik-baik saja," jawab pelayan Shin Wu cepat-cepat. "Tapi…" pelayan itu mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan tuannya setelah itu.
"Tapi apa?" Selir Yuwen tak mau mengerti.
"Saya lupa namanya, Mi Sao… Mi Xiao…", lanjut pelayan itu tak yakin.
"Mi Sai Ya?" potong Selir Yuwen cepat-cepat.
"Benar!" pelayan itu menjawab dengan antusias.
Selir Yuwen dan anak-anak tirinya serentak bertukar pandang dengan raut wajah berbinar-binar.
Sementara itu, di dalam ruangan…
"Kabar itu benar," Shin Wu akhirnya mengangkat wajah, menatap ayahnya. "Aku melihatnya, dia membangkitkan orang mati!"
Ayahnya mengetatkan rahang, sebelah alisnya terangkat tinggi, melontarkan tatapan skeptis.
"Dewa Yuoji berada dalam dirinya!" Shin Wu menambahkan.
Ayahnya terkekeh masam, "Dalam dirinya?"
"Kalau begitu siapa dia? Setengah dewa?"
"Jika dewa itu fana, maka itulah dia!" Shin Wu meyakinkan ayahnya.
Gubernur itu mendengus sambil memutar-mutar bola matanya dengan raut wajah muak. "Kau lupa tinggal di kerajaan mana?" ia bertanya dengan ekspresi dingin.
Shin Wu langsung terdiam. Ia kembali tertunduk dengan mulut terkatup.
Pao-Lu mendekatinya dengan perlahan, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya dan membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Shin Wu. "Dengar, Prajurit," katanya dengan ekspresi datar. "Dewa hanyalah simbol, mereka tak punya kekuatan. Bagi para budak, dewa mungkin memberi pengaruh yang cukup besar. Tapi kita adalah tuan. Lord—Tuhan! Kau adalah bajingan Luoji. Kau harus melihat dewa apa adanya. Bagi kita, dewa adalah kendali."
Shin Wu mengerjap dan menelan ludah, lalu menatap wajah ayahnya.
"Aku adalah Tuhan!" Pao-Lu mendesis tajam. "Dan kau bisa menjadi Tuhan kalau kau bisa mengendalikan mereka dan menjadikan mereka sebagai budakmu."
Shin Wu kembali tertunduk, terdiam seribu bahasa.
"Kalian bisa masuk lagi!" perintah Pao-Lu pada semua orang di luar kamar.
__ADS_1
Dan seketika ruangan kembali gaduh.
Pao-Lu beranjak dari tempat tidur Shin Wu dan berlalu dari kamar itu.
Selir Yuwen menghambur ke arah putranya dengan raut wajah khawatir, diikuti Xi Xia di belakangnya. Menyusul kemudian saudara-saudara perempuan lainnya.
Shin Wu mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal.
"Kak Shi Wu!" Para gadis langsung berebut menyapa Shin Wu. Sedikit terlalu histeris. Sangat berisik!
"Para pengacau ini akan menghancurkan kamarku," gerutu Shin Wu pada ibunya.
"Mereka mengkhawatirkanmu," bujuk ibunya dengan suara lembut.
Xi Xia merangkak naik ke tempat tidur panglima itu sembari menyeringai, kemudian meringkuk di dada Shin Wu, memperlihatkan wajah sedih seorang anak kecil.
Shin Wu mengerang lagi, "Kau sudah dewasa, Xi Xia! Tidak bisakah kau bersikap sesuai usiamu?"
Xi Xia menggembungkan pipinya sambil melingkarkan lengannya di perut Shin Wu, "Aku merindukanmu," katanya manja. "Kudengar kau sudah sekarat?" Xi Xia mulai melancarkan interogasinya. "Ceritakan pada kami!" pintanya sambil mengguncang perut Shin Wu dalam pelukannya.
Shin Wu meringis ketika lengan Xi Xia menekan luka di bagian perutnya. Ia berusaha menyingkirkan tangan gadis itu, tapi gadis itu malah mengetatkan rangkulannya di perut Shin Wu.
"Ceritakan pada kami! Ceritakan pada kami!" Gadis-gadis lainnya berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan mendukung Xi Xia.
"Lupakan saja! Kalian takkan mengerti," tukas Shin Wu tanpa minat.
Tapi kemudian sentuhan lembut ibunya menegaskan permintaan yang sama.
Shin Wu mengerutkan keningnya, melontarkan tatapan heran pada ibunya. "Sejak kapan ibu berpihak pada mereka?"
Ibunya tersenyum sedih, "Sesuatu terjadi pada kami, itu memukul kami terlalu keras hingga membuat kami sadar bahwa kami tidak ada bedanya satu sama lain," tuturnya muram.
Shin Wu mengerutkan keningnya lagi, lalu mengedar pandang, meneliti saudara-saudara tirinya satu per satu.
"Benar! Kami dirampok kemarin malam" saudara perempuan yang paling kecil menimpali dengan raut wajah cemberut.
"Apa?" Shin Wu terperangah. "Dirampok?" Shin Wu mengedar pandang dengan mata terpicing, menatap ibunya, menatap saudara-saudara perempuannya satu per satu.
Ibunya mengangguk.
Gadis-gadis itu juga mengangguk dengan raut wajah sedih.
Shin Wu langsung terdiam. Lalu menatap ibunya. "Apakah itu Shashou?"
__ADS_1
Ibunya mengangguk lagi.
Shin Wu mengetatkan rahang dan menggeretakkan giginya.