Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-49


__ADS_3

Apa yang terjadi?


Hening!


Hua Zu menatap dua murid Jieru yang tengah membeku di seberang lapangan, keduanya terlihat sama pucatnya, sama bingungnya.


"Kalian telah melakukan kesalahan!" Lim Shin Wu menggeram pada Tuoli setelah menyeret pria itu menjauh dari kerumunan.


Terdengar gumaman dari kerumunan, riuh rendah seperti dengung lebah yang sedang gelisah.


"Orang ini bukan Legion!" protes Shin Wu.


"Benar," tukas Tuoli. "Dia mungkin bukan Legion. Tapi dia ketua sekte para Shashou."


Hua Zu mendekat perlahan ke tiang hukuman, memandangi wajah ayahnya, mencoba memindai tanda-tanda kehidupan.


Tapi pria paruh baya itu tetap bergeming. Matanya terpejam, mulutnya terkatup rapat. Kepalanya tertunduk.


Apa dia mati? pikir Hua Zu.


Apa hanya begini saja?


Ia mengulurkan sebelah tangannya dan menaruh buku jari telunjuknya di lubang hidung Jieru. Lalu memutar ke belakang ayahnya dan menekan pergelangan tangannya yang masih terikat.


Tidak ada napas.


Tidak ada denyut nadi.


Dia benar-benar mati! pikirnya getir.


"Kau membodohiku," desisnya parau. Lalu memutar ke depan, menatap ayahnya dengan sorot menyalahkan. "Kau menipuku!"


Kedua murid Jieru di seberang lapangan bertukar pandang dengan temannya yang berbaur dalam kerumunan di sisi lain lapangan.


"Kau pembohong yang payah, Bajingan Tua sialan!" teriakan nyalang Hua Zu menarik perhatian Lim Shin Wu dan Ma Tuoli.


Hua Zu jatuh berlutut di depan jasad ayahnya yang masih terikat pada tiang sambil terus menggumam mengutuki dirinya, mengutuki ayahnya.


Beberapa serdadu menoleh padanya dengan alis bertautan, lalu saling bertukar pandang.


Lim Shin Wu dan Ma Tuoli serentak menoleh pada Hua Zu, diikuti para ninja di dekat mereka.


Salah satu murid Jieru segera menyadari, kemudian memberi tanda pada teman-temannya. Lalu mereka mencoba memberi tanda pada Hua Zu.


Hua Zu tidak menyadarinya. Ia masih berlutut ketika serpihan batu membara mendesis padam dan kerumunan orang-orang berangsur pergi tanpa bicara.


Shin Wu melirik sekilas pada Tuoli dan mengetatkan rahangnya, lalu berbalik dan bergegas menjauh. Ia mendekat ke arah Hua Zu.


Hua Zu tetap bergeming. Sendiri bersama kesedihannya.


Sendiri bersama bau asap yang menyesakkan.


Sendiri bersama jerit tangis seorang gadis yang meratapi ayahnya yang terngiang-ngiang di telinganya.


Tanah di bawahnya basah karena air matanya.


Ia menengadahkan wajahnya ke langit malam yang sehitam arang, dengan bintik-bintik putih pucat bintang-bintang di sana-sini.


Lalu menatap wajah ayahnya lagi.


Tidak ada tanda!


Pria paruh baya itu tetap terkulai dan mati.


Mati? pikirnya getir.

__ADS_1


Bagaimana bisa kau mati begitu mudah? rutuknya dalam hati.


Bagaimana bisa kau mati begitu saja sementara kau bisa melepaskan dirimu dengan mudah?


Aku di sini menunggu tanda darimu!


Inikah tandanya?


Inikah rencana-Nya?


Mati! batinnya tak habis pikir.


Lim Shin Wu berhenti satu langkah di belakang Hua Zu.


Murid-murid Jieru dan rekan-rekan Hua Zu mulai waspada.


Shin Wu sudah mencengkeram sebelah bahu Hua Zu.


Hua Zu menoleh perlahan. Dan sebelum ia sempat bereaksi, sebelum ia menyadari apa yang terjadi, Shin Wu sudah menghunus pedangnya dan menodongkannya di leher Hua Zu.


"Bajingan Shashou!" hardik Lim Shin Wu yang secara otomatis ditanggapi siaga satu oleh para tentaranya.


Rekan-rekan Hua Zu melesat lebih cepat untuk menghadang para tentara itu sambil melontarkan sejumlah belati.


SLASH!


SLASH!


TRAAAAANG!


Pedang Shin Wu terpental dari leher Hua Zu.


Pertempuran pun meledak tak terelakkan.


Pekik-jerit semua orang menggema di tepi alun-alun, kemudian membahana ke langit malam.


Hua Zu melompat berdiri dan melambungkan tubuhnya, menyapukan tendangan memutar.


BUG!


Shin Wu membendungnya dengan menyilangkan kedua lengan di depan wajahnya.


Hua Zu mendarat sebentar untuk kemudian memantulkan tubuhnya lagi dan merentangkan kedua kakinya, melakukan split di udara dan mendaratkan tumit sepatunya di bahu Shin Wu.


Shin Wu berhasil menghindarinya dengan menjatuhkan dirinya ke tanah, kemudian berguling dengan cepat seraya menyambar pedangnya dan melompat berdiri. Ia mengayunkan pedangnya ke arah Hua Zu.


Hua Zu melompat menjauh sambil melontarkan belati dari lengan bajunya.


SLASH!


TRAAAAANG!


Shin Wu berhasil menepisnya.


Di sisi lain di sekeliling mereka, para serdadu mulai mengganas sementara para Shashou memantul-mantul di tengah kepungan sambil melontarkan belati mereka.


Orang-orang sipil berhamburan menjauhi alun-alun, beberapa terlindas dan tersaruk-saruk.


Alun-alun itu menggemuruh.


Tuoli dan para tentara ninjanya menyelinap diam-diam meninggalkan pertempuran dan melesat pergi.


Tak lama kemudian, sejumlah pria berambut terang bermunculan dari sudut-sudut tersembunyi dan menerjang ke arah Hua Zu.


Tiga murid senior Jieru merangsek ke arah mereka, tapi dalam sekejap tiga tentara langit dari Sekte Kaida menyergap pergelangan tangan mereka dan menariknya menyisi. 

__ADS_1


"Pergilah!" kata tentara langit pada murid Jieru. "Bawa semua pasukan mundur dan pastikan tidak ada yang kurang. Kami sudah pernah mati dan dibangkitkan. Pedang langit tak bisa meremukkan kami!"


Sejurus kemudian, para Shashou dari dua sekte gabungan itu melesat menjauh meninggalkan pertempuran.


Tiga tentara langit membentengi mereka dengan mencegat semua serdadu yang coba mengejar mereka.


"Lindungi Pangeran dan Panglima!" teriak seorang kapten.


"Lindungi saja dirimu sendiri!" dengus Tio Jun dengan arogan sambil melompat dan menjejakkan kakinya di bahu kapten itu untuk melambungkan dirinya ke arah Hua Zu.


Hua Zu melejit sambil melontarkan belati ke arah Tio Jun.


DUAAAAARRRR!


Pedang langit milik Tio Jun menangkis belati bumerang yang dilontarkan Hua Zu.


GRAAAAAAKKK…


Seuntai rantai besi berwarna gelap melecut dari udara secara misterius.


Hua Zu spontan terbelalak. Merasa tak asing dengan rantai itu.


Serta-merta tentara langit dari pihaknya menerjang ke arah Hua Zu dan mendorongnya menjauh dari rantai itu.


GREB!


Rantai itu melilit tubuh si tentara langit.


"Tidak!" pekik Hua Zu sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah rekannya sementara tubuhnya meluncur jatuh.


BRUAK!


Tubuh Hua Zu terjerembab di permukaan tanah sementara rekannya menghilang bersama rantai misterius itu.


Dalam hatinya, Hua Zu menyesal tidak membawa pedangnya.


Hua Zu melompat berdiri dan pada saat bersamaan Lim Shin Wu menerjang ke arahnya sambil mengayunkan pedangnya.


SLASH!


Pedang itu menebas udara hampa.


Hua Zu telah melejit ke atap penjara dan melambungkan tubuhnya ke langit malam.


GRAAAAAAK!


Seuntai rantai lagi, kali ini menyergap telak mata kakinya.


"TIDAAAAAAK!" rekan Hua Zu melesat ke arah Hua Zu dan mencoba menangkapnya, tapi dalam sekejap Hua Zu telah menghilang bersama rantai neraka tadi.


GRAAAAAAAK…


Rantai lainnya muncul dari arah lain seperti garis petir dan menyambar tubuhnya juga.


BLAAAARR!


Langit malam berkeredap sesaat sebelum akhirnya gelap total.


WUSH!


Semuanya menghilang dalam sekejap dan seketika itu juga Lim Shin Wu membeku.


Kecuali para serdadu bangsa Luoji dan orang-orang sipil yang belum berlari jauh dari alun-alun, semua orang menghilang.


Para serdadu terngaga bersama.

__ADS_1


Shin Wu membeku dengan tatapan nanar. Kesadarannya timbul tenggelam dalam kengerian yang membingungkan.


Apa yang terjadi? pikirnya linglung.


__ADS_2