Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-34


__ADS_3

Kebekuan menyergap seluruh tempat.


Waktu seolah terhenti ketika Hua Zu meneruskan langkahnya, melewati Xi Xia dan menghampiri Shin Wu. Satu-satunya suara yang bisa didengar hanya tumit sepatunya yang mengetuk lantai dalam irama teratur.


Xi Xia membeku dengan mata dan mulut membulat.


Para pelayan tergagap dengan raut wajah bingung.


Tapi lalu suara bariton Shin Wu menyentakkan semua orang, "Xi Xia!" panggilnya.


Xi Xia terperangah dan melompat dari tempatnya, menghambur ke arah Shin Wu.


Juru minuman masih menatap Hua Zu tanpa berkedip.


"Apa yang kalian tunggu?" teriak Shin Wu pada mereka. "Hidangkan arak itu pada pangeran!"


Juru minuman itu spontan memucat, "Baik, Tuan!" katanya sedikit tercekik. Tersedak air liurnya sendiri.


Xi Xia menatap Hua Zu dan kakaknya bergantian.


Hua Zu tersenyum tipis dan melipat sebelah tangannya di depan dada, sementara tangan lainnya tetap terlipat di belakang tubuhnya, menawarkan pada Xi Xia untuk berpegangan.


Xi Xia mengerjap dan menelan ludah, lalu menatap pada Shin Wu.


Shin Wu mengangguk samar memberi dukungan.


Wajah Xi Xia tersipu-sipu, matanya berbinar-binar. Jantungnya berdebar-debar. Ia menggamit lengan Hua Zu sambil mengulum senyumnya.


Shin Wu merapat di sisi lainnya, menawarkan tangannya juga. Lalu mengedipkan sebelah matanya.


Senyum Xi Xia melebar, lalu menggamit lengan kedua pria itu di kiri-kanannya dan melangkah ke dalam aula perjamuan melalui pintu masuk lain, melewati dapur.


Para pelayan menatap mereka dengan terkesiap.


Suasana dalam aula perjamuan sudah setengah kacau ketika mereka melangkah di sepanjang koridor yang menghubungkan dapur dengan aula.


Sang pangeran—Jenderal Tio Jun berteriak marah, mengutuki para pelayan sambil melemparkan cangkir araknya yang tak segera diisi.


Dan ketika mereka---Xi Xia, Shin Wu dan Hua Zu, mencapai singgasana Xi Xia, setengah dari para bangsawan itu merasa seperti tersihir.


Tatapan mereka sekarang terpaku pada sosok berkilau di sisi kiri Xi Xia.


"Apa dia Nefilim?" gumam beberapa orang.


"Tampan sekali!"

__ADS_1


"Kurasa dia dewa sungguhan!" pekik para wanita dalam seruan kagum.


"Apa dia kekasih Nona Lim? Beruntung sekali dia!"


"Aku benar-benar iri padanya!"


Jenderal Tio Jun menoleh pada mereka dengan mata terpicing, sebelah alisnya terangkat tinggi. Rahangnya mengetat. Matanya berkilat-kilat.


Hua Zu mengangguk singkat pada semua orang, sementara para tamu itu masih tergagap.


Dan ketika tiba-tiba sang Jenderal berteriak lantang, "Di mana minumanku?" Hua Zu menyadari beberapa tamu di dekat pangeran itu tersenyum sinis ke arah mereka.


Hua Zu menaikkan rahangnya sedikit dan mengedarkan tatapan dingin ke arah mereka sehingga mereka terdiam.


Para bangsawan muda itu mematuhi peringatan Hua Zu tanpa suara, lalu buru-buru berpaling, dan Xi Xia hanya mengerjap kebingungan.


Shin Wu menatap Xi Xia dengan sedih ketika sebagian bangsawan pengecut itu mulai menyelinap pergi.


Xi Xia melirik kakaknya dan tersenyum muram.


Pada saat bersamaan, keheningan membuat suasana menjadi canggung.


Shin Wu menunduk dan berpaling, kemudian memberi isyarat pada pelayan, yang segera melompat untuk mengambil minuman baru.


Juru minuman akhirnya muncul bersama dua pelayan dengan nampan berisi secangkir arak baru dari guci kosong yang telah diisi ulang air biasa sesuai perintah Hua Zu, tergopoh-gopoh menghampiri pemandu perjamuan.


Pemandu perjamuan itu mengerutkan keningnya ketika juru minuman memintanya mencicipi arak, menatap para pelayan yang berjejal di ambang pintu dengan curiga.


Xi Xia dan Shin Wu menegang bersama di atas singgasana Xi Xia.


Pemandu perjamuan itu mengangkat cangkir arak ke bibirnya dengan ragu-ragu, menyesapnya sedikit dan tertegun.


Seluruh tempat kembali disergap kebekuan.


Tiba-tiba kedua mata pemandu perjamuan itu melebar.


Juru minuman menelan ludah. Wajahnya langsung memucat.


"Luar biasa!" seru pemandu perjamuan, "Ini arak terbaik yang pernah aku cicipi seumur hidup!"


Juru minuman itu menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan wajah semringah, lalu menoleh pada para penjaga gudang arak dengan mata bersinar-sinar.


Para penjaga gudang arak itu berlanting gembira, lalu bergegas kembali ke tempatnya disusul para pelayan wanita dengan antusias.


Juru minuman itu menoleh pada Hua Zu dengan tatapan takjub.

__ADS_1


Xi Xia dan Shin Wu serentak bertukar pandang, lalu melirik Hua Zu dengan penuh kekaguman.


Dia benar-benar Mi Sai Ya! pikir Xi Xia terpesona.


Mata biru pria itu terpaku lurus pada Tio Jun yang sedang meracau setengah mabuk, memaki-maki semua orang yang coba mendekatinya.


"Di mana mimunanku?" cerocos Tio Jun hampir mengamuk.


"Minuman Anda segera tiba, Pangeran!" kata Xi Xia, mencoba memaksakan senyum. Xi Xia tak ingin tahu sudah berapa banyak sang Jenderal minum, tapi ia bisa melihat mata pria itu sudah cukup merah.


Hua Zu belum berpaling dari Tio Jun, sementara semua mata tidak berpaling dari dirinya.


Tentu saja dibanding Hua Zu, pesona pangeran itu mendadak sirna tidak berarti. Kekaguman semua orang pada Tio Jun beberapa saat yang lalu sekarang berpaling sepenuhnya pada Hua Zu. Membuat kepala sang putra mahkota serasa terbakar.


Dan sebagai pelampiasan, pria itu melontarkan tatapan mencela pada Hua Zu.


Tio Jun melangkah ke depan, mendekati singgasana Xi Xia, sementara mereka menunggu para pelayan kembali membawa minuman. Lalu berhenti di tangga singgasana, mendongakkan hidung dan berkacak pinggang, meneliti Hua Zu dari atas sampai ke bawah, lalu kembali ke atas—ke wajahnya. "Siapa dirimu?"


"Aku bisa menjadi siapa saja di negeri ini," kata Hua Zu tanpa mengerjap. Mata birunya menatap ke dalam mata Tio Jun. Siapa dirimu? tanyanya melalui bahasa cahaya.


"Jadi kau raja orang Yuoji?" Tio Jun mendengus di antara senyum sinisnya. Pesan tersamarnya adalah: Kau orang Yuoji!


Para tamu menahan napas. Semua orang tahu orang Yuoji dengan tanda Ilojim harus ditangkap dan diserahkan untuk diadili.


Dan itu sama artinya dengan buronan.


Dia tidak merespon bahasa cahaya, pikir Hua Zu. Dan itu bahkan tak bereaksi. Dia tidak berasal dari ras dewa! Hua Zu menyimpulkan. Tanda Ilojim dalam dirinya adalah hasil bentukan para ahli genetik Balai Roh Pelindung.


Kelinci percobaan Dewa Roh Agung!


Sebut saja… mutan.


Dan tugas tentara semacam ini adalah memburu Fallen dan para Nefilim.


Jadi tanpa ragu dan penuh percaya diri, Tio Jun menghunus pedangnya.


Xi Xia memekik dengan tatapan ngeri.


Shin Wu tak tinggal diam, ia melangkah ke depan dan menyelinap di tengah-tengah antara Hua Zu dan Tio Jun, menghadap ke arah Tio Jun untuk membentengi Hua Zu. "Dia tamuku!" katanya menginterupsi. "Kerajaannya tidak berasal dari benua ini. Dia datang untuk sebuah kesepakatan."


Seisi ruangan kembali menahan napas. Menatap Hua Zu dengan terkesiap.


"Jadi dia seorang raja?" bisik beberapa orang.


"Tak heran dia begitu percaya diri!"

__ADS_1


Tio Jun menggertakkan giginya dan mengedar pandang, lalu menurunkan pedangnya dengan terpaksa. Tapi---peduli setan, pikirnya. Ras Fallen tetap harus diremukkan. Mungkin tidak sekarang!


__ADS_2