
Kota Tua, Zhujia…
Kedai minuman berbau arak dan asap tembakau, sepatu basah dan napas masam.
Beberapa pria mabuk memperdebatkan serentet omong kosong dengan menggebu-gebu yang dipacu oleh alkohol. Mereka berpakaian seperti orang Luoji namun berbicara dengan aksen Yuoji. Mungkin penjilat Yuoji bermuka dua yang bersekutu dengan Luoji.
Ada enam atau tujuh Shashou duduk di depan jajaran kendi-kendi arak yang telah kosong. Mereka saling melempar lelucon satu sama lain, menggoda pelayan kedai, yang terlihat sudah mengenal mereka selama bertahun-tahun.
Wanita itu tidak muda. Rambutnya disemir hitam, kelopak matanya bengkak, keriput pecandu madat tampak di sekitar bibirnya. Dia duduk bertumpu pada siku di bar dalam pose yang menunjukkan banyak belahan dada. Dia berwajah menantang dan kasar yang biasa dimiliki wanita berakal sehat yang tinggal di tempat kecil, dan tahu bagaimana cara menghibur laki-laki yang kelelahan.
Para Shashou hanya sekilas memperhatikan pria asing berjubah kumal dengan wajah tersembunyi di bawah tudung jubahnya.
Setengah tersenyum sinis dan mendengus tipis, mereka mendelik dan membuang muka untuk menegakkan aturan tak tertulis bahwa orang asing tidak seharusnya berada di sini.
Ini kedai minum mereka, tempat mereka melepas lelah di akhir hari.
Pesan tersamarnya adalah jangan mengganggu mereka.
Tanpa mempedulikan penyambutan yang dingin itu, pemuda asing itu melangkah ke bangku usang di belakang dan memesan minuman. Bagaimanapun kedai minuman adalah tempat yang tepat untuk mencari informasi, pikirnya. Mungkin juga mencari gara-gara!
Keberadaan pemuda misterius dan para Shashou di tempat yang sama membuat suasana kedai arak menjadi tidak terlalu menyenangkan.
Terutama ketika salah satu dari Sashou yang lebih tua terus-terusan melirik ke arah pendatang baru itu.
"Cari tahu apakah dia pelancong atau Luoji?" salah satu Shashou berbisik pada si pelayan wanita sambil menggerayangi bokongnya.
Wanita itu terkikik dengan wajah memerah karena senang. Lalu berjalan melenggak-lenggok menuju meja si pendatang baru. Jemari lentiknya menyentuh bahu pemuda itu ketika ia menunduk membisikkan sesuatu.
Tak lama kemudian, wanita itu kembali ke meja para Shashou, "Dia bukan orang Luoji," katanya melaporkan. "Dia bilang dia berasal dari Naseli!"
"Omong kosong apa?" Shashou yang lebih tua menggebrak permukaan meja dengan kepalan tangannya. "Naseli adalah desa mati yang sudah tak berpenghuni!"
Naseli adalah nama sebuah desa di Liuwang, pulau terpencil tempat pengasingan bangsa campuran. Desa kelahiran Hua Zu berambut emas. Sekarang sudah menjadi desa mati yang tak berpenghuni.
Sekelompok pria yang sudah mabuk mendadak setengah sadar dan memilih untuk mencari aman.
__ADS_1
Seperti bisa mengendus bahaya sedang mengintai, beberapa pengunjung mulai meninggalkan meja mereka dan membayar semua tagihan untuk kemudian menyelinap keluar.
Sisa tiga pria di satu meja yang masih bertahan. Pakaian mereka tidak terlihat seperti orang Luoji maupun orang Yuoji. Lebih terlihat seperti para pedagang atau pelancong yang datang dari negeri asing.
Melihat situasinya mulai tak nyaman, para pelayan wanita mulai beringsut menjauh dari meja pengunjung.
Salah satu Shashou mengedar pandang dengan alis bertautan, lalu kembali melirik si pendatang baru dan bertukar pandang dengan rekan-rekannya. Tak lama berselang dua pria berseragam ninja itu sudah mendekat ke meja si pemuda misterius.
Pelayan wanita yang baru meletakkan minuman pesanan pemuda itu langsung melejit menjauh dari mejanya.
Pemuda itu tetap tertunduk, sementara kedua pria berseragam ninja tadi sudah membungkuk di depan mejanya, meneliti pemuda itu dengan mata terpicing.
"Kenapa kau menutupi wajahmu?" tanya salah satu dari mereka pada si pemuda.
Pemuda itu tidak menjawab.
"Apa kau bajingan Luoji?" tanya yang lainnya.
Tiga pria di meja lain saling melirik satu sama lain. Bola mata mereka bergerak-gerak gelisah mendengar bangsa Luoji disebutkan dengan sarkas.
Lim Shin Wu dan kedua bawahannya sedang menyamar untuk mencari informasi terkait Mi Sai Ya.
"Bisa turunkan penutup kepalamu? Tunjukkan wajah sialanmu pada kami!" pria berseragam ninja itu menghardik si pemuda.
Pemuda itu hanya menuang araknya dengan elegan ke dalam cangkir dan mengangkatnya ke arah kedua pria berseragam ninja itu sebagai ramah-tamah.
Salah satu dari mereka menggeram sambil menepis cangkir itu, tapi entah bagaimana isi cangkirnya tertumpah ke wajah pria berseragam ninja tadi.
Sejurus kemudian, kedua pria berseragam ninja itu melayangkan tinju mereka ke wajah si pemuda misterius secara serentak.
Dan dalam sekejap pemuda itu langsung menampung serangan keduanya dengan telapak tangan.
BRAK!
Perkelahian pun tak terelakkan.
__ADS_1
Para Shashou yang semula hanya menonton dari meja mereka beranjak serempak, merangsek ke meja pemuda itu dan mengepungnya.
Pemuda misterius itu melejit dan mendarat di atas meja ketika para ninja itu menerjang bersamaan.
Pemuda itu sekarang melambung menyapukan tendangan memutar dan dua pria berseragam ninja terpental ke belakang dengan sentakan keras.
BRUAK!
Suara-suara berdebuk dan berderak-derak disusul jeritan histeris para pelayan wanita, membuat suasana kedai semakin gaduh.
Setiap kali para Shashou menerjang secara serentak, pemuda misterius itu melambung atau menyerampang menyapukan tendangan memutar yang membuat mereka terjengkang hanya dalam sekali hentak.
Setiap kali para Shashou menyerang satu per satu, pemuda misterius itu melayangkan tendangan ke arah si penyerang sementara tangannya melontarkan belati ke semua arah hanya dalam sekali hempas.
Sekarang para Shashou itu sudah terpuruk di sana-sini dengan luka serius di beberapa bagian tubuh mereka, sebagian sudah terkapar tanpa cahaya kehidupan, sebagian lagi sedang meregang nyawa.
"Siapa kau sebenarnya?" pekik salah satu dari Shashou yang masih hidup namun sudah tak berdaya, sambil beringsut menyisi ke sudut ruangan.
Pemuda itu sekarang berdiri di tengah ruangan di antara serpihan puing perabot yang sudah remuk dan berserak ke seluruh ruangan dilindas gerakan membadai yang dilakukannya selama berkelahi.
Pemuda itu menoleh ke arah Shashou yang meneriakinya dengan gerakan pelan yang sangat luwes, lalu menurunkan penutup kepalanya seraya tersenyum miring. Wajah lancipnya yang putih porselen tampak bersinar. "Aku bajingan Kaida," tandasnya sinis, lalu berbalik dan bergegas keluar kedai.
Tiga pria di meja lain akhirnya beranjak setelah Shin Wu memberi perintah tersirat melalui kerlingan matanya. Shin Wu mendekat ke meja layan untuk membayar semua tagihan di meja mereka.
Para pelayan tergagap antara terguncang dan terpesona. Terperangah mengawasi punggung pemuda misterius berambut hitam mengkilat selurus penggaris itu dengan tatapan terpukau.
"Dia tampan sekali," gumam salah satunya seperti terkesima.
"Apakah dia raja yang akan datang yang telah diramalkan?" bisik yang lainnya. "Kudengar dia berasal dari Naseli!"
Shin Wu memandangi pelayan itu dengan tatapan berkilat-kilat memancarkan ketertarikan. Mi Sai Ya, batinnya bersemangat.
Dari Naseli?
Apa ada yang bagus di Naseli? pikirnya. Seketika bayang-bayang peristiwa masa kecilnya berkelebat dalam benaknya.
__ADS_1