
Hua Zu melompat dalam gerakan salto di udara, kemudian mendarat di tengah-tengah kepungan sambil mengayunkan pedangnya lagi.
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!!!
Puluhan anak tewas langsung terlempar terkena sambaran petir.
Pekik jerit kengerian menggaung ke langit malam.
Tiga murid senior terpilih menguatkan hatinya dan menerjang ke arah Hua Zu sambil melontarkan belati bumerang lagi.
DUAAAAARRRR!
Belati mereka langsung terpelanting bersama tubuh mereka.
BRUAK!
BRUAK!
Tubuh ketiganya membentur ke dinding-dinding.
Hua Zu terlihat menyala di tengah kepungan sementara semua orang sudah rebah di sekelilingnya.
Tak lama kemudian guru mereka akhirnya melesat dari balkon kamarnya dan menukik sambil melontarkan belati bumerang yang mengeluarkan lengkungan cahaya berwarna merah ke arah Hua Zu.
Hua Zu melejit sambil mengayunkan pedangnya lagi, menangkis serangan itu.
GLAAAAARRRR!
Benturan pedang besar dan belati kecil itu menimbulkan ledakan mahadahsyat yang membuat bumi berguncang, menyentakkan seluruh penduduk desa di kaki gunung Jingling.
"Apa yang terjadi?" pekik mereka terkejut, terbangun dari tidur mereka.
Lalu dalam sekejap semua orang berhamburan keluar dari rumah mereka dan terperangah menatap keredap cahaya merah-kuning di puncak gunung Jingling.
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Ledakan mengerikan itu menimbulkan semburat cahaya terang menyilaukan yang terlihat seperti naga raksasa merah yang menyemburkan api dari mulutnya.
"Tidak! Gunung Jingling sedang meletus!"
"Kita harus pergi!"
"Tinggalkan desa secepat mungkin!"
__ADS_1
Pekik jerit penduduk yang ketakutan memecah keheningan malam.
Menyentuh hati Hua Zu berambut emas.
"Pertempuran ayah dan anak ini terasa seperti legenda Kronos dalam mitos Yunani," komentar Xiao Yu.
"Selamatkan penduduk desa," perintah Hua Zu dalam gumaman rendah setengah menggeram. Ia menoleh pada Xiao Yu dengan tatapan dingin.
Xiao Yu tergagap dan menelan ludah. Lalu membungkuk dengan wajah menegang. Tiba-tiba punggungnya terasa dingin.
Perintah itu jelas mengandung kuasa.
Xiao Yu segera berbalik dan bergegas keluar dari ruangan Hua Zu, diikuti sejumlah tentara langit.
Sedetik kemudian, mereka sudah meluncur dari puncak gunung yang tersembunyi di antara awan, kemudian melesat ke kaki gunung Jingling.
"HUAHAHAHAHAHAHAHA…!!!"
Suara tawa menggelegar dari menara lonceng Balai Roh Pelindung. Lalu terdengar gumaman. "Menarik!"
Seorang pria paruh baya mengenakan jubah labuh warna putih, berdiri bersilang tangan di belakang tubuhnya, di dekat pilar gardu lonceng di puncak menara. Menatap lepas ke seberang ngarai sambil tertawa-tawa.
Dari kejauhan, puncak gunung Jingling terlihat menyala terang dan berwarna-warni seperti busur pelangi mengungkung naga merah raksasa yang menyemburkan api dari mulutnya.
Busur pelangi itu tercipta dari jejak para tentara langit yang sedang melesat turun, sementara naga raksasa merah itu berasal dari pertempuran Hua Zu melawan ayahnya.
Para pemuda berseragam ninja misterius itu spontan membungkuk.
Sementara itu, di Gunung Jingling…
Hua Zu tersenyum puas di bawah tudung jubahnya. Akhirnya bertemu lawan sepadan, pikirnya. Lalu mendarat dan dengan cepat memasang kembali kuda-kuda sambil mengangkat pedangnya di sisi wajahnya, menggenggamnya dengan kedua tangan.
Jieru mendarat dengan ringan tanpa suara sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya, membelakangi Hua Zu. "Pergi dari sini!" perintahnya pada murid-muridnya dengan suara yang menggelegar.
Hua Zu tersentak mendengar suara itu. Lalu mendarat di belakang pria paruh baya yang merupakan ketua sekte sekaligus guru besar perguruan mereka.
Detik berikutnya, belati kecil berbentuk bumerang terlontar lagi dari sela-sela jari Jieru dan melesat cepat ke arah Hua Zu.
Hua Zu tidak berusaha menangkisnya sekarang. Ia melejit ke udara, kemudian menukik ke arah Jieru sambil mengarahkan ujung pedangnya ke dada pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu menoleh ke arah Hua Zu dengan rahang mengetat, kemudian mengembangkan telapak tangannya yang dalam sekejap mengeluarkan cahaya merah menyilaukan.
Hua Zu serentak menelan ludah dan terkesiap. Tiba-tiba kehilangan semangat bertempur dan melemas seperti kertas, "Ayah!" pekiknya dengan suara tercekat. Lalu melemparkan pedangnya ke sembarang arah, menghindarkannya dari Jieru, sementara pria paruh baya itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Hua Zu dan melontarkan energi panas api neraka.
GLAAAAAAAARRRR…!!!
Hua Zu terpental cukup jauh dan terlempar ke pagar dinding.
__ADS_1
Jieru menarik tangannya dengan dahi berkerut-kerut. Menatap pemuda di depannya dengan mata terpicing. Tidak menghindar? pikirnya terkejut. Merasa sedikit heran. Lalu ia melirik Pedang Ilojim yang terpelanting jauh dari tempat Hua Zu.
Dia datang mengacau dengan begitu brutal, katanya dalam hati. Tapi lalu menyerah begitu saja. Apa dia sengaja mencari mati?
Hua Zu terpuruk tanpa daya di sudut pekarangan, dengan gemetar dan mata terbelalak, tubuhnya menggigil menahan tangisan batinnya yang nyaris meledak ke permukaan. Membuat napasnya terasa begitu sesak.
Jubah labuh putihnya basah oleh keringat, sementara bagian belakangnya berdarah karena benturan keras di dinding yang kasar.
Jieru berjalan pelan mendekatinya tanpa mengurangi kewaspadaannya. Matanya masih terpicing antara bingung dan menyelidik. "Siapa kau sebenarnya?"
Hua Zu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Jieru seakan mencoba menggapai pria paruh baya itu dengan tatapan penuh kerinduan. "Ayah…" bisiknya terengah-engah.
Jieru berhenti satu langkah di depan Hua Zu. Lalu tertunduk menatap Hua Zu dengan mata terpicing.
"Ayah…" ulang Hua Zu lirih dan gemetar.
Jieru tetap bergeming. Tetap waspada.
"Kau lihat itu?" bisik Hua Zu dengan suara tercekat. "Yang paling besar selalu yang paling sulit!"
Jieru mengerjap dan menelan ludah. Tapi masih mengatupkan mulutnya, matanya masih terpicing dengan sorot curiga.
"Ayah…" Hua Zu tak mau menyerah, masih mencoba bicara sambil terengah-engah. "Kenapa semua orang memanggil Ayah petani? Apakah Ayah tidak punya nama?"
"Hua Zu?" Jieru akhirnya mulai bereaksi.
Namun bersamaan dengan itu, sejumlah pria asing berseragam ninja misterius yang sama, melesat ke arah Jieru dari berbagai penjuru angin.
"Bajingan Kaida!" Jieru meraung dalam angkara murka sambil melambungkan tubuhnya dan memutar di udara, melontarkan sejumlah belati ke sekelilingnya.
Hua Zu mengerjap dan terperangah. Menyapukan pandangan ke sekeliling tempat, menatap semua orang berseragam ninja yang baru tiba. Beberapa bertengger di puncak menara, beberapa lainnya berderet di balkon selasar lantai dua, beberapa lainnya lagi berderet di pagar dinding.
Apakah itu rekan-rekannya?
Dari mana mereka tahu aku di sini? pikirnya.
Ia mencoba menarik bangkit tubuhnya dan mengulurkan sebelah tangannya, mencoba menyergap lengan salah satu ninja yang sedang mencoba menyerang Jieru, tapi pria itu melontarkan belati dari sela-sela jarinya ke arah Hua Zu.
BRUK!
Hua Zu terlempar lagi ke dinding kasar.
Apa yang terjadi? pikirnya tak mengerti.
Tidak! katanya dalam hati. Mereka terlalu banyak!
Mereka bukan anggota Kaida! ia menyadari.
__ADS_1
Siapa mereka?