Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-14


__ADS_3

Xi Xia berusaha mengingat latihan pernapasan yang dipelajarinya bertahun-tahun lalu, yang bisa membantu melepaskan ketegangan dan kegelisahan.


Kau harus menghirup napas sangat perlahan, menahannya selama enam detik penuh, lalu mengembuskannya perlahan! katanya pada diri sendiri.


Ia tak bisa mengetahui di mana ibu tiri dan para saudara perempuannya berada sekarang, seberapa jauh mereka dariku? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah mereka telah diseret pergi? Xi Xia tak bisa lagi mendengar suara mereka, atau merasakan kehadiran mereka.


Apakah mungkin kami semua tenggelam dalam keheningan mengerikan ini, kehilangan satu sama lain, tanpa berani mengirimkan isyarat?


Apakah hanya itu yang dibutuhkan?


Mereka berada dalam satu kelompok sesaat sebelumnya dan sekarang mereka terisolasi, buta, masing-masing meringkuk dalam kesendirian yang beku.


Xi Xia tak tahu berapa lama waktu berlalu. Ia bisa mendengar gerimis merintik di daun-daun pepohonan, langkah kaki, lebih banyak suara yang tidak dapat ia kenali, seperti logam berdenting mengenai sesuatu di sana-sini.


Lambat-laun gadis itu mulai bernapas dengan normal lagi, ia tak lagi merasa seperti ada kapas di hidungnya.


Langkah-langkah kaki mendekat padanya. Cengkeraman yang kasar dan brutal itu lagi. Xi Xia merasakan tangan-tangan menggerayangi pinggangnya, saku gaunnya, membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seperti barang, seraya mendorongkan sesuatu yang tajam ke punggung gadis itu.


Tangan itu mengambil kantong uangnya. Mereka menyentuh gadis itu dengan sentuhan tak sabar dan berbahaya. Mereka juga membuka paksa gelangnya, menjepit pergelangan Xi Xia, mencoba merampas cincin peraknya yang terlalu kencang dan tidak mau terlepas. Mereka mungkin butuh minyak zaitun jika benar-benar menginginkan benda itu.


Orang itu sepertinya bertekad untuk mengambil semuanya dari Xi Xia, dan tidak mau melepaskan jari gadis itu sampai dia berhasil dengan memelintirnya ke sana kemari.


Kemudian tangan itu menjambak rambut Xi Xia dan menariknya, meraba-raba di sekeliling lehernya, mencari kalung dan anting-anting. Jemari tangannya benar-benar kasar dan bau. Sentuhannya membuat gadis bangsawan itu merasa jijik.


Lalu berhasil merenggut kalung emas ibunya. Xi Xia telah memakai kalung itu semenjak hari kematian ibu kandungnya tanpa pernah melepaskannya. Sudah sepuluh tahun kalung itu berada di lehernya.


Gadis itu benar-benar ingin menangis sekarang.


"Aku benci kalian," Xi Xia bicara tanpa suara. "Aku benci kalian, bajingan. Kalian tidak perlu melakukan ini pada kami."


Keheningan yang kelam telah turun.


Lebih dari keheningan, ketiadaan kehidupan, seakan-akan seseorang baru saja mematikan dengungan latar belakang serangga, burung, dan tumbuhan dan membungkam napas alam.


Dalam kekosongan menakutkan itu sebuah benturan logam kembali berderak nyaring. Lalu suara lecutan.


Sebuah tebasan yang jauh, terasing, seperti instrumen tunggal.


Lalu suara gemerisik, ribut di sekeliling Xi Xia.


Gadis itu mendengar langkah kaki diseret di tanah seolah-olah kaki itu ditarik paksa dan ia merasakan ketakutan pada langkah kaki itu.

__ADS_1


Mereka membawa semua orang pergi, sekarang. Satu per satu. Mungkin mereka mati, pikirnya.


Tak lama kemudian terdengar suara tebasan lagi.


Tidak ada jeritan. Tidak ada perlawanan.


Seekor burung gagak melesat dan berkaok-kaok di atas kepala mereka, satu-satunya gerakan cepat di tengah kesenyapan mutlak.


Ada suara melecut lagi.


Mengapa tak ada yang bereaksi, atau setidaknya mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada yang lain? pikir Xi Xia.


Mengapa tidak ada yang memanggil nama yang lainnya?


Aku tak ingin mereka mati, apa pun yang terjadi pada mereka. Mereka keluargaku! ratap Xi Xia dalam hatinya.


Namun mereka menurut dengan pasif.


Setiap orang tertutup di dalam karung hitamnya masing-masing, semua referensi ruang, semua orientasi, sudah hilang. Sekarang semuanya hanya korban yang menunggu eksekusi.


Ada lecutan tajam di kejauhan.


Apakah seseorang sedang mengarahkan pedangnya ke kepalaku, bersiap untuk memenggalku jika aku bergerak atau bahkan memanggil nama yang lain? pikir Xi Xia.


Mereka menariknya seperti tumpukan kain dan mendorong gadis itu maju.


Xi Xia tersandung semak-semak, pada tanah yang tidak rata, tangan-tangan kasar mendorong punggungnya. Ia bisa mendengar napas berat orang-orang yang mendorongnya.


Lalu tangan-tangan itu menekan bahunya, memaksanya turun lagi.


Xi Xia jatuh berlutut di atas rumput yang basah.


Tangan-tangan itu merenggut lengannya dan menyilangkannya di belakang kepala Xi Xia.


Di sinilah aku sekarang, pikirnya sedih. Berlutut dengan tangan disilangkan di belakang kepalaku, menunggu tebasan pedang yang bahkan tidak dapat kulihat mendekat. Seperti hewan di rumah jagal!


Beginilah cara seseorang mati, pada malam dingin dan gelap seperti malam-malam yang lain. Tidak ada suara yang memanggil namamu, bahkan tidak ada manusia lainnya. Kepalamu dimasukkan ke dalam karung, sendirian. Dan kau bahkan tak tahu mengapa hal ini terjadi padamu.


Ingatan dan bayangan campur aduk.


Suatu saat dia masih berada di dalam kereta kudanya. Dan di saat berikutnya dia sudah berada di tanah dengan pedang di kepalanya.

__ADS_1


Panik menutup tenggorokan Xi Xia. Sekarang rasa kematian metalik.


Sesederhana itu, dan sama untuk mereka semua. Kukira aku tahu, pikirnya. Tetapi sekarang aku benar-benar tahu.


Terdengar suara lecutan lagi, kali ini begitu dekat di atas kepalanya. Lalu suara berdebuk di sisinya.


Xi Xia merasakan tangan-tangan itu melepaskan ikatan karung.


Dipancung, mau tidak mau itulah yang terlintas dalam pikirannya.


Seseorang menarik karung dari wajahnya. Dan Xi Xia melihat seorang pria paruh baya berjubah putih berlapis mantel hitam dengan tudung kepala. Meski sama hitam pakaiannya berbeda dengan gerombolan tadi.


Pria itu meletakkan tangannya di bahu Xi Xia dan mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu dengan senyuman lembut.


"Semuanya baik-baik saja? Kau tidak apa-apa?" Ia berbisik.


Xi Xia mengangguk ragu.


Pria itu tersenyum dan berbicara pelan sehingga tidak bisa didengar.


Pria itu memberikan kantong kain berisi cincin, gelang dan kalung Xi Xia. "Terima kasih," kata Xi Xia dengan suara tercekat.


Dan ketika ia mengedar pandang, sejumlah pria berseragam ninja misterius yang tadi menyerang mereka bergelimpangan di sekelilingnya.


Tidak bernyawa.


Beberapa pengawal tergolek bersimbah darah—juga tak bernyawa, di antara mayat-mayat para perampok.


Ibu tiri dan para saudara perempuannya berdiri bergerombol sambil terisak-isak dan saling berpelukan satu sama lain di dekat kereta paling depan, sementara para pengawal dan para sais bergerak ke sana-kemari dengan langkah-langkah limbung dan terhuyung-huyung, merapikan barang-barang berharga yang berceceran di mana-mana, mencoba mengembalikan semuanya ke dalam kereta sambil mengernyit menahan sakit di sana-sini.


Dan sebelum Xi Xia dapat bereaksi, sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi, pria paruh baya yang menyelamatkan mereka sudah menghilang.


Ke mana perginya pria itu? pikir Xi Xia terkejut. Ia bahkan tak melihat pria itu menarik bangkit tubuhnya.


"Xi Xia!" kakak perempuan tertua menghambur ke arah Xi Xia dan meraup tubuh gadis itu sambil menangis, kemudian menariknya berdiri dan menuntunnya ke dekat kereta, bergabung dengan yang lain.


Selir Yuwen memeluk Xi Xia dengan tubuh gemetar.


"Kenapa Kak Shin Wu tidak menjemput kita?" adik perempuan yang paling muda terisak di sisi lain Selir Yuwen.


Xi Xia masih menoleh ke sana kemari dengan tatapan mencari-cari yang tajam.

__ADS_1


Tidak ada tanda-tanda pria tadi masih di sini.


__ADS_2