
Setelah antrian panjang yang membosankan dari serentet demonstrasi para bangsawan mengenai nilai-nilai hadiah yang dibawa mereka, kini tiba giliran sang pangeran untuk maju ke depan.
"Akar Mandrake," katanya menjelaskan sambil membuka kotak di tangannya tanpa bantuan pelayan. "Dipercaya sebagai tumbuhan ajaib yang bisa memberikan pengertian dan pengetahuan. Sangat cocok untuk Nona Lim yang bijaksana."
"Lagi-lagi barang langka," beberapa orang kembali menggumam penuh kekaguman.
Hua Zu tidak terkesan.
Mandrake sebetulnya makhluk hibrida yang merupakan perpaduan antara tanaman dan manusia atau makhluk setengah manusia setengah tumbuhan yang hanya ada di Shangri-La, tempat di mana manusia pertama diciptakan, dunia tengah antara surga dan bumi, disebut juga Taman Baka, diyakini sebagai surga yang hilang.
Pada mulanya, Dewa Agung menempatkan manusia pertama di Shangri-la untuk merawat dan mengupayakan tanahnya supaya ia juga dapat makan dari hasil tanah tersebut, tapi manusia pertama yang berjenis kelamin laki-laki itu kemudian mengalami kekosongan dan hanya terfokus pada makanan—bekerja untuk makan dan makan untuk bekerja.
Pada saat itu Dewa Agung belum menciptakan pasangan baginya, sementara manusia itu semakin tumbuh. Faktor peningkatan nutrisi mengakibatkan pertumbuhan manusia itu sedikit terlalu cepat, peningkatan berat badan dan penumpukan lemak, akibat paparan zat yang disebabkan oleh konsumsi makanan terlalu banyak.
Memasuki usia pubertas, sel benih dari sistem reproduksinya tak dapat dibendung dan terlepas secara alami, jatuh ke tanah tanpa sengaja dan membuahi ovarium tumbuhan yang baru ditanamnya. Kemudian lahirlah Mandrake.
Dewa Agung akhirnya memindahkan tumbuhan itu ke tengah-tengah taman dan melarang manusia itu untuk memakan buahnya, Dewa Agung juga menempatkan tentara langit dari ras cahaya sebagai penjaga. Kemudian menamai tanaman itu sebagai pohon pengetahuan.
Tapi setelah Dewa Agung menciptakan wanita, manusia itu dan juga istrinya memakan buahnya sehingga mereka dihalau dari Shangri-La.
Dewa Agung kemudian menutup taman baka itu supaya manusia tak bisa mengulurkan tangannya lagi untuk memetik buah itu dan memakannya. Tapi akar tumbuhan itu menjalar ke bumi dan sejumlah pengkhianat menemukannya, dan lahirlah sejumlah peramal dan para penyihir.
Sesuai dengan namanya, tumbuhan itu memang bisa memberi pengetahuan super yang bisa membentuk seseorang menjadi peramal maupun penyihir.
Batu Lucifer ditambah Mandrake, artinya seseorang sedang mencoba mengubah Xi Xia menjadi dewa.
Entah disadari atau pun tidak, baik putra mahkota maupun putra sang hakim jelas terkait dalam kendali orang yang sama.
"Terima kasih, Pangeran!" Xi Xia membungkuk sedikit dengan elegan seraya memaksakan senyum.
Lalu sekonyong-konyong Jenderal Tio Jun menoleh pada Hua Zu. "Bagaimana dengan Yang Mulia?" ia bertanya dengan sopan namun senyumnya bahkan tak bisa menyembunyikan isi kepalanya.
"Yang Mulia?" Gubernur Pao-Lu mengikuti arah pandang Jun dengan terkejut, dahinya berkerut-kerut.
Shin Wu langsung memucat. Gawat! pikirnya seraya melirik pada Hua Zu dengan gelisah. Ini semua salahku!
Hua Zu membungkuk sedikit pada Pao-Lu.
__ADS_1
"Benar, Gubernur," sela Tio Jun dengan nada mencela. "Tamu kehormatan putrimu malam ini adalah seorang raja."
Pao-Lu mengerjap dan menatap Hua Zu dengan tergagap. "Boleh tahu dari kerajaan mana?"
"Shangri-La," jawab Hua Zu.
Tio Jun meledak tertawa. "Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kau Dewa Agung, kan?" ejeknya.
Pao-Lu memicingkan matanya, menatap Tio Jun dan Hua Zu bergantian. Kebingungan.
Shin Wu memutar otaknya dengan cepat.
Tapi perkataan Hua Zu pada Tio Jun kemudian membuat seisi ruangan langsung membeku.
"Anda seorang Jenderal pasukan abadi kerajaan Luoji," kata Hua Zu sambil melirik sekilas jubah armor yang dikenakan Tio Jun, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menaikkan rahangnya dengan elegan. "Bagaimana bisa Anda bicara menggunakan sudut pandang bangsa Yuoji?"
"Apa maksudmu?" Tio Jun berhenti tertawa dan mengerutkan dahi, menghujamkan tatapan tajam pada Hua Zu.
"Dari mana Anda tahu bahwa Shangri-La tempat tinggal para dewa?" tanya Hua Zu.
"Bukankah itu cerita rakyat bangsa Yuoji?" Hua Zu menambahkan.
Pao-Lu mengetatkan rahangnya, menatap Tio Jun dengan mata terpicing.
Tio Jun mengerjap dan mengedar pandang sekali lagi, bola matanya bergerak-gerak gelisah.
Sebagai orang Luoji, mereka semua yang ada di dalam aula perjamuan itu tidak percaya pada cerita dewa orang Yuoji. Mereka bahkan tak tahu apa itu Shangri-La, dewa agung dan sebagainya.
Pandangan Tio Jun mengenai Shangri-La, tak elak memancing publik mempertanyakan loyalitasnya.
Ah, apa yang salah, putra mahkota yang bermartabat? Pikir Shin Wu, seraya menyembunyikan senyuman sinis ketika ia melihat sedikit pertanda dari perasaan bersalah tercermin dari wajah angkuh Tio Jun.
Sang gubernur terbatuk perlahan, sementara sang jenderal bergerak gusar di tempatnya.
"Dengan segala hormat, Pangeran!" Gubernur Pao-Lu mengangkat alisnya dengan sopan, memberi isyarat pada Tio Jun untuk kembali ke tempat duduknya.
Sang pangeran mengangguk sedikit gugup.
__ADS_1
Dalam hati, Shin Wu tertawa. Rupanya sang jenderal akan melewatkan hari yang sangat indah ini. Sayang sekali, pikirnya tak peduli.
Semakin banyak saja terdengar dehaman karena perasaan kurang nyaman ketika sang jenderal berbalik ke meja araknya di mana gerombolannya yang tak kalah arogan terpaksa turut menanggung malu.
"Silahkan, Yang Mulia…?" Sang gubernur menaikkan sebelah alisnya, memancing nama tamu asingnya yang misterius.
"Zhu Hua Zu!" Hua Zu memperkenalkan diri.
"Jadi Shangri-La itu benar-benar ada?" tanya Pao-Lu.
"Tentu," jawab Hua Zu sambil tersenyum samar. "Tak jauh dari Zhujia!"
Seisi ruangan mengerjap dan menahan napas.
Hua Zu mengedar pandang, memberikan tatapan yang lama, pelan dan menyeluruh kepada semua tamu bangsawan yang hadir di sana.
"Ehem!" Sang gubernur berdeham. Suaranya menggetarkan para bangsawan dari keterpukauan mereka.
Kehadiran sang Mi Sai Ya sepertinya telah mengejutkan para bangsawan itu.
Para aristokrat muda itu tentu lebih berharap Hua Zu adalah seorang pria tua yang sakit-sakitan. Pasti akan lebih nyaman bagi mereka untuk mengurangi pemikiran tentang ideologi taman baka menjadi sekadar cerita rakyat.
Tapi sang Mi Sai Ya, dengan begitu saja memusnahkan harapan mereka ketika ia mulai memaparkan penjelasan mengenai keberadaan negeri Shangri-La yang diyakini semua orang sebagai surga yang hilang.
Dengan tenang dan strategi yang cerdik bak pemain catur yang berpengalaman, ia menghabiskan beberapa menit berikutnya untuk menjelaskan karakteristik dari bangsanya, sumber daya yang dimiliki negerinya, segala sesuatu yang membuat negeri ini tak bisa ditemukan, dan tentunya mengapa semua hal menyebalkan yang ia jelaskan itu dianggap cukup penting.
"Shangri-La bukan surga yang hilang," Hua Zu memberi kesimpulan setelah penjelasan panjangnya.
Kesimpulan itu dibutuhkan untuk para bangsawan ambisius yang telah mendengar terlalu banyak berbagai macam fakta yang telah ia ungkapkan.
Ia bisa mendengar berbagai opini dan angan-angan mulai berlalu lalang dalam pikiran kerdil dan serakah mereka.
"Negeri Shangri-La adalah penghasil tanaman obat langka," lanjut Hua Zu. "Sebagaimana kita tahu bahwa dalam takaran tertentu obat selalu menjadi racun, dan begitu pun sebaliknya. Kami menutup akses untuk mencegah penyalahgunaan," Hua Zu menandaskan.
Seisi ruangan membeku.
Sang gubernur menyimak dengan kedua lengan bersilangan di depan dada.
__ADS_1