
Hua Zu akhirnya berhasil melarikan diri…
Tapi jeritan melengking ibunya membuat ia berhenti dan berbalik, lalu kembali ke alun-alun, disambut tatapan ngeri Lim Shin Wu.
"Tidak! Pergilah!" An Nio memohon-mohon meski nyawanya sudah di ujung tanduk.
Hua Zu hanya membeku, sementara semua mata sekarang tertuju kepadanya.
Dua serdadu menghambur ke arah Hua Zu sementara serdadu di tengah alun-alun tak ingin mengulur waktu—langsung menebas leher ibunya.
Hua Zu terhenyak bersama pekik terakhir ibunya disusul suara berdebuk kepala yang jatuh menggelinding. Tubuh Hua Zu serentak menegang dan bergetar, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, rahangnya mengetat. Tatapannya terpaku pada Tuoli.
Bersamaan dengan itu, dua serdadu tadi telah mencapai tempat Hua Zu berdiri.
Tapi tiba-tiba halilintar menggelegar menyambar kedua serdadu itu sementara Hua Zu tetap bergeming dengan tatapan nanar yang masih terfokus pada Tuoli.
Bumi bergetar dan bergemuruh.
Semua orang tercengang dengan raut wajah gentar.
Bagaimana bisa tiba-tiba ada halilintar sementara hari begini terik? pikir mereka ngeri, namun mata mereka terfokus ke satu titik yang sama---Hua Zu.
Diakah yang menyebabkan halilintar menggelegar?
Beberapa wanita membekap mulutnya dengan kedua tangan. Beberapa menangis tanpa suara melihat onggokan kepala An Nio yang terpisah dengan tubuhnya, terbelalak dengan mata dan mulut membulat tanpa cahaya kehidupan.
Tuoli mengerjap gelisah sesaat seraya mendongak menatap langit cerah yang mendatangkan petir di siang hari. Sebuah pertanyaan mengerikan melintas dalam benaknya, "Siapa orang ini?"
Tapi pekik kengerian para serdadu kemudian menyadarkan Tuoli untuk tetap menjaga durja seorang pelindung spiritual.
"Itu jawaban dari dewa roh agung!" Tuoli mengumumkan. "Akhirnya musim kering akan berakhir," katanya pada khalayak.
Para serdadu bertukar pandang, menatap ragu Tuoli secara diam-diam. Raut ketenangan pada wajahnya terlihat jelas hanya bentukan yang dipaksakan. Beberapa serdadu menyadarinya, tapi tidak satu pun berani menunjukkan sikap mencela.
Dalam situasi yang tidak menentu itu, Hua Zu berbalik dan menghambur menjauhi alun-alun, melarikan diri sambil meneteskan air mata, kemudian menghilang di hutan terlarang.
Tanah menjadi subur dan rumput-rumput kering mendadak tumbuh seketika di tempat Hua Zu meneteskan air mata, lalu merambat ke seluruh tempat hingga ke alun-alun.
Beberapa orang kemudian memekik terkejut melihat kejadian itu yang secara otomatis mereka simpulkan sebagai tanda bahwa pengorbanan An Nio sungguh tidak sia-sia.
Rumput berhenti tumbuh di sekitar jasad An Nio, sementara jasad itu mendadak mengeluarkan asap hitam dan serta-merta tubuhnya mulai menghitam seperti terbakar, lalu berangsur-angsur menyusut dan mengering seperti arang.
Asap gelap dari tubuhnya membumbung tinggi dan berputar-putar membentuk tornado, kemudian menghilang entah ke mana.
__ADS_1
Sisa tubuh wanita malang itu berkeretak dan secara perlahan mulai hancur sedikit demi sedikit, lalu berubah menjadi debu dan debunya bertebaran tertiup angin.
Keheningan mencekam seluruh tempat di seputar alun-alun desa.
Semua orang menahan napas selama proses itu berlangsung.
Dan…
Semua orang melupakan Hua Zu.
.
.
.
...Sementara itu…...
...Pada waktu yang sama di tempat lain…...
"Tarik saja terus!" seorang petani ginseng berkata pada putranya—seorang anak laki-laki berusia enam tahun berambut hitam sebahu selurus penggaris.
Anak laki-laki berusia enam tahun itu sedang membungkuk di atas pematang, berkutat mencabut ginseng berukuran raksasa yang menancap dalam di tanah yang keras.
Sementara anak itu masih menggeliat-geliut dengan satu tanaman, sang petani sudah mencabut puluhan ginseng dan melemparkannya satu per satu ke dalam keranjang. "Gunakan kakimu, Hua Zu!" ia menginstruksikan.
Bukan Zhu Hua Zu!
Tapi Zhou Hua Zu.
Bukan suatu kebetulan namanya Hua Zu juga.
Petani itu adalah Zhou Jieru. Lebih dikenal dengan sebutan Nongmin---Petani.
Banyak petani di desa mereka. Bisa dikatakan hampir semua adalah petani. Tapi hanya ayah Hua Zu yang dipanggil Petani.
Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya!
"Tetap tidak tercabut," erang Hua Zu sambil menggeram mengerahkan tenaga.
"Yang paling besar selalu yang paling sulit," petuah ayahnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan.
Setelah ayahnya berhasil mengumpulkan satu keranjang penuh, Hua Zu akhirnya berhasil mencabut ginsengnya yang secara otomatis membuatnya terjengkang ke belakang.
__ADS_1
Ayahnya terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.
Ukuran ginseng itu memang luar biasa. Mungkin lebih dari enam puluh senti. Itu adalah ginseng terbesar yang mereka miliki sepanjang hari ini.
Hua Zu melompat berdiri dan menyeringai pada ayahnya, lalu mendekat sambil berjingkrak-jingkrak dan mengacung-acungkan ginseng di tangannya dengan gembira.
"Kau lihat itu?" kata ayahnya memperingatkan. "Sesuatu yang berharga tidak didapat dengan mudah."
Hua Zu berhenti berjingkrak-jingkrak, suara-suara berdebuk ribut dari arah hutan menarik perhatian mereka.
Ayah Hua Zu memasang telinga. Terpaku dan membeku dengan mata terpicing. Menyimak dengan seksama.
Lalu terdengar kepak sayap.
Sejumlah unggas tersentak dan berhamburan ke arah mereka.
Apa yang terjadi? pikir ayah Hua Zu.
Di ujung pematang di tepi ladang mereka adalah jurang. Di dasar jurang itu adalah hutan terlarang. Tidak seorang pun berani masuk ke sana.
Jadi apa yang membuat burung-burung ini merasa terusik?
Ayah Hua Zu mencabut sepasang belati kecil berbentuk segitiga yang terselip di bagian belakang ikat pinggangnya, menatap tajam ke arah hutan.
Belati kecil itu biasa disebut sicae. Ukurannya tidak lebih besar dari sendok teh, tapi kekuatan tidak bisa diremehkan. Bentuknya bermacam-macam.
Itu adalah senjata rahasia sekaligus senjata andalan ayah Hua Zu. Benda-benda seperti itu terselip di hampir semua bagian tubuhnya di balik jubah labuhnya yang terlihat kusam.
Ayah Hua Zu memang terkenal dengan panggilan Petani, tapi sebetulnya dia adalah ketua sekte belati paling disegani di seluruh penjuru negeri.
Siapa yang tidak pernah mendengar Sekte Belati Kuangre?
Itu sudah menjadi semacam rahasia umum di mana setiap orang mengetahuinya, namun tidak satu pun berani membicarakannya secara terang-terangan.
Sekte Belati Kuangre adalah kelompok pemberontak pribumi Yuoji yang melakukan perjuangan dengan mengangkat senjata demi membebaskan tanah Zhujia dari kekuasaan Luoji.
Setiap anggotanya membawa sicae yang diselipkan di dalam jubah mereka. Pada pertemuan publik, mereka mengeluarkan belati ini untuk menyerang orang Luoji dan para simpatisannya, kemudian berbaur dengan kerumunan setelah aksinya untuk menghindari deteksi.
Sekte Belati Kuangre dianggap sebagai salah satu unit pembunuhan terorganisasi paling awal yang diketahui dari jubah dan belati.
Semak-semak bergetar dan hutan di bawah terdengar bergemuruh.
Ayah Hua Zu melontarkan kedua belatinya dan dalam sekejap belati itu kembali kepadanya seperti bumerang. Ia menangkap keduanya dengan tangkas dan gesit dalam gerakan seringan angin.
__ADS_1
Hua Zu terkesiap dengan tatapan takjub. Tapi kemudian mengerang karena tidak satu pun dari belati itu mengenai sasaran.