Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-56


__ADS_3

Api abadi kian membara dan membumbung semakin besar ketika Jieru melontarkan energi merah menyilaukan dari telapak tangannya ke arah gerbang Balai Jahanam.


BUUUUUUM!!!


Pintu gerbang terpental dan seketika para ninja Shashou merangsek dan menerjang ke pekarangan.


SLASH!


SLASH!


Berondongan panah api meluncur deras seperti badai dari puncak-puncak bangunan.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!!!


Lesatan belati-belati kecil yang dilontarkan para Shashou menyala seperti bintang berekor, menangkis setiap serangan panah berapi dan menyebabkan ledakan dahsyat seperti nova.


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


Pedang melawan pedang terjadi di balkon-balkon bangunan dari batu menyala antara ninja Shashou melawan tentara iblis yang hanya memakai cawat kulit binatang. Sepatu armor mereka juga terbuat dari kulit binatang. Tapi kulit mereka sekeras batu.


Ledakan demi ledakan terjadi setiap kali iblis berhasil diremukkan. Pecahan kerikil menyala berhamburan disertai lesatan api abadi ke langit, kembali ke surga tertinggi.


Sepanjang perhelatan, dunia orang mati itu terlihat seperti pesta kembang api namun lebih mengerikan.


Sang ratu iblis menggeram setiap kali kilatan cahaya melesat ke langit secepat komet, itu adalah pertanda para pengikutnya berhasil diremukkan.


Ia mengawasi semua itu dari bingkai jendela batu dengan tirai lidah-lidah api. "Berapa banyak pasukan mereka?" Ia bertanya pada para pengawalnya tanpa berpaling dari jendela.


"Tak banyak, Yang Mulia!" jawab pengawalnya. "Tapi semua tawanan bangkit sebagai pemberontak dan berpihak pada mereka!"


"Siapa pemimpin mereka?" tanya sang ratu.


"Dewa bumi, Yang Mulia!"


"Hmmm… Jieru," gumam sang ratu. "Pantas saja dia bisa masuk ke sini."


"Dengan segala hormat, Yang Mulia!" pengawal lainnya menyela.


Sang ratu menoleh dengan mata terpicing.


"Sebenarnya dewa samudera juga masuk ke sini untuk mengevakuasi semua tawanan wanita dan anak-anak!"


"Apa?" Sang ratu meledak murka. "Hadang dia di portal gaib. Dia hanya bisa keluar masuk melalui sekali melalui portal."


"Ampuni kami, Yang Mulia!" sesal pengawal itu. "Tapi dia sudah keluar!"

__ADS_1


"Tidak bergunaaaaaa!!!" raungan sang ratu menggelegar di ruang singgasana. Lalu dengan sekali hentak ia melontarkan bola api dari telapak tangannya dan meremukkan pengawalnya sendiri.


Kesalahan yang sama pernah dilakukannya dalam peperangan di surga. Dan pada akhirnya ia kehilangan lebih banyak dan kalah telak.


Jadi kenapa dia melakukannya lagi?


Karena iblis mudah tersulut amarah. Segala keputusannya selalu berakhir dalam penyesalan meski mereka terlalu tinggi hati untuk mengakuinya.


Mereka akan melakukan apa saja untuk menutupi penyesalan mereka seperti hutang ditutupi hutang yang lebih besar.


Keangkuhan adalah kelemahan iblis.


Dan dengan segala keangkuhannya, sang ratu meyakini satu hal bahwa sang dewa agung takkan pernah turun ke dalam dunia orang mati karena sang dewa agung takkan merendahkan dirinya dengan kematian.


"Hanya dewa bumi dan dewa samudera," katanya arogan. "Seharusnya kalian saja sudah bisa mengatasinya."


Para petinggi kerajaan dan sejumlah pengawal dalam membungkuk pada sang ratu.


"Hamba menduga para tawanan itu dikirim oleh Jieru," penasihat hukum sang ratu angkat bicara.


"Mohon ampuni kelancangan hamba," seorang pengawal menyela. Bisa dikatakan pengawal bayangan di dunia manusia.


Semua mata spontan berpaling pada pengawal bayangan itu.


"Para tawanan itu dikirim oleh perantara," kata pengawal itu.


"Perantara?" Sang ratu menyipitkan matanya.


"Diakah yang membuka portal gaib sehingga Xiaoyu dapat masuk?" tanya sang ratu.


"Tanpa disadari, ya!" jawab si pengawal. "Dia mengirim jiwa-jiwa tawanan dan pada saat bersamaan Xiaoyu menerobos portal dengan perhitungan yang tepat. Namun…" ia itu menggantung kalimatnya dengan ragu-ragu.


"Namun apa?" hardik sang ratu tak sabar.


"Bersamaan dengan itu…" pengawal itu terlihat semakin ragu. "Terjadi ledakan di Gehenna."


Gehenna adalah lubang neraka di mana para tawanan dikurung.


Sang ratu menatap tajam pada penasihatnya, menuntut jawaban.


"Jiwa-jiwa terakhir yang dikirim perantara jelas tidak sederhana," gumam si penasihat sambil mengerutkan keningnya, mencoba berpikir keras.


"Cari tahu jiwa siapa yang terakhir dikirim!" perintah sang ratu pada pengawal bayangannya.


Pengawal itu bersujud dan berlalu pergi.


Sang penasihat tiba-tiba membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya. "Hamba menduga itu Jiyou," katanya cemas.


Sang ratu tergelak menanggapinya. "Kecuali dewa bumi, para Ilojim takkan melewati kematian. Mereka akan kembali ke surga setelah mereka diremukkan."

__ADS_1


Penasihatnya mengerutkan keningnya sekali lagi. Merasa sedikit sangsi.


"Kedatangan Jiyou di dunia bisa meledakkan—" sang ratu tiba-tiba terdiam, tidak melanjutkan perkataannya. Raut wajahnya berubah cemas.


Seperti yang kubilang, kata penasihatnya dalam hati.


"Tidak," kata sang ratu. "Jiwa Ilojim tak mungkin turun ke dunia bawah. Jiwa mereka akan melesat ke langit setelah mati."


"Mohon ampuni hamba, Yang Mulia!" penasihatnya menyela. "Tapi jika Ilojim bereinkarnasi sebagai manusia, mereka akan melewati kematian."


"Mereka tetap takkan bertahan di sini. Para Ilojim yang melewati kematian takkan dipersenjatai di dunia orang mati. Kemampuan mereka bahkan akan terhisap di sini," bantah sang ratu.


"Jika seorang manusia terlahir bukan dari hubungan intim, apakah dia masih bisa disebut manusia?" penasihat sang ratu balas bertanya.


"Tentu saja dia manusia…" sang ratu menggantung kalimatnya sekali lagi. "Maksudmu Manusia Cahaya?" tanyanya terkejut. "Ramalan itu…"


"Benar, Yang Mulia," jawab sang penasihat dengan sopan. "Ramalan tentang manusia cahaya itu tak boleh kita lupakan."


"Cawan suci!" desis sang ratu dengan ekspresi ngeri. "Sekarang aku mengerti apa maksudnya cawan suci dan manusia cahaya. Kukira itu artinya manusia suci. Tidak satu pun manusia terlahir suci. Ramalan itu kukira akan gagal!"


Tiba-tiba semua pengawal dalam dan para petinggi kerajaan berlutut.


Sang ratu dan penasihatnya tersentak.


"Apa yang kalian lakukan?" pekik sang ratu.


Tidak satu pun menjawab.


Sang ratu menyentakkan kepalanya ke samping dan terperangah.


Penasihatnya langsung tersungkur.


"Jiyou!" sang ratu memutar tubuhnya dan tergagap-gagap. "Apa—apa yang kau lakukan di singgasanaku?"


"Singgasanamu?" Jiyou tahu-tahu sudah duduk manis bertopang dagu di singgasana sang ratu. "Dari Syamasyim hingga ke Gehenna adalah kerajaanku, Long Yue!" tukasnya dengan tenang.


"Kau—" sang ratu menggeram dan seketika sosok cantiknya berubah menjadi seekor naga merah raksasa dan menerjang ke arah Jiyou.


GROAAAAAAARRR…!!!


Bersamaan dengan itu, Jiyan melesat menerobos langit-langit menunggangi kucing neraka.


DUAAAAARRRR!!!


Ledakan halilintar menggelegar seiring kemunculannya.


Para petinggi kerajaan neraka serentak tersentak dan berhamburan meninggalkan aula singgasana.


Jiyou menaikkan sebelah kakinya dan membungkuk, melipat siku tangannya di atas lutut dan kembali bertopang dagu. Bersikap seolah-olah ia sudah siap menonton pertunjukan menarik.

__ADS_1


Jiyan mengayunkan pedangnya ke arah Long Yue, namun perempuan iblis itu berhasil menghindar sambil menjerit. "Ini tidak mungkin! Kalian kembar sialan tak bisa mati!"


"Ada permintaan terakhir?" ejek Jiyan sebelum akhirnya kembali melesat ke arah Long Yue.


__ADS_2