
"Jadi…" Shin Wu menerjang sambil memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya, mengincar bagian belakang leher Hua Zu, "Di mana gerombolanmu?" ejeknya sambil menyeringai.
BUGH!
Hua Zu menangkis serangan Shin Wu dengan memukulkan tongkatnya ke pangkal lengan panglima itu.
Pedang Shin Wu terlontar dari tangannya.
Detik berikutnya, pengawal bayangan yang menguasai aerokinesis melambungkan tendangan ke arah pedang panglima itu dan memantulkannya ke arah Hua Zu.
Hua Zu menangkisnya lagi. "Bisa apa kau tanpa senjata?" cemoohnya pada Shin Wu.
"Bajingan Kaida sialan!" Shin Wu menerjang ke arah Hua Zu dengan tendangan harimau.
Hua Zu membalasnya dengan teknik tendangan yang sama.
BUGH!
Keduanya sama-sama terpental ke belakang, tapi Hua Zu mendarat dengan mulus sementara Shin Wu mendarat dengan terduduk.
Hua Zu terkekeh sambil menyerampang ke sana-kemari untuk membendung setiap serangan para pengawal Shin Wu dari berbagai arah.
"Singkirkan senyum jelekmu, Keparat!" geram Shin Wu sambil melompat berdiri. Ia mencoba meraih pedangnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, tapi Hua Zu menerjang ke arah panglima itu dan menyodok pinggangnya dengan ujung tongkatnya. Shin Wu kembali terhuyung sementara napasnya sudah terengah-engah.
Para pengawal abadi Luoji kembali merangsek dengan formasi berubah-ubah sambil mencari-cari celah dan kelemahan Hua Zu. Tapi bagaimanapun mereka mencoba mengecohnya, pemuda itu seolah tak pernah kehabisan stamina.
Setiap gerakannya selalu terkesan ringan meski sesekali wajahnya terlihat gusar.
Merasa jengkel dengan pertarungan membosankan yang tak berujung itu, Hua Zu akhirnya mulai mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk meningkatkan tempo pertarungan.
Pertarungan itu menjadi semakin sengit dan gerakan-gerakan Hua Zu semakin cepat dan bertenaga.
Shin Wu sudah terpental lagi bersama serdadu pengawal yang sudah tak berkutik.
Dua pengawal abadi sudah terluka di sana-sini namun belum kehilangan semangat untuk melawan.
Tiga lainnya masih terlihat stabil dan mengembangkan senyuman puas. Tunggu sampai bajingan Kaida ini terengah-engah, pikir mereka.
Shin Wu memaksa dirinya bangkit kembali dan mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membuat serangan balik. Tapi lagi-lagi Hua Zu menyodokkan ujung tongkatnya ke pinggang panglima itu.
"Sial!" rutuk Shin Wu tak sabar. Ia terhuyung ke belakang sambil membungkuk menekuk perutnya yang terasa melilit.
__ADS_1
Hua Zu mulai berkeringat sementara para pengawal abadi Luoji menyeringai semakin lebar. Tidak lama lagi, pikir mereka. Lalu mulai menaikkan sedikit tempo serangan dan dalam sekejap pertarungan kembali membadai.
Hua Zu memutar tongkat bambunya menyerupai kincir angin, dan memukulkannya ke sana-kemari tanpa terlihat.
Dua pengawal tersentak ke belakang dan terhuyung sambil memegangi dada mereka.
Hua Zu memutar-mutar kembali tongkat bambunya dalam kecepatan yang sulit ditangkap oleh mata biasa.
Merasa dipermainkan oleh atraksi tongkat bambunya, dua pengawal abadi Luoji akhirnya melontarkan sejumlah anak panah sambil melambungkan tubuhnya ke udara.
SLASH!
SLASH!
JLEB!
Anak panah itu mendarat telak di punggung salah satu pengawal abadi Luoji yang terkecoh oleh gerakan tongkat Hua Zu. Panah itu menembus hingga ke ulu hatinya.
"Bajingan!" teriak rekan si pengawal abadi sambil menerjang ke arah Hua Zu dengan membabi-buta.
Shin Wu menghela kedua kakinya untuk melangkah, memaksa punggungnya untuk berdiri tegak. Tapi sekujur tubuhnya serasa remuk. Ia mengawasi Hua Zu yang masih memantul-mantul di tengah kepungan dengan lompatan-lompatan ringan yang semakin lama terlihat semakin gesit. Lalu membungkuk untuk memungut busur panah milik salah satu pengawal bayangan yang sudah tewas.
Empat pengawal abadi yang ahli ilmu meringankan tubuh itu sekarang melambung dalam gerakan seragam dan menukik serentak sambil menghujamkan ujung pedang masing-masing ke satu titik yang sama---Hua Zu.
SLASH!
SLASH!
Dua pengawal terpental dan terjerembab di kaki tebing. Dua lainnya tersuruk menikam udara kosong.
Hua Zu membungkuk untuk memungut tongkat bambunya.
Pada saat itulah Shin Wu membidikkan panahnya pada pemuda itu. Namun pada saat yang sama, dua Shashou melesat ke tengah pertempuran sambil melontarkan belati ke arah Shin Wu.
JLEB!
Satu belati mendarat di punggung panglima itu.
Sejumlah belati lainnya memberondong kedua pengawal abadi Shin Wu.
BRUK!
__ADS_1
Ketiga tentara Luoji itu terpuruk bersamaan dan tidak bergerak lagi.
Merasa aman dengan situasinya, kedua rekan Hua Zu mendarat dan berjalan santai ke arah pemuda itu. "Kak Zu! Kau baik-baik—"
"Awas!" pekik Hua Zu sambil mengayunkan tongkatnya melewati kedua rekannya.
JLEB!
Kedua rekan Hua Zu tersentak dan terbelalak, lalu membeku dan tersungkur.
Di belakang mereka, pengawal abadi yang tadi terpelanting ke dinding tebing juga membeku dengan mata terbelalak tanpa cahaya kehidupan, tertikam ujung tongkat bambu Hua Zu.
Pengawal itu ternyata hanya pura-pura mati setelah terpental ke dinding tebing, lalu ketika ia melihat peluang, ia menerjang ke arah rekan-rekan Hua Zu sementara kedua pemuda itu lengah sepenuhnya.
Hua Zu segera menyadarinya tapi terlambat. Kedua rekannya tak terselamatkan.
Hua Zu mendesah kasar dan melangkah ke arah Shin Wu.
Panglima itu tidak bergerak dengan posisi wajah menelungkup di rerumputan.
Hua Zu berjongkok di sisi tubuhnya untuk memastikan tidak akan ada lagi serangan balik. Ia mencabut sicae dari punggung panglima itu dan mengelapkannya pada jubah Shin Wu. Lalu menyelipkannya di ikat pinggangnya.
Ia menarik bahu panglima itu dan membalik tubuhnya.
Panglima itu masih bernapas namun tubuhnya sudah menggelepar. Kelopak matanya bergetar lemah sementara pandangannya terlihat semakin hampa. Sekarat!
Hua Zu menarik bangkit tubuhnya dan berbalik, kemudian melejit ke dinding tebing, memanjat sulur tanaman rambat dalam gerakan ringan dan cepat, kemudian menghilang di ketinggian.
Bersamaan dengan itu seseorang berjubah gelap lainnya mengendap turun dengan cara yang sama—menggelantung pada sulur tanaman rambat dengan gerakan tak kalah ringan dan cepat, kemudian mendarat tanpa suara di sisi tubuh Shin Wu.
Shin Wu mengerjap menatap sosok bercahaya di atas kepalanya di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam.
Pendatang itu berjongkok di sisinya, membungkuk menekankan telapak tangannya di dada Shin Wu sambil menatap ke dalam mata panglima itu yang kian redup.
"Kau pernah membantu membebaskanku dari kematian," kata pemuda itu pada Shin Wu. "Dan aku sudah berjanji akan berterima kasih."
Shin Wu mengerjap dan terkesiap.
Sensasi rasa dingin meresap ke dalam dadanya di tempat pemuda itu menekankan telapak tangannya, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya melalui aliran darahnya, membuat sekujur tubuhnya terasa sejuk dan segar.
Cahaya terang keemasan meliputinya.
__ADS_1
Shin Wu tersentak dan terduduk dengan terhenyak seperti keluar dari dalam air. Lalu mengedar pandang dengan mata terpicing, cahaya terang keemasan itu menyilaukan matanya. Membuatnya tak dapat melihat penolongnya.
Lalu ketika cahaya itu berkeredap dan menghilang, sosok pemuda misterius tadi juga sudah menghilang.