
Selir Yuwen membunyikan lonceng perak di sampingnya.
Dalam satu perintah singkat, dua pelayan wanita tergopoh-gopoh menuju aula besar itu untuk menjawab panggilannya.
"Bisakah kau katakan pada putraku untuk datang memberi salam pada para wanita di sini? Mereka tidak bisa menahan bokong malasnya selama seharian."
Kedua pelayan itu membungkuk sementara para gadis bertukar pandang dengan mata terbelalak mendengar pilihan kata Selir Yuwen.
Xi Xia meredam batuknya dengan kepalan tangan yang menggenggam saputangan putih.
"Baiklah! Kita akan bertemu dengannya sebentar lagi," kata Selir Yuwen dengan ceria.
Tapi tak berselang lama kedua pelayan itu kembali dan salah satunya menyampaikan, "Pelayan pribadi Tuan Panglima mengatakan Yang Mulia Gubernur mengirim Tuan Panglima untuk penyelidikan sejak kemarin malam dan Tuan Panglima belum kembali sampai sekarang."
Seisi ruangan menggumam mendengar laporan kedua pelayan itu.
Itukah sebabnya Shin Wu tidak menjemput kami kemarin malam? pikir beberapa orang.
"Penyelidikan apa yang membuat putraku sampai tak pulang?" tanya Selir Yuwen dengan wajah terpukul.
"Kalau tidak salah dengar, itu terkait ramalan suku Yuoji," jawab pelayan satunya.
"Ramalan?" Selir Yuwen dan selir lainnya memekik bersama.
"Tentang Sang Mi Sai Ya," jawab pelayan itu. "Seseorang yang diramalkan sebagai raja yang akan datang," ia menambahkan.
"Yang mulia gubernur mempercayainya?" Selir Yuwen membelalakkan matanya.
"Kami tak yakin," jawab pelayan itu.
"Cari tahu lebih banyak tentang Mi Sai Ya ini," perintah Selir Yuwen.
Kedua pelayan itu membungkuk sekali lagi, kemudian berjalan mundur ke arah pintu dan bergegas meninggalkan estat Selir Yuwen.
Xi Xia dan saudara-saudara perempuannya bertukar pandang. Suara lonceng perak Selir Yuwen menyentakkan mereka. Dua pelayan lainnya bergegas masuk ke dalam aula dan membungkuk di depan singgasananya.
"Bawakan kami makanan dan minuman," perintah Selir Yuwen pada pelayannya, lalu menoleh ke arah para tamunya. "Teh, bingcheng, Bao bao? Sesuatu yang lebih keras?"
.
.
.
Desa Kaida…
Pekik jerit rakyat jelata membahana seiring suara-suara berderak gaduh ketika sejumlah tentara Luoji mendobrak pintu dan mengobrak-abrik pondok kecil mereka.
"Kalian pasti punya lebih!" hardikan lantang menggelegar di antara kegaduhan itu.
"Tidak ada lagi, Tuan! Kami bersumpah tak ada yang disembunyikan!" ratap seorang pria dengan suara tercekik dan gemetaran.
__ADS_1
Tangisan para wanita dan anak-anak membuat kepala Shin Wu merayang. "Tutup mulut para j a l a n g sialan itu!" teriaknya pada anak buahnya.
Detik berikutnya, empat wanita memekik dan terkulai tertikam mata tombak para serdadu.
Beberapa wanita lainnya membekap mulut anak-anaknya dan membendung tangisan mereka.
"Kembalilah bekerja!" hardik Shin Wu pada mereka yang sudah selesai menyerahkan upetinya masing-masing.
Dua orang serdadu menendang bokong seorang pria sambil meneriaki perintah yang sama, "Kembali bekerja!"
Sejumlah pria lainnya mengemas harta benda mereka yang sudah terkumpul dan menyusunnya di atas kereta barang tentara Luoji, sementara dua tentara sudah bersiap di atas dua kuda yang akan menarik kereta itu.
Begitu semua barang-barang sudah dinaikkan ke dalam kereta, kedua serdadu itu serentak menghela kudanya sementara serdadu lain mulai mencambuk semua pria untuk kembali ke ladang mereka.
Shin Wu tersenyum puas seraya mengedar pandang, meneliti setiap sudut desa dengan tatapan mencari-cari yang tajam.
Di mana bajingan Kaida itu bersembunyi? pikirnya.
Apakah bajingan itu benar-benar berasal dari sini?
Kenapa tak muncul untuk menyelamatkan desanya?
"Geledah setiap pondok dan pastikan apakah masih ada bajingan pengecut yang bersembunyi dalam kamar jeleknya!" perintah Shin Wu pada anak buahnya.
Empat orang tentara menghela kudanya mengitari desa, mendobrak setiap pintu rumah dan menggeledah isinya.
Tak sampai setengah jam mereka sudah kembali dan melaporkan, "Tidak ada satu pun!"
Pada saat itulah seorang pemuda misterius berjubah gelap dengan wajah tersembunyi di bawah tudung kepalanya, muncul di jalan setapak menghadang rombongan para tentara Luoji. Para penduduk desa bergerombol di belakang pemuda itu dengan wajah tertunduk.
Shin Wu menghentikan kudanya dan mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan pasukan di belakangnya untuk berhenti. Kedua matanya berkilat-kilat, tak lepas memandangi pemuda itu dan para penduduk desa yang kembali lagi.
"Jadi kau si penyelamat dunia yang diramalkan?" dengus Shin Wu sambil tertunduk menatap pemuda misterius di depan kudanya.
Pria itu tidak menjawab.
"Masih bersikap sok misterius apa?" cemooh Shin Wu sambil berdecih. "Aku sudah pernah melihat wajahmu!" katanya.
Pemuda itu tersenyum tipis dan menaikkan sebelah tangannya, "Lebih dari sekadar pernah melihat," katanya. Lalu menurunkan penutup kepalanya. "Kau mengenalku dengan cukup baik!"
Shin Wu mengerjap dan terkesiap.
Pemuda itu ternyata berbeda dengan pemuda semalam.
Pemuda di depannya sekarang berambut emas.
"Hua Zu!" Shin Wu memekik dalam bisikan lirih. "Kau—"
"Masih hidup?" Hua Zu memotong ucapan Shin Wu sambil tersenyum.
Shin Wu menelan ludah dan tergagap. Dan kau luar biasa tampan, katanya dalam hati. Tersengat oleh perasaan iri.
__ADS_1
"Ingatkan aku untuk berterima kasih, tapi tidak sekarang!" kata Hua Zu di antara senyum tipisnya yang seolah selalu terkembang di sudut bibir tipisnya. Lalu menoleh ke belakang, masih sambil tersenyum, "Kembali ke pondok kalian dan beristirahatlah!" katanya pada para penduduk.
Para serdadu serempak menghunus pedangnya masing-masing.
Shin Wu mengangkat tangannya lagi.
Para serdadu itu langsung terdiam.
Hua Zu kembali tersenyum lagi, ia meluruskan tubuhnya, memandang ke depan dan menautkan kedua tangannya lagi di belakang tubuhnya, kemudian melangkah perlahan ke alun-alun.
Para penduduk mengikutinya.
Shin Wu memutar kudanya dan turut mengekor di belakang Hua Zu.
Para serdadu serentak menyisi dan bertukar pandang, lalu memperhatikan Hua Zu dan panglima mereka dengan kebingungan.
Pemuda berambut emas itu membungkuk di atas salah satu mayat wanita yang tergolek di alun-alun, lalu menyentuh puncak kepalanya dan seketika, wanita itu bergerak dan membuka mata.
Para penduduk memekik dan menahan napas.
Shin Wu dan para serdadunya terkesiap.
Hua Zu menarik kedua tangan wanita itu dan membantunya bangkit berdiri.
Para penduduk tercengang dengan ekspresi takjub.
Shin Wu mengerjap dan menelan ludah. Bayangan masa kecil mereka melintas di kepalanya.
"Bagaimana dengan binatang? Apa kau juga bisa menghidupkan binatang yang mati?"
"Aku tidak tahu. Aku belum mencobanya."
Serta-merta Hua Zu mengangkat wajah dan menoleh pada Shin Wu sambil tersenyum.
Shin Wu mengerjap sekali lagi, mengeluarkan ujung lidahnya melewati bibir. Menelan ludah dengan susah payah.
Para wanita memekik histeris menyambut wanita yang bangkit dari kematiannya dengan penuh suka cita.
"Dia sungguh-sungguh Mi Sai Ya!" seru wanita yang bangkit itu.
Para serdadu masih bergeming, tergagap antara bingung dan terkesima.
Hua Zu menautkan kembali kedua tangannya di belakang tubuhnya dan memanggil nama ketiga wanita yang masih tergeletak. "Mei-Yin, Shuwan, Shanming, bangun!"
Dan seketika itu juga para wanita yang mati itu tersentak dan terbangun.
"Dia mengenali mereka!" pekik beberapa orang.
Para serdadu tersentak sementara para penduduk serentak berlutut ke arah Hua Zu.
"Ilojim!"
__ADS_1