
Pada saat itu, Lim Shin Wu sudah berusia dua puluh dua tahun, sudah menjadi petinggi pasukan tentara abadi.
Tampan…
Menawan…
Elegan…
Dan arogan.
Pemuda tampan itu sekarang sedang duduk bertopang dagu di depan sebuah meja yang ditaruh secara khusus untuk mendata pajak di tengah alun-alun sebuah desa, mengawasi semua orang yang datang sambil mengunyah anggur rampasan dari hasil panen rakyat jelata. Setumpuk kertas rami berisi daftar nama keluarga yang menyerahkan upeti terbentang di depannya.
Para penduduk desa berduyun-duyun mendatanginya dengan membawa harta bendanya masing-masing untuk dipersembahkan sebagai upeti. Padi, ternak, sayuran dan buah-buahan… apa saja.
"Jika upeti bulan ini kurang…" seorang serdadu berteriak lantang dari sisi kanan Shin Wu. "Bulan depan akan digandakan!"
Shin Wu masih asyik mengunyah sambil tertunduk tanpa peduli sekitar.
Seorang pria tua dengan changsan kusam memberanikan diri mendekat pada Shin Wu dengan wajah memelas. "Tuan," katanya dengan suara bergetar, "Mohon beri kami pengampunan…"
Waktu seolah terhenti secara mendadak. Semua orang membeku di sekelilingnya.
Shin Wu berhenti mengunyah dan mengangkat wajah, memandangi pria tua itu dengan alis bertautan, "Pengampunan?" ia bertanya dengan mata terpicing. "Pengampunan macam apa yang harus kuberikan?"
"Upetinya terlalu besar, Tuanku!" ratap pria tua itu sambil membungkuk ke arah Shin Wu. "Kami kelaparan, sementara beras kami berjamur di gudang kalian. Dapatkah Anda menguranginya sedikit saja?"
Shin Wu mengerutkan keningnya, sebelah alisnya terangkat tinggi. Ia menarik bangkit tubuhnya, mendorong kursi di belakangnya, kemudian menyelinap keluar dari balik meja dan mendekat pada pria tua itu.
Sejumlah serdadu spontan mengikutinya dan mengelilingi pria tua itu dengan sikap siaga.
Semua orang serentak menahan napas dan mengerjap gelisah.
Shin Wu melipat kedua tangannya di depan dada, mengawasi pria tua itu dengan tatapan menyelidik, menimang-nimang dan berpikir keras. Lalu mengedar pandang meneliti semua orang satu per satu.
Orang-orang itu langsung tertunduk dan mengkerut.
Shin Wu mendesah dan kembali mengalihkan perhatiannya pada pria tua tadi. "Siapa namamu, Yuoji?" Ia bertanya sambil mendongakkan rahangnya.
Pria tua itu tertunduk semakin dalam. "Nama saya Wei Heng, Tuan," ia memberitahu.
__ADS_1
"Wei Heng," ulang Shin Wu sambil mengusap dagunya yang dicukur dengan licin. Lalu kembali mengedar pandang.
Para penduduk desa itu beringsut sedikit ke belakang.
Sekonyong-konyong pemuda itu tersenyum lembut. Ia menurunkan kedua tangan dari dadanya sambil menoleh pada Wei Heng. Lalu berkacak pinggang. "Baiklah!" katanya setengah mendesah. Lalu kembali mengedar pandang. "Dengar semuanya!" ia berteriak lantang kepada semua orang. "Aku Lim Shin Wu," ia mengumumkan, "telah mendengar ratapan pria tua malang ini. Sebagai panglima pasukan tentara abadi kerajaan Luoji, aku menyatakan mulai sekarang pria tua malang ini tak akan pernah kelaparan lagi!"
Para penduduk memekik tertahan, menatap panglima itu dengan mata dan mulut membulat.
Beberapa wanita bertukar pandang dengan wajah semringah.
Para pria bergumam dengan gembira.
Sedetik kemudian, seorang serdadu menyergap leher Wei Heng dan menikam ulu hatinya.
Pekik jerit ketakutan meledak disertai ratapan merana para wanita.
"Ada yang mau pengampunan lagi?" Shin Wu bertanya pada khalayak.
Para penduduk tertunduk gentar.
.
.
.
Dari ketinggian, terlihat petak-petak hitam di antara hamparan wilayah hijau dan cokelat yang terbuka.
Sebuah desa merapat pada dinding tebing yang terjal di lembah-lembah. Rumah-rumahnya terbuat dari tanah yang sama yang menjadi pijakan rumah-rumah tersebut, bagaikan cabang alamiah batu cadas di dinding tebing.
Sebuah sungai mengalir sepanjang dasar lembah, melewati ladang-ladang yang telah diolah, pohon-pohon buah, barisan pohon kapas, rumpun bambu dan bunga mei hwa.
Sejumlah pria berpakaian gelap kusam dengan caping di masing-masing kepalanya sedang bekerja di tengah-tengah jurang, pada tempat yang paling sempit. Mereka memotong batu-batuan di situ untuk membangun bendungan yang akan mengalihkan aliran air melalui dasar jurang.
Jalan menuju desa di kaki gunung terlihat mengagumkan. Jalan itu membentuk garis lurus membelah dataran tinggi yang seolah tak berujung, dikelilingi oleh puncak-puncak setinggi tiga ribu meter yang tertutup lumut hijau, seperti jurang sempit di antara tembok-tembok tinggi, seakan-akan gunung itu terbelah oleh sebilah pisau, untuk memberi jalan bagi yang lewat.
Cahaya pagi yang menyilaukan seolah sirna digantikan kemuraman batu cadas yang gelap.
Di puncak gunung itu, tersembunyi sebuah perguruan salah satu sekte yang paling disegani.
__ADS_1
"Timbul peperangan di surga antara dewa-dewa cahaya melawan naga…" seorang pria paruh baya bercerita kepada murid-muridnya ketika sedang mengajar. "Seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi!"
Sementara para murid berdiri berbaris-baris dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuh mereka masing-masing, pria paruh baya itu mengedar pandang meneliti wajah-wajah pemuda di depannya dengan raut wajah khidmat, seperti sedang mengenang sesuatu yang sangat penting.
Pria itu tak lain adalah ketua sekte belati Kuangre yang disebut Petani.
Zhou Jieru.
Ayah Zhou Hua Zu!
Para pemuda yang berbaris di hadapannya sekarang rata-rata berusia dua puluh tahun.
Jika Hua Zu masih hidup, dia pasti sudah sebesar mereka sekarang, pikir Jieru.
"Naga itu juga dibantu oleh malaikat-malaikatnya—para tentara langit dan malaikat-malaikat pengkhianat, tetapi mereka tak dapat bertahan," Jieru melanjutkan. "Mereka tidak mendapat tempat lagi di surga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut iblis—setan yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah---dicampakkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya."
Para pemuda itu mengerjap dengan raut wajah muram.
"Sepertiga dewa cahaya tinggal di bumi kita bersama sejumlah tentara langit dan malaikat-malaikat iblis," tutur Jieru. "Sebagian dari mereka mati dan bereinkarnasi. Sebagian lagi masih hidup sampai sekarang. Dan salah satu dari mereka adalah Jiyou!" Jieru menambahkan. "Belum ada yang tahu apakah Jiyou bereinkarnasi atau hidup abadi. Kepercayaan suku kita pada dewa cahaya sudah hampir punah. Tapi Jiyou adalah yang tertinggi di antara semua Ilojim bahkan saudara kembarnya. Dia adalah pemegang sembilan karunia cahaya alam semesta."
Keheningan menyergap seluruh aula. Masing-masing murid Jieru tenggelam dalam pertimbangan dan kekaguman.
"Bagaimana caranya membedakan Jiyou dari yang lain, atau bagaimana caranya membedakan mereka dari ras manusia?" Salah satu murid Jieru akhirnya bertanya. Namanya Ang Dunrui. Salah satu murid senior yang paling dekat dengan Jieru.
"Mereka berhenti menua di usia tiga puluh tahun," jawab Jieru.
Terdengar gumaman tertahan. Para pemuda itu terperangah, bertukar pandang satu sama lain dengan raut wajah takjub.
"Mengenai bagaimana cara membedakan Jiyou dari yang lain, atau bagaimana cara membedakan Legion dari Ilojim… itu kembali kepada iman kita!" Jieru menambahkan.
Para pemuda itu serentak tertunduk.
"Tentu saja kita semua tahu bahwa dewa yang baik akan membawa kita kepada perdamaian, sementara dewa yang jahat akan membawa kita kepada kehancuran," Jieru akhirnya memberitahu. "Bijaklah dalam menilai dan jangan tertipu oleh penampilan."
"Guru!" seorang murid junior menginterupsi. "Ada yang bilang mereka dapat dibedakan dari warna rambutnya!"
"Benar," jawab Jieru. "Tapi tidak menjamin bahwa seseorang berambut hitam bukan ras dewa."
Murid-murid Jieru serentak terperangah.
__ADS_1
"Seseorang berambut terang memang ras dewa, tapi tidak semua ras dewa berambut terang," Jieru menjelaskan.