Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-40


__ADS_3

Kaki gunung, Kaida…


Waktu belum genap dini hari ketika bola-bola cahaya berwarna-warni itu mengendap turun di sekeliling gunung seperti taburan bunga-bunga popular dan dandelion.


Dari kejauhan formasi itu terlihat seperti rasi bintang namun pada waktu yang sama juga terlihat seperti butiran salju yang bertaburan dan bercahaya.


Itu adalah barisan tentara langit yang melayang dan berkerumun di kaki tebing. Lingkaran cahaya berwarna-warni itu berasal dari tubuh mereka.


"Apa yang terjadi?" Xiao Yu baru saja tiba di pelataran kastil bersama Hua Zu berambut emas ketika ia mendapati Hua Zu berambut emas lagi sedang melayang dikawal sejumlah tentara langit di dekat mulut gua di kaki gunung, tempat di mana Hua Zu berambut hitam masih mengurung diri melatih ilmu pedangnya tanpa bimbingan seorang guru.


"Jian berlatih sampai hampir sesat," jawab Hua Zu berambut emas yang ada di sampingnya, sementara Hua Zu berambut emas yang sedang melayang tidak mengalihkan perhatiannya dari mulut gua.


"Dan kau hanya menonton?" ejek Xiao Yu.


Hua Zu yang berada di mulut gua menoleh pada Xiao Yu dan tersenyum miring, "Aku menunggumu, Ketua!" katanya balas mengejek.


"Oh, sungguh merepotkan!" erang Xiao Yu sambil melompat ke kaki gunung dan bergabung dalam kerumunan.


Hua Zu yang tadi bersamanya sudah menghilang—menjadi satu lagi dengan tubuh aslinya.


Xiao Yu melesat ke dalam gua disambut gelegar halilintar yang menggetarkan seluruh tempat, dan dalam seketika Hua Zu melesat ke arah Xiao Yu menghujamkan ujung pedangnya sambil meraung.


"HIAAAAAAAT…!!!"


BOOM!


DUAAAAARRRR!!!


Ujung pedangnya meledak melontarkan sambaran petir.


Xiao Yu spontan melentikkan tubuhnya menghindari hujaman pedang Hua Zu.


Pedang itu menancap di dinding gua, beberapa inci dari dada Xiao Yu.


Dan sebelum Xiao Yu sempat beranjak, Hua Zu sudah melambungkan tubuhnya lagi dan menukik sambil mengarahkan telapak tangannya yang menyemburkan energi panas api ke arah Xiao Yu. Xiao Yu membendungnya dengan energi air, membenturkan telapak tangannya dengan telapak tangan Hua Zu dan menangkapnya, kemudian memelintirnya hingga pemuda itu terlempar ke dinding gua.


BRUAK!


Hua Zu terpuruk di sudut gua, dan serta-merta Xiao Yu melompat ke arah pemuda itu dan meraup tubuhnya, lalu melesat keluar sambil membopong pemuda itu.

__ADS_1


Hua Zu terhuyung dan terbatuk-batuk hingga menyemburkan darah dari mulutnya.


"Amankan pedangnya!" perintah Hua Zu pada salah satu tentara langit.


Tentara langit itu membungkuk dan langsung melesat ke dalam gua untuk mengambil pedang Ilojim, sementara Hua Zu berambut emas membantu Xiao Yu membopong tubuh Hua Zu berambut hitam menuju kastil.


Dalam hitungan detik, mereka sudah berhimpun kembali di dalam salah satu ruangan di dalam kastil.


Xiao Yu mendudukkan Hua Zu berambut hitam di lantai sementara Hua Zu berambut emas duduk bersila di belakangnya bersiap untuk menyalurkan energi alam semesta yang dimilikinya dan membaginya menjadi dua.


"Apa kau sudah gila?" protes Xiao Yu seusai Hua Zu berambut emas mentransfer separuh energinya untuk Hua Zu berambut hitam, dan itu artinya separuh kuasa di alam semesta menjadi milik Hua Zu berambut hitam. "Dia bahkan belum menyadari jati dirinya," gumam Xiao Yu sambil melirik ke dalam kamar.


Dua tentara langit membaringkan tubuh Hua Zu berambut hitam di tempat tidur Xiao Yu di kamar ketua, sementara Xiao Yu berjalan keluar bersama Hua Zu berambut emas.


"Aku berani bertaruh, saat dia sadarkan diri, dia akan menyerang Sekte Belati Kuangre!" kata Xiao Yu.


"Kau berani bertaruh dengan yang mahatahu?" tantang Hua Zu.


Xiao Yu langsung mendesah. "Benar juga," katanya.


"Kalau dia tidak menyerang Sekte Kuangre, selamanya dia takkan mengerti kebenarannya," kata Hua Zu.


"Jieru akan tetap mengingkarinya," sanggah Xiao Yu.


"Bukan itu bagian pentingnya," tukas Hua Zu. "Jika aku turun ke bumi sebagai pedangnya, maka Jian turun ke bumi sebagai neracaku!"


Istana Gubernur, Yeliushen…


Xi Xia baru saja terlelap ketika sesosok bayangan gelap berkelebat melintasi ruangan, menyelinap ke sudut ruangan dan membuka laci perhiasannya di dalam lemari.


Seorang gadis berpakaian ketat serba hitam tanpa hanfu dengan sepatu armor sewarna yang sama ketat. Begitu ketat pakaian yang dikenakannya sehingga tidak terlihat seperti pakaian, tapi seperti bagian dari kulitnya. Rambutnya disanggul kencang di kedua sisi kepalanya membentuk kuping seekor kucing.


Gadis itu sekarang menarik laci perhiasan Xi Xia dan mengeluarkan kalung permata terapi pemberian sang putra mahkota untuk menghisap energi dari batu hitam yang langsung mengeluarkan asap hitam ketika ia menyentuhnya.


Asap itu meresap ke dalam tubuhnya dan seketika tubuh itu menyala seperti bara, yang semakin lama semakin terang memancarkan cahaya api yang berpendar ke seluruh ruangan seolah dalam kamar itu terdapat tungku yang sedang menyala.


Dari seberang halaman, dari balkon kamar Shin Wu, Lin Yao berbisik pada kakaknya sambil menunjuk jendela kamar Xi Xia. "Lihat itu!"


"Apa yang terjadi?" pekik kakaknya. "Apa kamar Nona kebakaran?"

__ADS_1


"Aku akan mengeceknya!" Lin Yao memutuskan.


"Biar aku saja," Yuze segera menyambar lengan Lin Yao. Lalu melesat ke balkon kamar Xi Xia.


Bersamaan dengan itu, dua pengawal bayangan Xi Xia melesat menghadang Yuze.


Dan seketika cahaya di dalam kamar itu berkeredap dan padam.


Pertarungan bisu terjadi di atap estat Xi Xia tanpa disadari para pengawal patroli.


Sementara di dalam kamar, suara berderak laci lemari dan gemerincing perhiasan yang tertumpah dari kotaknya mengusik tidur Xi Xia.


Xi Xia tersentak hingga duduk dan matanya yang panik menyapu ruangan.


Sekelebat bayangan melesat ke jendela dan menghilang di balik tirai.


Xi Xia menelan ludah dan merayap turun dari tempat tidurnya, lalu terbelalak mendapati kotak perhiasannya berserak di lantai. Dengan takut-takut ia mengedar pandang ke sekeliling ruangan.


"Hatschi!" terdengar suara bersin.


Xi Xia berbalik dan terbelalak, menatap tirai jendela dengan waspada. Lalu berjinjit dan menyingkap tirai itu dengan menyentakkannya.


"Hatschi!" terdengar suara bersin lagi, terdengar dari bawah jendela.


Xi Xia mengerutkan keningnya dan membungkuk untuk melihat gumpalan gelap di lantai.


Ternyata kucing kecil pemberian Hua Zu. Kucing itu menggigil, bulu-bulunya berdiri tegak.


Xi Xia terkekeh geli, "Ternyata kau!" katanya sambil membungkuk meraup kucing itu dan mengangkatnya ke dalam dekapannya. "Apa yang kau lakukan di bawah sini?" bisiknya sambil mengelus bulunya.


Kucing kecil itu gemetar dalam dekapannya.


Xi Xia mengedar pandang sekali lagi, kemudian bergegas ke pintu dan membukanya.


Dua penjaga di depan pintu spontan tersentak dan berbalik serempak menghadap Xi Xia dengan siaga.


"Periksa kamarku!" perintah Xi Xia setengah berbisik.


Para pengawal itu serempak membungkuk.

__ADS_1


"Dan jangan berisik!" Xi Xia menambahkan. "Aku tak ingin seisi istana kembali gaduh."


Para pengawal itu membungkuk lagi, lalu bergegas ke dalam dengan gerakan cepat tanpa suara.


__ADS_2