
Pertempuran kembali terjadi, namun kali ini Hao Tian yang melakukan serangan duluan dengan bergerak cepat ke arah depan Lun Gao dan langsung menebas dari arah atas ke bawah.
Melihat kecepatan Hao Tian yang tiba-tiba meningkatkan membuat ia terkejut, namun ia tetap bisa menangkis serangan Hao Tian.
Klang!
Terdengar bunyi logam yang berbenturan namun suaranya lebih keras dari sebelumnya. Hao Tian kembali menyerang lebih agresif dan menebas lebih cepat dan semakin cepat.
" Ugh."
Lun Gao yang mulai kesulitan menerima serangan bertubi-tubi Hao Tian tanpa ia sadar ia mengeluarkan suara aneh dari mulutnya.
' Sial! Apa apaan ini, kenapa kecepatan meningkatkan dan kekuatan serangannya lebih kuat dari sebelumnya, seakan-akan ia sedang kerasukan.' Lun Gao mengutuk dalam hatinya.
Dalam beberapa serangan saja sudah mulai terlihat retakan di pedang Lun Gao dan membuat ia panik.
" Sial!" Karena Hao Tian terus melakukan serangan membuat ia terus bertahan, dan mencari kesempatan untuk mundur beberapa langkah.
Namun Hao Tian tidak memberi ia kesempatan dan terus menghujani ia dengan serangan sampai pedang Lun Gao patah.
Plang!!
Melihat pedang Lun Gao yang patah membuat Hao Tian terlihat senang." Ha ha pak tua dari mana kamu memungut senjata itu tua itu."
" Bocah setan, aku akan benar benar membunuhmu."
" Ha ha ha, siapa yang akan membunuh siapa sekarang, sepertinya kamu belum mengerti situasi sekarang, kalau begitu akan membuatnya lebih jelas lagi."
" Sial!! Cepat lemparkan pedang mu." Melihat Hao Tian yang bersiap menyerang lagi membuat ia panik dan cepat menyuruh anak buahnya untuk melemparkan pedang miliknya kepadanya.
__ADS_1
Anak buahnya juga dengan sigap melemparkan pedang miliknya pada Lun Gao. Namun disaat Lun Gao berhasil menangkap pedang itu terdengar bunyi nyaring selama beberapa detik.
' Apa yang terjadi, kenapa lenganku terasa panas.' Lun Gao bergumam dalam hatinya dengan keanehan yang ia alami.
Namun pas ia ingin memeriksa lengannya ia di kejutkan dengan apa yang ia lihat,
" Aaaahh... Aaaahh.."
Ternyata tangannya sudah putus dan banyak mengeluarkan darah. karena rasa sakit yang tiba-tiba itu membuat ia berguling-guling di tanah berharap rasa sakit itu berkurang, namun rasa sakit itu tak kunjung hilang dan masih tetap ada.
' Bagaimana bocah itu melakukannya? Hanya dengan mengganti pedang baru ia bisa langsung memojokkan ku sampai seperti ini, sebenarnya pedang apa itu?' Ucap Lun Gao dalam hatinya.
" Kurang ajar! Bocah sialan! Kubunuh kau, akan ku bunuh kau!"
Lun Gao terus meraung tak jelas dan mengutuk Hao Tian namun ia tidak sama sekali memperdulikan itu.
" Larii!!"
" Cepat lari..."
" Bos sudah kalah, cepat lari.."
Mereka mengetahui kalau bos mereka kalah dan mati maka mereka pasti yang akan menjadi sasaran empuk selanjutnya. Sehingga mereka langsung memutuskan untuk pergi secepatnya selagi Hao Tian masih berurusan sama bos mereka.
Melihat anak buahnya yang pergi tanpa menolongnya membuat lun gao kesal. " Apa yang kalian lakukan, cepat serang bocah ini." Namun para anak buahnya sama sekali tidak menghiraukannya.
" Dasar bodoh! Dasar bajingan! Bangsat! Kenapa kalian pergi seperti pengecut cepat serang bocah ini dasar tidak berguna, dasar sampah!"
Sekeras apapun ia berteriak sama sekali tidak membuat anak buahnya bergeming dan terus melarikan diri tanpa memperdulikan ocehan bos mereka.
__ADS_1
Bagi mereka sekarang sosok Hao Tian jauh lebih menakutkan dari bos mereka yang sudah tak berdaya sekarang ini. Jika mereka menuruti kemauan bos mereka itu sama saja bunuh diri. Jadi mereka lebih baik melarikan diri selagi sempat.
" Sial! Dasar sampah!" Lun Gao terus berteriak untuk melampiaskan kekesalannya pada anak buahnya namun itu percuma.
" Sepertinya kamu sendirian sekarang, tapi tenang saja setelah aku tidak akan membuat kamu sendirian. Setelah membunuhmu aku akan mengirim anak buah mu untuk menyusul mu di neraka, bagaimana?"
" Jangan meremehkan ku, aku masih belum selesai di sini." Lun Gao perlahan mengambil pedang yang pernah di lempar anak buahnya dan kembali berdiri menghadapi Hao Tian.
" Oh sepertinya kamu masih memiliki semangat juang pak tua, maka aku juga tidak akan mengecewakan dirimu" Hao Tian juga mulai bersiap menghadapi Lun Gao lagi.
' Aku harus membuat celah untuk melarikan diri sekarang, jika tidak aku akan benar benar mati,kebetulan masih ada bom asap di cincin ruang milikku, ini bisa digunakan untuk mengecoh untuk sementara.' Lun Gao bergumam dalam hatinya.
" Kalau begitu terima ini." Sebelum Hao Tian menyerang Lun Gao, Lun Gao langsung melemparkan Bom asap untuk mengaburkan penglihatan Hao Tian.
Melihat Hao Tian yang sudah di kelilingi oleh asap membuat ia senang dan segera melarikan diri, namun tiba-tiba terdengar suara Hao Tian.
" Sepertinya kamu terlalu meremehkan aku pak tua, sekarang aku akan memberimu kejutan."
Hao Tian memegang pedangnya dengan erat-erat." Jurus pedang bulan purnama.." Hao Tian mengalirkan sejumlah tenaga dalam pada pedangnya. " Bulan menangis."
Seketika Hao Tian bergerak sangat cepat dan langsung menemukan Lun Gao yang bersembunyi dalam asap melalui Indra perasaannya dan langsung menebas leher lun gao.
Detik itu juga kepala dari lun gao terpisah dari tubuhnya dan terbunuh dengan cepatnya.
" Ah akhirnya berakhir juga, ini sangat melelahkan." Berkali-kali menggunakan ilmu pedang bulan purnama membuat ia cepat kelelahan.
" Sebaiknya aku cepat memulihkan tenaga dalamku." Hao Tian kemudian langsung mengeluarkan beberapa pil dan memakannya. Seketika juga perasaan Hao Tian juga mulai membaik secara perlahan.
" Tadi bosnya sekarang anak buahnya selanjutnya.." Hao Tian langsung pergi meninggalkan tempat itu dan mencari sisa para perompak.
__ADS_1