
" Aku? Kamu tidak perlu tahu hal itu, lagi pula ini bukan saatnya acara perkenalan." Pria itu terlihat memakai pakaian yang sama dengan orang yang dihadapi Hao Tian sebelumnya tapi yang membedakan adalah ia tidak memakai topeng atau sesuatu yang menutupi wajahnya.
Pria itu terlihat berusia tiga puluh tahun dan memiliki bekas luka di salah satu pipinya.
" Ya kurasa apa yang kamu katakan benar, tapi kurasa kamu harus menanyakan namaku."
" Untuk apa itu? Menurutku itu bukan hal yang penting." Kemudian pria itu mulai mengeluarkan pedangnya di dalam cincin ruang miliknya. Pedang itu memiliki panjang pada umumnya namun memiliki bilah yang berwarna hitam pekat di kedua sisinya.
" Kau salah, menurutku itu hal yang penting. Supaya kamu tahu siapa nama orang yang akan membunuhmu."
" Ha ha ha, kamu pandai bicara omong kosong juga ternyata. Tapi itu tidak perlu, karena aku tidak akan mati di tangan seorang bocah. Namun aku setuju tentang perkataanmu yang mengatakan untuk mengetahui nama yang akan membunuh kita, jadi aku akan memberi tahumu namaku karena aku yang akan membunuhmu."
" Itu tidak perlu, karena aku tidak akan mati." Hao Tian perlahan memasukkan pedang yang ia pakai sebelumnya ke dalam cincin ruang dan mengeluarkan pedang bulan purnama.
' Dari tadi aku merasakan sesuatu yang buruk saat bertemu pria ini, dari mana perasaan ini muncul? Tapi bukan itu yang harus aku perhatikan saat ini, fokus saja apa yang di depan dan jangan gegabah melakukan tindakan.' Ucap Hao Tian dalam hatinya.
" Aku Huo Lei, ingat nama itu karena itu adalah nama orang yang akan membunuhmu." Seketika ia mulai bergerak dan melakukan serangan tebasan dengan cepat ke arah Hao Tian.
Serangan Huo Lei yang begitu cepat membuat Hao Tian tidak melihat gerakannya sehingga membuat ia tidak siap akan serangan yang meluncur ke arahnya. Namun Hao Tian melakukan gerakan seminimal mungkin untuk mengangkis serangan itu.
Hao Tian mengangkat pedangnya untuk melindungi bagian lehernya, namun itu tidak cukup.
Klang!
Tebasan Huo Lei membuat suara logam yang berbenturan sangat keras. Dari tebasan itu Hao Tian berhasil mengankisnya namun ia terlempar beberapa meter dan membentur pohon di belakangnya.
" Ugh."
' Cepat sekali, serangannya tak terlihat. Apa-apaan kekuatan pria ini, tenaganya sangat besar hanya untuk sebuah tebasan sederhana. Sial! Tangan dan kakiku lemas, tubuhku tak berhenti bergetar. Tenanglah, perhatikan lebih detail gerakannya.' Hao Tian hanya bisa merengek dalam hatinya.
" Oh, kamu hebat juga. Dihadapan kekuatan yang lebih besar dari kamu tidak membuatmu putus asa, itu sangat aku suka. Aku suka kegigihan orang-orang yang lemah, ayo mari kita lanjutkan lagi."
' Tidak ku sangka pria ini adalah seorang pendekar raja bintang 9, apakah kekuatan pendekar raja bintang 9 sekuat ini? Aku harus menggunakan sebuah trik untuk mengalahkannya, jika aku menggunakan kekuatan murni maka itu akan menjadi kekalahanku.'
Hao Tian kemudian mengeluarkan sebuah kantong yang sama yang pernah ia gunakan yaitu kantong berisi bubuk yang bisa menimbulkan kabut dan membuat penglihatan terganggu. Dan melemparkannya beserta sebuah pisau untuk merobek kantong itu supaya bubuknya keluar.
__ADS_1
Rencana Hao Tian kemudian berhasil, kantong itu robek terkena pisau dan mulai mengeluarkan kabut yang mulai menutupi sekeliling penglihatan.
' Berhasil, sekarang...' namun belum ia melanjutkan rencananya ke tahap selanjutnya, tiba terdengar suara Huo Lei dari belakang Hao Tian.
" Cukup cerdik, namun kurang tepat digunakan kepada orang yang membuat bubuk itu."
Mendengar itu membuat Hao Tian merinding, ia langsung menebas ke arah belakang. Namun sebelum pedang Hao Tian mengenai Huo Lei, Huo Lei sudah melancarkan serangan terlebih dahulu dengan menendang pinggang Hao Tian dan mengenainya dengan telak.
" Aaargh."
Hao Tian kembali terlempar dan mendarat duluan punggung di tanah.
' Sial! Orang ini benar-benar kuat, satu tendangan saja membuat pinggangku sesakit ini, seakan organ tubuhku berpindah tempat. Cara biasa tidak akan mampan padanya. aku harus menggunakan cara yang lain.' Hao Tian perlahan mulai bangkit dan mencoba berdiri.
" Ha ha kamu masih hidup, aku kira kamu pingsan bocah. Bagus sekali! Hibur aku lagi aku ingin lebih."
" Tenang saja,aku tidak akan mengecewakanmu."
Hao Tian kemudian memasang kuda-kuda dan bersiap melancarkan serangan.
" Jurus pedang bulan purnama, cahaya bulan kembar." Hao Tian langsung melesat ke arah Huo Lei.
" Jurusmu sangat unik dan kuat namun hal itu menjadi sia-sia karena digunakan oleh orang yang tidak berguna seperti kamu bocah."
" Diam!" Hao Tian kemudian kembali melancarkan serangan-serangan bertubi-tubi namun Huo Lei juga mengatasi hal itu dengan mudah.
Huo Lei menangkis serangan Hao Tian satu persatu.
Klang Klang Klang
Suara logam kembali terdengar berbenturan terus menerus dan membuat gelombang kejut yang tercipta di sekitar mereka kala kedua pedang mereka berbenturan.
" Jurus pedang bulan purnama, bulan berongga."
" Phoenix kembar."
__ADS_1
Kedua serangan itu beradu dan membuat gelombang kejut lebih besar dari sebelumnya dan keduanya terdorong. Namun yang membedakan Huo Lei terdorong dalam keadaan berdiri sedangkan Hao Tian terlempar jatuh ke tanah dalam keadaan terlentang dan terlihat sedikit darah keluar dari mulutnya.
" Aku tidak menyangka kalau kamu masih bisa bertahan dari jurus ini, setidaknya sebagian besar orang akan mati saat beradu dengan jurus ini. Jadi hal itu bisa menjadi kebanggaan bagimu."
" Maaf menyela tapi kurasa aku tidak butuh hal itu." Hao Tian perlahan bangkit lagi dan kembali lagi berdiri walau kakinya mulai sedikit bergetar.
" Bagus sekali, tunjukan lagi tekadmu itu. Belum lagi tatapan itu, aku sangat menyukainya. Aku sangat menginginkan mata itu, mata yang penuh dengan tekad dan keyakinan, semangat, dan kegigihan. Aku sangat menginginkannya, saat melihat itu membuat aku tidak berhenti bersemangat untuk menghancurkan semua tekad dan kegigihan itu. Aku sangat ingin memilikinya dan mengambil kedua mata itu dan menyimpan di koleksiku ini."
Huo Lei mengeluarkan sebuah botol air yang terbuat dari kaca, terlihat botol itu selain berisikan air ada juga puluhan mata yang tersimpan di dalamnya.
Melihat ini membuat Hao Tian semakin merinding dan sedikit ketakutan. " Kau benar-benar pria gila."
" Ha ha ha aku memang seperti ini, aku bahagia jadi seperti ini jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Caraku menghargai lawanku adalah mengambil kedua matanya dan menyimpan ke dalam botol air ini kemudian aku akan meminum air dari botol itu. Rasanya sangat enak tak kalah dengan minuman keras yang sangat mahal dan berkelas. Jadi matilah! Matilah demi kebahagiaanku bocah."
Huo Lei kembali berlari ke arah Hao Tian dan berniat kembali meluncurkan serangan.
" Maafkan aku, aku tidak berniat membahagiakan orang gila seperti kamu."
Mereka kembali beradu pedang terus menerus dan tidak terasa sudah puluhan jurus mereka keluarkan. Hasilnya Hao Tian di penuhi luka kebab dan bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. Tidak hanya itu tubuhnya juga terlihat terluka dari kaki, paha dan juga kepala bahkan tidak sedikit dari luka itu juga mulai berdarah. Dan saat ini ia sudah terbaring di tanah tak berdaya.
Namun sebaliknya Huo Lei masih terlihat baik-baik saja. Walaupun ada beberapa goresan di baju dan tubuhnya namun itu tidak sebanyak yang di miliki Hao Tian. Walaupun ia sedikit ngos-ngosan namun ia masih tetap bisa berdiri walaupun ia di bantu menggunakan pedangnya untuk menyangga tubuhnya.
" Aku tidak menyangka kalau kamu akan keras kepala seperti ini. Jika saja kamu tidak keras kepala dan senang hati aku bunuh, maka kamu tidak akan semenderita ini."
" Jika kamu khawatir dengan dengan paviliun milikmu maka kurasa itu tidak perlu karena aku sudah mengirim anak buah ku untuk menghancurkan tembok itu dan tentu saja tak lupa tujuan utama kami yaitu menangkap Huo Yu dan Huo Xiuying. Jadi beristirahatlah dengan tenang."
" A..apa maksudmu?" Terdengar suara Hao Tian yang lebih kecil dari biasanya.
" Aku bilang akan mengurus paviliun milikmu jadi kamu bisa mati dengan tenang."
Namun mendengar itu bukan membuat Hao Tian jadi lebih tenang malah membuatnya marah dan ia mulai berusaha berdiri lagi walau sedikit sempoyongan.
" Mana ada orang yang menginginkan sesuatu yang ia cintai di percayakan pada orang gila seperti kamu."
Hao Tian memasukkan pedang bulan purnama dan mengambil sebuah pedang yang terlihat hitam di genggamannya dan memiliki sepasang bilah sangat tajam dan mengkilat disertai dengan memiliki garis-garis lurus kecil berwarna hitam dan putih di bagian kedua bilahnya.
__ADS_1
' Apa yang terjadi? Tiba-tiba aura bocah ini jadi lebih mengerikan dari sebelumnya. Saat ia menukar pedangnya pertama kali aku juga merasakan hal yang sama namun sekarang ini lebih kuat dari itu. Apa dia memiliki pedang yang lebih kuat dari sebelumnya? Padahal menurutku pedang sebelumnya sudah sangat kuat tapi pedang yang ia keluarkan saat ini memiliki level yang lebih tinggi. Aku pasti yakin kalau kedua pedang itu adalah sebuah pusaka, kurasa aku dapat bonus jika berhasil membunuh anak ini. Anak ini penuh akan kejutan.' Ucap Huo Lei dalam hatinya saat memperhatikan Hao Tian.
" Terimakasih sebelumnya karena memberikan informasi itu yang membuat aku semangat lagi. Jadi, apakah kita bisa mulai ronde keduanya?"