Legenda Hao Tian

Legenda Hao Tian
ch. 54 siluman lagi?


__ADS_3

Beberapa jam sebelum insiden penyerangan para siluman ke kota Bianfu, terlihat Hao Tian sedang bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ia berencana akan pergi hari itu juga.


Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Xue Yun guna memberitahukan kalau mereka akan pergi hari itu juga. Sebab semalam Hao Tian tidak sempat memberitahunya dikarenakan Xue Yun yang sudah tidur duluan.


" Xue Yun, bangun, cepat bangun. Kita akan pergi jadi cepat bersiap-siaplah." Hao Tian terus mengetuk-ngetuk pintu dengan pelan sambil berbicara, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Hao Tian terus memanggil Xue Yun dan mengetuk-ngetuk pintu namun tidak kunjung ada jawaban. Karena sudah tersulut emosi Hao Tian langsung meneriaki Xue Yun dengan suara yang lebih keras.


" Xue Yun..! Cepat keluar. Jika kamu tidak keluar sekarang maka aku akan menghancurkan pintu ini. Jadi cepatlah keluar sebelum itu terjadi."


Karena masih tidak ada Jawaban, Hao Tian mulai mengepalkan tinjunya dan bersiap meninju pintu kamar Xue Yun.


Namun sebelum ia mau memukul pintu itu terdengar suara lesu dari kamar itu." Siapa itu?"


" Siapa, siapa. Ini aku Hao Tian cepat keluar ada yang ingin aku katakan."


Setelah itu kemudian Xue Yun mulai membuka pintu kamarnya. " Ada apa? Kenapa ribut sekali pagi-pagi buta." Ucap Xue Yun dengan nada lesuh.


Saat itu Xue Yun masih memakai pakaian yang tadi malam ia pakai, dengan wajah yang masih kusut, dan rambut yang masih berantakan. Bahkan terlihat masih ada ilerr di sekitar pipinya.


Walaupun Hao Tian sedikit terkejut dengan keadaan Xue Yun yang masih berantakan tapi ia tetap menyampaikan maksud kedatangannya.


" Cepat bersiap-siap, mandi atau segala macam karena kita akan pergi hari ini."


" Hari ini? Kenapa mendadak sekali, ooahh." Ucap Xue Yun kemudian ia menguap setelahnya.


" Bukannya mendadak tapi aku sudah sudah memutuskannya kemarin malam dan berniat memberitahumu setelah kita makan tetapi kamu langsung masuk ke dalam kamar dan tidur sehingga aku tidak sempat memberitahumu."


" Kenapa kita tidak berangkat besok saja?"


" Aku tidak punya cukup waktu untuk bermalas-malasan, jika kamu tidak ikut makan aku akan meninggalkan kamu dan pergi sendiri."


" Baiklah, aku akan segera mandi dan bersiap-siap. Tunggu aku sebentar." Xue Yun kemudian berniat untuk menutup pintu karena ia akan mandi terlebih dahulu. Namun sebelum ia menutup pintu, Hao Tian langsung memegang lengan Xue Yun.


" Apa? Sebentar. Coba jangan pakai kata sebentar, karena aku sedikit trauma dengan kata itu. Kalau bisa ganti kata itu dengan secepatnya. Mengerti?"


" Jangan terlalu berlebihan." Ucap Xue Yun sambil melepaskan tangan Hao Tian dari lengannya.


" Aku tidak berlebihan, aku saat ini serius. Coba ganti kata itu pakai kata secepatnya." Ucap Hao Tian sambil melotot ke arah Xue Yun.


Karena tidak merasa nyaman dengan tatapan Hao Tian, Xue Yun langsung mengiyakan permintaannya. " Baiklah, aku akan segera bersiap-siap jadi tolong tunggu aku dan aku akan keluar secepatnya." Ucapnya sambil menekan kata secepatnya."


Setelah itu Xue Yun langsung masuk dan menutup pintu dengan keras sampai membuat Hao Tian kaget.


" Aduh, dasar perempuan." Ucap Hao Tian dengan nada kesal.


Kemudian Hao Tian lanjut lagi menyiakan keperluan yang akan dibutuhkan nantinya pas mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Setengah jam kemudian Hao Tian sudah selesai menyiapkan semua keperluan mereka dan hanya tinggal menunggu Xue Yun keluar dari kamarnya.


Melihat Xue Yun yang masih belum keluar, membuat Hao Tian kesal lagi dan berniat menendang pintu kamarnya.


Namun belum ia sampai ke depan pintu kamar Xue Yun, pintu itu terbuka dan Xue Yun pun keluar. " Aku sudah siap."


Terlihat Xue Yun memakai pakaian hanfu yang tidak jauh berbeda dengan yang ia pakai semalam. Terlihat bajunya berwarna biru dan hitam dan memiliki motif bunga. Namun ornamen yang ia pakai masih tetap sama dengan yang ia pakai semalam


" Bagus, ayo kita segera pergi." Ucap Hao Tian sambil menghela nafas setelah ia berbicara.

__ADS_1


Keduanya mulai meninggalkan kamar mereka dan segera menuruni tangga sampai ke lantai satu. Karena di sana selain tempat makan disana juga merupakan pintu keluarnya.


Sesaat mereka akan keluar dari penginapan itu, Xue Yun tiba-tiba menarik lengan Hao Tian. " Bukankah sebaiknya kita makan terlebih dahulu sebelum kita berangkat."


" Tenang saja, aku sudah membeli beberapa makanan dan menyimpannya di cincin ruang. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


" Tapi aku belum makan, dan saat ini aku sedang lapar. Bukankah sebaiknya kita makan dulu sebentar."


Namun Hao Tian tidak menanggapinya dan kemudian hanya mengeluarkan sepotong roti tawar dari cincin ruang miliknya dan melemparkannya pada Xue Yun." Makan itu dulu sebagai pengganjal perut." Kemudian ia langsung berjalan lagi meninggalkan Xue Yun yang terdiam.


" Aahh dasar keras kepala." Ucap Xue Yun dengan nada dan wajah kesal. Kemudian ia juga mulai memakan roti itu sambil berjalan menyusul Hao Tian.


Setelah mereka berdua keluar dari penginapan, Hao Tian malah pergi ke salah satu rumah mewah bukannya menuju gerbang kota. Hal ini membuat Xue Yun bingung sesaat dan kemudian memutuskan bertanya.


" Kenapa kita kesini? Bukankah kita akan menuju gerbang kota?"


" Ia tapi sebelum itu kita harus menyapa tuan putri terlebih dahulu dan memberitahunya bahwa kita akan pergi hari ini. Bagaimanapun juga ia sudah berbaik hati memberikan kamar untuk kita beristirahat."


" Hah kau sopan sekali, setahuku kamu tidak akan seperti itu. Tapi kenapa sikap kamu berubah jika itu berhubungan dengan putri itu."


" Aku bukannya berubah jika dengan putri Song Hua tapi ini namanya sopan santun."


Terlihat ada dua orang prajurit yang sedang berjaga di depan masuk rumah yang di tempati Song Hua. Saat Hao Tian tiba di depan pintu masuk, tiba-tiba terdengar bunyi bel yang menandakan bahaya dari arah gerbang kota.


Kedua prajurit yang menjaga pintu masuk langsung panik dan masuk ke dalam rumah itu tanpa bicara sedikitpun.


Para warga juga mulai panik dan berlarian kesana-kemari.


Melihat itu membuat Xue Yun waspada." Bunyi apa itu? Apa yang sedang terjadi?" Tanya Xue Yun yang berada di belakang Hao Tian.


" Bahaya? Bahaya apa itu?"


" Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi karena kita ada di kota ini maka kita akan segera tahu."


Tak lama kemudian puluhan prajurit keluar dari rumah tempat Song Hua menginap. Dan Song Hua mulai keluar juga didampingi oleh jendral Guan.


" Tuan Hao, nona Xue Yun, apa yang kalian lakukan di depan sini?" Song Hua bertanya kepada keduanya karena ia di kejutkan dengan kedatangan keduanya.


" Sebenarnya kami berniat ingin membicarakan sesuatu hal, namun sebaliknya kita tunda dulu karena ada masalah yang lebih mendesak lagi." Ucap Hao Tian dengan wajah serius.


Song Hua mengangguk pertanda setuju dengan perkataan Hao Tian dan lebih memfokuskan perhatiannya pada yang akan menimpa kota ini.


Tak lama kemudian ada seorang prajurit yang datang kepada mereka dengan terburu-buru. " Lapor putri, jendral, ada segerombolan siluman yang sedang menyerang kota ini. Di perkirakan jumlahnya seratus, yang kebanyakan adalah siluman yang setara dengan pendekar ahli namun ada juga yang berada di tahap pendekar raja."


" Maka itu akan gawat sekali, hanya ada dua pendekar raja di pihak kita yaitu aku dan tuan Hao Tian sedangkan ada beberapa siluman yang setara dengan pendekar raja. Kurasa ini akan jadi pertarungan yang sulit."


" Oleh karena itu tuan putri, aku menghimbau agar tuan putri segera mengevakuasi diri ke tempat aman biar aku dan tuan Hao Tian serta beberapa prajurit yang pergi. Tuan Hao Tian aku minta pertolongannya sekali lagi." Ucap jendral Guan.


" Itu sama sekali bukan masalah." Ucap Hao Tian


"Tapi aku tidak ingin pergi, rakyat disini sedang kesusahan tapi paman menyuruhku pergi. Tidak, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan melakukan tindakan pengecut seperti itu." Ucap putri Song Hua dengan serius.


" Tapi putri, ini akan sangat berbahaya. Bahkan kami sendiri saja akan sulit bertahan di sana." Lanjut jendral Guan.


" Paman Guan, aku sudah memutuskan."


Melihat wajah putri Song Hua yang sudah membulatkan tekadnya, maka jendral Guan hanya bisa mendesah pasrah." Baiklah tapi tuan putri tidak boleh jauh-jauh dariku, apa anda mengerti."

__ADS_1


" Terimakasih paman."ucap Song Hua dengan senyum puas.


" Baiklah ayo kita segera pergi." Ucap jendral Guan memimpin. Kemudian mereka mulai bergerak bersama menuju gerbang kota.


Tidak memerlukan waktu lama mereka kemudian tiba di depan gerbang kota, namun gerbang sudah berhasil di terobos oleh para siluman dan mulai menyerang secara membabi buta.


" Prajurit, serang!!" Melihat para siluman yang sudah menerobos gerbang membuat jendral Guan harus bertindak cepat dan akhirnya ia menyuruh semua prajuritnya membantu prajurit lain dalam mengatasi gempuran para siluman.


Namun walaupun begitu, terlihat kalau para prajurit masih kesusahan melawan para siluman. " Aku duluan." Melihat itu Xue Yun langsung melompat ke arah salah satu siluman dan bertarung dengannya.


" Aku juga akan pergi." Melihat Xue Yun yang sudah bertarung, membuat Hao Tian mengikutinya. Ia mulai melompat ke salah satu siluman raja yang belasan meter dari tempat awalnya dan mendarat tepat dedepan siluman itu.


Terlihat siluman itu berwujud beruang besar dengan ukuran empat meter dengan gigi tajam dan memiliki cakar yang lebih panjang pada beruang umumnya.


Namun walaupun begitu, Hao Tian tetap bisa mengatasi siluman itu dan perlahan ia mulai memojokkan siluman beruang. Tak berselang lama Hao Tian berhasil memotong lengan beruang dan kemudian diikuti kepalanya.


Setelah Hao Tian selesai mengakhiri hidup siluman itu, ia langsung melihat ke arah Xue Yun. Namun ia baik-baik saja bahkan ia sudah berhasil mengalahkan siluman yang ia lawan. Melihat itu Hao Tian langsung menuju ke arah siluman raja lainnya.


Di lain sisi jendral Guan ingin juga ikut membantu, tapi baginya keselamatan putri Song Hua adalah hal yang utama baginya. Oleh karena itu ia hanya berdiri di dekat Song Hua dan mengawasi pertempuran. Ia hanya bisa melawan dan membunuh siluman yang ke arah mereka walaupun itu hanyalah siluman yang setara dengan pendekar ahli.


" Paman Guan, apa yang paman lakukan? Kenapa paman tidak membantu yang lainnya." Ucap Song Hua kesal. Karena walaupun Hao Tian dan lainnya sudah turun tangan tetap saja masih banyak siluman yang berbahaya yang bebas tanpa pengawasan.


" Tapi putri, aku tidak bisa begitu saja meninggalkan kamu sendiri. Aku sudah berjanji kepada raja kalau aku akan memprioritaskan keselamatan anda di segala hal."


" Tapi paman Guan, sekarang saat ini pasukan sedang butuh kemampuan paman. Lupakan dulu tugas itu dan tanggung jawab itu, tugas utama seorang jendral adalah memastikan keselamatan warga dan membantu jika diperlukan. Jadi sekarang aku sebagai putri kerajaan Song memerintahkan jendral Guan untuk ikut dalam pertempuran." Ucap Song Hua dengan nada tegas.


" Baiklah taun putri, aku akan pergi. Tapi sebelum itu aku harus membawa anda ke tempat aman di sana." Gendral Guan menunjuk ke arah menara tinggi yang berdiri tidak jauh di belakang mereka.


Putri Song Hua juga tidak keberatan dan mengangguk, jendral Guan mulai mengangkat tubuh Song Hua dan membawanya ke menara tersebut.


Jendral Guan yakin karena menara ini cukup tinggi dan kokoh sehingga Song Hua bisa aman dari jangkauan para siluman.


" Tuan putri anda tetap disini, dan tolong ingat ini. Jika anda merasa dalam bahaya cepat berteriak dan aku akan segera datang. Tolong ingat itu."


" Baiklah." Ucap Song Hua. Kemudian jendral Guan mulai melompat turun dari menara dan segera menuju ke arah siluman yang setara dengan pendekar raja. Dan kemudian ia mulai bertarung sengit dengan siluman itu.


Di sisi lain di arah barat kita terdapat tiga orang dewasa yang sedang mengawasi pertempuran dari jarak jauh. Ketiganya adalah otak dari bencana yang menimpa kota Bianfu. Mereka membuat para siluman marah dan kemudian mereka berhasil membuat para siluman menyerang kota.


" Sepertinya sekarang waktunya kita pergi."


" Benar, sekarang semua orang sedang fokus melawan para siluman jadi kita bisa diam-diam mendekati putri Song Hua dan membunuhnya."


" Aku juga berpikir demikian, baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang. Bunuh dia dengan cepat."


Seketika ketiga mulai secara diam-diam mendekati putri tanpa ada orang yang menyadari keberadaan ketiganya.


Saat mereka sudah berhasil mendekati tuan putri Song Hua di menara itu, salah satu dari mereka dengan cepat menebaskan pedangnya ke arah leher Song Hua. Dan beberapa detik lagi bilah pedang itu akan mengenai leher Song Hua.


Namun saat bilah pedang itu akan memotong leher Song Hua, ada sebuah batu berukuran kepalan tangan yang menuju ke arah pedang itu dan menabraknya. Hal hasil orang yang mau membunuh Song Hua mundur beberapa meter dari jarak awalnya.


" Pang!" Seketika terdengar bunyi benturan di dekat Song Hua. Hal ini juga membuat Song Hua kaget dengan apa yang baru saja terjadi.


Bukan hanya satu batu yang menuju ke mereka bertiga namun ada dua lainnya. Dua batu lainnya memiliki sasaran kepada dua orang yang masih bersembunyi.


Dua batu itu hampir saja mengenai keduanya namun mereka berhasil menghindar. Namun hal itu membuat mereka marah dan berteriak.


" Siapa itu?"

__ADS_1


__ADS_2