
" Berapa lama lagi kamu di dalam? Cepat, aku sudah lapar ini. Jika kamu tidak keluar juga maka aku akan pergi duluan." Hao Tian mengetuk pintu kamar Xue Yun berkali-kali dengan wajah kesal.
Keduanya sebelumnya telah sepakat untuk makan malam bersama namun sebelum itu Xue Yun meminta Hao Tian untuk menunggunya sebentar karena ia akan mandi terlebih dahulu.
Namun setelah menunggu selama setengah jam, tapi Xue Yun belum keluar juga. Hal ini menyebabkan Hao Tian merasa jengkel dengannya.
" Ia sebentar lagi." Ucap Xue Yun dengan singkat.
" Beberapa waktu lalu kamu juga bilang begitu, sebenarnya sebentar bagimu ini berapa lama? Lama sekali bahkan kura-kura yang mau pergi makan saja tidak akan selama ini."
Hao Tian terus menunggu selama 10 menit tapi ia belum keluar juga. Akhirnya karena sudah tak tahan lagi, Hao Tian langsung memegang gagang pintu kamar Xue Yun untuk membukanya dengan raut wajah kesal.
Namun sebelum ia membukanya, pintu kamar Xue Yun terbuka. Kemudian Xue Yun perlahan keluar dengan wajah tak bersalah.
" Ayo kita pergi, aku sudah siap." Terlihat Xue Yun memakai pakaian yang elegan dengan perpaduan warna biru dan putih. Pakaian tersebut adalah pakaian hanfu di mana baju tersebut merupakan pakaian tradisional atau pakaian khas dari kekaisaran yang berada di timur termaksud kekaisaran Song.
Pakaian atas berbentuk kelopak yang mengelilingi leher yang terbuka, baju panjang sampai menutupi bagian rok dan kaki.. Kemudian bagian bawahnya rok, lengannya bermodel panjang dan longgar. Kemudian juga dilengkapi dengan ikat pinggang untuk melilit baju.
Terlihat juga ornamen berupa batu giok yang di gantung di ikat pinggangnya. Melihat itu Hao Tian terkejut beberapa saat karena Xue Yun yang terlihat berbeda dengan biasanya. Di mana ia biasa memakai pakaian yang sederhana saja, namun saat ini Xue Yun tampil beda.
Namun melihat Hao Tian yang terlihat ingin membuka pintunya ia kembali bersuara." Apa sedang kamu lakukan? Apakah kamu berniat membuka pintuku secara diam-diam dan mengintipku saat aku berpakaian?" Ucap Xue Yun dengan tatapan mata yang tajam.
Mendengar perkataan menusuk Xue Yun membuat ia tertegun sebentar sebelum ia sadar dan menjawabnya. " Ap..apa pikir aku gila, aku juga milih-milih jika ingin mengintip wanita. Aku hanya memastikan saja kalau kamu tidak sedang lagi bertapa disana hingga membuat kamu begitu lama keluar."
Namun Xue Yun tidak langsung mempercai perkataan Hao Tian dan kembali berkomentar. " Jangan banyak alasan, aku tahu apa yang selalu pria pikirkan tentang wanita. Kalian para laki-laki selalu melakukan hal mesum saat ada kesempatan bukan? Laki-laki adalah makhluk yang seperti itu."
" Bahkan jika laki-laki adalah makhluk yang seperti itu, setidaknya untuk saat ini, aku tidak punya perasaan sepertii tu. Lagi pula menurutku kami tidak termaksud dalam hitungan wanita." Ucap Hao Tian dengan nada mengejek sambil melihat badan gemuk Xue Yun.
" Apa maksudmu? Hanya karena tubuhku seperti ini, bukan berarti aku tidak termaksud wanita. Lolucon macam apa itu? Jangan benarkan tindakan kotormu."
" Sudah aku bilang, aku tidak berniat mengintip." Sesaat Hao Tian menarik nafas namun ia kembali berbicara. " Sudahlah, nanti kita lanjutkan lagi acara pertengkarannya. Aku sudah lapar, jadi ayo kita segera turun."
Hao Tian langsung berjalan duluan meninggalkan Xue Yun yang masih berniat berbicara. Namun setelah itu, ia juga menyusul Hao Tian.
Tak lama kemudian mereka berdua mulai turun ke lantai satu di mana merupakan tempat makannya. Mereka berdua berjalan ke salah satu meja kosong di sisi jendela dan duduk di sana.
Kemudian seorang pelayan wanita menghampiri mereka berdua. " Mau pesan apa tuan dan nona?"
" Kami pesan makanan yang biasa direkomendasi." Ucap Hao Tian.
" Kalau bisa makanan daging." Sambung Xue Yun.
" Makanan yang saya rekomendasikan adalah daging sapi bakar dan sup rumput laut."
" Baiklah, tolong buatkan dua porsi." Mendengar perkataan Hao Tian, pelayan itu mengangguk dan berjalan ke dapur.
" Bukankah tempat ini sangat bagus?" Hao Tian mencoba memperbaiki suasana karena terlihat Xue Yun masih menatap Hao Tian dengan tatapan tajam seolah masih tidak puas dengan penjelasan Hao Tian sebelumnya. Di mana Xue Yun masih mengira bahwa Hao Tian adalah lelaki mesum.
Xue Yun mengalihkan tatapannya dan cuma menanggapinya dengan sederhana seakan tidak peduli. " Entahlah, bagi saya ini tempat yang biasa saja."
Tiba-tiba Hao Tian teringat sesuatu hal yang pernah ia ingin tanyakan kepada Xue Yun namun tidak sempat. " Sebenarnya ada inginku bicarakan."
" Apa itu? Apakah itu penting? Jika tidak, maka tidak perlu untuk dibicarakan."
" Ini penting, aku ingin bertanya tentang apa tujuanmu ikut denganku." Di sini suara Hao Tian mulai serius.
" Oh itu, aku hanya ingin mencari pengalaman saja. Kebetulan kamu memiliki tujuan yang sepertinya akan berguna dalam menambah pengalaman bertarungku." Namun di sini Xue Yun masih dengan nada biasa saja.
__ADS_1
" Dari mana kamu tahu kalau perjalanan ini akan berguna dalam menambah pengalaman bertarungmu sedangkan aku tidak pernah menjelaskan secara detail tentang tujuanku melakukan perjalanan ini."
" Aku tidak tahu, tapi ini hanya firasatku saja."
" Jadi begitu, hanya firasat saja. Namun kurasa sebaiknya kamu tidak ikut denganku hanya karena firasat saja. Karena apa yang akan aku lakukan adalah sesuatu yang berbahaya."
" Justru karena itu berbahaya makanya aku ingin pergi. Dengan adanya bahaya maka akan lebih bagus dalam menambah dan mengasah kemampuan bertarungku."
Hao Tian ingin kembali berbicara namun ia terhenti karena melihat pelayan yang mulai mendekatinya sambil membawakan makanan yang mereka pesan sebelumnya. " Silahkan dinikmati Tuan dan nona." Ucapnya sambil menghidangkan makanan yang ada ditangannya.
Setelah menghidangkan semua makanan yang telah di pesan, pelayan kembali berjalan pergi.
" Lalu setelah aku menyelesaikan masalah ini, apakah kamu akan kembali ke sektemu?" Hao Tian kembali bertanya.
": Sebaiknya kita jangan dulu membicarakan sesuatu hal yang belum pasti, lebih baik kita makan saja dengan tenang karena aku sudah lapar sekarang." Sesaat mengatakan itu, Xue Yun mulai menyantap makanannya.
Melihat Xue Yun yang sudah tidak ingin berbicara dan sudah mulai makan, Hao Tian juga tidak terlalu memusingkan itu dan ia juga mulai makan.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berdua selesai menyantap makanannya. Xue Yun mulai berdiri dan berjalan pergi.
Melihat itu Hao Tian langsung bertanya. " Kamu mau kemana? Kita masih belum selesai. Masih ada hal yang ingin aku tanyakan."
" Sebaiknya kita simpan saja pembicaraan kita untuk lain waktu, Lagi pula perjalanan kita masih beberapa hari lagi jadi masih ada banyak waktu untuk mengobrol."
" Lalu bagaimana dengan makanan ini, apakah kamu akan pergi begitu saja dan tidak membantu membayarkan semua makanan ini."
" Bukankah seharusnya laki-laki yang mengeluarkan uang jika sedang makan bersama wanita?" Setelah mengatakan itu, Xue Yun kemudian berjalan menuju lantai tiga di mana kamar mereka berada.
Melihat sikap Xue Yun yang dingin membuat Hao Tian menghela nafas." Aahhh kenapa sulit sekali mengobrol serius dengan wanita ini."
" Pelayan.." Hao Tian memanggil seorang pelayan tidak jauh darinya untuk berniat membayar makanan mereka.
" Berapa total semua makanan ini?"
" Oh tidak perlu tuan, semua ini gratis tuan."
" Gratis? Kenapa bisa begitu?"
" Pemilik dari penginapan ini telah berpesan agar semua biaya yang anda di keluarkan oleh anda dan teman anda untuk di gratiskan, baik itu makanan ataupun biaya menginap. Jadi anda tidak perlu khawatir."
" Jadi begitu, maka baiklah. Kamu boleh pergi sekarang." Mendengar perkataan Hao Tian, pelayan itu kemudian pergi kembali ke tempatnya.
" Kurasa aku harus berterima kasih pada tuan putri atas semua ini." Ucap Hao Tian.
****
Pagi harinya tepatnya di sebuah hutan tidak jauh dari kota Bianfu, terdapat tiga orang yang sedang bertarung dengan segerombolan siluman yang ada di sana. Terlihat ketiganya cukup kuat dengan berada di tahap pendekar raja bintang 9 namun lawan mereka saat ini adalah segerombolan siluman dalam jumlah besar yang setara dengan pendekar ahli dan bahkan ada beberapa yang setara dengan pendekar raja. namun yang lebih bahaya lagi, ada satu siluman yang berada di tahap pendekar kaisar.
Hal ini menyebabkan para siluman menjadi masalah yang sangat serius untuk ketiganya. Walaupun ketiga orang itu bukan tandingan ataupun lawan yang sepadan dengan para siluman namun mereka tidak gentar dan terus bertarung.
Namun setelah beberapa lama ketiganya mulai terdesak dan mulai terluka, salah satu dari mereka kemudian berteriak." Semuanya mundur!! Cepat lari ke arah kota Bianfu dan mengalihkan sasaran mereka ke kota itu."
Mendengar itu keduanya langsung mengangguk dan kemudian mundur ke arah Kota Bianfu.
Melihat itu tanpa pikir panjang para siluman mulai mengejar mereka dengan haus darah.
" Kurasa rencana kita berhasil memancing para siluman itu ke arah kota."
__ADS_1
" Bagus, ayo terus berlari dan pertahankan kecepatan dan tetap jaga jarak dari belakang kalian."
" Baik!" Ucap keduanya serentak.
Tak berselang lama, tinggal beberapa ratus meter lagi mereka akan tiba di kota Bianfu. Hal ini membuat mereka mulai bersiap.
Di sisi lain penjaga gerbang kota yang melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan tanah yang tiba-tiba bergetar. Hal ini menyebabkan perasaannya tidak enak dan lebih mengawasi sekitar.
Akhirnya kekhwatirannya menjadi kenyataan. Ia mulai menggunakan teropong untuk melihat sekeliling dari jarak jauh. Tak perlu waktu lama ia mulai menyadari kalau ada segerombolan siluman yang sedang menuju ke arah kota.
Hal ini menyebabkan ia panik segera membunyikan bel tanda ada bahaya." Teng teng teng." Namun ada yang menghentikannya.
" Ada apa? Kenapa kamu pucat seperti itu? Apa ada masalah?" Tanya rekannya yang juga bertugas menjaga gerbang.
" Ada siluman yang sedang menuju kesini dan itu jumlah tidak sedikit. Kira-kira jumlahnya seratus." Ucap prajurit itu dengan wajah panik bahkan bisa dikatakan wajahnya saat ini pucat melihat apa yang ada di depan mereka.
" Apa?" Pria itu kemudian mengambil teropong dari tangan rekannya dan memakainya. Setelah itu mulai terlihat debu-debu yang tebal berterbangan dari arah hutan tapi tetap saja kabut itu tidak bisa menyembunyikan jumlah siluman yang banyak.
Pria itu langsung panik dan segera membunyikan bel lebih keras sehingga bahkan terdengar dari jarak tiga ratus meter dari mereka.
Seketika mendengar itu para penjaga gerbang mulai tersadar akan bahaya dan segera bersiap untuk bertarung. Tak perlu waktu lama ratusan prajurit mulai berkumpul dalam di depan gerbang kota.
" Semuanya siap-siap untuk bertarung." Teriak salah satu prajurit yang merupakan ketua prajurit yang menjaga keamanan
Para prajurit mulai berbaris dan segera menuju ke tempat pos mereka masing-masing demi mempersiapkan proses dalam melindungi gerbang kota dari para siluman. Terlihat juga ada puluhan prajurit pemanah bersiap di atas gerbang guna menghalau serangan para siluman.
" Cepat! Cepat! Cepat! Bergerak secepatnya. Musuh sekarang mulai dekat bersiap untuk bertempur."
"Baik!" Jawab para prajurit serentak.
Di lain sisi para warga kemudian di evakuasi ke tempat aman jauh dari gerbang kota karena jika gerbang berhasil di tembus maka sasaran berikutnya adalah warga yang tinggal di sana.
Para warga kemudian berlari dengan tergesa-gesa menuju ke tempat pengungsian yang telah di di persiapkan.
" Ke sini semuanya, jangan tergesa-gesa, jangan berdesakan." Ucap salah satu prajurit yang mengawal proses evakuasi.
Bahkan ada anak yang terjatuh dan menangis karena tersenggol akibat warga yang mulai berlarian dan berdesakan.
" Aahhhhh, aaahhhh, ibu ibu.." namun anak itu tak kunjung ada yang menghiraukannya. Beruntung ada salah satu prajurit yang melihat anak itu dan segera pergi ke arahnya dan membanya ke tempat aman.
" Kemari anak kecil, aku akan mencari ibumu jadi kamu jangan menangis." Ucap prajurit itu.
Di sisi lain, ketiga orang yang menyebabkan masalah ini sebelumnya masih dalam posisi berlari dari para siluman.
" Sekarang saatnya, lemparkan alat itu." Setelah mendengar perkataan rekannya, ketiganya serentak mengeluarkan sesuatu dari cincin ruang milik mereka masing-masing dan melemparkannya pada para siluman.
Seketika juga dari alat itu keluar kabut yang menutupi pandangan dalam jarak beberapa meter. Hal ini digunakan oleh ketiga orang itu untuk melarikan diri dan membuat para siluman itu kehilangan jejak ketiganya dan malah melampiaskan kemarahan mereka ke kota.
Hal ini menyebabkan sejumlah besar siluman berlari dengan marah ke arah gerbang kota. Hal ini menyebabkan kota dalam keadaan yang sangat genting.
Setelah mereka berhasil melarikan diri dari kejaran para siluman, ketiga orang itu mulai mengawasi kota dari kejauhan di salah satu pohon yang tinggi.
" Sepertinya rencana kita untuk membuat para siluman itu menyerang dan menghancurkan kota berhasil di jalankan.
" Itu benar, sekarang kita hanya menunggu waktunya, setelah keadaan kota mulai kacau maka saat itu kita akan melakukan rencana utama kita yaitu membunuh putri Song Hua."
" Kalau begitu kita harus memulihkan tenaga dalam kita dulu sebelum melanjutkan rencana kita karena kita sudah terlalu banyak memakai tenaga dalam di pertarungan sebelumnya dan mengobati luka kita."
__ADS_1
Ketiganya mengangguk dan mulai duduk bersila di atas pohon sambil menunggu para siluman menghancurkan kota, kemudian ketiganya akan beraksi lagi setelah itu.