
"Apakah kamu tidak percaya?" Agir mengangkat alisnya saat melihat Venix.
Venix tidak menjawab dan mengalihkan wajahnya ke samping.
Di samping Venix, Boro juga terdiam.
Walaupun dia menebaknya sebelumnya, tapi itu hanya tebakan. Bahkan jika itu tebakannya sendiri, Boro juga sangat sulit untuk percaya bahwa itu berhubungan dengan Venix.
"Ngomong-ngomong, suruh orang lain untuk tidak masuk ke sini. Aku hanya datang berkunjung saat ini, tidak berniat buruk." Kata Agir seolah-olah dia telah melihat semua yang telah di lakukan Venix dan Boro secara diam-diam.
Venix dan Boro saling memandang.
Nero telah sampai dan berada di luar. Dan petinggi Desa lainnya yang Boro panggil juga sudah tiba saat ini.
Memikirkan semuanya, Boro memutuskan untuk menahan orang lain agar tidak masuk ke sini.
"Mari kita dengarkan dulu. Jangan biarkan orang lain masuk untuk saat ini. Karena kamu seorang Wave Controller, kirimkan gelombang telepati ke arah itu." Kata Boro sambil menunjuk satu arah dengan jari telunjuknya.
Venix mengangguk dan mengirim telepati ke Nero untuk jangan ikut campur terlebih dahulu untuk saat ini. Setelah berurusan dengan Nero, Venix juga membuat pesan singkat sederhana dan mengirimkannya menjadi gelombang telepati ke luar ruangan.
Setelah menerima pesan dari Venix, para petinggi Desa dan Nero juga menjadi agak tenang. Namun mereka hanya tidak masuk ke dalam, tapi secara diam-diam, mereka juga menyiapkan berbagai rencana untuk terjun langsung bertarung dengan musuh.
Melihat semuanya berjalan dengan baik, Agir tersenyum dan berkata pada Boro : "Jangan khawatir. Aku tidak tertarik dengan harta atau teknik yang ada di desamu ini. Walaupun ini Desa kecil, harta di Desa sini agak banyak. Bisa di katakan hampir mencapai tingkat kota. Tentu saja orang lain akan tergoda. Tapi kamu tidak perlu khawatir tentang itu karena aku adalah orang yang berbeda."
Mendengar Agir mengatakan hal itu, Boro menjadi semakin ngeri dengan pihak musuh.
Musuh di depannya bisa mengetahui berapa banyak jumlah kekayaan yang ada di Desa ini secara tepat. Ini berarti musuh yang ada di depannya telah ada di desa selama beberapa hari!
Di samping, Venix bingung mendengar kata-kata Agir. Bukankah kekayaan tingkat kota terlalu berlebihan? Jika orang lain tahu tentang hal ini, Desa ini akan memiliki banyak musuh. Bahkan ras yang berbeda akan bergabung untuk menyerang Desa ini.
Faktanya, hanya Boro dan Petinggi Desa lainnya yang tahu kekayaan yang Desa ini miliki. Walaupun harta yang di aula pertukaran sangat banyak, tapi itu masih dalam kisaran kekayaan Desa. Perbedaan kekayaan tingkat Desa dan Kota sangat besar seperti langit dan bumi.
"Jika bukan harta dan sumberdaya yang kamu cari, apa yang kamu cari selama ini?" Tanya Boro dengan serius.
"Apa yang aku cari?" Agir tersenyum sambil membaringkan tubuhnya di kursi dan berkata : "Aku lahir di kerajaan Wok, anak langsung dari raja Wok Vanuz. Dari kecil, aku sangat berbakat dan menjadi kuat dalam waktu singkat. Kendali kerajaan Wok di daerah sekitarnya sangat kuat. Jadi aku tidak bisa memuaskan hasratku untuk mengeluarkan semua kekuatanku."
Venix dan Boro tetap diam, terus mendengarkan.
"Setiap pangeran memiliki bakat yang bagus, dan semuanya kuat. Dari awal, aku tidak tertarik dengan tahta kerajaan. Jadi aku membiarkan saudaraku yang lain untuk berjuang di antara mereka sendiri. Dan karena hal itu, aku memiliki hubungan yang baik dengan mereka semua." Kata Agir.
__ADS_1
Memandang atap ruangan, Agir melanjutkan : "Suatu hari, aku datang mengunjungi ayahku dan mengeluh karena tidak ada musuh kuat yang bisa aku lawan. Saat aku mengatakan itu, ayahku berkata padaku 'Jika kamu ingin menemukan musuh yang sangat kuat, pergi jauh dari kerajaan dan menjelajahi seluruh Benua Kegelapan'. Dengan itu, aku membawa banyak prajurit kerajaan untuk pergi ke luar menjelajahi wilayah yang belum di jelajahi di peta kerajaan dan sampai di sini."
Agir menurunkan pandangannya dan melihat Venix dan Boro : "Aku menemukan banyak musuh yang kuat, tapi hanya itu saja. Mereka semua mati dalam satu serangan. Jadi aku secara membabi buta membantai sarang ras lain dan menjarah mereka dengan harapan orang yang sangat kuat akan berhadapan denganku."
Boro menoleh sedikit dan memandang Venix yang ada di sampingnya.
"Itu benar. Manusia bernama Venix itu memiliki kemampuan untuk bersaing denganku dalam hal kekuatan. Hanya saja Levelnya terlalu lemah saat ini, dan dia tetap bukan lawanku." Kata Agir memastikan tebakan Boro.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan saat ini?" Tanya Boro.
Di sisi lain, Venix mengerutkan kening. Kekuatannya di akui oleh orang lain memang sangat bagus. Namun Venix merasa bahwa ini pasti akan merepotkannya di masa depan.
"Sederhana." Kat Agir dengan senyum : "Aku ingin membuat kesepakatan dengan Venix. Jika dia setuju, aku akan memberikannya sumberdaya kultivasi yang sangat besar. Selama waktu itu, dia harus berlatih dan mencapai Level yang sama denganku."
"Lalu setelah itu?" Tanya Venix.
Dengan senyum mengerikan, Agir berkata : "Setelah Level kita setara, kita akan bertarung sampai salah satu dari kita mati."
Venix dan Boro langsung terdiam mendengar itu.
"Jika aku menolak?" Tanya Venix dengan wajah muram.
"Jika kamu menolak?" Agir tersenyum dan berkata : "Aku tahu bahwa makhluk hidup memiliki keinginan atau tanggung jawab untuk melindungi hal yang berharga bagi mereka. Jadi, bagaimana jika aku membantai seluruh penduduk Desa ini?"
Di sisi lain, Boro memandang Venix yang ada di sampingnya. Jika Venix menerima ini, Desa akan aman. Namun sebagai gantinya, nyawa Venix ada di tangan musuh.
Jika bisa, Boro ingin membujuk Venix untuk berkorban demi desa dan teman-temannya. Namun ini adalah hal yang sulit.
Daripada bertindak sekarang, Boro memilih untuk menunggu berkembangnya masalah ini. Dia akan bertindak sesuai dengan situasinya.
Berpikir di dalam benaknya, Venix sebenarnya merasa tawaran Agir ini tidak merugikannya. Entah dia menerima atau menolak tawaran Agir, masa depannya tidak berubah dan Venix tidak bisa lepas dari tangan Agir.
Sebenarnya keinginan Agir terlalu kekanak-kanakan bagi Venix. Itu seperti Agir hanya seperti seorang anak kecil yang menginginkan seorang teman bermain.
"Beri aku waktu." Kata Venix setelah memikirkan semuanya.
"Terserah. Kamu memiliki waktu satu bulan. Aku menginginkan jawabanmu setelah satu bulan." Kata Agir.
Setelah mengatakan itu, sosok Agir menjadi bayangan dan menghilang dari tempat dia duduk.
__ADS_1
"Venix... " Boro ingin mengatakan beberapa patah kata pada Venix.
"Kapten, aku tahu semuanya dengan baik. Jadi kapten tidak perlu khawatir." Kata Venix.
Mendengar itu, Boro terdiam.
Karena mereka pihak yang lemah, mereka tidak bisa melawan.
Faktanya jika bukan karena keinginan aneh Wok Agir, perlakuan ini sudah sangat baik di Benua Kegelapan.
"Aku akan kembali ke rumah jika tidak ada sesuatu yang lain. Aku tidak akan lari. Bahkan jika aku lari, Goat Beast bernama Agir itu bisa menangkapku di tengah jalan." Kata Venix..
"Baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Semuanya terserah kamu." Kata Boro.
Venix mengangguk dan pergi keluar dari ruangan ini.
Saat Venix keluar dari rumah Boro, Venix melihat sosok Nero dan banyak pejuang desa yang berkumpul tidak jauh dari rumah Boro.
Berjalan mendekati Nero, Venix membawa Nero dalam pelukannya.
Di jalan, dia di tanyai oleh beberapa Pejuang Desa tentang apa yang terjadi.
Namun Venix dengan sopan menjawab bahwa dia tidak memiliki hak untuk menceritakan apa yang terjadi, dan hanya kapten Boro yang bisa menjelaskan semuanya ke semua orang.
Dengan itu, Venix berjalan kembali menuju rumahnya.
Melihat sosok Nero di pelukannya, Venix sadar bahwa saat ini, mungkin hanya Nero yang akan tetap bersama dengannya menjalani semua kesulitan bersama.
Venix tidak akan berpikir Kapten dan orang lainnya adalah seseorang yang jahat jika mereka mengetahui kesepakatan yang di tawarkan oleh Agir sebelumnya.
Mengorbankan dirinya untuk Desa? Bagi orang lain, mungkin ini adalah hal yang kejam.
Tapi seperti itulah cara bertahan hidup. Jika Venix membuat keputusan yang akan membantai banyak penduduk desa, Venix juga akan merasa bersalah.
Bisa di katakan situasi Venix seperti sebuah kesempatan bagi dirinya sendiri.
Tidak ada yang di rugikan. Pertanyaannya adalah apakah dia mampu mengambil kesempatan ini dan bertahan? Semuanya bergantung pada dirinya sendiri.
Dengan mata tegas, Venix mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Di masa depan, hanya dirinya sendiri dan Nero yang bisa di andalkan. Sesulit apapun jalan yang dia lalui, Nero akan tetap bersamanya.
Tidak seperti teman-temannya yang lain dan juga kapten Boro. Mereka bukan mengkhianatinya, tapi mereka hanya tidak mampu berjalan di jalan yang sama dengan Venix.