Legendary Summoner

Legendary Summoner
Chapter 88


__ADS_3

Dunia Aether, Benua Kegelapan.


Di bagian tengah Benua Kegelapan, rumput dan tumbuhan lainnya memiliki warna yang redup seolah-olah akan mati di detik berikutnya.


Seekor kelinci berjalan di daerah ini, dengan hati-hati, kelinci itu melihat sekelilingnya untuk memastikan situasi aman.


Memastikan situasi aman, kelinci itu segera bergegas ke depan, berlari sekuat tenaga.


Kelinci berlari cukup cepat, hingga menerbangkan dedaunan kering yang ada di tanah. Saat dia akan sampai di sebuah lubang yang tidak jauh di depannya, sesuatu tiba-tiba muncul.


Srakkk! Krakkk!


Sebuah tangan tulang muncul dari dalam tanah, dan dengan tepat menekan kelinci yang sedang berlari hingga mati ke tanah.


Darah kelinci berceceran di tanah, dan tangan tulang yang menekan kelinci itu mengangkat telapak tangannya ke udara dan meneteskan darah kelinci yang baru saja dia bunuh.


Beberapa saat kemudian, tangan tulang yang lainnya muncul dari dalam tanah, menggunakan tanah sebagai medianya, kedua tangan tulang meletakkan telapak tangannya di tanah dan menekannya dengan kuat ke bawah sehingga tulang kepala kuda muncul dari dalam tanah.


Menghabiskan sedikit waktu, makhluk tengkorak itu akhirnya mengeluarkan seluruh tubuhnya dari dalam tanah.


Sosoknya memiliki bentuk tulang yang mirip dengan manusia, hanya saja kepalanya adalah kepala kuda.


Humanoid tengkorak itu berdiri di atas tanah, mengangkat kepalanya ke langit, tengkorak Humanoid berteriak ke langit.


Setelah berteriak, Humanoid tengkorak menoleh ke sisi kanannya.


Tanpa diduga, sebuah cahaya oranye muncul di depan mata tengkorak Humanoid, dan cahaya oranye itu terbang dengan cepat sehingga tengkorak Humanoid tidak memiliki waktu untuk menghindar, dan cahaya oranye itu menabrak tubuhnya dengan keras.


Ledakan!


Tengkorak Humanoid yang baru saja hidup sebelumnya hancur berkeping-keping akibat cahaya oranye yang menabrak tubuhnya sebelumnya.


Cahaya oranye itu menabrak sebuah batu besar tidak jauh dari tengkorak humanoid berada, segera sosok manusia yang babak belur terlihat saat tubuhnya membuat lubang di batu besar dan menjebak tubuhnya di dalam.


Sosok manusia itu memiliki jenis kelamin pria, dia memiliki wajah yang babak belur dengan darah di sudut mulutnya. Rambut pria manusia itu cukup panjang, dia mengikatnya ke belakang seperti seorang wanita.


Pakaian berwarna hitam yang dikenakan olehnya memiliki bekas pertarungan yang sengit.


Pria manusia ini adalah Venix.


Setelah menghabiskan waktu yang lama di Reruntuhan dunia kecil, rambutnya tumbuh panjang.


Venix mengeluarkan tubuhnya dari lubang batu besar, dan berdiri dengan susah payah.


"Sial! Dia bahkan tidak mengendur sedikitpun dan menggunakan kekuatan penuhnya dari awal. Jika itu aku di masa lalu, 90 persen kemungkinan aku akan mati!"


Venix menyeka darah di mulutnya dan melihat cahaya oranye yang datang dengan cepat ke arahnya.


"Tukar posisi!"


Venix mengatakan itu di dalam benaknya.


Segera sosok Venix menjadi kabur dan menghilang di tempatnya, dalam sekejap, sosoknya digantikan oleh Harimau Hitam bergaris ungu, dan menggantikan tempatnya.


Itu adalah Nero!


Nero dengan angkuh maju ke depan, dan menabrak cahaya oranye yang datang kepadanya.


Ledakan!


Tabrakan keduanya membuat ledakan dan menghancurkan pepohonan dan batu yang ada di sekitar mereka.


Di depan Nero, sosok Agir yang menggunakan pedang besar dua tangan setinggi 150cm dan berbenturan dengan kepala Nero.


"Kekuatanmu tidak buruk."


Agir mengucapkan kalimat itu dengan lembut. Pedang besarnya bergetar saat mengadu kekuatan dengan kepala Nero yang keras seperti besi.


"Namun, itu tidak cukup!"


Agir berteriak, dia melambaikan pedang besarnya dengan kedua tangannya, dan membuat Nero terbang ke belakang, tubuhnya menghantam bebatuan dan menghancurkan batu besar menjadi serpihan kecil.


"Hei hei hei, lawanmu adalah aku!"

__ADS_1


Sosok Venix berdiri di belakang Agir, dan mengatakan kalimat itu.


Ada hal yang aneh pada Venix saat ini. Di samping kedua tangannya, sebuah cakar berwarna Biru gelap muncul di sana.


Setiap sisi cakar memiliki empat buah cakar, ini adalah kemampuan yang di ciptakan oleh Venix dengan Royal Sword miliknya sebagai intinya.


Agir berbalik, melihat sosok Venix, dia tidak begitu terkejut. Venix telah menggunakan kemampuan bertukar tubuhnya berkali-kali sebelumnya.


Agir memegang pedang besarnya dengan kuat, dia melambaikan pedang besarnya ke depan, menciptakan cahaya pedang seperti tsunami dan menyerang ke tempat Venix berada dengan kecepatan yang cepat.


Ledakan!


Venix menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya, dan membuat Cakar Royal Sword menahan serangan Agir.


"Kamu memang tidak mengecewakan aku." Agir berkata dengan tenang sambil melihat Venix yang berdiri di udara.


"Terima kasih. Jadi, bukankah lebih baik kita berhenti di sini?" Venix berkata dengan santai, namun dia telah membentuk Domain di sekitarnya, tidak mengendurkan kekuatannya sedikitpun.


Agir menyeringai, menggenggam pedang besarnya dengan kedua tangannya dengan erat, Agir menyerang ke tempat Venix berada.


"Dalam mimpimu!"


Ledakan!


Agir tidak berniat untuk membatalkan pertarungan ini, dan dengan sekuat tenaga menyerang Venix tanpa keraguan.


Segera pertarungan antara keduanya dimulai lagi.


Ledakan!


Ledakan!


Ledakan!


Keduanya bertarung dengan ganas, dan menghancurkan daerah yang ada di sekitar mereka.


Para Zombie yang baru saja bangun dan muncul di tanah, hancur dalam sekejap akibat pertarungan yang disebabkan oleh Venix dan Agir.


Pertempuran berlangsung dalam waktu yang lama.


Di daerah yang hancur berantakan akibat pertempuran, Venix berdiri di tanah saat menatap Agir yang sedang bersandar di sebuah pohon.


"Hah... Hah... Hah..."


Venix berdiri di tanah dengan terengah-engah, dia menggunakan Royal Sword miliknya untuk mengelilingi Agir yang saat ini sedang bersandar di sebuah pohon.


"Tidak buruk... Kamu memang orang yang layak dan orang yang ingin aku lawan..." Agir berkata dengan suara terputus-putus. Tubuhnya penuh dengan luka dan lubang. Di dadanya, sebuah luka yang dalam terus menerus menyemprotkan darah dan menghilangkan kekuatannya secara perlahan.


"Sudah kubilang bukan? Aku... Berbeda dari sebelumnya!" Venix berkata dengan senyum di sudut mulutnya dan memperlihatkan giginya.


"Hehe... Bahkan jika kamu berada di atas angin saat ini... Apakah kamu bisa melakukan langkah terakhir?" Agir dengan susah payah berdiri dengan bantuan pohon yang ada di belakang punggungnya.


Segera energi di sekitar tubuhnya meningkat dan jauh lebih kuat dari sebelumnya!


"Memang... kamu tidak akan pernah menyerah dan keras kepala..." Venix tidak menghentikan Agir yang sedang mengumpulkan kekuatannya untuk terakhir kalinya.


"Aku sudah mengatakannya..."


Agir mengambil pedang besar yang ada di tanah, dan memegangnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak bercanda!"


Ledakan!


Agir langsung menyerang Venix dengan pedang besarnya tanpa ragu-ragu.


Segera pertarungan kembali terjadi.


Pertarungan di antara keduanya berlangsung lebih lama.


Semua burung bertebaran di langit, berbagai pohon runtuh ke tanah.


Setiap tabrakan yang mereka buat membuat ledakan di udara.

__ADS_1


Seiring berjalannya pertempuran, medan pertempuran mereka berubah-ubah, satu mundur dan satu mengejar, situasinya bergantian berulang kali.


Langit perlahan menjadi gelap dan matahari terbenam.


Pertarungan masih berlanjut di udara.


Secara perlahan, Agir yang sebelumnya telah kalah, tiba-tiba memojokkan Venix dengan kekuatannya sendiri, dan berada di atas angin.


Namun, Venix tidak khawatir dan memiliki wajah yang tenang walaupun dia tahu bahwa posisinya saat ini tidak menguntungkan.


"Tukar posisi!"


Venix meneriakkan kata-kata itu di dalam benaknya, segera sosoknya menghilang, dan Nero yang saat ini tubuhnya di selimuti oleh Api ungu muncul di depan Agir.


"Sudah berakhir!"


Tubuh Nero langsung berubah menjadi Api ungu dan menerjang ke depan dan menyelimuti tubuh Agir dengan Tubuh Api Ungunya.


Saat tubuhnya diselimuti oleh Tubuh Api Nero, Agir terkejut. Dia merasakan tubuhnya secara perlahan terbakar dan terluka. Dia bahkan tidak mampu menyingkirkan tubuh Api Nero ini dari tubuhnya.


Kemampuan apa ini? Agir tidak bisa menebak kemampuan Nero.


Dia tahu kemampuan ini di masa lalu, namun, api yang menyelimutinya saat ini berbeda dari masa lalu!


Secara perlahan, tubuh Agir rusak, dan darah yang keluar dari tubuhnya langsung terbakar kering oleh tubuh Api Nero.


"Memang, hanya ada satu jalan."


Venix muncul di belakang Agir, dan berkata dengan tenang.


"Yaitu... Membunuhmu..."


Delapan Royal Sword muncul di udara, dan langsung menyerang ke arah Agir berada.


Cratt!


Cratt!


Cratt!


Delapan Royal Sword menembus tubuh Agir satu persatu, dalam sekejap, momentum kekuatan Agir berkurang dengan cepat.


"Jika kamu pingsan dan tidak sadarkan diri, mungkin pertarungan ini akan selesai sejak lama."


Venix berjalan ke depan, dan berdiri di hadapan Agir yang saat ini di selimuti oleh Api Ungu dan Delapan Royal Sword yang menusuk seluruh tubuhnya dengan kejam.


"Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku..."


Agir mengangkat kepalanya dan melihat sosok Venix. Secara perlahan, energi kehidupannya menurun dan menghilang dengan cepat.


Namun Agir tetap memiliki wajah yang tenang tanpa sedikitpun penyesalan di wajahnya.


"Pertarungan ini dimenangkan olehmu..."


Saat mengatakan itu, Agir menutup matanya dengan tenang. Segera energi kehidupan menghilang dari dalam tubuhnya dan membuat tubuhnya yang berdiri di udara, jatuh ke tanah dengan cepat.


Gedebuk!


Nero menarik kembali tubuhnya yang sebelumnya menyelimuti tubuh Agir, dan datang ke sisi Venix.


"Apakah tidak apa-apa?" Nero bertanya pada Venix yang saat ini sedang memandangi tubuh Agir yang tergeletak di tanah.


"Ini adalah pilihannya sendiri." Venix berkata dengan tenang.


Tubuh Agir secara perlahan layu dan kehilangan kekuatannya, tanah di area ini secara perlahan menyerap energi tubuh Agir dan masuk ke dalam tanah.


Ini adalah keunikan Tanah bagian tengah Benua Kegelapan, mereka menyerap setiap makhluk hidup yang mati ke dalam tanah.


"Sebagai rekan dan musuhnya, aku cukup mengaguminya."


Venix berkata dengan tenang saat tubuh Agir secara perlahan membusuk hingga menghilang sepenuhnya ke dalam tanah.


Hari ini, Wok Agir yang seorang jenius tingkat atas, mati di area tengah Benua Kegelapan!

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


End of Volume 1 - Menemukan Jalan Pulang


__ADS_2