
*******
..."Hari berganti hari, bulan pun terus berganti bulan. Namun hati masih tetap sama seperti pada awalnya....
Tak terasa waktu yang dijalani Jihan sudah cukup lama. Dan waktu yang digunakan nya mengagumi bayangan pun sudah cukup lama.
Sekarang keadaan toko pun sudah kembali normal. Bu Kiran sudah mulai rutin untuk datang ke toko. Hanya sesekali dalam satu Minggu terkadang Bu Kiran tidak datang karna harus mengantarkan ibu mertuanya check-up.
Sekarang mertua Bu Kiran juga sudah tinggal dirumah nya, karna tidak ada lagi yang menjaga di tempat nya. Selain itu agar tidak perlu bolak-balik keluar kota .
\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini dengan semangat Jihan membuka toko dan tidak lupa diawali dengan Basmalah. Dan tak lupa pula memohon dan memanjatkan doa pada sang Ilahi yang maha pemberi rezeky.
Suasana pagi ini masih tentram karna belum ada pembeli, semua pedangang toko masih sibuk untuk menata barang dagangannya. Hanya toko mas itu saja yang terkadang datang lebih siang dari pedagang di toko-toko lain nya .
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Apakah ada hijab keluaran terbaru ?? "tanya pembeli
"Ada Bu, mari silahkan masuk saja ke dalam. Ibu bisa memilih sesuai dengan selera ibu.. "jawab Jihan dengan senyuman yang sangat tulus.
Ibu Sinta adalah langganan di tokoh hijab itu. Setiap Minggu nya pasti Bu Sinta selalu berbelanja di toko tempat Jihan bekerja.
" Semua jenis Hijab ini begitu cantik.Tapi diantara semua Hijab yang cantik ini. Tentu kamu yang paling cantik. " kata Bu Sinta menggoda Jihan.
"Hmm. Ibu ada-ada saja. " jawab Jihan sambil tersenyum.
"Apakah kamu mau menjadi menantu ibu ? "Kata Bu Sinta tersenyum, tapi dari raut wajah nya terlihat serius.
Jihan yang mendengar perkataan Bu Sinta terbatuk-batuk.
"Kenapa Bu Sinta bercanda nya begitu banget sih 🙄. "Batin Jihan.
"Ibu bercanda kog nak Jihan. Jangan masukin ke hati yah . "kata Bu Sinta tersenyum.
Jihan hanya menyambutnya dengan senyuman, dan tak ingin memperpanjang nya.
Karna sudah biasa bagi Jihan di goda para ibu-ibu konsumen nya. Dan semua sama , ingin Jihan jadi menantu nya. 😂😂
__ADS_1
Bu Sinta sudah memilih beberapa jenis Hijab yang disukainya. Di toko Bu Kiran ini semua jenis hijab dijual, mulai dari harga yang standar sampai dengan harga yang cukup lumayan mahal.
Bukan hanya Bu Sinta langganan fantastis di toko itu, tapi Bu Sinta termasuk dalam salah satu pelanggan yang berbelanja tak tanggung-tanggung.
\*\*\*\*\*\*\*
"Berapa semua total nya Nak Jihan ? "tanya Bu Sinta.
"Semua total nya 700 ribu ibu. Apa masih ada tambahan lagi Bu ? "Lanjut Jihan bertanya.
"Untuk sementara itu aja deh dulu, maksud ibu Tambahan nya yah kamu jadi menantu ibu. "kata Bu Sinta lagi sambil tertawa kecil.
"Ibu ada-ada saja . "kata Jihan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Bu Sinta pun kembali tersenyum, lalu memberikan uang sejumlah belanjaan nya.
"Baiklah, ibu pergi dulu yah. Minggu depan ibu datang lagi. "kata Bu Sinta.
"Terimakasih ibu. "lanjut Jihan sembari mengantar Bu Sinta untuk keluar dari toko.
Hari ini Bu Kiran datang terlambat ke toko.
Dari raut wajah nya sepertinya Bu Kiran sangat kelelahan atau mungkin Bu Kiran sedang kurang sehat.
"Ibu sudah datang " kata Jihan sambil mengambil barang terletak dekat pintu toko.
"Iya, Rasa nya sekarang ini ibu mau pingsan saja Jihan. "kata Bu Kiran
"Ada apa ibu ? Apa ibu sedang sakit ? "tanya Jihan dengan wajah cemas.
"Tidak, ibu baik-baik saja. Hanya saja saat ini ibu sedang ada masalah yang mengganggu fikiran. "Jawab Bu Kiran
"Masalah seperti apa pun itu, ibu harus tetap menjaga kesehatan ibu. Tidak boleh terlalu memikirkan nya. "Kata Jihan sambil memberikan segelas teh hangat kepada Bu Kiran.
"Iyah Jihan. Terimakasih. "Jawab Bu Kiran dengan senyuman.
\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Aktifitas di toko sekarang mulai kembali seperti biasanya. Ada Bu Kiran, dan Jihan pun tidak terlalu sering pulang terlambat lagi. Karena Bu Kiran tidak mengizinkan Jihan pulang di jam yang lewat dari seharusnya. Bagi Bu Kiran , apabila jam kerja sudah habis. Maka perkerjaan yang belum selesai maka boleh di tunda dan dilanjutkan esok hari.
Bu Kiran sedang melihat Jihan yang duduk di kursi depan toko, dan herannya Bu Kiran tidak mengerti mengapa Jihan selalu menatap kearah toko yang di seberang itu.
Karena Bu Kiran penasaran, lalu ikut duduk disamping Jihan tanpa sepengetahuan Jihan. Mungkin karena Jihan terlalu fokus melihat kesana, jadi tidak tahu bahwa Bos nya itu sedang ikut duduk disampingnya.
Bu Kiran pun mengikuti arah pandangan mata Jihan, lalu bertemu dengan sosok seseorang di pantulan cermin itu. Bu Kiran yang bingung apa yang dilihat Jihan sebenarnya.
"Jihan, kamu sedang melihat apa sih ? "tanya Bu Kiran.
"Aku sedang mengagumi bayangan di cermin itu . "Jawab Jihan tanpa sadar karena sedang fokus memandangi bayangan itu
Lalu Jihan berputar dan melihat Bu Kiran ada di dekatnya. Bu Kiran yang mendengar jawaban itu menunjukkan wajah bingung dan menuntut penjelasan .
Jihan hanya tertawa melihat wajah Bu Kiran yang kebingungan.
"Kamu harus bertanggungjawab Jihan. "Kata Bu Kiran.
"Loh, tanggungjawab apa Bu ? "Jawab Jihan heran.
"Kamu harus tanggungjawab karena membuat ibu bertanya-tanya. "Lanjut Bu Kiran.
"Apa yang ingin ibu tanyak ? "Kata Jihan.
"Tadi kamu bilang sedang melihat bayangan di cermin itu. Maksud nya siapa yang kamu lihat disitu ? "kata Bu Kiran menunjuk Cermin di toko sana .
Jihan hanya tersenyum, bingung akan menjawab apa kepada Bu Kiran.
"Bu, Jihan memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari ibu. "kata Jihan dengan wajah yang di tekuk.
"Ceritakan lah nak, aku ini adalah ibu mu saat di sini. Anggap saja ibu ini sebagai sahabatmu. "kata Bu Kiran dengan senyuman hangat.
"Bu, apakah pantas Jihan menyukai seseorang yang menurut Jihan itu sempurna ? Jihan gak tahu Bu sejak kapan rasa suka itu ada. Bahkan Jihan hanya melihatnya dari bayangan itu. Tanpa melihat wajah aslinya saja dan hanya dari bayangan Jihan sudah jatuh cinta . "kata Jihan dengan wajah sedih.
Bu Kiran mengerti arah pembicaraan Jihan, dan paham siapa yang dikaguminya saat ini.
"Lalu, kenapa jika kamu jatuh cinta nak ? "tanya Bu Jihan.
"Bu, Jihan merasa saat ini sedang mencintai seseorang yang jauh di atas Jihan. Ibu kan tahu Jihan itu hanya orang yang sederhana. Dan dia mungkin orang yang mapan Bu. Entah apa, Jihan sering berpapasan dengannya saat hendak ke mushollah Bu. Satu hal yang membuat Jihan mengagumi nya adalah karena kecintaan dan ketaannya pada Allah. " Kata Jihan menunduk.
"Tidak salah Jihan, apabila kamu mencintai seseorang. Apalagi dia adalah orang yang rajin beribadah. Masalah dia adalah orang yang mapan atau orang yang berada. Bukankah Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling kenal. ?
"Dengarlah nak, sebenarnya harta tidak menjamin kebahagiaan. Dan tidak selamanya juga orang kaya selalu berjodoh dengan orang kaya nak.
"Apabila Allah sudah menuliskan nama mu dan namanya yang bersanding di Lahul Mahfudz. Maka sejauh apapun dan di belahan dunia manapun dia berada. Percayalah dia akan datang kepadamu dengan cara apapun. "kata Bu Kiran sembari mengelus pundak Jihan.
Jihan tersenyum mendengar perkataan Bu Kiran.
"Ingatlah nak, jangan terlalu merendahkan diri. "Jika kamu mengaguminya, mengadu lah kepada sang Khaliq. Bawa saja dia di dalam doa mu. "Lanjut Bu Kiran .
"Iyah Bu. Terimakasih ibu sudah membuat Jihan mengerti. "Kata Jihan tersenyum.
"Tidak masalah Jihan. Sekarang sudah jadwalnya toko tutup. Ayo kita pulang . " Kata Bu Kiran beranjak dari kursi.
"Tapi kan Bu masih ada perkerjaan. Bagaimana Jika Jihan kerjakan ini sebentar lagi. "Kata Jihan.
"Tidak Jihan, perkerjaan bisa dilanjut besok saja. Sekarang kita pulang. Ibu akan mengantar mu, sekalian ibu ingin sekali makan ketoprak di warung Pak Ujang. "kata Bu Kiran.
"Baiklah Bu. "Lanjut Jihan sambil mengambil tas nya lalu segera menarik pintu toko lalu menutupnya.
Jihan dan Bu Kiran berjalan bersamaan, saat berada di depan toko mas itu. Jihan tidak lupa memandang .
Tapi saat Jihan memandang ,arah tatapan lelaki itu juga memandang Jihan dengan wajah bingung. Tatapan mereka pun bertemu. Namun, hanya sebentar. Karena Bu Kiran sudah menarik tangan Jihan.
**
Sebelum pulang, Bu Kiran mengajak Jihan makan ketoprak di warung langganan nya sejak mula Bu Kiran meniti usahanya.
Mereka sangat akrab, sepeti sahabat. Hanya usia mereka yang jauh berbeda. Tapi Bu Kiran tidak pernah mengganggap Jihan seperti anak buah layak nya bos dan bawahan.
__ADS_1
Bu Kiran selalu memperlakukan Jihan dengan sangat baik. Seperti anak sendiri dan seperti sahabat baginya.