Love Behind In The Mirror Image (Pengagum Bayangan Cermin )

Love Behind In The Mirror Image (Pengagum Bayangan Cermin )
~Jihan yang manja


__ADS_3



Tepat hari ini, usia kandungan Jihan sudah masuk bulan ke 4. Jihan tidak terlalu merasa mual lagi seperti awalnya kehamilan nya. Nafsu makannya juga sudah bertambah.



"Mas, apakah menurut mu aku bertambah gemuk ? "Tanya Jihan sambil menatap dirinya yang terbungkus hijab dan gamis di pantulan cermin.



"Hmm. Tidak apa-apa sayang. Mas lebih suka melihatmu bertambah berisi seperti itu. "Kata Rayhan masih dalam keadaan fokus di depan laptopnya.



Jihan berjalan mendekati Rayhan, dan naik ke atas ranjang lalu tanpa permisi Jihan meletakkan kepalanya di atas kaki Rayhan yang sedang bersila.



Rayhan hanya tersenyum melihat tingkah Jihan yang semakin hari semakin manja. Mungkin itu adalah bawaan dari hormon kehamilannya.



Rayhan masih tetap melanjutkan pekerjaannya, mungkin itu sangat penting sehingga tak bisa ditunda. Sambil sesekali mengelus pipi dan juga kepala Jihan.



Jihan yang terasa nyaman berada di dekat Rayhan dan sentuhan lembut Rayhan membuat nya cepat menganguk. Lihat saja masih pukul 19.45 Jihan malah tertidur dengan nyenyak nya.



"Kamu masih bisa tidur dengan posisi seperti ini sayang ? "Ucap Rayhan mengelus pipi istrinya yang semakin hari semakin chaby.



Pekerjaan kantor Rayhan akhirnya selesai pukul 21.00 WIB. Sedangkan Jihan masih setia berada di dekat Rayhan dengan posisi kepala masih di atas kaki Rayhan.



Rayhan pun membangunkan istrinya untuk melakukan sholat isya sebelum tidur.



"Sayang, ayo bangun dulu. Kamu belum sholat isya kan. Mari kita sholat bersama.."Kata Rayhan sembari menepuk pelan lengan Jihan.



Jihan melenguh dan terbangun dari tidurnya. Masih ingin bermanja dengan suaminya. Jihan menaikkan kedua tangannya ke arah Rayhan pertanda minta di gendong oleh Rayhan.



Rayhan yang sigap akan hal itu membopong tubuh Jihan dan membawa nya masuk ke kamar mandi. Lalu menurunkan nya dengan perlahan.


__ADS_1


"Ayo berwudhu dulu sayang...



Jihan pun mulai membuka Hijab yang menghiasi kepalanya.



Usai berwudhu, Rayhan dan Jihan pun sholat isya berjamaah dengan khusuk. Rayhan sebagai laki-laki adalah imam bagi Jihan yang harus senantiasa membimbing, mengayomi, menyayangi dan mencintai istrinya.



Di tangan lelaki yang tepat, seorang wanita akan menjadi ratu yang menduduki posisi yang tertinggi.



\*\*\*\*



Di tempat lain ada Rio yang sedang fokus bekerja, untuk laporan kegiatan perusahaan yang ada di Australia. Tangan kanan Rayhan yang berada di sana sudah mengirimkan semua berkas nya kepada sekretaris Rio.



"Huh. Pekerjaan hari ini sangat melelahkan. Membuat semua badan ku pegal dan letih. "Lirih Rio.



Karena lelah nya, Rio tertidur di sofa dengan baju kerja yang masih melekat di tubuhnya. Hingga alarm ponselnya berdering menandakan waktu shubu akan segera datang.




Sholat shubuh berjamaah di masjid itu sangat lah khusuk. Banyak jamaah nya yang laki-laki mulai dari anak-anak dan juga para orang tua. Selesai sholat berjamaah, Rio enggan untuk segera pulang. Ia pun berjalan santai masih dengan sarung yang digunakan nya. Berjalan menyusuri jalan setapak dan menghirup udara shubuh yang menyejukkan.



Di ujung jalan lain, ada seorang wanita yang juga baru pulang dari masjid. Mengunakan gamis hijau mudah dan ditangannya masih memegang mukenah nya.



Aruna yang malam itu sedang menginap di rumah muallimah karena kehujanan dan tidak bisa pulang. Masjid itu tidak terlalu jauh dari apartemen milik Rio.



Aruna terus berjalan dan memandang lelaki yang berjalan agak jauh di depannya.



"Mengapa harus berfikir bahwasanya lelaki itu adalah dia. Apa sebegitu kagum nya kah aku sehingga wajahnya terus saja terbayang-bayang di benakku.



Dan ternyata lekaki itu adalah lelaki yang selalu hadir di fikirannya. Dengan duduk dan bersender di kursi yang ada di ujung jalan setapak itu.

__ADS_1



Ada rasa ragu dihantinya untu lewat dari depan lelaki itu. Tapi tidak ada jalan lain untuk menuju rumah muallimah. Hanya itu jalan satu-satunya. Akhirnya Aruna memberanikan diri untuk lewat dari depan Rio dengan wajah tertunduk .



Rio yang melihat wanita itu sedikit familiar baginya. Lalu menyapa dengan hormat.



"Assalamu'alaikum nona. "Sapa Rio



"Wa'alaikum salam. "Jawab Aruna dengan wajah dan kepala yang masih tertunduk.



Tentu Rio mengenal suara wanita itu, bagaimana tidak. Suara Aruna memang spesial dan memang terdengar sangat merdu.



"Nona Aruna.... Hendak kemana kah ? "Lanjut Rio bertanya.



Aruna yang kaget, bahwa Rio dapat mengetahui bahwa itu adalah dirinya.



"Saya hendak pulang ke rumah Muallimah, semalam aku kehujanan. Jadi tidak bisa pulang kerumah. "Tutur Aruna menatap Rio lalu memalingkan wajah nya kembali.


Untuk menatap wajah Rio, Aruna tidak berani. Kegugupan dan kecanggungan antara mereka masih terlihat jelas.



"Apakah kamu juga baru pulang dari masjid ? "Tanya Rio melihat Aruna yang masih memegang mukena nya.



"Iya benar. Aku baru pulang dari masjid Mas. "Ucap Aruna.



"Sekarang kamu lebih rajin ya untuk sholat. Aku merasa senang akan hal itu.



"Bukan rajin Mas, hanya saja ini kan kewajiban. Dan aku sedang mencoba untuk memenuhi kewajiban ku terhadap sang pencipta.


Terlalu banyak nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Bukan kah sangat tidak adil apabila kebaikan yang Allah berikan kepada kita tetapi tak kita balas dengan perintah nya yang harus dituruti.



Rio tersenyum mendengar semua ucapan Aruna. Dulu Aruna adalah wanita yang suka blak-blakan, tutur kata yang tak ada sopan santunnya. Bahkan berpakaian layaknya seorang wanita jahiliah.

__ADS_1



"Jangan melihat seseorang dari masa lalu nya, bahkan seseorang yang dulu pernah ingin membunuh Rasul. Bahkan di makam kan di samping Rasul.


__ADS_2