
Satu Minggu sudah Aruna berada di Bandung, di tempat paman dan bibinya. Aruna tidak pernah mengaktifkan ponselnya karena khawatir Jihan akan terus menelpon dan menanyai dimana dirinya saat ini.
"Nak, nanti malam ada teman paman mu datang untuk malam bersama, namanya pak Abdi. Dia punya seorang anak laki-laki yang umurnya selisih 3 tahun dengan mu. "Ucap Bibi Aruna
"Emang nya kenapa Bi' jika dia punya anak laki-laki. "Tanya Aruna.
"Sayang, umur mu saat ini sudah cukup untuk usia pernikahan. Disini hanya tinggal bibi dan paman keluarga kedua mu sayang. Jadi Paman dan Bibi berharap kamu cepat menikah, supaya ada yang menjaga kamu nak. "Kata Bibi sembari membelai lembut kepala Aruna.
Aruna terdiam untuk sesaat, apa mungkin aku ingin di jodohkan. Dan apa mungkin aku bisa untuk hidup dengan orang yang tidak aku cintai. "Batin Aruna.
"Tidak apa-apa jika nanti kamu tidak ingin di jodohkan dengan anak pak Abdi. Hanya saja Bibi pinta malam ini kamu ikut ya untuk makan malam bersama. "Lanjut Bibi.
Sebelum Bibi Aruna berlalu, bibi nya masih sempat berucap.
__ADS_1
"Sayang, terkadang kita di pertemukan dengan yang bukan kita cintai pada awalnya. Tetapi seiring berjalannya waktu, rasa cinta akan muncul di antara kedua hati. Terkadang sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah.
Aruna hanya merenungi setiap kata yang di ucapkan oleh Bibi nya. Ada rasa sesak di dada nya mengingat seorang yang sangat dia cintai hingga saat ini. Meski mungkin lelaki itu tidak akan membalas cintanya.
Pukul 07.00 malam, Pak Abdi beserta anak lelakinya yang bernama Rendi pun datang memenuhi undagan Paman Aruna. Pak Abdi dan Paman nya Aruna adalah sahabat baik dari kecil. Mereka sempat sepakat dahulu apabila memiliki seorang putri dan putra, mereka akan menjodohkan anak-anak mereka. Namun sayang nya putri Paman Aruna tidak ingin di jodohkan dan lebih memilih untuk mencari pendamping nya sendiri.
Makan malam di rumah itu di sangat tertib hingga selesainya. Lanjut mereka mengobrol di ruang tamu, dengan Aruna yang membawa kopi di atas nampan dan beberapa cemilan.
"Keponakan mu ini sangat cantik Budi " Kata Pak Abdi .
Yah, Budi adalah nama dari Paman Aruna dan Bibi nya bernama Jenni.
Rendy memiliki paras yang tampan, dengan manik hazel berwarna coklat muda. Rambut yang pirang, kulit putih dan juga postur tubuh yang tinggi.
"Biarkan mereka saling mengenal dulu. "Kata Paman Aruna memecah ketegangan di wajah Aruna. Karena Pak Abdi ingin mempersunting Aruna untuk anak semata wayangnya.
Aruna yang panik akan hal itu, tak menyangka akan di jodohkan dengan Rendy.
"Apakah kisah cinta ku ini akan segera berakhir karena perjodohan ini ?? "Batin Aruna.
*****
Pagi itu Aruna sengaja bangun lebih awal, karena mendapat tamu bulanan nya jadi Aruna tidak melakukan ibadah Sholat seperti bisanya.
__ADS_1
Aruna berjalan mengikuti jalan setapak yang hanya berupa tanah timbunan dan di tumbuhi rumput-rumput teki. Aruna terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di sebuah perkebunan yang berdampingan dengan beberapa hektar sawah warga.
Tempat yang begitu menyejukkan, di tambah udara pagi di jam 6 pagi itu. Oksigen yang di hirup pun terasa sangat segar. Bila di bandingkan kehidupan di kota yang penuh dengan polusi udara, ribut nya kendaraan di sepanjang jalan. Kehidupan di desa jauh lebih nyaman dan tentram, walau jauh dari gaya dan trend.
Perkebunan yang di kunjungi oleh Aruna adalah tempat dimana dia dan kakak serta sepupu nya bermain di hari libur sekolah. Mereka akan bermain sesekali di tempat itu, karena anak pemilik kebun juga teman akrab Aruna.
"Assalamu'alaikum Paman. "Kata Aruna menyapa Paman Hendri yang sedang memangkas daun mentimun.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu. "Paman Hendri terdiam sejenak sembari memperhatikan Aruna.
"Aruna kan ?? "Tanya Paman Hendri bingung.
"Benar paman, ini Aruna. "Kata Aruna sembari menyalami Paman Hendri.
"Sudah lama tidak bertemu paman, sejak Aruna pindah ke kota. Bagaimana kabar paman ?? "Tanya Aruna.
"Alhamdulillah sehat nak, semenjak kalian pindah ke kota, paman tidak pernah melihat kamu lagi. Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan juga Sholeha. "Tutur Paman Hendri.
Aruna hanya tersenyum dengan penuturan Paman Hendri. Lelaki paruh baya itu sangat baik dan juga ramah. Pekerja di kebun nya juga sangat senang bekerja dengan beliau. Tidak pernah pelit dalam memberikan gaji.
Percakapan antara Aruna dan paman Hendri berakhir ketika pelanggan Paman Hendri datang untuk menjemput barang yang sudah di pesan dari kebun itu.
Aruna pun memutari kebun Paman Hendri yang sekarang sudah semakin banyak jenis tanaman nya. Ternyata kebunnya selain menanam sayuran juga menanam buah-buahan yang saat ini sedang berbuah ranum.
Aruna merasa betah berada di desa itu, selain karena berkunjung ke rumah pamannya, itu adalah kesempatan yang dibuat nya untuk bisa melupakan Rio.
Apakah Aruna akan bisa melupakan Rio dengan menerima lamaran dari sahabat Paman nya ??
__ADS_1
Jangan lupa ikuti terus yah cerita nya. ....