
Sore itu Delvin mengajak Jihan berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata di kota Beijing,China.
Pertama adalah kebun bunga persik, ratusan hektar bunga persik dan pohon aprikot berada di sana.


Jihan yang memang sudah lama mengagumi keindahan bunga itu, merasa sangat bahagia. Dikelilingi dengan ratusan pohon bunga yang sedang bermekaran .
Pengunjung sore itu pun tidak terlalu ramai dan berdesakan.
karena hari ini adalah hari jadwal kerja.
Delvin sengaja mengajak Jihan di hari biasa, agar bisa menikmati pemandangan indah nya . Ditambah ada danau buatan di sana.
"Bagaimana jika kita menunggu malam datang, kebetulan hari ini ada festival lentera. "kata Delvin.
"Benarkah Mas ? "tanya Jihan.
"Tentu benar Jihan " Jawab Delvin tersenyum kepada Jihan.
"Aku ingin sekali melepas lentera di danau . Dan menyaksikan kembang api. "kata Jihan
"Aku akan mengajak mu ke festival lentera. " kata Delvin.
Jihan semangat mendengar perkataan Delvin. Sebelum itu, Delvin mengajak Jihan makan di warung sederhana.
Ada mie telur dan bakpao juga Tanghulu (sejenis permen buah khas China ).
Makanan sederhana, tetapi tetap dalam kategori halal.
"Apa kamu menyukai Ini ? "tanya Delvin menunjukkan Tanghulu.
"Sebenarnya ini pertama kali nya aku makan ini mas, karna aku senang nonton Dracin sih. Jadi aku penasaran gimana rasa Tanghulu ini. "kata Jihan tertawa.
"Makan lah sepuas nya, aku akan mentraktir mu "kata Delvin.
__ADS_1
"Mas, bolehkah aku mengambil Tanghulu ini lagi ? Aku sangat menyukai nya. "kata Jihan.
"Tentu boleh Jihan . "lanjut Delvin
Dan disambut senyuman oleh Jihan.
Selepas menikmati makanan dan Tanghulu nya, Delvin mengajak Jihan ke danau, di sana sudah banyak orang . Lebih tepat nya orang yang berpasang-pasangan. Mungkin ada yang suami istri dan ada yang masih sepasang kekasih.
Delvin membeli dua lentera berbentuk teratai. Yang satu diberikan kepada kepada Jihan.
"Katanya Jika kita melepaskan lentera sambil berdoa. Maka doa kita akan terkabulkan . "kata Delvin "
"Itu memang kepercayaan masyarakat di sini mas, aku hanya ingin melepas lentera nya saja tanpa berdoa. Bolehkah ? "tanya Jihan.
"Tentu boleh Jihan. "kata Delvin.
Delvin dan Jihan melepas lentera secara bersamaan. Mungkin Delvin menyelipkan satu kertas kecil di dalam lentera nya.

"Hari sudah mulai gelap, lebih baik kita pulang aja. Nanti Tante Kiran malah marah lagi. "kata Delvin.
"Baiklah Mas. Oya, terimakasih ya mas sudah mau membawa Jihan jalan-jalan. "kata Jihan tersenyum malu.
"Santai aja kali Jihan. Gak usah pakai acara makasih. "kata Delvin.
Mereka pun berjalan menuju parkiran mobil , cukup jauh dari tempat mereka saat ini.
Tetapi suasana malam yang indah, dan banyak nya lentera. Membuat suasana jalanan terasa menyenangkan.
Pukul 10.00 malam di kota Beijing. Delvin dan Jihan pun sudah sampai di kediaman Dinda .
"Mas, nginap dirumah Bu Dinda gak ? "tanya Jihan.
__ADS_1
"Gak dulu Jihan, mas pulang ke apartemen aja. Besok harus masuk kerja. Banyak pekerjaan yang menumpuk. "Jelas Delvin.
"Baiklah Mas, hati-hati yah. "kata Jihan.
Dibalas senyuman oleh Delvin. Saat Delvin hendak berbalik dia teringat . Bahwasanya Delvin belum meminta WA Jihan.
"Jihan. Bolehkan aku meminta nomor wa kamu ? "tanya Delvin.
Jihan yang merasa kurang enak untuk menolak, dan kebetulan Delvin juga adalah orang yang baik. Jihan pun memberikan nomor WA nya kepada Delvin.
"Terimakasih cantik. "kata Delvin sambil melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil nya.
Jihan hanya membalas dengan senyuman.
"Jihan, udah pulang ? "kata Nenek Yaya.
"Sudah nek. "Jawab Jihan berjalan mendekat ke arah nenek Yaya mertuanya Bu Kiran yang duduk di sofa ruang tamu.
"Nek, kenapa belum tidur ? "tanya Jihan.
"Nenek gak bisa tidur. Karna nungguin kamu. Biasanya ada kamu yang ngaji. "Jelas Nenek Yaya.
"Kalo seperti itu, ayo Jihan temani nenek tidur. "ajak Jihan menggandeng tangan Nenek.
Jihan adalah gadis yang baik, polos dan rajin . Nenek Yaya sendiri pun sangat menyukai Jihan.
"Gadis baik, semoga nanti nya kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik "kata nenek Yaya membelai puncak kepala Jihan.
"Amin nenek. "jawab Jihan sambil mencium telapak tangan nenek Yaya.
Malam itu Jihan pun membacakan surah Ar-rahman di samping nenek Yaya. Merdu suara nya membuat hati menjadi sejuk. Membuat hati yang gelisah menjadi damai. Nenek Yaya pun sudah lebih dulu tertidur, sedangkan Jihan menyelesaikan bacaan nya. Lalu berwudhu sebelum tidur.
__ADS_1
Malam itu Jihan pun tidur dengan lelap nya. Tanpa harus berperang dulu dengan matanya.