
"Kamu demam mas, badan kamu panas sekali. "kata Jihan menyentuh kepala Rayhan.
Jihan pun membopong tubuh Rayhan untuk berpindah ke tempat tidur yang ada diruang kerja itu.
Dengan penuh kasih sayang, Jihan mengompres badan Rayhan , sedangkan Rayhan masih terus mengigau dan memanggil-manggil nama Tifa.
Meski rasa sakit menjalar ke seluruh hatinya mendengar suaminya sendiri memanggil nama wanita lain.
Jihan yang kala itu tak ambil pusing, yang di fikirkan adalah kesehatan Rayhan.
Jihan senantiasa setia menjagai Rayhan yang terbaring di tempat tidur, panas nya sudah mulai turun. Jam 4 dini hari barulah Jihan tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepalanya di letakkan pada tepi tempat tidur dekat tangan Rayhan.
Rayhan yang terbangun, sadar bahwa dia tengah berada di tempat tidur saat ini. Padahal yang di ingat nya, dia berada di meja kerjanya
Rayhan menyentuh kepala nya, masih dengan kain yang digunakan Jihan untuk mengompres nya.
"Siapa yang membawa ku ke sini ? Dan siapa yang sudah merawat ku satu malam ini. "kata Rayhan.
Saat hendak bangkit, Rayhan melihat Jihan tertidur di lantai dengan posisi duduk. Terlihat jelas Jihan masih lelah merawat Rayhan.
"Kenapa kamu harus tidur dilantai ? Kenapa tidak naik ke tempat tidur saja ? "kata Rayhan menatap Jihan yang masih tertidur pulas.
Rayhan yang kala itu tidak tega melihat posisi tidur Jihan pun segera menggendong Jihan naik ke tempat tidur.
"Kenapa mata nya sembab seperti itu ? Seperti selesai menangis ? "kata Rayhan yang memperhatikan wajah polos Jihan .
Tanpa sadar, tangan nya terulur membelai wajah Jihan yang masih menggunakan Hijab nya.
Rayhan pun ikut berbaring di samping Jihan , dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Berada di bawah selimut yang sama.
"Pukul 05.40 Jihan terbangun karna merasa badan nya sedang menopang sesuatu.
"Mas Rayhan ? "fikir Jihan.
"Kapan aku berada di ranjang ya ? Terus siapa yang sudah menyelimuti ku ? "Jihan bertanya-tanya sendiri.
"Astaghfirullah, sudah lewat waktu shubu. Aku harus segera berwudhu selagi waktu nya masih sempat.
Dengan perlahan Jihan mengangkat tangan Rayhan yang ada di atas perut nya. Ada rasa bahagia walau tanpa sengaja Rayhan memeluk nya saat ini.
Jihan segera bergegas kembali ke kamar nya untuk berwudhu , karna mukenah nya ada dikamar sebelah.
Usai dengan kegiatan sholat dan mengaji nya, Jihan pun lanjut untuk memasak ke dapur.
Hari ini Jihan memasak ikan gerapu pedas manis dan sayur bening sesuai permintaan Rayhan. Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam semua sudah siap di lakukan Jihan.
Semua makanan nya sudah selesai di hidangkan , dan segelas air rebusan jahe untuk Rayhan .
__ADS_1
Jihan kembali ke kamar untuk membangunkan Rayhan, ternyata benar saja lelaki itu masih tertidur.
Jihan mendekat ke tempat tidur dan menyentuh kening Rayhan.
"Sudah tidak panas lagi. "kata Jihan.
Hal itu juga di sadari oleh Rayhan, karna dia hanya berpura-pura tidur kembali saat tau Jihan akan masuk ke kamar.
"Mas, ayo bangun. "kata Jihan menggoyang kan lengan Rayhan.
Rayhan terbangun dan pura-pura melenguh seakan memang baru bangun.
"Mas, kamu mandi dulu yah. Aku udah siapin air hangat untuk kamu mandi. "kata Jihan.
"Apa kamu hari ini punya kegiatan mas ? "tanya Jihan .
"Tidak..Memang nya kenapa ? "kata Rayhan dengan nada datar.
"Cuma nanyak kog mas. Oya mas, aku sudah siapin makanan juga. Nanti mas turun ya, kita makan bareng. "kata Jihan berlalu tanpa menunggu jawaban Rayhan.
\*\*\*\*\*
Saat ini sepasang suami istri itu, sedang makan bersama. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya saling diam dan fokus untuk makan.
"Mas, minum ini dulu ya. Baik untuk tubuh. Supaya badan kembali fit lagi. "kata Jihan meletakkan segelas air rebusan jahe yang sudah di siap kan nya tadi .
\*\*\*\*\*\*\*
Tidak terasa, waktu terus berjalan dan suasana di rumah itu masih tetap sama.
Hanya sekedar tegur dan sapa. Jihan juga tidak menuntut banyak hal. Setidak nya Rayhan sudah tidak pernah mengeluarkan kata-kata pedas lagi pada Jihan.
Satu bulan pernikahan , tidak ada yang terjadi di antara mereka layak nya sepasang suami istri yang saling memadu kasih.
Bahkan sampai saat ini Rayhan juga selalu tidur di kamar sebelah. Hanya masuk sesekali ke kamar Jihan untuk mengambil pakaiannya.
Bagi Jihan Setiap hari nya selalu melakukan kewajiban nya, menyiapkan makanan, dan perlengkapan kerja Rayhan.
Bahkan untuk berkomunikasi saja mereka sangat jarang.
"Mas, aku boleh gak kerumah ibu ? Aku sangat merindukan nya. Semenjak 1 bulan menikah. Aku belum pernah berkunjung ke rumah ibu. "kata Jihan.
"Terserah kamu saja. "kata Rayhan
"Kenapa hati kamu masih tetap tertutup seperti itu ? Apa kamu sama sekali tidak bisa membuka hati mu sedikit saja untuk ku ? "batin Jihan.
***********
Rumah Keluarga Jihan.
"Assalamualaikum.."ucap Jihan kepada ibu nya yang sedang duduk di teras luar.
"Wa'alaikum salam nak. Kamu sudah datang ? Ibu sangat merindukan mu. "kata Ibu sambil memeluk Jihan.
"Aku juga sangat merindukan ibu. Apa ibu sudah makan ? "tanya Jihan.
__ADS_1
"Sudah nak, tadi ayah kamu yang masak buat ibu. "jawab sang ibu.
"Kenapa kamu datang nya sendiri, dimana suami mu nak ? "lanjut ibu bertanya.
"Hmm. Mas Rayhan sedang bekerja Bu. Dia tidak bisa menemani Jihan ke sini. Dia hanya titip salam pada ibu. "kata Jihan berbohong .
Ibu dan anak itu saling bercerita, ibu selalu menasehati Jihan untuk selalu hormat pada suami. Melayani dan memprioritaskan suaminya.
Terkadang Jihan malah merasa iba pada diri nya sendiri. Terkait pernikahan yang dimana hingga saat ini dia masih setia menunggu suaminya untuk mencintainya , sama seperti Jihan yang mencintai Rayhan.
***
"Nak, sudah sore. Kamu pulang lah kerumah. Tidak baik jika nanti suami mu sudah pulang tapi kamu tidak ada dirumah. "kata Ibu nya.
"Aku ada dirumah atau tidak, mana Mas Rayhan peduli. Bahkan aku hanya di anggap nya sebagai angin lalu. "batin Jihan.
"Baiklah Bu, Jihan pamit pulang dulu yah. Kapan-kapan Jihan datang lagi ke sini. "kata Jihan memeluk ibu nya. Dan memberikan sedikit uang sisa tabungan nya saat masih berkerja dengan Bu Kiran.
******
Sebelum pulang ke rumah, Jihan mampir untuk membeli makanan di warung Pak Ujang.
"Pak, bungkus ketoprak nya satu ya. "kata Jihan
"Eh iya nak Jihan. "kata Pak Ujang.
"Bapak dengar kamu sudah menikah ya ? "tanya pak Ujang.
"Sudah pak, bapak tau dari mana Jihan udah nikah ? "kata Jihan.
"Dari Bu Kiran, biasanya Bu Kiran makan bersama nak Jihan. Tapi hari itu Bu Kiran makan sendiri. "kata Pak Ujang.
"Iya pak. Jihan sudah menikah. "tutur Jihan.
"Semoga SAMAWA yah nak Jihan.." kata Pak Ujang sambil memberikan ketoprak Jihan.
"Terimakasih pak. "kata Jihan lalu membayar makanan nya.
Jihan pun segera pulang kerumah. Sore itu Jihan tetap memasak untuk Rayhan.
~Hingga menjelang Magrib Rayhan belum juga pulang.
"Aku akan sholat lebih dulu. Menunggu Mas Rayhan pulang. "kata Jihan.
"Sudah selesai sholat magrib, aku juga sudah mengaji. Tapi Mas Rayhan masih belum pulang. "
Jihan pun duduk di sofa ruang tengah dan menonton sembari menunggu Rayhan pulang.
Pukul 11 malam, suara mobil Rayhan sudah masuk ke garasi. Jihan pun segera bangkit untuk menyambut Rayhan.
Terlihat wajah murung Rayhan, entah apa yang membuat nya murung saat ini.
"Mas, kamu sudah pulang. "kata Jihan mendekati Rayhan.
Tetapi Rayhan seakan tidak mendengar Jihan yang sedang berbicara.
Rayhan duduk di sofa , melonggar kan dasi nya dan dari wajah nya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Mas, aku sudah memasak untuk mu. Tapi makanan nya sudah dingin. Aku akan memanaskan nya kembali ya. "kata Jihan lagi.
"Bisakah kamu diam. Kamu terlalu banyak bicara membuat kepala ku menjadi pusing. "kata Rayhan.
"Maaf mas, aku hanya bertanya. Kamu makan atau tidak. "kata Jihan menunduk.
"Aku tidak lapar. Sudah lah. Berhenti lah berbicara. Saat ini aku sangat malas berdebat. Kamu pergilah ke kamar mu. Untuk apa kamu terus menunggu ku ? "kata Rayhan
"Tidak perlu menunggu ku lagi. Dan tidak usah berfikir aku akan mencintaimu. Berhentilah berharap. "kata Jihan lagi.
Jihan kembali mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Kali ini Jihan tak terlalu menghiraukan Perkataan Rayhan. Jihan mendekati Rayhan dan berjongkok di depan kaki Rayhan untuk membuka sepatu dan kaos kaki Rayhan.
Lalu ditaruh nya ke rak sepatu.
"Untuk apa kamu terus perhatian kepada ku ? Apa yang kamu harapkan dari ku ? "Apa kamu menginginkan harta ? "tanya Rayhan.
"Aku tidak berharap apapun Mas, aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri. "kata Jihan meletakkan gelas berisi air putih hangat.
"Berhentilah menyebut diri mu sebagai seorang istri. Bagi ku pernikahan ini hanya terpaksa. Dan aku pun tak mencintaimu."kata Jihan.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak mencintaiku saat ini Mas. Tidak selama nya pernikahan itu di dahului oleh rasa saling cinta antara dua pasangan. "Jelas Jihan.
"Berhenti lah berharap. "kata Rayhan.
"Kenapa harus berhenti ? Kamu adalah suami ku, seperti apa pun kamu. Aku akan tetap mencintaimu. "Jawab Jihan
"Aku bahkan tidak mencintaimu sama sekali. Aku sudah mencintai wanita lain. "kata Rayhan.
Tentu bagi Jihan yang mendengar merasa sakit hati, tapi tidak ingin lemah. Jihan menutupi semua rasa sakit nya.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak peduli kau mencintai wanita lain atau tidak. Aku akan mencintaimu sebesar rasa cinta mu kepada wanita itu. Sekuat mana kau berjuang , sekuat itu pula aku akan menarik mu di sepertiga malam ku. "kata Jihan berlalu dari hadapan Rayhan.
Rayhan yang mendengar hal itu, merasa sangat frustasi.