Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Rumah sakit


__ADS_3

“Aku.. dimana ini..? hoam..apa si Ervin ini tak tidur ya..?” ucap Raka sambil bangun dari sebuah kasur.


Raka melihat cincinnya bersinar terang. Dan di bagian bawah cincinnya tepatnya di telapak jarinya, bertuliskan 99 hari.


Kini setelah ia bangun, waktunya semakin hari akan terus berkurang. Ia pun melihat sekitar nampak suasananya seperti rumah sakit. Dan pakaian yang ia kenakan juga seperti petugas kebersihan.


Ia melihat jam yang ternyata menunjukkan pukul 6 pagi. Segera ia keluar melihat keadaan sekitar dan ada suatu ruangan yang menarik perhatiannya.


“bukankah itu aku disana..? dan wanita itu..” heran Raka sambil mengintip kaca di sebuah pintu ruangan.


Ia melihat sosoknya yang sedang terbaring lemah di ranjang sambil memakai alat bantu pernafasan dan alat pendeteksi detak jantung. Dan disampingnya, yang tak lain adalah adiknya Rasya.


Dengan raut wajah yang sangat sedih, ia mendampingi kakaknya dengan sabar sambil membicarakan suatu hal.


dan Raka pun punya ide agar ia bisa tau percakapannya dengan menyamar menjadi petugas kebersihan rumah sakit dan masuk menggunakan masker.


“kak. Dokter tadi bilang. Kakak masih belum menunjukkan kemajuan untuk sadar kembali.” Ucap Rasya yang menangis sambil memegang tangan kakaknya yang terbaring lemas.


Raka yang berada didalam tubuh Ervin mulai melakukan aksinya. Dan berpura-pura membersihkan ruangan. Sementara ia membersihkan, terdengar suara Rasya yang terus terisak menangis disamping tubuhnya. Raka benar-benar tak bisa melihat adik kesayangannya itu bersedih. Inginnya ia memeluk dan mengusap air mata itu namun, ia sadar. Ia sekarang sedang menjadi sosok lain.

__ADS_1


“kak. mama belum tahu soal keadaanmu saat ini. Rasya sengaja bohong ke mama soal kakak. Dan selama 2 hari kakak disini, tak ada siapapun yang mengunjungi kakak. Rasya harap kakak tak sedih karena kak Kayla juga belum kesini. Mungkin besok atau lusa ia akan kemari.” Ucap Kayla sambil terus menangis.


“Kayla..? huh ! aku bahkan tak pernah berharap dia akan datang kemari.” Batin Raka.


Raka yang sedang membersihkan lantai, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seorang tamu lagi. Dan ia sangat berharap kali ini dia tak akan dibunuh.


“kak Sintya..? kau sudah datang..?” sambut Rasya.


“hai.. dik. Gimana kondisi kakamu..? maafkan aku baru bisa menjenguknya karena kemarin aku sedang keluar kota.” Ujar Sintya sambil membawa beberapa bingkisan buah dan bunga.


“kak. seperti yang kakak lihat, Bagaimana kondisi kakaku. Ia divonis dokter koma selama waktu yang tak bisa ditentukan.” Ucap Rasya dengan sedih.


ia melihat mereka berdua sepertinya sedang berbisik membicarakan sesuatu. Tiba-tiba saja, jantung Raka berdegup kencang dan terasa sakit sekali.


“aduh..! ada apa ini..? ada apa dengan detak jantung Ervin. Rasanya sangat sakit” gumam Raka.


“tuan, apa bersih-bersihnya sudah selesai..? bisakah kau keluar sekarang..?” pinta Rasya.


setelah itu Rasya menyuruh si petugas kebersihan alias Raka keluar. Dan pada akhirnya Raka tak bisa tahu mengenai pembicaraan antara Sintya dan Rasya yang nampak mencurigakan. Pada saat keluar dari ruangan, Raka akhirnya melepas semua pakaiannya dan pergi menuju rumahnya Ervin. Tetapi di perjalanan pulang..

__ADS_1


“hei. Ervin. Lain kali kau jangan terlambat bekerja ya ! kalau kau masih ingin pekerjaan ini, bekerjalah dengan baik.” Ucap salah seorang karyawan di lorong rumah sakit.


“baik. Tentu !” sahut Raka.


Kini Raka menghetahui sesuatu tentang si Ervin ini. kalau di malam hari, Ia akan bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit. Namun, ada beberapa yang ia khawatirkan yaitu, ia tak bisa mengenali sebgian orang yang pernah ditemui si Ervin ini. ia pun mencoba mencari cara agar bisa mengenali mereka semua.


Sesampainya dirumah dan bersiap-siap untuk pergi ke toko, muncul-lah malaikat maut di depan Raka yang sedang mengikat tali sepatu.


“hei Arva. Apa kau sudah mengantarkan wanita itu dengan baik..?” tanya Raka.


“tentu saja ! sudah ku bilang aku ini paling bisa diandalkan.” Jawabnya.


“hm.. tapi sepertinya ada masalah ya..? apa benar itu..?”


“ti..tidak..! tidak ada. Tidak ada masalah.” Jawab Arva dengan gugup.


“ayo lah ! aku tahu apa itu. cepat ceritakan!” pinta Raka.


Raka yang melihat ekspresi Arva sangat tahu bahwa ia tak pernah segugup ini. mungkin ini baru pertama kalinya ia mengantarkan manusia yang mabuk untuk pulang.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2