
*Hari ke 96*
Matahari mulai tergelincir turun dan sinarnya kini semakin terang.
Raka sedari tadi hanya mondar-mandir didepan Ervin yang masih terdiam sembari duduk tak berbicara. Raka ingat pesan dari Arva yang menyatakan:
*kau hanya bisa merasuki tubuhnya ketika ia sudah tertidur atau pun sekedar menutup matanya. Selain waktu itu, meski kau memaksa takkan bisa berhasil*
Raka dibuat gigit jari dan tak tahu harus apa agar Ervin bisa tidur. Bahkan malaikat maut itu, tak bisa membantunya.
Sampai menjelang sore, Ervin tak mengubah posisinya sama sekali. Meski Raka bisa saja keluar dan mengunjungi beberapa tempat, tetap saja ia takkan berinteraksi dengan sekitarnya karena dia sendiri adalah roh.
*hari ke 95*
“haisshh..!! kau benar-benar membuatku gila ! bagaimana bisa kau tahan tak tidur seharian..?” teriak Raka.
Ervin hanya menengok ke arah pintu kamarnya kemudian berdiri dan masuk menuju kamar mandi. Secepatnya Raka harus menyelesaikan misinya yang tak mudah dan keadaan ini malah menyita waktunya.
*Hari ke 94*
“ ya ampun.. pria ini ! kalau saja aku bisa mencekik nya kau akan...
hahh !! bagaimana bisa begini..?” keluh Raka yang sangat kesal melihat Ervin yang melakukan apapun dan tak tertidur.
“apa dia minum obat dari dokter itu ya..?” pikir Raka.
Dia pun melihat kandungan yang terdapat pada obat yang diletakkan Ervin diatas meja. Yang jelas pikirnya itu hanyalah obat diare biasa yang mana orang meminumnya takkan jadi insomnia seperti dia.
“ya ampun.. Arva !! malaikat maut ! bantu aku !” teriak Raka sembari memegang kepalanya yang dibuat pusing oleh Ervin.
__ADS_1
Arva kemudian muncul dihadapan Raka dan segera mengerti permasalahannya ini.
“aku ada satu solusi untukmu.
Tapi kau, harus membayar mahal untuk itu. bagaimana..? apa kau siap..?” tanya Arva.
“ap..apa yang harus kubayar..?” ucap Raka dengan gugup begitu mendengar perkataan Arva.
“kau mau apa tidak..?” tanya Arva.
“ten..tentu saja aku mau ! tapi katakan dulu apa taruhannya..?”
“aku kemari membawa sebuha ramuan yang sangat mujarab setingkat dewa kematian kedua..” ucap Arva yang menunjukkan sebuah botol kecil dengan alat penyemprot diatasnya.
“aishh..!! cepat katakan apa taruhannya !” ungkap Raka dengan kesal.
“dasar kau ! kukira taruhannya nyawa. Hampir saja aku berfikir buruk.” Ucap Raka dengan bernafas lega.
“kau mau tidak..?” tanya Arva.
“baiklah. Aku akan membayarnya ketika aku gajian nanti.” Jawab Raka.
Setelah Raka menyetujuinya Ervin menyemprotkan obat itu ke seluruh ruang tidur Ervin dan hanya dibutuhkan beberapa detik saja, akhirnya Ervin tertidur.
Disaat itulah kesempatan Raka bisa merasuki tubuhnya dan keluar dari rumah itu.
setelah menjadi Ervin, ia segera berlari ke toko roti milik Meira dengan cepat. Didepan toko, nampak dari kejauhan ia melihat seorang wanita menampar Meira yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
“kau harus menderita !” seru Sintya.
__ADS_1
“berhenti ! sahut Raka.
“kau ! berani sekali. Lepas !” teriak Sintya yang tamparannya dicegah oleh tangan Raka.
“aku takkan melepaskan wanita jahat sepertimu !”
“huhh!! Oh ya..?” balas Sintya dengan menatap tajam seraya melepaskan diri dari gengaman Raka.
“dengar ! ini belum berakhir gadis tengkik ! aku pasti akan kembali mencarinya.”
Ancam Sintya pada Meira yang jatuh terduduk di pinggir jalan.
Dengan cepat Raka membantu Meira berdiri dan membawanya masuk kedalam ruangan kantornya. Didalam, tanpa berkata apapun Raka mengambil kain lap yang sudah dibasahi air dingin untuk mengompresnya.
Saat Raka akan menempelkannya ke wajah Meira yang sedikit lebam, ia langsung menangkisnya dan memalingkan wajahnya.
“jangan ! biar aku saja yang melakukannya sendiri.” ucap Meira sembari menundukkan pandangannya dari Raka.
“baiklah bos…”
Raka hanya bisa menuruti keinginannya mengingat dia bukan siapa-siapa nya yang bisa menyentuhnya seenaknya.
“bos, kalau kau butuh sesuatu..kau tahu aku dimana.” Ucap Raka sembari keluar dari ruangan Meira.
Banyak sekali pertanyaan yang timbul dibenaknya karena sudah lama ia tak pergi ke toko ini. begitu masuk dapur, banyak karyawan bertanya kemana saja dia pergi.
Dia hanya bisa beralasan sakit dan tak punya ponsel untuk menghubungi yang lain. Dia menjadi penasaran apa yang telah lewatkan selama beberapa hari ini dan bagaimana ceritanya Sintya bisa menampar Meira di depan umum. Dia tiba-tiba saja mendapat ide untuk membuat kue lagi agar Meira merasa baikan.
Bersambung…
__ADS_1