Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Bangkitnya


__ADS_3

**hari ke 83**


__kelemahan musuh adalah kekuatan yang besar bagimu. Sedangkan ketakutanmu, adalah senjata yang besar bagi musuhmu, untuk menguasaimu dan menjatuhkanmu__


Memang Raka kini telah menjadi roh dan sangat dibatasi gerak-geraiknya karena hal tersebut. Tetapi, tak menuntut kemungkinan, kalau dia punya segudang cara dengan akal cerdiknya. Seharian dia lewati dengan sibuk menatap layar monitor di kafe internet.


Jari-jarinya tak henti-hentinya memainkan huruf-huruf di atas keyboard komputernya. Matanya fokus dengan surat-surat email yang akan dia kirimkan.


Entah apalagi yang akan dia rencanakan kali ini, dia hanya berharap, semua akan berjalan lancar sesuai keinginannya. Terlepas dari sosoknya sebagai Ervin, dia yakin. Takkan seorangpun bisa mengenali Raka yang tengah ada didalam tubuh ini.


“huhh..lelah sekali rasanya. Sepertinya sudah lama sekali aku tak menatap layar yang penuh dengan tulisan itu !” gumam Raka sembari meregangkan tubuhnya.


Seusai dengan pekerjaannnya, dia pun pergi keluar mencari makan untuk mengisi tenaganya kembali. Cuaca dingin tak mencegahnya sekalipun tuk berkeliaran dijalanan yang tengah dihujani salju saat itu.


langkah kakinya terhenti saat berdiri didepan warung yang menjual mie kuah pedas. Tanpa berfikir panjang, Raka langsung masuk dan segera melambai pada pelayan untuk membuatkan pesanannya.


“silahkan tuan.” Ucap salah seorang pelayan yang menyuguhkan semangkok mie yang masih hangat dihadapan Raka.


Dengan santai, tanganya mengengam sumpit yang ada disampingnya dan segera mengambil sejumput mie yang panjang dan menyeruptnya. Aromanya benar-benar membuat nafsu makannya bertambah. Sembari menyesap bau wangi dari mie kuah tersebut, dia tiba-tiba saja mendengar suara tawa dari belakangnya.


Tawa yang membuatnya menoleh dengan perasaan gugup.


“apa dia..oh ! bukan ya..?” gumam Raka.


Rupanya hanya suara tawa dari sekumpulan para gadis yang sedang bercengkrama dengan temannya. Raka hanya tersenyum miris, merasakan dirinya telah merindukan suara tawa Meira.


“sial ! kenapa aku langsung jadi kepikiran tentang dia ya..?” gumam Raka sambil meletakkan sumpit diatas mangkoknya.


Bayangan suara tawa itu, masih saja ada dan berputar dibawah alam sadarnya. Seakan-akan, Meira sedang tertawa bersamanya dihadapannya. Tatapannya menjadi kosong sembari terus memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Raka sadar, kalau kini dia tengah merindukan Meira.

__ADS_1


“secepatnya aku harus menemukannya !” gumamnya yang sadar dari lamunannya.


Sesaat kemdudian, Raka melangkah pergi keluar dari warung mie itu dan kaget dengan wanita yang telah mencegatnya didepan pintunya. Wajah murungnya, kini berubah menjadi sangat dingin begitu melihat gelagat licik dari wanita tersebut.


“aku hanya mampir dan memberikan ini untukmu. Pastikan kau memakainya dengan baik. Aku akan menunggumu malam ini..” ucap Sintya sembari memberikan tas yang berisikan setelan jas mahal.


Raka menerimanya dengan sangat baik dan tentunya tak mengecewakan Sintya. Dia pun pergi dan bersiap untuk pertunjukkan selanjutnya.


---------


Malam yang dingin yang penuh dengan lampu cahaya dan suara denting gelas kaca dari minuman para tamu, mewarnai pesta yang tengah diadakan disebuah ballroom mewah nan megah. Tak terlihat satupun tamu yang datang dengan mengecewakan.


Semua berpenampilan mewah yang menunjukkan status sosial mereka. Terlihat diantara tamu-tau yang lain, terdapat petinggi dan pemilik terbesar dari tender yang akan membeli saham perusahaan mereka.


Sintya yang tengah bersiap untuk berdialog dengan mereka, mengambil segelas minuman dan memberikannya pada pimpinan mereka.


“oh..tentu nona Audrey. aku juga sangat menikmati pesta yang kau adakan untuk menyambutku ini. aku juga sangat menghormati keluarga Satya terutama tuan Raka. Dia adalah pemuda yang sangat rendah hati.” Ujar Andrew sembari memegang gelasnya.


“huh ! dasar pria brengsek ! sudah hampir mati masih saja dipuji dan dibanggakan !” gumam Sintya dengan tatapan benci.


“tapi, seharusnya kau tak usah melakukan semua ini karena…aku sudah menaruh sahamku di perusahaan SNHWA ini, seusai pemintaan tuan Raka.”


“ap..apa !?” batin Sintya dengan terheran.


“iya nona. Sesuai dengan surat wasiatnya..aku juga telah mengangkat pemilik baru dari perusahaan ini dan katanya..dia akan datang sebentar lagi.”


Mata Sintya benar-benar tak bisa berpendar lurus dan terlihat sangat gugup. Tangannya berkeringat dingin dan tubuhnya terasa lemas begitu dia mendengar kalau perusahaan yang akan dia rebut, sudah jadi milik orang lain.


Bahkan, dia sendiri belum tahu siapa orang tersebut. Mereka berus yang tengah berada ditengah kerumunan para tamu, seketika dibuat terkejut dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Bibir Sintya tak henti-hentinya bergetar seakan tak percaya kalau dia sudah kalah sebelum waktunya. Terlihat tapak kaki dengan sepatu hitam yang nampak familiar di matanya. Matanya terhenti seketika pikirannya tahu siapa orang yang telah memakai sepatu tersebut.


Matanya lalu mendongak ke atas melihat tangan yang sudah ada didepannya, menjulur ke arah pemimpin tender dan menjabatnya.


“selamat datang tuan Ervin. Anda..sangat cocok sekali dengan setelan jas ini.


apakah anda membelinya sendiri atau ada orang lain yang membelikannya..? ini terlihat sangat mahal..!” ucap Andrew sembari terus mengoyangkan jabatan tangannya.


Raka tersenyum dingin melihat ekspresi Sintya yang nampaknya sudah tahu apa maksut kedatangannya. Segera dia melepaskan jabatan tangannya dan kembali memasukkan tangannya kembali ke saku celananya.


“pastinya aku..takkan bisa membeli ini jika bukan dari orang lain” ucap Raka dengan tersenyum kecil dan melirik ke arah Sintya.


Pandangannya semakin terlihat marah saat menghetahui sosok dari pria yang berganti menjadi lawannya kini.


Namun, bukan Sintya namanya jika dia tak melakukan trik-trik kecil dalam permainannya. Dia segera memasang senyum bahagianya dan merubah tatapan matanya sembari mengulurkan tangannya pada pria tersebut.


“selamat padamu tuan Ervin. Maafkan aku, jika kau tak suka dengan pakaian ini…” ucapnya sembari tersenyum kecil.


“tidak. Aku malah sangat suka sekali.”


“oh ya. Selamat juga atas keberhasilanmu dalam memenangkan tender untuk perusahaan kita. Aku sangat menghargai kerja kerasmu..” ucap Sintya yang semakin erat menjabat tangan Raka.


Raka yang menatap mata licik Sintya, tahu kalau dia merasa sangat terpukul sudah kalah darinya. Dia mungkin akan sakit hati dan membalasnya beribu-ribu kali.


Tetapi hal itu, justru membuat Raka mendapat peluang yang besar untuk menjatuhkannya. Berkat surat wasiat dari ide Meira kemarin, dia akhirnya bisa mendapat kepercayaan tuan Andrew dan menetapkan dirinya sendiri sebagai pemilik dari perusahaan SNHWA ini.


dia sendiri tak menyangka kalau tuan ini, masih tetap percaya dan setia kepadanya meski raganya sudah terbaring lemah. Hal ini memunculkan ide untuk menguji tingkat ketulusan dari tuan Andrew untuknya suatu saat nanti.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2