Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Perpecahan


__ADS_3

Ehh bukankah itu ? batin Meira.


“selamat datang, silahkan duduk. Boleh ku tanya pesanan anda ?” ucap Meira sambil mengambil catatan kecil disakunya.


Karena hari ini ayahnya sedang sakit keras, ibunya tak dapat bekerja karena menemani ayahnya dirumah sakit dan terpaksa Meira mengantikannya bekerja. Ia sering membantu pekerjaan disini jadi ia dengan mudah melakukan tugasnya.


“aku mau dua kopi exspresso juga makaron dan blueberry cake “ ujar Sintya dengan nada sombong.


“baik. dua menit pesananmu akan siap.” Segera Meira pergi dan menmbuat pesanannya. Tak lama kemudian, nampak dari jauh ia membawakan dua gelas kopi di nampan.


“lihat itu dia. Segera lakukan aksimu !” bisik Sintya yang menyuruh Rasya menuju Meira. Dan ternyata..


***praang!!**


Haduh..!! dasar pelayan kampungan ! liat-liat kalau jalan. Baju mahalku ini jadi kotor.”


“maaf.. maaf nona. Tapi nona tadi kan menabrak saya duluan jadi..”


“apa ? jadi kamu kira saya yang fitnah kamu gitu? Aku ngak mau tahu pokoknya kamu harus tanggung jawab. Atau kamu mau saya memanggil manajermu ?”


"Ahh.. jangan nona. Saya mohon. Pekerjaan ini begitu penting bagi saya. Baiklah saya akan bertanggung jawab. Nona mari ikut saya."


“ohh pelayan. Bagaimana pesanan kami?” teriak Sintya.

__ADS_1


“sebentar nona. Saya akan suruh orang lain untuk mengantarkannya”


Kemudian Rasya mengikuti Meira menuju kamar mandi untuk menghilangkan nodanya. Rencana mereka berjalan lancar seperti yang direncanakan Sintya. Namun ternyata ada hal lain yang Sintya rencanakan.


“kak Sintya bagaimana yang tadi ? kamu cukup bagus. Sekarang minumlah setelah itu kita akan pergi.” Ucap Sintya sambil memberikan secangkir minuman kepada Rasya.


“ehm.. pelayan, bisakah kamu tambahkan sedikit gula lagi ?” pangil Rasya kepada Meira.


“baik nona.”


Setelah Meira memberikan tambahan gula, Meira pun duduk di pantry minuman. Ia merasa sangat lelah setelah mengurusi kejadian ini. Namun, tak disangka …


“akkhh…Rasya kamu kenapa? Rasya ? tolong ! tolong ! dia keracunan..” teriak Sintya.


“pelayan, pelayan itu !!”


Semua orang pun mengerumuni Sintya yang berteriak sambil menangis. Dia tiba-tiba saja meunjuk ke arah Meira yang tak tahu apa-apa. Tak lama kemudian, ambulan datang dan membawa Rasya kerumah sakit.


---------


Setiba dirumah sakit, Rasya langsung masuk UGD dan Meira yang benar-benar panik tak bisa berfikir maupun berkata apapun.


Ia duduk sembari gemetar seakan tak percaya apa yang telah terjadi. Dan baru saja menghetahui kalau Rasya adalah adik kesayangan dari Raka. Keluarga Raka pun tiba. Dan paman dari Raka alias ayah dari Sintya juga hadir disana.

__ADS_1


“Rasya.. apa yang terjadi padanya ? apa dia baik-baik saja ?” ucap Raka yang datang dengan tergesa-gesa dan sangat kaget menghetahui adiknya terbaring lemah.


“aku tak tahu apa yang terjadi. tadi saat kami berada di restoran, kami masih bersendau gurau.. tapi saat pelayan itu datang… dan Rasya.. hikss..hikss” ujar Sintya.


“pelayan ? pelayan mana ?” tanya Raka kepada Sintya.


Sintya pun menunjuk Meira yang nampaknya sedang kebingungan akan menjelaskan apa kepada Raka karena sudah lama mereka tak saling percaya bahkan berbicara. Namun, Raka benar-benar menyayangi adinya dan tak rela melihat ia terluka. Dengan cepat ia menarik tangan Meira. Gengamannya sangat kuat sampai menyakiti Meira.


“katakan apa yang kau lakukan kepada adikku ?”


“raka.. aku..aku..”


“dasar kau penjahat “


“akkhh..”


Dengar keras ia mendorong Meira sampai tersungkur ke lantai. Melihat kejadian itu, anggota keluarga hanya terdiam tak bisa mengendalikan kemarahan Raka.


“dengar ya..jika kau melakukan ini karena ingin balas dendam kepadaku, selamat kau berhasil ! kau berhasil membuat ku merasa jijik kepadamu.” Sambil menekan dagu Meira dan mendorongnya kembali.


“pergilah dari sini. Karena aku masih kasihan kepadmu, aku tak akan memenjarakanmu atas kasus ini. Tapi ingatlah, jangan pernah muncul dihadapanku dan seluruh keluargaku termasuk adikku !”


Meira yang tersungkur, kemudian bangkit dan melangkah pergi sambil menangis. Kali ini benar-benar sudah berakhir. Tak ada lagi kesempatan bagi Meira untuk menjelaskan dan mengembalikan keadaan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2