Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Surat wasiat


__ADS_3

*hari ke 93*


Seusai dari rumah sakit, Raka segera pergi ketoko dan membereskannya sebelum jam buka. Setelah beberapa menit ia membereskan tempatnya, ia segera membalikkan papan bertuliskan tutup menjadi buka.


Tak butuh beberapa lama, para pengunjung datang dan para karyawan sudah bersiaga dipos mereka masing-masing. Dengan semangat, mereka bekerja melayani para pelangan yang tak henti-hentinya datang.


Waktu menunjukkan pukul 10 pagi dan keadaan toko menjadi sedikit sepi dari tadi pagi. Namun, Raka yang saat itu sedang menjaga kasir dikejutkan dengan kehadiran Meira yang datang denga tergesa-gesa.


“hahh..hahh.. tolong aku Ervin.” Ucapnya yang terengah-engah karena berlari.


dia kemudian menyetujuinya dan meira mengajaknya menuju kantor nya. Didalam, Meira segera mengambil secarik kertas dan bulpen yang kemudian memberikannya pada Raka yang saat ini menjadi Ervin.


“Ervin..tolong kau tuliskan untukku sebuah pernyataan dan aku akan mendiktenya untukmu.” seru Meira.


“baiklah… ayo katakan” ucapnya.


“aku, menulis ini agar, kalian tahu dimana letak warisanku, jika terjadi apa-apa..”


“eits..tunggu-tunggu ! kau menyuruku untuk menulis surat wasiat..? apa kau akan bunuh diri..?” tanya Raka.


“hei..bukan ! sudahlah jangan banyak tanya cepat lakukan saja !” seru Meira dan kembali meneruskan ucapannya.


“jika terjadi apa-apa, maka aku tinggalkan pesan ini, aku, tinggalkan harta itu diluar negeri, di seorang teman sekamarku saat kuliah titik ! dengan ini, aku, Raka Anggara Satya..”


Seketika itu jarinya berhenti menulis begitu mendengar kata-kata tersebut. Dia terkejut dengan apa yang sebenarnya Meira suruh kepadanya dan berfikir keras untuk apa Meira menyuruhnya menulis sebuah surat wasiat.


“Ervin..? kau melamun..?

__ADS_1


aishh !! apa tanganmu kram saat menulis ini..? padahal ini sangat sedikit.” Ucap Naina dengan tertunduk lesu.


“oh ! ti..tidak kok. Ayo lanjutkan saja.” Sahut Raka.


“dengan ini, aku menyatakan, memberikan wasiat itu kepada siapapun, yang menemukannya.”


“sudah..?” tanya Raka.


“sudah ! dan juga tanda tangani seperti apa yang ada di catatan kecilmu dulu.”


“tanda tangan..?”


“iya tanda tangan yang ada dicatatan kecil di kue yang kau berikan saat itu..!?”


Raka kemudian memberikan tanda tangannya dan melipat surat itu dengan baik. Kemudian Meira berterima kasih dan segera pergi keluar.


“aku akan memberitahumu seusai pulang kerja.” Ujar Meira dengan tersenyum kecil dan pergi keluar toko.


Raka masih bingung dengan tingkah Meira dan langsung memeriksa cincinnya. Dan sepertinya warnanya tak berubah sama sekali.


Dia masih menerka-nerka apakah Meira sudah tahu kalau dirinya adalah Raka yang asli atau tidak. Dan berfikir untuk apa dia menulis itu semua.


Pertanyaan itu masih berputar dibenaknya dan membuat kerjanya tak bisa fokus. Sesekali ia melamun saat melayani pelanggan.


--------


Disuatu restoran terkenal dikota, Meira kembali bertemu dengan Sintya dan mereka saling menatap tajam disaat mereka duduk berhadapan. Meira pun memberikan surat wasiat palsu itu kepadanya.

__ADS_1


“dia hanya memberikan ini padaku. Dan aku sama sekali belum membukanya. Bisa kau lihat dari segelnya. Sama seklai belum terbuka kan..?” ujar Meira.


“baiklah. Aku terkesan denga kejujuranmu. Tapi, kita harus memastikan ini palsu atau bukan.” Seru Sintya.


Sintya kemudian membuka surat itu dan membaca isi dari surat tersebut dengan baik-baik. Disamping kanan kirinya selalu berdiri tegak pengawal berpakaian hitam yang setia mendampingi Sintya.


Sintya terkejut dengan tulisan yang sangat ia kenali itu terutama bagian tanda tangannya. Sangat persis dengan tulisan tangan sepupunya. Dan Sintya melirik Meira sambil tersenyum puas.


“baiklah. Aku melepaskanmu sekarang. Dan aku takkan menganggumu lagi. Sekarang pergilah !” ujar Sintya.


Meira akhirnya bisa bernafas lega dan segera pergi dari tempat itu. berkat Ervin, masalahnya tuntas. Hari menjelang sore dan dia memutuskan untuk kembali ke toko.


“Ervin ! terima kasih untuk..”


Meira kaget ketika dia masuk kekantornya, nampak Ervin tertidur dengan sangat lelap disofa ruangannya. Meira berfikir akan mengambil selimut dan menyelimuti nya. Tapi tanpa diduga, kakinya terpeleset dan dia jatuh menimpa Ervin yang sedang tertidur.


“aduhh !” seru Meira.


Dan seketika itu, Raka bangun. Raka juga kaget dengan situasi yang ia alami saat ini. beberapa saat mereka saling menatap. Tapi kemudian, Meira bangkit dan menjauh dari tubuhnya. Dan Raka segera bangun terduduk.


“Ervin, ma..maafkan aku. Aku tadi terpeleset dan..dan tak sengaja menimpamu.” Ucap Meira.


Meira tak bisa membayangkan betapa malunya dia dan jantungnya berdegup kencang ia sempat berfikir kalau si Ervin ini akan mendengarnya.


“tidak. tidak apa-apa. Aku seharusnya yang minta maaf karena beristirahat diruanganmu tanpa izin darimu.” Ujar Raka.


Entah kenapa, saat itu dia merasa sangat pusing dan akhirnya memilih beristirahat berharap rasa pusingnya reda. Tapi yang justru terjadi, malah kejadian yang tak terduga seperti ini.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2