
**brak ! pyarr !**
Semua benda yang ada dihadapan Sintya melayang dan hancur seketika dengan kemarahan yang ada dalam dirinya.
tangannya mengepal erat dengan raut wajah memerah yang tak bisa mengendalikan emsoinya lagi.
usai pesta semalam, ia langsung mengemudikan mobilnya untuk pulang kerumahnya. Dan sesampainya didalam ruang kerjanya, hal itulah yang terjadi.
“Sintya, ada apa ini..? apa tuan Andrew tak menerima tawaran kita..?” tanya paman Steve yang kaget seusai mendengar barang-barang yang terbanting itu.
Sintya masih saja terdiam dengan nafas yang naik turun sembari terus menatap tajam sudut ruangannya. Dirinya masih saja tak percaya kalau ada pengkhianat dalam rencananya.
Tetapi, kini dia mengalami pergulatan batin antara tak terima dan rasa sukanya. Dia sudah terlanjur menyukai pria berbadan tinggi itu. meski pria itu tak sekalipun menatap ke arah Sintya.
“Sintya…bisakah kau jelaskan apa yang terjadi..?”
Wanita itu hanya melirik ayahnya sejenak kebelakang dan masih dengan nafas yang tersengal-sengal. Tak lama, dia beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangannya sembari berkata pada ayahnya yang tengah terpaku dengan kelakuan anaknya.
“ayah, Bersiaplah untuk besok. Karena kita..akan ada kejutan baru !” ucapnya dengan menyeringai dan tatapan yang menusuk itu.
----------
*hari ke 82*
Hari baru kini menyambut Raka dengan perasaan puas. Karena tak lama lagi, dia akan segera membongkar semua kejahatan dan kecurangan yang ada pada perusahaannya ini. pagi itu, dia kembali mengengam kotak stempel yang ada di lemarinya.
“baiklah. Mari kita lakukan !” gumamnya sembari kembali memasukkan kotak itu kedalam saku jasnya.
Raka pun pergi menuju tempat dimana dia akan bertemu dengan Andrew untuk membahas kepemilikan SNHWA. Dengan menaiki bus kota, Raka yang telah berpenampilan rapi pergi dengan tenang menuju tempat pertemuan mereka.
.
.
Sementara itu, Sintya yang tengah berdiskusi dengan ayahnya di kantor bekas ceo SNHWA, dibuat geram dengan apa yang telah terjadi. Tentu sang ayah, paman Steve tak bisa terima dengan begitu saja kekalahan yang ada.
__ADS_1
“apa..?! apa mungkin dia adalah teman Raka saat diluar negeri..?
tapi kau bilang..bukankah kau sudah mengenalnya beberapa hari yang lalu.? Lantas, kenapa selama ini dia diam saja kalau punya stempel berharga itu..?”
“inilah yang masih aku bingungkan. Tapi, ayah tenang saja. Kita buat dia takkan betah berlama-lama disini dan segera menyerahkan stempel juga perusahaan ini pada kita !” ujar Sintya sembari memandang keluar jendela kaca.
Pemandangan kota yang sepenuhnya tertutup salju itu pun, sekilas nampak indah dari atas. Namun sepertinya beberapa minggu lagi, salju itu akan menghilang dan terganti dengan musim berikutnya.
Raka yang telah sampai didepan sebuah kafe yang agak tertutup. segera ia mengeluarkan kartu pengenal yang didapatnya dari Andrew dan para pegawai kafe itu mempersilahkannya masuk dengan membukakan pintunya untuk Raka.
Disudut ruangan, sudah nampak pria paruh baya yang tengah menyeruput kopi dari cangkir gelasnya. Raka yang tengah menghela nafasnya, segera mendekat ke arah pria tersebut dan duduk dihadapannya.
“oh tuan Ervin ! akhirnya kau datang juga. Duduklah aku sudah memesankan minuman untukmu..”
Raka membalasnya dengan tersenyum demi menyenangkan Andrew yang tengah berbasa-basi dalam keakrabannya. Segelas latte hangat tersaji dihadapannya. Tak ada sama sekali niatan untuknya meminum atau pun mengambil gelas itu. dirinya tak begitu menyukai kondisi yang berbelit seperti ini.
“jadi, tuan Andrew. Apakah aku sudah bisa menandatangani kontrak itu..?”
“oh ! sabarlah anak muda. Apa kau tak suka dengan kopinya..? apa kau ingin aku pesankan yang lain..?” ungkap Andrew dengan tersenyum ramah.
Andrew diam menatap pria yang ada dihadapannya itu. kata-katanya seolah mirip dengan seseorang yang selalu dia temui. Dengan suatu hal yang sama ‘tak suka dibuat menunggu’.
Matanya seolah memandang sosok lain dan pikirannya tak henti-hentinya memutar kejadian saat ia bersama orang tersebut.
Andrew kembali memberikan senyuman kecil saat mengingat itu semua. Dia segera melambaikan tangannya kepada asisten yang berada disebelah pintu untuk datang kearahnya.
Dengan cepat asisten itu mengeluarkan koper hitam yang berisi beberapa lembar kertas penting.
Melihat itu, Raka tak langsung mengeluarkan stempelnya. Tetapi, bertanya mengenai apa motif dari Andrew bisa mempercayainya dengan mudah.
“tentu awalnya, aku mengangapmu sebagai lelucon belaka. Dan aku sangat mengenal sosok Raka saat itu. dia tak mungkin mudah menyerahkan sesuatu yang berharga pada orang yang salah.
Tetapi, pada malam pertemuan itu aku melihat sosok lain. dan aku yakin, Raka takkan salah dalam memilih orang..!” ucap Andrew sembari melipat kedua telapak tangannya sembari menyangga dagunya.
Mendengar hal itu, ia tersenyum dan segera mengeluarkan stempel itu dari kotaknya. Kertas itu pun penuh dengan tanda tangannya juga stempel kepemilikan SNHWA.
__ADS_1
Akhirnya dia bisa selangkah lebih maju lagi dalam usahanya ini. seusai perbincangan singkat, Raka memutuskan untuk undur diri dari sana.
Namun sebelum itu, dia masih ingin melontarkan pertanyaan lain lagi.
“tuan Andrew, bisakah lain kali anda pergi menengok Raka dirumah sakit..? hanya sesekali saja sebelum dia akhirnya tersadar dari komanya. Apakah anda bersedia..?”
“tentu ! aku pasti, akan melakukan itu.”
“terima kasih, atas bantuan anda. Saya pamit pergi dulu.” Ucap Raka yang kemudian pergi dari sana.
.
.
.
.
.
Tak terasa hari beranjak siang dan suhu disana agak hangat dari tadi pagi.
Tak ingin berlama-lama, Raka segera bergegas pergi ke perusahaan SNHWA dengan melewati beberapa blok gedung. Namun, tak disangka olehnya sejumlah wartawan telah mengepung pintu utama dan berhasil membuat Raka terkepung oleh mereka.
“tuan Ervin, apa benar anda sudah resmi menjadi pemilik SNHWA..? lalu, bagaimana dengan CEO yang dulu, Raka. Apa beliau sudah tau..?”
“tuan Ervin, apa benar kalau anda terlibat dalam peristiwa kecelakaannya..?”
Semua pertanyaan wartawan tertuju kepadanya yang telah bingung untuk menghindari dari sana. Ditambah lagi dengan sorot kamera dan cahaya flash mereka, benar-benar membuat emosi Raka naik turun.
Untung saja, para petugas keamanan gedung segera mengusir mereka dan menyelamatkannya dari kepungan wartawan. Sembari berjalan cepat, Raka masuk dan tanpa sadar membuatnya berada didalam kamar mandi.
“sial ! kenapa tiba-tiba mereka ada didepan gedung..? ini pasti, ulah wanita itu !” gumam Raka dengan kesal.
Bersambung…
__ADS_1