Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
The recorder


__ADS_3

Atas kejadian yang tiba-tiba saja tadi pagi, membuatnya semakin ingin membongkar siapa dalang dibalik ini semua. Ia pun menyingkirkan tentang masalah cincinnnya dan juga pekerjaannya.


Raka membawa rekaman itu menuju rumah dan kembali menyetelnya. Rekaman Suara terdengar jelas mengenai pengakuan adiknya, membuat hatinya hancur dan tak hentinya meneteskan air mata. Dia tak tahan melihat begitu banyaknya pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya dan yang paling tak disangka adalah adiknya.


Disaat pikirnya tengah rancu akan kesedihan, ekor matanya menangkap suatu rekaman lagi yang tak dia sadari sebelumnya.


“apa ini..? aku rasa, aku belum menyetelnya.”


Raka sangat penasaran dengan isi rekamannya dan segera menyetelnya. Di menit pertama, hanya terlihat dirinya yang tengah koma diranjang.


Dan menit selanjutnya, ia kaget dengan ucapan seseorang yang masuk dan berdiri disamping bed inapnya.


“Raka. Dari awal kau seharusnya tahu, aku sudah memberikan semua yang terbaik padamu.


Tapi kau, tak sekalipun memberikan kebahagiaan padaku dan malah terbaring lemah disini." ucapnya sembari mengelus rambut Raka dengan tangannya dan tatapan yang seolah memperingatkan.


"Maka, jangan salahkan aku atas kematian ibumu itu. aku, sudah tak sabar ingin segera menjadi satu-satunya pewaris dan pemilik sahammu. Dan menurutku, bagus juga kalau kau disini.


Karena aku, sudah tahu dimana stempel berharga itu !”


Mulutnya menganga dan hatinya berteriak seraya memaki Kayla dihatinya. Wanita itu hanya ingin apa yang ada padanya. Bukan yang ada didalam hatinya.


Sejak awal, ia tak menyangka kalau Kayla akan bertindak sejauh itu demi menginginkan hartanya. Genggaman tangan itu tak kuasa dan tak sabar ingin saja menghajar wanita itu langsung.

__ADS_1


Dengan menarik nafas sembari berfikir hal terbaik yang ia akan lakukan, Raka mencopy semua rekaman yang melibatkan Kayla didalamnya. Dia tahu harus berbuat apa.


“halo, aku punya berita baik untukmu.”


Ucapnya dalam sebuah telepon.


Sembari mengertakkan giginya ia menutup kembali telepon itu. kedua matanya tampak memerah yang tercampur antara perasaan sedih juga amarah. Selepas ini, akan terdengar berita yang mengemparkan banyak pihak dan dia harap, inilah hukuman yang tepat.


-----------


**brakk !!**


“angkat tangan semua ! gedung ini telah dikepung !”


Meski apartemen itu terlihat mewah tetapi, para polisi itu telah dibayar mahal untuk menangkap salah satu terduga pelaku.


“apa-apaan ini..?! dengar ! kalian tak bisa menangkapku aku tak bersalah dan kalian tak punya buktinya !”


Wanita itu terus memberontak menyatakan dirinya tak bersalah. Namun, semua pasukan seakan tuli dan tetap mengelandangnya ke kantor polisi guna diproses lebih lanjut. Bagaimanapun pandainya dia menyembunyikan semua rencananya, yang busuk akan selalu tercium keluar.


*malam hari 20 menit sesudah penggerebekan*


Siaran breaking news malam ini, telah ditangkap pelaku dari pembunuhan nyonya Satya pagi tadi. Pelaku sendiri diketahui bernama Kayla Alexandra yang tak lain adalah calon menantu keluarga tersebut. Diketahui dia ditangkap bersama pria lain di sebuah apartemen dan..

__ADS_1


“apa..?!”


Meira yang sedang lewat diantara pertokoan elektronik, kaget dan menumpahkan minuman yang ada ditangannya. Dadanya tiba-tiba terasa sakit tetapi, air matanya tak bisa menetes selepas mendengar berita tersebut.


Ia hanya terkejut menghetahui wanita yang menjadi tunangan Raka, adalah pembunuh dari ibu mertuanya. Sedangkan dia sendiri tak pernah tahu bagaimana Raka yang sedang koma disana. Entah kenapa, ia hanya ingin berlari dan tak ingin mendengar apapun tentang hal yang berhubungan dengan Raka lagi.


Rasa sakit dan bencinya masih membekas dihatinya yang paling dalam. Nafas yang tersengal-sengal dan pikiran yang kacau tak membuatnya menghentikan langkah kakinya yang terus berlari malam itu.


sesampainya di tepian jembatan, udara menjadi sangat dingin yang membuatnya berhenti berlari lagi.


Tetapi, dari jauh ada siluet yang sangat familiar ditepian itu. pria berbadan tinggi yang terus saja bersandar di pagar jembatan sembari memandang ke bawahnya, membuat Meira khawatir. Dia mendekatinya dan tertegun melihat Ervin dengan semburat wajah lesu dan lelahnya.


“E..Ervin, kau..”


Ervin langsung menyandarkan kepalanya di pundak Meira yang baru saja sampai didekatnya. Meira tak tahu harus apa dan membiarkan pundak Kecilnya menopang kepala dan tubuh tinggi itu. tangannya ingin menggapai bahunya sembari menepuknya. Tetapi, ia dihentikan dengan ucapan Ervin.


“Mei, biarkan. Biarkan aku begini sejenak…”


Panggilannya yang seperti itu, dengan ekspresi Ervin saat ini, membuatnya terdengar akrab dan teringat akan sosok lain yang selalu seperti ini padanya. Mungkin hanya pikirannya saja setelah hatinya yang ikut memburuk selepas berita tadi. Mereka berdua masih dengan posisi yang sama pada malam itu.


dan sesuatu yang hilang, seakan kembali ke hati Meira. Ia merasakan sesuatu yang lain saat seperti ini. benar. Hanya sedikit semu dan masih tetap tak jelas. Ia harus menunggu beberapa waktu lagi agar tahu apa yang ada didalam hati Meira.


Hujan salju, turun dengan derasnya malam ini, membuat kedua manusia ini, meneduhkan diri dengan suhu yang teramat dingin.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2